Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga-bunga di hati
Suara deru halus mesin motor matic Zayan perlahan memelan saat ia memasuki pelataran rumahnya. Langit senja telah sepenuhnya berganti menjadi warna keunguan yang pekat, menandakan waktu Magrib yang makin dekat.
Zayan mematikan mesin, melepas helm, lalu mengusap wajahnya yang terasa agak lelah namun dipenuhi perasaan riang yang sulit dilukiskan. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya sejak ia meninggalkan rumah Pak Agung.
"Baru pulang, Zayan?" tegur sebuah suara lembut dari arah pintu depan.
Ibu Zayan berdiri di sana sambil memegang lap tangan, menatap putranya dengan alis terangkat heran. Heran bukan karena Zayan pulang agak terlambat, melainkan karena ekspresi wajah putranya yang terlihat begitu bahagia dan berbinar-binar.
"Iya, Ma. Tadi habis nganterin temen sekolah pulang dulu," jawab Zayan sambil menuntun motornya ke bawah kanopi garasi.
"Nganterin temen apa nganterin 'seseorang' nih? Kok senyum-senyum sendiri gitu dari tadi?" goda Sang Ibu sambil terkekeh pelan.
Zayan melangkah mendekat dan mencium tangan ibunya dengan penuh hormat. "Mama tebak, tadi Zayan ketemuan sama siapa pas nganterin temen Zayan itu?"
"Siapa? Temen OSIS kamu?"
"Bukan cuma temen OSIS, Ma," ujar Zayan sambil menyunggingkan senyum misterius. "Zayan ketemuan sama Om Agung. Pak Agung yang dulu sering main ke rumah kita waktu kita masih tinggal di luar kota!"
Mata Ibu Zayan seketika membelalak kaget. "Om Agung?! Agung sahabat Ayah kamu yang dulu itu?!"
"Iya, Ma! Beneran!" sahut Zayan antusias. "Ternyata anak perempuan Om Agung yang namanya Anggi itu satu sekolah sama Zayan. Dan hari ini Zayan baru tahu kalau dia itu anak kecil yang dulu sering Zayan ajak main robot-robotan tapi malah nangis."
Ibu Zayan menepuk tangannya gembira. "Ya ampun, dunia sempit banget ya! Anggi anak yang manis dan pemalu itu? Wah, nanti pas Ayah kamu pulang kantor harus langsung dikasih tahu nih, pasti seneng banget!"
Zayan tersenyum makin lebar. Ia mengangguk pelan, lalu melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Setibanya di dalam kamar, Zayan melepas jaketnya dan melempar tubuhnya ke atas tempat tidur.
Ia merogoh kantong celananya, mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi pesan singkat. Jemarinya dengan lincah mengetikkan sebuah pesan untuk kontak bernama Anggi.
Zayan: *Aku udah sampai rumah nih, Gi. Jangan lupa bersih-bersih terus istirahat ya, tadi seharian udah capek jalan pawai :) *
Denting!
Ponsel Anggi yang tergeletak di atas meja belajar berdering pelan. Anggi yang baru saja selesai membersihkan diri dan memakai pakaian santai bergegas melangkah mendekati mejanya.
Saat melihat nama Kak Zayan OSIS tertera di layar notification, senyum manis tak sanggup ia tahan lagi.
Kak Zayan OSIS: *Aku udah sampai rumah nih, Gi. Jangan lupa bersih-bersih terus istirahat ya, tadi seharian udah capek jalan pawai :) *
Anggi mendudukkan dirinya di tepi kasur, mengetikkan balasan dengan pipi yang lagi-lagi merona hangat.
Anggi: Syukurlah kalau udah sampai rumah dengan selamat, Kak. Aku juga udah bersih-bersih kok. Makasih banyak ya buat tebengannya tadi sore, maaf jadi bikin Kak Zayan kelelahan.
Kak Zayan OSIS: Sama sekali nggak capek kok. Justru aku seneng banget hari ini, bisa ketemu Om Agung lagi... dan bisa jalan berdua sama kamu di karnaval tadi.
Anggi: Kak Zayan ih! Muka aku masih malu tahu pas Ayah sama Ibu cerita soal masa kecil aku tadi >_<
Kak Zayan OSIS: Haha, padahal kamu yang dulu cengeng itu sekarang anggun banget pas pakai baju adat. Yaudah, kamu rehat ya. Malam ini nggak usah mikirin tugas dulu.
Anggi memeluk bantal gulingnya erat-erat setelah membaca pesan terakhir dari Zayan. Rasa canggung yang dulu sempat membayanginya kini telah berganti menjadi kenyamanan yang utuh.
Keesokan harinya, suasana di SMA berjalan seperti biasa. Namun, kabar tentang keserasian Zayan dan Anggi saat menjadi pasangan utama di karnaval kemarin masih menjadi perbincangan hangat di lorong-lorong kelas.
Di kantin saat jam istirahat, Mely menatap Anggi dengan pandangan menelisik sembari mengunyah bakso gorengnya.
"Gi, jujur ya sama gue," bisik Mely heboh, memajukan tubuhnya ke meja. "Kemarin waktu pulang pawai, lo dianterin Kak Zayan kan? Terus tadi pagi gue denger rumor dari anak OSIS kalau Kak Zayan senyum-senyum terus dari kemarin sore. Ada angin apa nih?"
Anggi menyeruput teh esnya pelan, mencoba bersikap biasa meskipun rona merah di pipinya tak bisa dibohongi. "Nggak ada apa-apa, Mely. Kak Zayan cuma nganterin pulang soalnya Ayah nggak bisa jemput."
"Tapi tatapan Kak Zayan ke lo itu beda banget, Gi! Beda banget waktu dia natap cewek lain," desak Mely gemas.
Di sudut kantin yang tak jauh dari tempat mereka duduk, Azka dan Sheila baru saja berjalan membawa nampan makanan. Tak sengaja, pandangan Azka tertuju pada tawa renyah Anggi yang sedang mengobrol bersama Mely.
Dulu, tawa lepas itu hanya tercipta untuknya. Namun kini, Anggi terlihat jauh lebih bahagia dan bersinar tanpa kehadirannya. Azka menarik napas dalam-dalam, menggenggam erat jemari Sheila di sampingnya, lalu melangkah menuju meja kosong—sepenuhnya menerima bahwa takdir telah memisahkan jalan mereka.