Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan Seorang Ibu
Nindya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar Arka. Sebelum memutar gagang pintu, ia menoleh sedikit, menatap Haris dari samping dengan tatapan yang jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya. Ada ketegasan mutlak dari seorang ibu yang sedang melindungi anaknya.
"Dan satu lagi," potong Nindya sebelum Haris sempat membalas ucapan sebelumnya. Suaranya rendah, namun menekankan setiap kata dengan penuh ancaman. "Jangan pacaran di jalan. Guru dan para wali murid Arka banyak yang tinggal di daerah itu. Jangan buat Arka harus menanggung masalah di sekolahnya karena kelakuanmu."
Ucapan itu telak. Sebuah teguran keras yang menghantam moral Haris hingga berkeping-keping.
Tanpa menunggu reaksi dari suaminya yang mendadak membisu, Nindya memutar gagang pintu, melangkah masuk ke kamar Arka, dan menutupnya rapat-rapat. Suara klak pengunci pintu yang berbunyi halus seolah menegaskan bahwa pintu itu tak lagi terbuka untuk Haris.
Di lorong luar, Haris berdiri mematung. Kata-kata Nindya terus bergema di dalam kepalanya, memukul dadanya dengan rasa malu yang teramat sangat. Pria berjas mahal yang biasanya penuh percaya diri di dunia bisnis itu kini merasa begitu kecil dan kerdil. Nindya bahkan tidak mempermasalahkan rasa sakit hatinya sendiri—wanita itu hanya peduli pada nama baik dan masa depan Arka.
Haris menyandarkan punggungnya di dinding lorong yang dingin. Wajahnya diusap kasar. Selama ini, ia menganggap dirinya adalah sosok pahlawan penanggung jawab yang telah menafkahi Nindya dan Arka secara materi. Namun malam ini, ucapan Nindya menelanjangi kenyataan yang sebenarnya: bahwa di balik statusnya sebagai kepala keluarga, ia adalah seorang ayah yang kekanak-kanakan dan hampir mencoreng nama baik putranya sendiri demi wanita lain.
Pikiran Haris makin kacau ketika melirik pintu kamar utama yang terbuka lebar di ujung lorong. Kamar yang dulu selalu terasa hangat oleh harum parfum Nindya dan senyuman lembut istrinya kini tampak sepi dan menakutkan. Tidak ada lagi Nindya yang menunggu dengan setia. Tidak ada lagi wanita yang membalur punggungnya dengan minyak hangat saat ia kelelahan.
Dengan langkah terseok, Haris melangkah masuk ke kamar utamanya sendirian. Ia melepas jas hitamnya, menyangkutkannya di kursi dengan layu, lalu melempar tubuhnya ke atas kasur berukuran king size yang terasa begitu luas dan dingin.
Ponsel di dalam saku celananya bergetar. Sebuah pesan dari Siska masuk, menanyakan mengapa Haris meninggalkannya begitu saja dan meminta Haris datang ke apartemennya esok hari.
Haris menatap layar ponsel yang menyala itu dalam kegelapan kamar. Dulu, pesan dari Siska selalu berhasil mengulas senyum di bibirnya. Namun malam ini, melihat nama wanita itu di layarnya justru memicu rasa sesak di dadanya. Ada kejengkelan dan penyesalan yang samar-samar mulai tumbuh.
Haris mematikan layar ponselnya tanpa membalas pesan Siska, menyimpannya di meja nakas, lalu menatap langit-langit kamar yang gelap. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan mereka, Haris tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Nindya yang anggun, dingin, dan tak lagi membutuhkan cintanya terus membayangi pikirannya hingga fajar menyingsing.
Kegelapan malam makin pekat, namun mata Haris tetap terbuka lebar menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Di atas tempat tidur berukuran king size yang begitu luas ini, Haris menyandarkan tubuhnya sendirian. Kasur yang biasanya terasa pas kini mendadak terasa begitu lapang, asing, dan menyiksa.
Pandangan Haris perlahan beralih ke sisi sebelah kiri kasur—sisi tempat Nindya biasa berbaring selama empat tahun terakhir. Sisi itu kini kosong melompong. Bantalnya tertata rapi tanpa lekukan, kain sprei-nya licin tak tersentuh, dan hawanya begitu dingin.
Untuk pertama kalinya, Haris benar-benar menyadari ketidakadaan istrinya. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mendapati Nindya berbaring di sana. Ia terbiasa melihat punggung halus istrinya yang membelakanginya setiap kali ia berucap dingin, menyuruh Nindya cepat tidur. Dulu, meski Nindya membelakanginya, Haris tahu wanita itu ada di sana—menunggunya, mengharapkannya, dan menyimpan cinta yang tulus untuknya. Punggung Nindya di samping kasur itu adalah simbol keheningan yang selalu Haris anggap sebagai kepasrahan mutlak.
Namun malam ini, punggung itu telah menghilang dari sisinya. Nindya tidak lagi berada di kasur ini. Wanita itu telah mengangkat kaki dan memilih tidur di kamar Arka, membawa serta seluruh harapan dan cintanya yang telah mati.
Dilema hebat mulai mencengkeram dada Haris. Perasaan bersalah, malu, dan rasa kehilangan yang mendalam bercampur menjadi satu adonan emosi yang mencekik lehernya.
Di satu sisi, egonya mendesak bahwa ia tidak melakukan kesalahan fatal. Bukankah ia telah memenuhi seluruh kebutuhan hidup Nindya dan Arka? Bukankah ia menikahi Nindya sebagai bentuk tanggung jawab atas utang nyawa di masa lalu? Namun di sisi lain, bayangan Nindya tadi siang di tepi jalan—dengan gaya rambut barunya yang anggun, gaunnya yang menawan, serta tatapan matanya yang dingin dan tak tersentuh—terus berputar di benaknya seperti rekaman ulang yang menyiksa.
Nindya yang baru ini begitu memikat, begitu berkelas, namun sekaligus begitu jauh dari jangkauannya. Pria mana pun yang melihat Nindya hari ini pasti akan terpana, dan kenyataan bahwa wanita luar biasa itu adalah istri sahnya—yang baru saja ia sia-siakan demi Siska—membuat ego kewanitaan Haris rasanya dicabik-cabik.
Haris mengubah posisinya, miring menghadap ke sisi kosong tempat tidur Nindya. Tangannya terulur ragu, menyentuh permukaan sprei yang dingin di bekas tempat tidur istrinya.
Apakah aku benar-benar telah kehilangannya? batin Haris bertanya-tanya dengan dada sesak.
Ponselnya di meja nakas kembali bergetar pelan, menunjukkan nama Siska di layar. Namun Haris bahkan tidak sudi meliriknya. Rasa khawatir dan rasa cinta yang selama ini ia agung-agungkan untuk Siska mendadak menguap, tergantikan oleh ketakutan baru yang membakar jiwanya: ketakutan bahwa Nindya benar-benar tidak akan pernah kembali ke kasur ini, dan tidak akan pernah menatapnya dengan penuh cinta lagi.
Haris menarik tangannya kembali, memeluk dadanya sendiri di tengah kamar yang sepi. Pria yang dulu merasa memegang kendali penuh atas pernikahan ini kini harus menelan kenyataan pahit bahwa ia mulai tenggelam dalam penyesalannya sendiri.