Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
skenario
Pintu ganda dari kayu mahoni berukir emas itu terbuka perlahan. Siska melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh seorang gadis yang berjalan dengan langkah agak ragu namun tetap berusaha menegakkan kepalanya: Larasati.
Begitu menapakkan kakinya melewati ambang pintu, mata Larasati seketika membelalak lebar. Pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan kerjaku.
Kemewahan ruang CEO Glowinc Group yang luasnya hampir sama dengan tiga unit apartemen kelas atas itu benar-benar mengintimidasi dirinya. Lantai marmer berkilau, lampu gantung kristal yang megah, serta pemandangan panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca raksasa di belakang mejaku, membuat Larasati terpaku beberapa detik.
Namun, kejutan sesungguhnya baru menghantam Larasati ketika matanya akhirnya berbenturan dengan mataku.
Aku duduk anggun di balik meja kerja raksasaku, mengenakan blazer krem berpotongan elegan dengan tatanan rambut yang tersanggul rapi. Aku menatapnya penuh ketenangan yang mematikan.
"A-anda?!" seru Larasati spontan, menunjuk ke arahku dengan jari gemetar.
Mata gadis dua puluh tahun itu membelalak bulat sempurna. Ingatannya berputar cepat pada peristiwa kemarin siang di mall mewah saat ia sedang memamerkan tas desainer pemberian Aris, dan seorang wanita berpenampilan sangat berkelas sempat secara tidak sengaja menyenggol bahunya di lorong butik.
Aku menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, menyilangkan jemariku di atas meja.
"Ya, ini saya," sahutku pelan, suaraku bergema lembut namun sarat akan wibawa di dalam ruangan yang luas itu. "Saya Titania... istri sah dari Aris Pratama. Pria yang kamu akui sebagai suamimu."
Larasati menelan ludah kasar. Rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi raut wajah membela diri. Ia mencoba menguasai rasa gemetarnya, membusungkan dada, dan melangkah mendekati meja kerjaku dengan angkuh sebuah keberanian kosong khas anak muda yang minim pengalaman hidup.
"Oh... jadi Anda istri sah Mas Aris yang dingin dan tidak bisa kasih anak itu?" cibir Larasati dengan nada menyindir, mencoba menutupi rasa mindernya di hadapan kemewahan ruangan ini. "Pantas saja Mas Aris berpaling ke saya! Anda cuma sibuk cari uang, tapi tidak bisa memberikan fungsi yang paling mendasar dari seorang istri!"
Siska yang berdiri di dekat pintu tampak memejamkan mata sejenak, menahan kekehannya. Sementara aku, sama sekali tidak terpengaruh oleh provokasi murahan tersebut. Aku hanya menatap Larasati bagaikan seorang manusia dewasa yang sedang memperhatikan tingkah anak kecil yang sedang merajuk.
"Katakan apa tujuanmu datang ke mari, Larasati," potongku tenang tanpa menaikkan nada bicara. "Waktuku terlalu berharga untuk mendengarkan dongeng masa lalu dari seorang wanita yang baru saja sadar kalau dia ditipu."
Wajah Larasati memerah padam mendengar respons dinginku. Ia menghentakkan kakinya keras ke lantai marmer.
"Saya ke sini untuk minta keadilan!" gertak Larasati dengan suara meninggi. Ia menepuk perutnya sendiri yang masih rata. "Di dalam perut saya ini ada anak Mas Aris! Darah daging keluarga Pratama! Sekarang Mas Aris ditangkap polisi dan restoran bangkrut, hidup saya terlunta-lunta! Anda sebagai istri sah yang kaya raya harus bertanggung jawab atas masa depan anak ini!"
Aku menaikkan sebelah alisku, benar-benar terhibur oleh alur berpikirnya yang sangat ajaib. "Saya harus bertanggung jawab atas anak dari wanita simpanan suami saya? Atas dasar apa?"
"Atas dasar Anda itu istrinya Mas Aris dan Anda punya semua uangnya!" seru Larasati tanpa malu-malu. Ia memajukan tubuhnya ke arah meja kerjaku, menatapku dengan tatapan mengancam. "Dengarkan saya baik-baik, Bu Tita! Kalau Anda tidak berikan hak untuk anak saya saya minta rumah, mobil, dan uang tunai dua miliar rupiah sekarang juga saya tidak akan segan-segan mendatangi wartawan dan membeberkan semua fakta tentang Saya!"
Larasati tersenyum menang, mengira ia telah memegang kartu truf yang akan membuatku panik.
"Saya tahu Anda sangat menjaga nama baik Glowinc Group," lanjut Larasati dengan nada memeras yang makin menjadi-jadi. "Saya bakal buka suara ke semua media cetak dan TV! Saya bakal bilang kalau CEO Glowinc Group adalah wanita jahat dan tega menelantarkan bayi yang ada di kandungan istri siri suaminya sendiri! Kita lihat seberapa hancur saham perusahaan Anda setelah berita itu naik esok pagi!"
Selesai Larasati berbicara, ruangan itu mendadak hening.
Larasati berdiri dengan dada membusung, menunggu reaksi panik, tangisan, atau tawaran negosiasi dariku. Namun, apa yang ia harapkan sama sekali tidak terjadi.
Aku tidak panik. Aku tidak marah. Sebaliknya, aku justru menyandarkan punggungku di kursi kerja kulit, lalu tertawa renyah sebuah tawa lirih yang sangat elegan namun sarat akan penghinaan.
"Kamu mau ke wartawan?" tanyaku setelah tawa pelanku mereda. Aku menyatukan kedua tanganku di atas meja, menatap mata Larasati dengan pandangan menusuk yang seketika membuat nyali gadis itu menciut. "Silakan, Larasati. Pintu keluar di sebelah sana. Mau saya panggilkan sekuritas untuk mengantarkanmu langsung ke hadapan kamera para awak media yang tadi sudah di bubarkan?"
Larasati tercengang, matanya berkedip-kedip bingung. "M-maksud Anda apa?! Anda tidak takut reputasi Anda hancur?!"
"Kenapa saya harus takut?" sahutku dingin. "Coba gunakan otakmu sebentar untuk berpikir, Larasati. Dalam skandal ini, siapa yang sebenarnya paling dirugikan dan diuntungkan oleh kebenaran?"
Aku bangkit berdiri dari kursi kerjaku, melangkah perlahan mengitari meja mahoni dan berdiri hanya sejengkal di hadapan Larasati. Tinggi badanku dan aura kekuasaan yang kupunya membuat Larasati secara refleks mundur setengah langkah.
"Yang menikahi kamu secara siri adalah Aris Pratama, bukan saya," ucapku tegas, menunjuk dada Larasati dengan ujung penaku. "Yang memberikan kamu janji-janji manis soal mobil dan apartemen adalah Aris, bukan saya. Yang menipu kamu dengan status berpura-pura menjadi pengusaha kaya padahal dia menggunakan uang saya adalah Aris! Kamu itu korban dari kepalsuan Aris, dan kamu datang memeras saya?!"
Larasati membeku, bibirnya terkatup rapat saat menyadari logikaku yang sangat presisi.
"Kalau kamu bicara ke media bahwa kamu adalah istri simpanan Aris yang sedang hamil dan sekarang ditinggal tanpa uang sepeser pun, masyarakat tidak akan menyalahkan saya," lanjutku dengan nada menusuk. "Masyarakat justru akan menertawakan kebodohanmu! Publik akan melihat kamu sebagai seorang wanita muda yang tergiur harta, mau dijadikan wanita simpanan pria beristri, dan akhirnya gigit jari karena ternyata pria yang kamu impikan itu cuma seorang narapidana miskin!"
"S-saya..." Larasati terbata-bata, wajahnya yang tadi garang kini berubah pucat pasi.
"Reputasi siapa yang hancur?" tanyaku lagi, menekankan setiap kata. "Bukan reputasi saya sebagai CEO Glowinc Group, melainkan nama baikmu dan keluargamu seumur hidup! Kamu akan dicap sebagai pelakor yang gagal mendapatkan harta!"
Siska yang berdiri di dekat pintu menyunggingkan senyum puas yang amat lebar. Siska menatap bosnya dengan binar kagum yang luar biasa. Inilah kehebatan Tita yang selalu ia kagumi seorang wanita karier yang berkelas, tegas, bernalar tajam, dan tidak pernah sedikit pun takut pada gertakan musuh ketika ia berada di posisi yang benar.
Aku melangkah mendekati Larasati yang kini gemetar ketakutan, menatap wajah muda gadis itu dengan pandangan prihatin yang dingin.
"Kamu masih dua puluh tahun, Larasati," ucapku memberikan nasihat yang tajam bagai sembilu. "Masa depanmu masih panjang. Tapi kamu memilih jalan pintas dengan menjadi wanita gatal menempel pada suami orang hanya karena tergiur silau materi yang bahkan bukan milik pria itu."
Aku menepis rambut pendek Larasati yang menutupi bahunya dengan ujung jari-jariku, membuat gadis itu merinding.
"Jangan pernah mimpi bisa memeras saya pakai alasan anak," lanjutku tegas. "Kalau kamu butuh biaya melahirkan atau hak anakmu, datang ke sel tahanan Aris di kantor polisi! Minta pada Aris atau temui ibunya yang dulu sangat mendambakan cucu dari kamu! Jangan mengetuk pintu saya, karena bagi saya, kamu dan anak itu hanyalah bukti dari kelakuan busuk mantan suami saya yang sudah saya buang ke tempat sampah!"
Larasati berdiri mematung di tengah ruangan. Seluruh gertakan, ancaman, dan rasa percaya diri yang ia bawa dari luar seketika hancur berkeping-keping. Di hadapan Tita, ia merasa seperti sebutir debu yang tidak ada harganya sama sekali.
"Siska," panggilku tanpa menoleh.
"Ya, Bu Tita?" sahut Siska sigap.
"Antarkan wanita ini keluar dari gedung kita," perintahku tenang sembari berjalan kembali ke balik meja kerjaku. "Dan pastikan dia tidak menginjaki kakinya lagi di area Glowinc Group. Kalau dia mencoba membuat kekacauan di luar, hubungi kepolisian atas tuduhan pemerasan dan pengancaman."
"Baik, Bu Tita. Mari, Mbak Larasati," ucap Siska dengan nada yang sangat sopan namun tegas, membukakan pintu lebar-lebar untuk Larasati.
Larasati menatapku sekali lagi dengan mata berair menahan malu dan kekalahan yang telak. Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi, gadis itu berbalik arah dan melangkah pergi keluar dari ruang kerja dengan kepala menunduk dalam-dalam.
Pintu kayu mahoni itu kembali tertutup rapat.
Aku kembali duduk di kursi besarku, meraih cangkir teh hijau yang masih hangat, dan menyesapnya dengan tenang. Permainan ini sudah sepenuhnya ada di kendalikanku, dan tidak ada satu orang pun yang bisa menjatuhkanku lagi.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣