Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Hanya Mantan
Clarissa menatap Arga tanpa berkedip. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Jadi... selama ini kamu benar-benar sudah melupakanku?" tanyanya lirih.
Arga mengembuskan napas pelan. "Bukan melupakan."
"Lalu apa?" tanya Clarissa penasaran.
"Aku memilih menerima kenyataan," jelasnya.
Clarissa menggeleng kuat-kuat. "Nggak... aku nggak percaya." Ia kembali melangkah mendekati Arga. "Kamu masih mencintaiku, kan?"
Arga menatapnya beberapa saat, lalu menggeleng. "Rasa itu memang pernah ada, tapi semua itu sudah hilang. Saat kamu lebih memilih pria itu daripada aku."
"Tapi aku menyesal!"
"Penyesalan tidak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah kamu hancurkan."
Clarissa menggenggam lengan Arga. "Arga... aku rela tinggal di desa ini kalau itu membuatmu mau menerimaku lagi."
Arga perlahan melepaskan genggaman tangan Clarissa. "Jangan memaksakan sesuatu yang sudah selesai."
"Aku tidak mau selesai!" Suara Clarissa mulai meninggi. "Aku datang ke sini bukan untuk ditolak."
"Kalau begitu kamu datang ke tempat yang salah."
Wajah Clarissa memucat. "Kamu tega mengusirku?"
"Aku tidak mengusirmu." Arga menatapnya dengan tenang. "Tapi ini tempatku bekerja, banyak pasien yang membutuhkan pelayanan. Aku tidak bisa terus membicarakan masalah pribadi disini."
Clarissa mengepalkan kedua tangannya. "Apa karena ada perempuan lain?"
Arga kembali terdiam.
"Jawab aku, Arga!"
"Tidak ada hubungannya dengan siapa pun," jawab Arga sengan tegas.
"Lalu kenapa?"
Arga tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi ketegasan. "Karena aku sudah belajar menghargai diriku sendiri."
Kalimat itu membuat Clarissa membisu.
"Dulu aku terlalu mencintaimu sampai rela mengorbankan harga diriku sendiri, tapi sekarang tidak lagi."
Air mata Clarissa semakin deras. "Aku benar-benar kehilangan kamu... ya Arga?"
"Iya," jawab Arga singkat.
Suasana kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian Arga membuka pintu ruang praktiknya. "Urusan kita sudah selesai, Aku masih harus bekerja."
Clarissa mengusap air matanya. "Berarti... tidak ada kesempatan sedikit pun?"
Arga menggeleng. "Tidak ada." Jawaban itu terdengar begitu tegas.
Clarissa menundukkan kepala. Dengan langkah lemas, ia keluar dari ruangan. Begitu pintu terbuka, seluruh lorong puskesmas mendadak hening.
Desi dan beberapa perawat pura-pura sibuk, padahal sejak tadi mereka penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.
Clarissa berjalan melewati mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun. Riasan wajahnya mulai berantakan karena air mata.
Desi berbisik pelan kepada perawat di sampingnya. "Kayaknya habis berantem deh."
"Ssst... jangan keras-keras."
Clarissa terus berjalan menuju halaman puskesmas. Langkahnya memang terlihat tenang, tetapi di balik wajah yang masih dipenuhi air mata, amarah mulai berkecamuk.
Begitu sampai di samping mobil mewahnya, ia berhenti sejenak. Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri.
"Aku datang jauh-jauh dari Jakarta..." gumamnya lirih. "Dan ini balasan yang aku terima?"
Bayangan sikap dingin Arga kembali terlintas di benaknya. "Tidak ada kesempatan. Aku sudah tidak ingin kita kembali bersama." Kalimat-kalimat itu terus bergema di kepalanya.
Wajah Clarissa perlahan berubah dingin. "Baik, Arga..." Ia menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan. "Kalau memang itu keputusanmu, jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi nanti." Sorot matanya berubah tajam. "Awas saja, Arga. Aku akan membalas semua perlakuanmu hari ini."
Clarissa terdiam beberapa saat sebelum kembali berbisik pelan. "Dan kalau memang ada wanita lain yang sedang dekat denganmu... aku tidak akan tinggal diam."
Ia mengenakan kembali kacamata hitamnya, menyembunyikan mata yang masih memerah. Kemudian pintu sedan hitam itu dibukanya.
Brak.
Clarissa masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin.
Brumm...
Sedan mewah itu perlahan meninggalkan halaman Puskesmas Sekar Sari.
Di saat yang sama...
Winarsih masih berdiri di warung kecil yang berada tak jauh dari puskesmas. Ia sedang menghitung sisa roti di dalam keranjang bambunya sebelum menyerahkan catatan pesanan kepada pemilik warung.
"Tiga bungkus roti cokelat, dua roti keju, sama empat roti tawar ya, Bu," ucap Winarsih sambil tersenyum ramah.
"Iya, Winarsih... besok tambah lagi ya. Roti dari Juragan Warso sekarang cepat habis."
"Alhamdulillah, Bu."
Winarsih baru saja hendak mengangkat kembali keranjang rotinya ketika suara mesin mobil terdengar mendekat.
Brumm...
Sedan hitam mewah itu melintas tepat di depan warung.
Tanpa sadar, Winarsih menoleh. Ia sempat melihat sekilas sosok wanita cantik berkacamata hitam yang duduk di kursi belakang mobil.
"Itu... wanita yang tadi memeluk Dokter Arga," gumam Winarsih pelan.
Mobil itu terus melaju hingga menghilang di tikungan desa. Winarsih tidak memikirkannya lebih jauh. Baginya, siapa pun wanita itu bukanlah urusannya.
Ia kembali mengangkat keranjang rotinya. "Saya permisi dulu, Bu."
"Hati-hati di jalan ya, Winarsih."
"Iya, Bu."
Winarsih kembali melanjutkan pekerjaannya, sama sekali tidak menyadari bahwa tanpa sengaja dirinya telah masuk ke dalam perhatian Clarissa.
Sementara itu, di balik kaca mobil yang mulai menjauh dari desa, Clarissa sempat melirik ke arah spion. Bayangan gadis desa yang membawa keranjang roti itu masih terlihat jelas di matanya.
"Mungkin aku terlalu curiga," gumamnya pelan. "Tapi... aku akan mencari tahu siapa perempuan itu."
Tanpa disadarinya, benih rasa iri dan obsesi mulai tumbuh di dalam hati Clarissa, dan perasaan itu perlahan akan menyeret Winarsih ke dalam masalah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Sedan hitam itu melaju meninggalkan Desa Sekar Sari. Di dalam mobil, Clarissa bersandar di kursi belakang sambil memejamkan mata. Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin jelas bayangan Arga menolak dirinya.
"Karena aku sudah belajar menghargai diriku sendiri."
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras.
"Nggak..." gumam Clarissa lirih. "Aku nggak mungkin kalah dari perempuan mana pun."
Pria yang duduk di balik kemudi, Dimas, melirik melalui kaca spion.
"Nona, kita langsung kembali ke Jakarta?"
Clarissa membuka matanya perlahan. "Nggak."
"Kalau begitu ke hotel?"
Clarissa menoleh ke arah luar jendela, memperhatikan jalanan desa yang perlahan ditinggalkan. "Cari informasi tentang Dokter Arga."
Dimas sedikit terkejut. "Informasi seperti apa, Nona?"
"Semuanya."
"Maksud Nona?"
Clarissa melipat kedua tangannya di dada. "Dia tinggal dengan siapa, siapa saja yang dekat dengannya, kegiatan sehari-harinya... semuanya lah pokoknya."
"Baik, Nona."
"Terutama..." suara Clarissa berubah pelan namun dingin, "aku ingin tahu apakah benar ada perempuan lain yang sedang dekat dengannya.."
"Baik."
Dimas tidak bertanya lagi. Ia sudah cukup lama bekerja sebagai sopir keluarga Clarissa. Ia tahu betul, jika Clarissa sudah berbicara dengan nada seperti itu, berarti ia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sementara itu...
Di Puskesmas Sekar Sari, Arga kembali duduk di kursinya. Ia mengusap wajahnya pelan sambil mengembuskan napas panjang.
Tok... tok...
"Masuk."
Desi membuka pintu sedikit. "Dok..."
"Iya." sahut Arga.
"Saya boleh masuk?" tanya Desi hati-hati.
Arga mengangguk.
Desi melangkah masuk sambil membawa beberapa berkas pasien. "Ini data pasien yang harus ditandatangani."
Arga menerima berkas itu, namun Desi tampak tidak segera keluar. Masih berdiri sambil sesekali melirik Arga.
"Ada lagi?" tanya Arga.
Desi tersenyum canggung. "Dok... boleh tanya sesuatu nggak?"
"Tanya apa?"
"Itu... perempuan tadi..."
Arga sudah bisa menebak arah pembicaraan.
"Dia mantan pacar saya."
Mata Desi langsung membulat. "Eh... mantan, kirain masih pacaran, Dok," ucap Desi sambil terkekeh
Arga menggeleng pelan. "Sudah lama berakhir."
Desi mengangguk-angguk. "Pantesan tadi suasananya tegang banget."
Arga hanya tersenyum tipis. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kamu kembali bekerja."
"Iya, Dok."
Desi hendak keluar, tetapi sebelum membuka pintu ia menoleh lagi.
"Dok..."
"Iya."
"Kalau boleh jujur..." ucap Desi sedikit gugup.
"Kenapa?"
"Dokter pantas dapat perempuan yang lebih baik."
Arga tersenyum kecil. "Terimakasih, Des."
"Mari Dok, saya permisi." Desi pun keluar sambil menutup pintu pelan.
Begitu berada di luar, ia langsung mengembuskan napas lega. "Untung aja Dokter Arga nggak balikan sama tuh perempuan." Ia sendiri tidak tahu kenapa merasa ikut lega.