Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 pertemuan pertama
Di meja bar, Clare menceritakan semua tentangnya kepada Nana. Respon Nana pun membuat Clare menyesali semuanya.
"Aku sudah memberitahumu bahwa Hans itu tidak sebaik yang selalu kamu pikirkan." Ujar Nana. menangis. Ia mengulurkan tangan memeluk Clare.
"Maaf, aku tidak mendengarkan mu." Jawab Clare di dada Nana.
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Aku janji akan membantumu mendapatkan lagi semua yang sudah Hans ambil." Nana melepaskan pelukannya, tangannya memegang pipi Clare, mengusap air mata Clare, pelan.
"Thankyou."
"Jangan pikirkan itu lagi." Nana berdiri mengangkat gelas yang berisi wine. "Lebih baik kita bersenang senang." Clare juga berdiri, ia mengacungkan gelasnya.
"Cheers." Ting.. dua gelas beradu jadi satu. Mereka meminumnya tanpa jeda.
"Kita harus minum sampai mabuk." Ujar Clare, Nana terus menuangkan wine nya.
__________________________
Sementara di rumah itu, Hans tersadar dengan suara mobil yang melaju kencang, ia melihat ke jendela sekilas. Lalu bergegas menuju kamar Clare. Clare tidak ada di sana.
"Mbok Lastri!!" Teriak Hans kembali dari kamar Clare.
"I-iya tuan." Jawab mbok Lastri, nunduk.
"Siapa yang mengizinkan wanita itu pergi!"
Mbok Lastri diam, menunduk takut, ia ingin berbicara namun ragu.
"Ouh aku paham," ujar adik Hans yang bernama Lena, semua orang meliriknya. "mungkin tadi waktu mbok Lastri tumpahin teh ke sepatu kak Hans itu..." Selingkuhan Hans melirik Lena, tersenyum miring. "Karena bantuin wanita itu biar bisa pergi?, biar nggak ketahuan sama kak Hans. Ya kan mbok?"
Mbok Lastri diam, melihat ke lantai.
"Apa benar yang dikatakan adik saya, mbok?" Tanya Hans, ketus. "Apa wanita itu yang menyuruh mbok?... BICARA!!"
Mbok Lastri mengangkat kepala, menatap Hans. "Tidak tuan, ini semua salah saya. Saya yang ingin membantu nona, nona tidak menyuruh saya!"
"Ouh..," Hans berbalik badan lalu berbalik lagi. "Sejak kapan mbok Lastri seenaknya!!" Teriak Hans di muka mbok Lastri. Semua orang yang menyaksikan hanya diam, saling lirik dan tersenyum sinis.
"Pecat aja pembantu nggak tau diri ini, kak!" Kompor Lena.
"Jangan, mbok Lastri sudah semakin tua. Dia tidak mungkin bisa mencari pekerjaan lagi." Jawab selingkuhan Hans, ia memegang lengan baju Hans, wajahnya memelas, seolah dia sedang meminta keringanan untuk mbok Lastri. Tapi semua itu hanyalah kepalsuan.
"Astaga Bianca, kamu menjadi wanita tidak usah terlalu baik." Ujar ibu Hans kepada Bianca si selingkuhan.
"Benar kata mama, kak Bian jangan terlalu baik, nanti di manfaatkan loh." Ujar Lena, matanya melirik sinis ke arah mbok Lastri.
"Iya sayang." Jawab Hans, tangannya melingkar di pundak Bianca. "Benar perkataan mama dan Lena... Mbok Lastri, kamu di pecat."
Mbok Lastri diam, menatap dalam mata Hans, ada kebencian di dalamnya.
"Baik, saya akan pergi. Lagipun saya sudah muak dengan kalian, hanya pencuri saja bangga." Ujar mbok Lastri, ia meneteskan air mata namun bicaranya tegas. "Dan untuk nona Bianca, saya tidak perlu Anda kasihani, tidak Sudi saya mendengarnya." mbok Lastri pergi, membelakangi mereka.
"Berani ya kamu!!" Bianca mendorong punggung mbok Lastri hingga terjatuh.
"Iya nih pembantu, omongannya nggak bisa di jaga. Belagu banget. Malu kamu harusnya!" Ujar Lena, kakinya menendang pinggul mbok Lastri. Keras.
Mbok Lastri ketawa kecil, ia berdiri, melirik mereka satu persatu. "Malu... Mengapa saya harus malu?" Mbok Lastri mendekat ke arah Hans, matanya merah melotot, Bianca dan Lena mundur satu langkah. "Seharusnya kalian yang malu..." Ia menunjuk, menaruh telunjuknya di sisi kanan pundak Hans. "nona Clare sudah berbaik hati kepada kalian, ia memberikan segalanya. Tapi apa balasan kalian terhadapnya. Kalian hanya bisa berhianat... Walaupun kalian sudah merampas semua milik nona Clare, kalian tetap tidak akan bisa mendapatkannya." Mbok Lastri berbalik, mundar mandir di depan mereka.
"Saya tahu semua yang kalian tidak tau menyangkut segalanya, saya memgapdi kepada keluarga ini sudah lebih dari dua puluh tahun." Lalu mbok Lastri pergi menuju kamarnya.
"Tunggu!" Panggil Hans, tangannya memegang pundak mbok Lastri. "Apa yang mbok tau!" Tanyanya.
"Hmph, sampai kapanpun saya tidak akan pernah memberitahunya, bahkan nona Clare pun tidak tahu rahasia saya dengan ibunda nya." Mbok Lastri pergi, langkahnya cepat.
"Udah kak, dia itu pasti cuma ngancem biar Kaka takut, lagian majikan mana yang memberi tahu pembantu tentang rahasianya." Ujar Lena, ia begitu yakin. Hans pun percaya dengan perkataan Lena.
****
Di sisi lain, Clare dan Nana sudah berniat pulang, Clare mabuk berat, ia di papah menuju mobil oleh Nana.
Di parkiran, banyak mobil terparkir, ia menghampiri mobilnya. Namun saat membuka, mobil itu terkunci, ia melihat tangannya dan tak ada tas yang ia bawa, tasnya tertinggal di dalam.
Di sebelah mobil Nana ada satu mobil hitam, mewah. Di samping mobil itu ada satu pria sedang bersandar sembari merokok, memakai jas panjang berwarna hitam.
Nana melihat dia, tak berpikir panjang ia langsung menyerahkan Clare.
"Pria tampan, titip ya." Ia menyerahkan Clare yang mabuk ke pria itu, lalu lari. "Awas kalau kau membawa pergi dia!." Ujar Nana dari jauh, tangannya memeragakan mata bertemu mata.
Pria itu belum setuju sama sekali, namun Clare sudah terlanjur ada di pelukannya. Clare membuka mata, matanya memerhatikan wajah pria yang dilihatnya. Lalu ia tersenyum kecil, Clare meninggikan badan, jarak wajah mereka tinggal sejengkal, napas Clare terasa berhembus di wajah pria itu.
"Tampan, bolehkah aku mencium mu?" Ujar Clare, tangannya meraih leher si pria, Clare mendekatkan muka pria itu kepadanya, bibir mereka bersentuhan, hangat, lembut, cukup lama.
Pria itu hanya terdiam kaku, menikmatinya. Ia membuka mobil, cepat. Menghentakkan Clare ke dalam. "Kau yang memulai, gadis kecil." Ujarnya, ia membuka jas, matanya menatap tajam ke arah sopir.
Sopir itu langsung mengerti, ia bergegas turun dari mobil, mengawas di jalan.
Mobil bergoyang sangat cepat. "Tuan akhirnya sudah tidak perjaka lagi." Ucap sopir, ia tersenyum cengengesan.
Tak lama Nana datang membawa tasnya. Ia melihat ke arah mobil itu, namun Clare sudah tak terlihat di luar.
Tok... Tok... Tok... Nana mengetuk mobil itu, keras. "Pria tampan! Sudah ku bilang jangan kau bawa dia!" Ujarnya. "Kembalikan dia kepadaku, hey!"
sopir yang melihatnya menghampiri Nana. "Mencari siapa nona?" Tanya supir
"Aku cari sahabatku yang ku titipkan sama pria, tadi pria itu ada di sini." Telunjuk Nana menunjuk ke sampingnya.
Pak sopir malah menggaruk kepala,ragu untuk bicara. "Saya tidak tahu. Tapi d-di dalam, ada tuan saya nona, sedang...emmm"
Nana melihat ke mobil itu, ada keanehan, ia mengintip lewat jendela mobil. Clare tak terlihat, yang terlihat hanya satu pria sedang telanjang baju, gerakannya geragas.
"Dia yang tadi merokok di luar itu?" Tanya Nana, matanya tak berhenti untuk tak melirik.
"Ya, memang benar." Jawab sopir.
"Yasudah, kalau seperti itu saya pergi!" Ia pergi, melangkah cepat, menaiki mobilnya.
Bump!
"Semoga kamu bisa terlepas dari si Hans bajingan itu, nikmati waktumu sayang!" Gumamnya di mobil, ia berbicara seolah Clare sedang mendengar.