NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Tap tap tap.

​Langkah kaki Bima bergema pelan di koridor rumah sakit yang kini mulai sepi.

​Dia baru saja kembali dari atap gedung seberang setelah mengurus tikus kecil yang mengawasi mereka.

​"Bima!" seru Clara dari ujung lorong.

​Gadis itu berlari kecil menghampirinya.

​Brak.

​Clara langsung memeluk lengan Bima dengan erat.

​"Kamu dari mana saja?" tanya Clara dengan nada cemas.

​"Aku khawatir setengah mati mencarimu ke mana-mana."

​"Aku hanya mencari udara segar sebentar di luar," jawab Bima tenang.

​"Kondisi di dalam ruangan tadi terlalu pengap untukku."

​"Pembohong," bisik Clara sambil mengerucutkan bibirnya.

​"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku."

​"Tapi kalau kamu belum mau cerita sekarang tidak apa-apa."

​Bima hanya tersenyum tipis mendengar ocehan gadis itu.

​"Bagaimana keadaan para pasien sekarang?" tanya Bima mengalihkan pembicaraan.

​"Mereka semua sudah stabil dan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa," jawab Clara cepat.

​"Dokter Hendra masih tidak berhenti memujimu di depan Papa."

​"Dia bahkan bilang ingin menjadi muridmu kalau kamu bersedia."

​Bima menghela nafas pelan.

​"Aku tidak menerima murid," kata Bima datar.

​"Apalagi dokter tua yang awalnya meragukan pengobatan tradisional."

​Clara tertawa kecil mendengar jawaban Bima.

​"Kamu memang selalu ketus pada orang yang menyebalkan," kata Clara.

​"Tapi aku suka sifatmu yang seperti itu."

​Dari arah ruang tunggu VIP, Pak Herman berjalan menghampiri mereka berdua.

​Wajah pria paruh baya itu terlihat sangat lelah namun matanya memancarkan kelegaan.

​"Nak Bima, syukurlah kau sudah kembali," kata Pak Herman.

​"Ada hal penting yang harus kita bicarakan sekarang juga."

​"Apakah ini tentang kejadian penyebaran racun tadi?" tanya Bima.

​Pak Herman mengangguk pelan.

​"Benar sekali," jawab Pak Herman.

​"Berita tentang puluhan pasien yang tiba-tiba kritis sudah bocor ke media massa."

​"Sekarang lobi depan rumah sakit sudah dipenuhi oleh puluhan wartawan."

​"Mereka menuntut penjelasan resmi dari pihak rumah sakit dan keluarga Herman."

​Bima menatap mertua masa depannya itu dengan tenang.

​"Lalu apa rencana Anda untuk mengatasi media?" tanya Bima.

​"Aku akan mengadakan konferensi pers dalam waktu lima belas menit lagi," jawab Pak Herman.

​"Aku butuh kamu dan Clara untuk ikut mendampingiku di depan para wartawan."

​"Kenapa saya harus ikut?" Bima mengerutkan keningnya.

​"Saya tidak suka tampil di depan kamera."

​"Tolonglah, Nak Bima," bujuk Pak Herman.

​"Kamu adalah pahlawan yang menyelamatkan nyawa mereka semua hari ini."

​"Jika aku yang bicara sendiri, wartawan pasti akan menuduhku menutupi malapraktik medis."

​"Tapi jika mereka tahu ada ahli medis yang menangani ini secara langsung, mereka akan diam."

​Clara menggoyangkan lengan Bima dengan manja.

​"Ayo ikut saja," bujuk Clara dengan mata memelas.

​"Kamu hanya perlu berdiri di sebelahku dan diam saja kalau tidak mau bicara."

​"Tolong ya?"

​Bima menatap wajah Clara yang penuh harap.

​Dia memang paling lemah jika dihadapkan pada permintaan gadis ini.

​"Baiklah," jawab Bima akhirnya.

​"Tapi saya tidak akan menjawab pertanyaan yang tidak penting."

​Pak Herman tersenyum lebar dan menepuk bahu Bima.

​"Bagus sekali!" seru Pak Herman lega.

​"Mari kita ke ruang aula depan sekarang."

​Ketiga orang itu pun berjalan menuju aula konferensi pers yang sudah disiapkan.

​Jepret jepret jepret.

​Suara kilatan lampu kamera langsung menyambut mereka begitu pintu aula dibuka.

​Puluhan wartawan saling dorong untuk mendapatkan posisi paling depan.

​Bima berjalan dengan tenang di belakang Pak Herman.

​Clara terus menggandeng tangannya seolah takut kehilangan pemuda itu.

​Mereka bertiga duduk di kursi panjang yang ada di atas panggung kecil.

​Dokter Hendra juga sudah duduk di sana dengan wajah tegang.

​"Selamat siang, rekan-rekan media sekalian," Pak Herman membuka suara melalui mikrofon.

​"Terima kasih sudah hadir di Rumah Sakit Herman Medika hari ini."

​"Saya tahu kalian semua datang untuk mempertanyakan insiden yang terjadi pagi ini."

​Seorang wartawan pria langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

​"Tuan Herman! Apakah benar ada kebocoran bahan kimia di rumah sakit Anda?" teriak wartawan itu.

​"Ada rumor yang mengatakan bahwa rumah sakit ini melakukan eksperimen ilegal!" sahut wartawan lain.

​"Berapa banyak korban jiwa yang jatuh akibat kelalaian ini?" tambah wartawan wanita di barisan depan.

​Suasana aula menjadi sangat riuh dan tidak terkendali.

​Pak Herman mengangkat tangan kanannya untuk menenangkan kerumunan.

​"Harap tenang semuanya!" suara Pak Herman menggema keras.

​"Saya tegaskan di sini bahwa tidak ada eksperimen ilegal atau kelalaian medis."

​"Insiden pagi ini murni merupakan serangan teror dari pihak tidak bertanggung jawab."

​Wartawan-wartawan itu saling pandang dengan raut wajah terkejut.

​"Serangan teror? Apa buktinya, Tuan Herman?" tanya salah satu dari mereka.

​Pak Herman menoleh ke arah Dokter Hendra.

​Dokter Hendra mengangguk gugup lalu menarik mikrofon ke arahnya.

​"Kami menemukan residu gas beracun yang sengaja disalurkan melalui ventilasi udara lobi," jelas Dokter Hendra.

​"Gas ini memicu reaksi penolakan tubuh yang sangat cepat pada pasien."

​"Lalu bagaimana kondisi para pasien sekarang?" potong seorang reporter TV.

​"Apakah mereka masih dalam masa kritis?"

​Dokter Hendra menggelengkan kepalanya dengan cepat.

​"Tidak sama sekali," jawab Dokter Hendra mantap.

​"Seluruh pasien yang terdampak kini sudah pulih sepenuhnya."

​"Grafik kesehatan mereka normal dan bahkan lebih baik dari sebelumnya."

​Keheningan tiba-tiba melanda aula tersebut.

​Semua wartawan tampak tidak percaya dengan klaim tersebut.

​"Itu mustahil!" teriak seorang wartawan tua dari belakang.

​"Puluhan orang terkena racun mematikan dan sembuh total dalam hitungan jam?"

​"Anda pasti membohongi publik untuk menjaga harga saham keluarga Herman!"

​Pak Herman tersenyum tipis mendengar tuduhan itu.

​Dia kemudian menoleh ke arah Bima yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.

​"Kami tidak berbohong," kata Pak Herman tenang.

​"Keajaiban medis ini bisa terjadi berkat bantuan dari tabib pribadi keluarga kami."

​Pak Herman menunjuk ke arah Bima.

​Semua kamera langsung menyorot wajah Bima yang datar tanpa ekspresi.

​"Perkenalkan, ini adalah Tuan Bima," lanjut Pak Herman.

​"Beliau adalah pemuda luar biasa yang juga merupakan tunangan resmi dari putri saya, Clara."

​Clara tersenyum malu-malu dan semakin menempel pada Bima.

​Para wartawan mulai berbisik-bisik satu sama lain dengan heboh.

​"Dia terlalu muda untuk menjadi seorang ahli medis!"

​"Apa dia benar-benar tunangan Nona Clara? Beruntung sekali!"

​"Jangan-jangan ini hanya sandiwara pengalihan isu?"

​Seorang jurnalis wanita maju ke depan dan menodongkan perekam suaranya.

​"Tuan Bima, metode medis apa yang Anda gunakan untuk menyembuhkan puluhan pasien itu?" tanyanya agresif.

​"Apakah Anda menggunakan obat penawar rahasia yang belum diuji coba keamanannya?"

​Bima menatap tajam jurnalis wanita itu.

​Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat jurnalis itu merinding dan melangkah mundur.

​"Saya menggunakan akupunktur kuno," jawab Bima singkat.

​"Akupunktur? Hanya dengan jarum?" jurnalis itu kembali bertanya dengan nada tidak percaya.

​"Anda pasti bercanda, penyakit sefatal itu tidak mungkin sembuh hanya dengan tusuk jarum."

​Bima mengambil satu batang jarum perak dari sakunya.

​Dia meletakkan jarum itu di atas meja di depan mikrofon.

​Teng.

​Jarum itu bergetar pelan meskipun tidak ada angin yang bertiup.

​"Medis modern kalian hanya bergantung pada alat dan bahan kimia," kata Bima datar.

​"Kalian terlalu sombong hingga melupakan fondasi penyembuhan alami."

​"Saya menetralkan racun di tubuh mereka dengan memperbaiki aliran energi kehidupan."

​"Jika kalian tidak percaya, silakan periksa sendiri pasien-pasien itu."

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!