Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan yang Menjadi Hadiah
Bab 17
Waktu berjalan membawa banyak perubahan kecil yang indah. Rumah besar itu kini tak lagi sunyi dan kaku. Setiap sudutnya dihiasi tawa Alvaro, setiap lorongnya disapa senyum hangat dari Elena, dan setiap ruangannya kini dipenuhi kehangatan yang dulu tak pernah terbayangkan. Leonid pun ikut berubah garis tegas di wajahnya perlahan melembut, sorot matanya tak lagi penuh kewaspadaan berlebihan, dan ia kini lebih sering pulang tepat waktu hanya untuk bisa duduk bersama mereka berdua di ruang tengah.
Pagi itu terasa istimewa. Matahari bersinar terang namun tak menyengat, udara segar membawa aroma bunga melati yang mekar merambat di pagar taman. Elena sedang sibuk menata meja makan, sementara Alvaro berlari kecil ke sana kemari dengan wajah berseri-seri. Hari ini adalah ulang tahun keempat Alvaro hari yang dulu mungkin hanya dilewati begitu saja, atau bahkan dilupakan, namun kini menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh penghuni rumah.
"Kau sudah siap?" tanya Leonid pelan saat berdiri di ambang pintu ruang makan. Matanya menatap meja yang penuh makanan kesukaan putranya, lalu beralih menatap Elena yang tersenyum lebar.
"Aku hanya ingin dia merasa istimewa," jawabnya lembut. "Dia pantas mendapatkan semua kebahagiaan di dunia ini."
Saat Alvaro dipanggil masuk, matanya membelalak lebar melihat tumpukan kado kecil dan hiasan warna-warni yang menghiasi meja. Ia menatap Elena dan Leonid bergantian, tak percaya semuanya ini untuknya.
"Ini... untukku?" suaranya bergetar haru.
"Semua ini untuk anak laki-laki yang paling berani dan paling baik sedunia," ucap Leonid sambil menggendong putranya naik ke kursi tinggi. "Selamat ulang tahun, Nak."
Perayaan itu sederhana namun penuh makna. Alvaro meniup lilin dengan penuh semangat, memotong kue bersama tangan ayah dan ibunya, lalu membuka kado satu per satu dengan wajah yang berseri-seri. Tak ada kemewahan berlebihan, hanya hal-hal yang ia butuhkan dan ia sukai mainan balok baru, buku bergambar, dan sebuah jaket hangat yang indah. Namun yang paling berharga baginya adalah perhatian utuh dari kedua orang tuanya yang duduk di sampingnya tanpa terbagi.
Saat suasana mulai tenang, Alvaro tiba-tiba memeluk leher Elena erat. "Mama... dulu aku pikir Mama tidak sayang sama Alvaro. Tapi sekarang... Mama adalah Mama terbaik sedunia."
Hati Elena terasa diremas haru. Ia mengecup wajah kecil itu berkali-kali. "Mama akan selalu sayang sama Alvaro. Selamanya."
Leonid menatap mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa apa yang mereka bangun sekarang bukan sekadar hubungan antara suami dan istri, atau orang tua dan anak. Ini adalah penyembuhan
penyembuhan bagi Alvaro yang dulu kekurangan kasih sayang, penyembuhan bagi Elena yang dulu tersesat, dan penyembuhan bagi dirinya sendiri yang dulu tertutup oleh dinding kesepian dan kekuasaan.
Sore harinya, saat Alvaro sedang tertidur pulas karena kelelahan bersenang-senang, Elena menemukan sebuah kotak kayu kecil di dalam lemari tua yang belum sempat ia rapikan sepenuhnya. Kotak itu berdebu, namun saat dibuka, isinya sangat rapi—sebuah foto lama, sepasang sepatu bayi, dan surat yang sudah agak menguning.
Foto itu adalah foto Elena asli saat masih muda, tersenyum malu-malu berdiri di samping Leonid yang tampak lebih muda dan masih sedikit canggung. Di belakang foto itu tertulis tulisan tangan Elena yang dulu: "Aku mencintaimu, Leonid. Aku hanya tidak tahu caranya menunjukkan itu."
Air mata jatuh membasahi kertas itu. Ternyata jauh di lubuk hatinya, wanita itu juga menyimpan rasa yang sama—hanya saja takdir membiarkannya tersesat terlalu jauh sebelum sempat mengucapkannya.
Saat Elena menyerahkan kotak itu pada Leonid, pria itu duduk diam cukup lama menatap foto itu. Ia menyentuh wajah di foto itu dengan jari yang bergetar.
"Aku tidak pernah tahu dia merasa begitu," bisiknya pelan. "Aku pikir dia tidak pernah peduli."
"Mungkin dia hanya butuh waktu untuk menemukan jalannya," jawab Elena lembut. "Dan mungkin... dia mengirimku untuk menyelesaikan apa yang belum sempat ia ucapkan."
Leonid menatap Elena lama sekali, lalu mengusap pipi wanita itu dengan penuh perasaan. "Siapa pun yang mengirimmu... aku berterima kasih. Karena kau bukan hanya menyelamatkan Alvaro. Kau juga menyelamatkan aku."
Malam itu terasa begitu damai. Tidak ada lagi rahasia yang terasa berat, tidak ada lagi ketakutan yang mengintai. Hanya ada mereka bertiga, yang saling melengkapi, yang saling menyembuhkan, dan yang siap melangkah menuju hari esok dengan penuh harapan.
Bersambung...