"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
"Ayo ikut Ayah ke pancuran," ucap Abi seraya menghela napas panjang.
Abi menuntun kedua putranya ke arah sudut sawah tempat pancuran air bambu mengalir deras dari mata air pegunungan. Tempat yang biasa digunakan para petani untuk membersihkan badan dan alat pertanian setelah bergelut dengan lumpur.
Sampai di dekat pancuran, Abi mendudukkan Akbar dan Aqil di atas batu kali yang datar dan cukup lebar. Tanpa membuang waktu, tangan Abi bergerak lincah membuka baju dan celana mereka berdua.
Kini, dua jagoan kecil itu hanya tersisa menggunakan celana dalam.
Abi memutarkan pancuran bambu agar mengucur tepat ke arah kedua anaknya. Tanpa sabun, Abi mulai menggosok kulit licin kedua putranya menggunakan telapak tangannya sendiri. Air dingin pancuran seketika berubah warna menjadi cokelat keruh begitu menyentuh tubuh Akbar dan Aqil.
"Aduh, dingin, Yah!" keluh Aqil sambil menggeletuk, mencoba kabur dari goresan air.
"Duduk yang diam, Aqil! Makanya kalau dibilangin Ayah itu dengar!" omel Abi, suaranya mulai naik satu nada. Tangan kekarnya terus membilas sisa lumpur di lipatan leher dan belakang telinga si bungsu.
"Kan Ayah sudah bilang dari rumah, di sawah jangan nakal, jangan main di pinggir gubuk. Sekarang lihat, basah semua, kotor semua!"
Abi lalu beralih menggosok punggung Akbar yang menunduk pasrah. "Mas Akbar juga! Mas kan yang paling besar, harusnya jagain adiknya, bukannya malah ikut-ikutan. Kenapa tadi bisa sampai jatuh berdua begitu? Bikin Ayah mau copot saja jantungnya!"
"Tadi... tadi Akbar cuma mau pegang baju Aqil, Yah, biar Aqil nggak jatuh pas ambil sandal. Tapi kaki Akbar kepeleset..."
"Terus kenapa sandal Aqil bisa sampai dilempar ke lumpur?" tanya Abi lagi sambil memutar tubuh Akbar untuk membersihkan dadanya.
"Aqil duluan yang senggol sepatu Akbar!" bela Akbar dengan suara bergetar menahan dingin.
"Aqil ndak sengaja, Yah..." cicit Aqil polos, matanya berkaca-kaca menatap ayahnya yang sedang mengomel.
"Aqil mau liat capung..."
Abi mengusap wajahnya sendiri yang juga ketumpahan air pancuran. Melihat dua tubuh kecil yang menggigil kedinginan di atas batu kali, amarahnya perlahan menguap, berganti rasa iba dan gemas yang bercampur aduk.
"Hah... ya sudah, ya sudah," helai napas Abi terdengar berat. Ia menggosok kepala kedua anaknya bergantian hingga sisa lumpur di rambut mereka benar-benar bersih.
"Lain kali kalau tidak nurut lagi, Ayah kunci di rumah, tidak boleh ikut ke sawah sama sekali. Paham?"
"Paham, Ayah..." jawab Akbar dan Aqil kompak dengan suara pelan.
Setelah memastikan seluruh sisa lumpur di tubuh kedua anaknya larut terbawa aliran pancuran, Abi mengeringkan badan Akbar dan Aqil seadanya menggunakan kaus kotor miliknya yang sengaja ia lepas.
Baju dan celana kedua bocah itu sudah berubah menjadi gumpalan kain basah. Tak ada pilihan lain. Baju-baju kotor itu akhirnya dibungkus Abi menggunakan plastik bekas wadah bibit, sementara kedua anaknya terpaksa dibiarkan telanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam yang masih agak basah.
Abi menggendong Aqil di pinggang kirinya, sementara tangan kanannya menuntun Akbar yang berjalan kecil-kecil sambil menggigil menahan angin pagi.
"Pak Darno!" panggil Abi setengah berteriak sewaktu melewati pinggir pematang.
Pak Darno yang sedang merapikan cangkulnya langsung menoleh.
"Walah, Mas Abi! Kok jadi pada mudo begitu?" seru Pak Darno.
"Gara-gara mandi lumpur tadi, Pak. Bajunya kotor semua, terpaksa saya lepas daripada masuk angin ketempelan lumpur basah," sahut Abi pasrah.
"Saya pamit pulang duluan ya, Pak Darno. Mau urus anak-anak dulu di rumah."
"Oalah, nggih, nggih, Mas. Ndak apa-apa, bawa pulang saja kasihan dingin itu," balas Pak Darno seraya melambaikan tangan. "Hati-hati di jalan! Awas kena angin jalanan, Mas!"
"Matur nuwun, Pak!"
Abi bergegas membawa kedua anaknya menuju sepeda motor. Didudukkannya Aqil di bagian depan jok, tepat di depannya, lalu Akbar naik di jok belakang sambil memeluk pinggang sang ayah erat-erat.
"Pegang yang kencang, Mas Akbar. Biar nggak kedinginan, nempel sama punggung Ayah," perintah Abi seraya menyalakan mesin motor.
"Iya, Yah... dingin banget," cicit Akbar dari belakang, menyandarkan pipinya ke punggung hangat Abi.
"Makanya... lain kali nurut sama Ayah," omel Abi pelan seraya memutar gas.
Sepeda motor membelah jalanan desa yang cukup lengang di pagi hari. Angin pegunungan yang berembus pelan menerpa tubuh kedua bocah yang hanya mengenakan celana dalam basah itu.
Di bagian depan jok, Aqil mulai menyilangkan kedua tangan mungilnya di atas dada. Bibir kecilnya gemetaran, sementara matanya menatap pasrah ke arah bawah.
"Yah... bulungnya Aqil dingin..." celetuk Aqil dengan suara cempreng gemetar, sambil kedua tangan kecilnya bergerak berupaya menutupi area celana dalamnya dari terpaan angin.
Pfft. Abi yang sedang konsentrasi memegang stang motor mendadak nyaris tersedak ludahnya sendiri. Pria muda itu memejamkan mata sejenak, menahan tawa yang meledak di dadanya agar tidak pecah di jalanan.
"Duduk yang benar, Aqil! Tangannya memegang stang, jangan di situ!" tegur Abi pelan.
"Tahan sebentar, ini sudah mau sampai rumah."
"Tapi dingin, Yah... tertiup angin," rengek si bungsu.
Dari jok belakang, Akbar yang menyandarkan pipinya ke punggung hangat Abi melirik adiknya. "Burung Aqil kan nggak bisa terbang, ngapain ditutupin?".
"Bisa! Nanti burungnya Aqil kabul kalau dingin!" balas Aqil tidak terima, tetap ngotot berusaha menutupi celananya dengan kedua telapak tangan pendeknya.
Abi akhirnya menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi kepolosan dua jagoannya. Ia makin mempercepat laju sepeda motornya menelusuri gang menuju rumah.
"Sudah, diam dua-duanya! Ini sebentar lagi sampai rumah," pukas Abi.
"Siap-siap saja nanti dimarahin sama Nenek."
"Yah... Nenek galak ndak, Yah?" cicitnya takut-takut.
Di jok belakang, Akbar yang tadinya sok tegar ikut merapatkan tubuhnya ke punggung Abi. "Yah, bilangin ke Nenek ya... yang nyeburin kan bukan Akbar, tapi lumpur sawah..."
"Mana ada lumpur nyeburin orang," gumam Abi terkekeh pelan. "Makanya, nanti sampai rumah langsung minta maaf sama Nenek, jangan malah bikin ulah lagi."
Begitu mendengar suara deru mesin motor anak bujangnya, Bu Marni menyandarkan sapunya di dinding dan berjalan mendekat. Namun, langkahnya mendadak terhenti di pinggir teras. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan ajaib di depannya.
Dua cucu kesayangannya bertelanjang dada, hanya mengenakan celana dalam yang basah kuyup, dengan wajah belepotan dan tubuh yang menggigil kedinginan.
"Astagfirullah hal 'adzim! Abimanyu!" teriak Bu Marni melengking.
Abi mematikan mesin motor, lalu meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Pagi, Bu..."
"Pagi-pagi matamu itu!" omel Bu Marni setengah berlari mendekati motor. Tangannya melayang menepuk bahu Abi cukup keras. "Iki anak-anakmu kenapa pada begini bentukannya, Abi?! Kamu bawa ke mana mereka?! Kok bisa sampai cuma pakai celana dalam basah begini?!"
Aqil yang panik melihat neneknya mengomel langsung menyembunyikan wajahnya di balik dada Abi, sementara Akbar di jok belakang makin erat memeluk pinggang ayahnya.
"Anak-anak nyemplung ke lumpur sawah tadi, Bu," sahut Abi membela diri dengan suara pelan.
"Baju-bajunya kotor pekat, jadi Abi lepas dan bilas di pancuran..."
"Ya tapi kan ndak usah dibawa pulang kayak begini juga! Kasihan mereka kedinginan, nanti kalau demam gimana?!" omel Bu Marni tak berhenti. Ia langsung merengkuh Aqil dari stang motor dan menggendongnya erat-erat, tidak peduli gaun daster barunya ikut basah. "Ayo Mas Akbar, turun! Masuk rumah!"
"Punya anak Lanang satu dari dulu kok yo ndak pernah bener kalau disuruh momong anak," gerutu Bu Marni lagi sambil menuntun Akbar dan menggendong Aqil menuju pintu depan.
"Cepat ambil air hangat di dapur, Abi! Jangan cuma berdiri melamun di situ!"
"Iya, Bu, iya... ini Abi ambilkan," jawab Abi pasrah.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti