Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Badai Skandal Dan Lemparan Fitnah
Suara riuh gemuruh khas studio TV nasional di sore hari biasanya menjadi melodi yang sangat dihafalkan oleh Aura. Suasana lorong gedung yang sibuk dengan lalu lalang staf produksi, tim tata rias yang membawa kotak kosmetik, serta para juru kamera yang lalu lalang mempersiapkan peralatan siaran berita malam, selalu memberi kepuasan tersendiri bagi jiwanya. Menjadi seorang presenter berita utama bukan sekadar mata pencaharian bagi Aura, melainkan dedikasi dan impian hidup yang ia bangun dari nol dengan penuh keringat serta kerja keras.
Namun, sore ini, atmosfer di dalam ruangan redaksi terasa mendadak mencekam dan sarat akan ketegangan yang dingin.
Di dalam ruang kerja Kepala Redaksi yang berdinding kaca, Maya atasan langsung Aura yang terkenal tegas dan berambisi tinggi sedang duduk menyandarkan punggungnya dengan raut wajah amat tegang. Maya menatap layar komputernya yang menampilkan puluhan pemberitahuan dari portal berita hiburan dan akun-akun gosip media sosial yang mendadak meledak dalam hitungan menit.
Ponsel di meja Maya berdering nyaring. Nama Clara Hermawan tertera di layar.
Dengan hembusan napas tegang, Maya mengangkat telepon tersebut. "Selamat sore, Miss Clara..."
"Selamat sore, Maya," suara Clara Hermawan mengalun dari ujung telepon dingin, ketus, dan sarat akan nada kemenangan yang amat menekan. "Saya rasa Anda sudah melihat kejutan besar di seluruh media sosial dan portal berita nasional sore ini, bukan?"
Maya membetulkan posisi duduknya, mengusap pelipisnya yang mendadak pening. "Iya, Miss Clara... foto-foto Tuan Reno dan Aura di area parkir studio kami baru saja menjadi viral di mana-mana."
Tawa sinis meluncur renyah dari bibir Clara di seberang sana. "Baguslah kalau Anda sudah sadar! Perusahaan keluarga Hermawan dan para investor lain tidak akan pernah mau mengalirkan dana sponsor miliaran rupiah ke stasiun TV yang memelihara presenter tidak bermoral, gemar menggoda pria berpunya, dan terlibat skandal murahan!"
Maya menarik napas dalam-dalam. "Lalu apa yang Anda inginkan dari pihak manajemen kami, Miss Clara?"
"Pencopotan Aura dari posisi presenter utama siaran berita malam bahkan keluarkan dia dari stasiun TV Anda adalah syarat mutlak!" desis Clara tajam dan penuh ancaman. "Jika Anda mencoba membela wanita PHO itu, saya pastikan seluruh sponsor utama akan mencabut dana mereka hingga stasiun TV Anda bangkrut!"
*Tut... Tut... Tut...*
Sambungan telepon dimatikan secara sepihak. Maya mengepalkan tangannya di atas meja. Sebagai atasan yang memikirkan rating dan kelangsungan finansial kantor, Maya tahu betul keputusan tegar apa yang harus diambilnya detik ini juga.
Sementara itu, di ruang makeup utama, Aura baru saja selesai merapikan hijab berwarna pink lembut yang dikenakannya. Ia melangkah keluar membawa map draf berita untuk jadwal siaran malamnya. Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor studio, Aura merasakan kejanggalan yang amat menyengat.
Beberapa staf produksi, tim tata rias, hingga sesama rekan presenter tampak berhenti melangkah. Mereka menatap Aura dengan tatapan tajam, sinis, berbisik-bisik, bahkan ada yang menatapnya dengan raut jijik dan penuh celaan.
"Aura, ikut ke ruangan saya sekarang!" panggil Maya tegas dari ujung koridor dengan wajah dingin tanpa senyum.
Aura mengerutkan keningnya, mengangguk santun lalu menyusul langkah sang atasan masuk ke dalam ruang redaksi. Begitu pintu ditutup rapat, Maya melemparkan sebuah tablet digital ke atas meja tepat di hadapan Aura.
"Lihat sendiri apa yang sudah kamu perbuat pada nama baik stasiun TV ini!" bentak Maya tanpa basa-basi.
Aura tersentak. Dengan jemari gemetar, ia merengkuh tablet tersebut dan membaca judul-judul berita yang memenuhi layar kaca:
>PRESENTER BERITA ALIM AURA TERTANGKAP KAMERA MESRA DENGAN SANG CEO RENO ADHYASTHA DI PARKIRAN VIP!**
> **DIBALIK HIJAB ANGGUNNYA, AURA DIDUGA JADI PHO (PERUSAK HUBUNGAN ORANG) ANTARA RENO ADHYASTHA DAN CLARA HERMAWAN!**
> **WANITA MURAHAN BERHIJAB! FOTO-FOTO KEMESRAAN AURA DAN SANG CEO DINGIN BIKIN NETIZEN GERAM!**
Di bawah artikel-artikel pedas tersebut, terpampang sangat jelas foto-foto hasil tangkapan detektif Bambang di area parkir kemarin sore. Foto saat Reno membukakan pintu Alphard, serta foto momen langka tatkala jemari tegap Reno dengan sangat lembut merapikan selendang hijab Aura dari jarak dekat. Karena publik dan media sama sekali tidak tahu bahwa mereka sudah menikah sah, foto-foto perhatian tersebut diputarbalikkan secara liar sebagai bukti perselingkuhan dan skandal murahan!
Kolom komentar di media sosial dibanjiri puluhan ribu cercaan kejam dari *netizen*:
"Duh, sok alim pakai hijab pink tapi ternyata PHO! Cewek murahan!"
"Kasian Mbak Clara Hermawan, tunangannya direbut sama presenter sok suci ini!"
"Muka aja adem, ternyata pelakor kelas atas! Boikot Aura dari TV!"
Dada Aura mendadak terasa sesak luar biasa, bagaikan dihantam bongkahan batu besar. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan wajah mulusnya mendadak pucat pasi. Jemarinya yang menggenggam tablet bergetar hebat.
"M-Maya... ini tidak seperti yang diberitakan..." bisik Aura dengan suara bergetar menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya tidak pernah merusak hubungan siapa pun..."
"Cukup, Aura!" pangkas Maya dingin, menatap Aura tanpa rasa simpati sedikit pun. "Publik tidak peduli dengan pembelaanmu! Yang publik lihat adalah foto-foto mesramu dengan Tuan Reno di saat Miss Clara Hermawan baru saja mengumumkan hubungan mereka! Kelakuanmu ini mencoreng citra alim yang kamu bangun dan menghancurkan reputasi kantor kita!"
Maya mengetuk mejanya keras. "Mulai detik ini, posisimu sebagai presenter utama dicopot! Kamu diistirahatkan total dari seluruh program siaran sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dan saya sarankan kamu segera pulang sebelum puluhan wartawan di luar gedung menyerbu dan menguliti kehidupan pribadimu!"
Kata-kata Maya bagai pisau yang menghujam ulu hati Aura. Karir yang ia bangun dari nol dengan kejujuran dan keringat, kini hancur berkeping-keping dalam sekejap akibat fitnahan kejam dan tuduhan sebagai wanita murahan.
Aura mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan tangisnya agar tidak pecah di depan sang atasan. Ia menunduk hormat dengan sisa-sisa ketegarannya, lalu melangkah keluar dari ruangan itu dengan hati yang hancur lebur.
Sementara itu, di kantor pusat Adhyastha Group, suasana di ruang kerja CEO terasa seperti neraka yang membeku.
Reno Adhyastha berdiri kaku di depan jendela kaca raksasa dengan raut wajah yang amat mengerikan. Pintu ruangan terdorong keras, dan Pak Aslan asisten pribadi sekaligus kepercayaan Reno melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah pucat pasi.
"Tuan Reno! Badai skandal besar baru saja pecah di seluruh media nasional dan akun gosip!" seru Pak Aslan cepat seraya menyodorkan tablet digitalnya. "Seseorang telah menyebarkan foto-foto Anda saat mengantarkan Nona Aura di stasiun TV kemarin sore!"
Reno menyambar tablet tersebut. Manik mata kelamnya berkilat tajam dan membara saat membaca narasi fitnah yang menyebut istrinya sebagai wanita murahan, PHO, dan pelakor yang merusak hubungannya dengan Clara.
*Brak!*
Reno menghempaskan tablet bernilai puluhan juta itu ke atas lantai marmer hingga hancur berkeping-keping! Suara ledakan emosinya menggemuruh di dalam ruangan.
Wajah Reno berubah sangat gelap dan mengerikan. Urat-urat di leher dan rahang tegasnya menegang rapat. Pria dingin itu memancarkan aura membunuh yang amat pekat. Clara Hermawan benar-benar telah melampaui batas dengan menyentuh dan menghancurkan kehormatan Aura di hadapan seluruh publik!
"Clara..." desis Reno dengan nada suara rendah yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Dia benar-benar menggali kuburannya sendiri!"
"Tuan Reno, media dan publik bergerak sangat cepat," ujar Pak Aslan panik. "Puluhan wartawan saat ini sedang mengepung gedung stasiun TV untuk mencegat Miss Aura!"
Mendengar hal itu, jantung Reno berdesir tajam oleh rasa cemas yang tak tertahankan. Pria itu tidak bisa membayangkan betapa terpukul dan hancurnya perasaan wanita lembut itu saat dihujani cercaan fitnah dan dituduh sebagai wanita murahan.
"Aslan, siapkan tim pengawal terbaik sekarang!" perintah Reno dengan suara menggelegar sarat dominasi. "Beli lima puluh satu persen saham stasiun TV itu hari ini juga! Dan siapkan konferensi pers besar-besaran untuk menghancurkan Hermawan Group sampai ke akar-akarnya!"
Reno menyambar jas hitamnya, melangkah lebar menuju pintu keluar. "Saya sendiri yang akan menerobos kerumunan wartawan itu dan membawa istri saya pulang!"