Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Taruhan.
Tiba-tiba saja Markus si dokter bedah ternama itu menggelontorkan kata-kata yang terdengar sangat menantang bagi Zane.
Aldrik tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan tersebut. "Kau ingin bertaruh? Oke ... kita berempat akan taruhan. Siapa yang lebih dulu mendapatkannya? tapi bagaimana dengan hadiah taruhannya?"
" Kenapa kau melibatkan aku? Aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu." Ucap Caspian dingin.
" Hey Brother ... Kau hanya belum melihatnya dari dekat, suatu saat nanti kau pasti akan tertarik padanya. Jika kau sudah melihatnya secara dekat kau pasti langsung terpesona. Kau hanya mengintipnya dari jarak jauh, kau tidak melihat bagaimana tubuhnya itu ... tubuhnya seindah biola ... itu sangat menawan membuat jiwa lelakiku ingin meronta dan melumatnya." Ujar Aldrik penuh nafsu.
"Aku bukan orang sepertimu yang ketika melihat wanita berubah menjadi binatang buas."
" Sudahlah ... jangan munafik, kau memang terkenal dingin dan ketus kepada wanita. Katakan saja ... apa kau tidak bisa melakukan percintaan dengan seorang wanita?"
"Ya benar ... Caspian...kau sudah setua ini tapi kau tidak punya pacar. Apa jangan-jangan itu tidak berfungsi??"
" Tutup mulutmu!"
Caspian murka kepada Markus yang mengejeknya. Dia menodongkan pistol ke wajahnya. Mereka malah berdebat membahas sesuatu yang sama sekali tak diketahui olehku.
"Hey bro ... tenanglah ... kita ini saudara men ..." canda Aldrik sambil menurunkan tangan Caspian yang memegang senjata api.
Caspian duduk kesal. Mungkin perkataan Markus membuat hal sensitif nya terusik. Dia meneguk botol wine. Wajahnya berubah suram. Nafasnya cepat.
Caspian adalah seorang Ceo dari empat perusahaan Starling Gruop yang bergerak di bidang persenjataan dan berbagai pabrik lainnya. Tak pernah sekalipun dia di gosipkan dekat dengan seorang gadis, wajar jika saudara sepupunya mengejek.
"Bagaimana?"
"Oke ... deal... kita bertaruh ... Jika aku mendapatkan dia lebih dulu, aku akan meminta 30% hak pengiriman barang di pelabuhan milikmu ... " kata Caspian menunjuk Zane sebagai mantan Army yang kini menangani pelabuhan Starling Gruop.
"Oke ... jika aku yang menang ... kau harus memberikan pabrik senjata itu kepadaku ... kau hanya pantas jadi Ceo dingin ... bukan mafia dari dunia bawah. Harusnya kakek menyerahkan persenjataan kepadaku, bukan kepadamu."
"Oke ... oke ... aku juga akan menawarkan sesuatu yang tidak bisa kalian tolak. Aku mempertaruhkan sistem keamanan StarlingGruop. " Sela Aldrik.
"Orang-orang bodoh seperti kalian tak pantas menerima taruhanku. Jika aku kalah aku akan menyerahkan satelit pengobatan pribadi milikku pada kalian. Ya ... aku akan jadi dokter di rumah sakit biasa saja." gumam Marcus mengejek.
Tanpa aku ketahui keempat targetku itu telah membuat sebuah taruhan yang besar, yang mana hadiahnya bisa membuat seseorang geleng kepala.
Keesokan harinya.
Sore itu, aku baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambut hitamku yang panjang, tiba-tiba handphone-ku bergetar hebat di atas meja riasku. Aku buru-buru mengangkat telepon tersebut karena panggilan itu dari Pak Jojo. Pasti ada sesuatu yang penting sampai orang tersebut menelponku. Benar saja, dari informasi yang kuterima melalui panggilan telepon tersebut, pak Jojo mengatakan bahwa malam ini akan ada pertandingan besar di boxing hole atau tinju bawah tanah yang mana ketuanya itu adalah Zane.
Zane adalah seorang mantan tentara yang mengundurkan diri, lebih tepatnya dipecat karena melanggar protokol Army yang menyebabkan beberapa rekannya tewas di perbatasan Brazil. Hobinya adalah bertarung, hingga dia menciptakan sebuah arena khusus di bawah tanah sebagai pertarungan ilegal yang dapat memuaskan nafsu tarungnya yang tak terkendali.
Boxing hole adalah sumber penghasilan sampingan dari Zane. Setiap minggu dia membuka pertarungan besar yang akan membawa taruhan jutaan dolar dari penikmat boxing di seluruh dunia.
Boxing Hole sudah beberapa kali di sergam polisi, karena merupakan boxing ilegal yang mempertaruh nyawa pemain. Namun setiap kali di geledah, selalu ada otoritas yang lebih tinggi melindunginya. Sehingga Zane selalu berjaya dalam permainan itu.
Menurut informasi dari pak Jojo, lantai bawah dari arena boxing adalah tempat yang harus di selidiki.
Aku ditugaskan untuk menyusup ke sana oleh organisasi. Tentu saja aku tak menolak, karena aku ingin melihat dengan mataku sendiri, bagaimana cara keluarga Starling mengubah manusia menjadi binatang yang rela bertarung hanya demi uang .
"Aku ingin lebih mengenal keluarga Starling, dengan begitu akan lebih mudah menghancurkannya." Gumamku sambil membuka lemari mencari pakaian yang akan ku kenakan.
Untuk pergi ke arena itu, aku sama sekali tidak membekali tubuhku dengan persenjataan, karena di sana tidak boleh membawa senjata. Jika aku membawa pistol ataupun pisau itu akan membuat kecurigaan semakin mengarah kepadaku. Aku berpakaian seksi dan ketat hanya menggunakan bra berwarna hitam pekat sebagai dalam dan juga hotpants berwana biru gelap.
Aku membungkus tubuhku dengan long blazer hitam sebetis. Tak lupa aku mengenakan sepatu spot kesayanganku berwana putih biru dan kacamata hitam yang membuatku semakin misterius.
Sesampainya di Boxing hole, aku langsung melihat-lihat keadaan. Begitu ramai pengunjungnya. Barisan tempat duduk yang membentuk spiral di penuhi oleh penonton dari berbagai penjuru dunia. Banyak orang-orang Arab dan kulit hitam yang memasang taruhan tinggi pada petarung di arena bawah.
Aku menyusup semakin kedalam di tengah kerumunan pengunjung di sana. Aku mencari tangga lantai bawah yang di katakan pak Jojo. Sudah berulang kali aku mengitari area itu namun aku tak menemukan satupun anak tangga yang terhubung ke lantai bawah. Keramik lantai juga ku periksa, tak ada yang mencurigakan. Semuanya padat, tak seperti pintu rahasia.
"Kemana aku harus mencari lantai bawah itu? Tidak ada petunjuk sama sekali?" Aku bergumam sedikit kesal.
Aku jadi gelisah karena tak mendapat petunjuk. Aku mondar mandir di depan toilet. Aku ingin masuk, tapi kedua toilet itu diisi tamu. Akhirnya Aku memutuskan untuk pergi menjauh dari toilet dan berjalan kesal tanpa memandang ke depan. Tak sengaja kepalaku membentur tubuh seseorang.
Au ... aku menjerit pelan sambil memegang kepalaku. Saat mengangkat kepala, mataku menegang.
"Caspian Starling... " Aku buru-buru menutup mulutku dan memalingkan wajah.
"Hei Nona ... kita bertemu lagi," sapa Aldrik dari balik tubuh gagah Caspian.
Ceo itu hanya menatapku dengan pandangan dingin sambil sesekali menepis jas hitamnya bekas sundulan kepalaku. Baru kali ini aku menatap Caspian dari dekat.
Aku terpana, seorang laki-laki berusia 33 tahun bisa memiliki wajah dan bentuk tubuh yang sempurna bak atlet. Bola matanya berwarna emas, wajahnya yang lurus dan dingin membuatku ingin sekali menaklukkan nya.
Entah angin apa yang membuat Caspian mendekat kepadaku lebih dulu.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, apa ..."
"A .. aku .. ingin menonton pertandingan boxing ..."
Belum sempat dia menanyakan tujuanku, aku sudah lebih dulu memotong pembicaraan.
"Hei Nona ... ayo menonton dari bangku Vip bersamaku," ajak Aldrik mengulurkan tangan.
Aku sedikit gugup, kedua orang itu tiba-tiba berinisiatif. Ada apa? Apa mereka mencurigaiku? Kepalaku penuh oleh pertanyaan.