NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Dua hari setelah uji coba itu, rutinitas kembali seperti biasa. Zain kembali menghabiskan hari-harinya di jalan. Pagi mengantar karyawan, siang mengantar mahasiswa, dan sore mengantar ibu-ibu yang baru selesai belanja.

Kegagalan mesin di laboratorium perlahan terlupakan. Baginya, dunia ilmuwan terlalu jauh dari kehidupannya. Yang lebih penting sekarang adalah target harian. Kalau bisa tembus dua ratus lima puluh ribu rupiah, hari itu sudah termasuk bagus.

Menjelang pukul sebelas siang, ponselnya berdering. Nama yang muncul sudah tidak asing lagi: Prof. Surya.

Zain segera menerima orderan tersebut. Beberapa menit kemudian, Profesor sudah duduk di jok belakang. Namun kali ini beliau tampak lebih pendiam dan sepanjang perjalanan hampir tidak berbicara.

Baru ketika motor berhenti di lampu merah, Profesor membuka suara. "Zain."

"Iya, Pak?"

"Sabtu kemarin... terima kasih sudah datang."

"Saya malah senang, Pak."

"Walaupun gagal?"

"Gagal kan biasa."

Profesor tersenyum tipis. "Kamu benar."

"Lagian saya juga enggak ngerti alatnya. Saya cuma senang bisa lihat orang-orang yang semangat sama pekerjaannya."

Profesor memandang punggung Zain beberapa saat. "Jarang ada yang berkata seperti itu."

Setelah tiba di kampus, Profesor tidak langsung turun. "Kalau sore nanti selesai narik... mau mampir sebentar?"

"Boleh."

"Ada yang ingin saya bicarakan."

...

Pukul lima sore, Zain kembali ke laboratorium. Namun kali ini tujuannya bukan ke ruang mesin besar, sebab Profesor mengajaknya ke sebuah ruangan kecil yang lebih mirip kantor—hanya ada meja kayu, rak buku, dan teko berisi kopi.

Profesor menuangkan dua cangkir. "Silakan."

"Terima kasih, Pak."

Mereka minum dalam diam. Beberapa menit kemudian, Profesor membuka sebuah map yang berisi beberapa lembar gambar teknik.

Zain langsung mengenalnya. "Itu... motor saya?"

Profesor mengangguk. "Benar."

Zain mengernyit. "Lho? Bapak kok gambar motor saya?"

Profesor tidak langsung menjawab, melainkan mendorong gambar itu ke arah Zain. "Menurutmu... apa kelebihan motor matik dibanding motor lama?"

Zain berpikir. "Lebih irit, lebih nyaman, suku cadangnya gampang, dan CVT-nya juga halus."

Profesor mengangguk puas. "Tepat. Lalu kekurangannya?"

"Elektroniknya banyak. Kalau rusak agak repot."

Profesor tersenyum. "Itu sebabnya saya mengamatinya."

Zain masih belum mengerti. "Pak... sebenarnya Bapak mau bikin apa?"

Profesor menyandarkan punggung ke kursi. "Saya ingin membuat sebuah kendaraan eksperimen."

"Kendaraan?"

"Iya."

"Kenapa motor?"

Profesor menatap lurus ke mata Zain. "Karena motor jauh lebih sederhana, lebih ringan, dan lebih mudah dimodifikasi. Lagipula..." Ia tersenyum kecil. "...orang tidak akan curiga melihat motor."

Zain tertawa. "Itu sih benar."

Motor ada di mana-mana dan tak ada yang memperhatikannya secara berlebihan.

Profesor kembali serius. "Saya ingin meminta bantuanmu."

"Bantuan apa?"

"Mulai minggu depan, kalau kamu punya waktu luang... datanglah setiap Sabtu. Kita membangun sesuatu bersama."

Zain berkedip. "Saya? Kan saya bukan ilmuwan."

"Bukan."

"Bukan insinyur juga."

"Bukan."

"Terus kenapa pilih saya?"

Profesor terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tenang. "Karena kamu tahu motor, kamu sabar, dan... kamu tidak pernah menertawakan mimpi saya."

Ruangan menjadi hening. Zain menatap gambar motornya sekali lagi. Ia masih belum tahu proyek apa yang sebenarnya sedang dirancang Profesor Surya.

Ia merasa sedang berdiri di depan sebuah persimpangan. Kalau ia menerima tawaran ini, mungkin hidupnya akan berubah—meski ia belum tahu, apakah berubah menjadi lebih baik atau justru sebaliknya.

Zain tidak langsung menjawab. Ia menatap gambar motornya beberapa saat.

"Pak... kalau saya ikut bantu... saya dibayar enggak?"

Profesor Surya terdiam, lalu tertawa cukup keras. "Hahaha... akhirnya ada juga yang bertanya begitu."

"Lho?"

"Saya kira kamu akan bertanya proyek apa."

Zain mengangkat bahu. "Kalau tiap Sabtu saya di sini, berarti saya enggak narik. Ya penghasilan berkurang."

Profesor mengangguk pelan. "Itu pertanyaan yang wajar."

Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Anggap saja honor sebagai asisten."

Zain buru-buru menggeleng. "Eh, Pak. Saya cuma bercanda."

"Saya tidak." Profesor meletakkan amplop itu di atas meja. "Waktu seseorang tetap berharga. Kalau kamu meluangkan waktu untuk penelitian saya, sudah seharusnya kamu mendapat imbalan."

Zain sempat ragu, namun akhirnya ia menerima amplop itu. "Terima kasih, Pak."

"Jangan dibuka sekarang."

"Iya."

Dalam perjalanan pulang, Zain beberapa kali melirik amplop yang tersimpan di dalam tasnya. Sesampainya di rumah, ia baru membukanya. Isinya beberapa lembar uang. Tidak terlalu banyak, namun cukup untuk mengganti penghasilan sehari penuh sebagai pengemudi ojol.

"Serius nih..." gumamnya.

Ia kembali memasukkan uang itu ke dalam amplop. Dalam hati, ia semakin menghormati Profesor Surya. Orang tua itu bukan hanya menghargai ilmu, tetapi juga menghargai waktu orang lain.

Malamnya, saat makan bersama Kakek, Zain menceritakan semuanya.

"Jadi tiap Sabtu kamu bantu profesor?"

"Iya."

"Terus dibayar?"

"Iya."

Kakek mengunyah perlahan. "Bagus."

"Menurut Kakek aman?"

"Aman atau tidak..." Kakek tersenyum. "...itu nanti. Tapi selama ini profesor itu pernah berbuat macam-macam?"

"Enggak."

"Pernah bohong?"

"Kayaknya enggak."

"Pernah memanfaatkan kamu?"

"Enggak juga."

"Nah." Kakek mengambil segelas air. "Menilai orang itu jangan dari omongannya. Lihat kebiasaannya."

Zain mengangguk pelan. Nasihat itu sederhana, namun sangat masuk akal.

...

Sabtu berikutnya, untuk pertama kalinya Zain datang ke laboratorium bukan sebagai tamu, tetapi sebagai seseorang yang memang ditunggu.

"Selamat pagi, Zain," sapa salah satu teknisi.

"Pagi."

"Ayo, Prof sudah di bengkel."

Bengkel bawah tanah itu kini jauh lebih hidup. Beberapa meja dipenuhi komponen elektronik, ada aki bertegangan tinggi, motor listrik, dan kabel berwarna-warni.

Di tengah ruangan, motor merah marun itu masih berdiri. Namun di sampingnya, terlihat rangka besi lain yang ditutupi kain hitam.

"Pak," Zain menghampiri Profesor Surya. "Hari ini kita ngapain?"

Profesor tersenyum. "Hari ini belum membangun."

"Lalu?"

"Kita membongkar."

"Membongkar?"

Profesor berjalan menuju motor matik milik Zain yang terparkir di sudut bengkel.

Zain langsung terkejut. "Lho... motor saya kok di sini?"

"Tadi pagi saya minta satpam memasukkannya." Profesor mengeluarkan kotak berisi kunci-kunci bengkel. "Tenang, kita tidak akan merusaknya. Untuk sementara, kita hanya ingin mengenalnya lebih dalam."

Zain memandangi motor kesayangannya, lalu memandang Profesor Surya. Ia menarik napas panjang.

"Ya sudah, Pak. Kalau memang harus dibongkar... yang penting nanti bisa dipasang lagi."

Profesor tersenyum tipis. "Itu janji saya."

Tanpa mereka sadari, di balik pintu kaca ruang observasi, dua orang peneliti memperhatikan dari kejauhan.

"Prof benar-benar memilih anak itu?"

"Sepertinya begitu."

"Semoga kali ini... beliau tidak kecewa lagi."

Kalimat itu menggantung di udara, menyiratkan bahwa sebelum Zain datang, Profesor Surya rupanya pernah menaruh harapan kepada orang lain—dan harapan itu pernah berakhir dengan kegagalan.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!