NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Protokol Darurat Sistem

​Matahari pagi di kawasan Tambora baru saja naik setinggi galah, memantulkan sinarnya pada genangan air parit kecil di sudut gang yang dibatasi oleh jalinan kabel listrik semrawut. Udara pengap khas pemukiman padat Jakarta Barat mulai bercampur dengan aroma tumisan bawang dari dapur-dapur rumah petak. Arya Prasetya berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang kacanya sudah buram di beberapa sudut, sibuk merapikan kerah jaket ojol premium Anti-Gosong Indestructible miliknya.

​Ketika kain hijau zamrud mengkilap itu membungkus tubuhnya, Arya kembali terpukau. Desain slim-fit jaket tersebut benar-benar mencetak lekuk dada bidang serta bahunya yang tegap dengan sangat sempurna. Tekstur serat karbonnya yang halus memancarkan kilau perak elegan setiap kali tubuhnya bergerak. Arya menatap bayangan wajahnya di cermin. Rahang tegasnya, hidung mancungnya yang proporsional, serta rambut hitam yang sedikit berantakan pasca-tidur memberikan impresi visual seorang pangeran dinasti kaya yang sedang menyamar sebagai rakyat jelata.

​“Aduh, ini jaket kalau dilihat-lihat makin mirip baju zirah pahlawan super di film-film bioskop,” Arya bermonolog dalam batinnya sambil mengembuskan napas panjang, meratapi hilangnya nasibnya sebagai driver ojol biasa yang tidak mencolok. “Sistem, lu bener-bener mau bikin gua jadi pusat perhatian satu kecamatan ya? Kemarin gara-gara jaket ini, Bang Jay sama Dedi hampir ngira gua piara babi ngepet digital. Hari ini kalau gua narik ke jalan raya besar, apa gak bakal dikejar-kejar emak-emak komplek buat dimintain foto bareng? Tapi ya sudahlah, demi rating bintang lima dan demi duit lima juta kemarin yang bisa buat nyetok beras pandan wangi, gua harus tetap profesional lahir batin!”

​Arya melangkah keluar ke teras rumah yang berukuran tiga kali tiga meter. Di sana, bapaknya, Pak Surya, sedang duduk dengan kaos kutang putihnya yang legendaris, sibuk membersihkan jeruji sangkar burung perkututnya yang kemarin mendadak berkicau merdu setelah tiga tahun gagu total.

​"Mau jalan narik lagi, Le?" tanya Pak Surya tanpa menoleh, suaranya yang berat dan serak menyiratkan ketegasan khas seorang kepala keluarga tua yang memegang teguh nilai moral. "Ingat pesan Bapak. Kemarin kamu dapet rezeki besar, jangan sampai bikin matamu silau. Kalau ada penumpang yang kesusahan di jalan, tetap tolong dengan tulus. Jangan pilih-pilih bentukan orangnya."

​"Iya, Pak. Arya jalan dulu ya." jawab Arya sambil mencium punggung tangan bapaknya yang kasar dengan penuh rasa hormat.

​Arya menuruni undakan semen teras, melangkah menuju motor Honda Supra Fit tahun 2006 kesayangannya yang terparkir di bawah pohon beringin samping Warkop Mbak Sri. Baru saja tangan kanannya menyentuh stang motor yang diganjal kardus itu, telinganya menangkap suara gemuruh mesin yang sangat asing bagi lingkungan Tambora. Suara itu bukan suara cempreng motor matic yang knalpotnya bocor, melainkan deru mesin V8 silinder berkapasitas besar yang sangat halus, berat, dan bertenaga tinggi.

​Dari ujung gang utama yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil sedan kecil, muncul sebuah iring-iringan kendaraan yang langsung menghentikan seluruh detak kehidupan sosial di Tambora. Di barisan paling depan, sebuah mobil mewah Mercedes-Maybach S-Class berwarna hitam legam berjalan merayap dengan sangat anggun. Bodi mobil yang dilapisi coating keramik mahal itu berkilau memantulkan cahaya matahari, kontras seratus delapan puluh derajat dengan dinding-dinding rumah petak berlapis semen telanjang di kanan kirinya. Di belakang Maybach tersebut, berbaris tiga unit mobil SUV hitam berukuran raksasa yang berisi para pengawal berbadan tegap dengan setelan jas formal hitam.

​"Waduh! Waduh! Longsor ini Tambora! Ada konvoi presiden dari negara mana ini kesasar ke gang kita?!" teriak Dedi "Gacor" yang langsung meloncat dari bangku warkop, membuat ponsel pintarnya hampir terlempar ke dalam ember cucian piring Mbak Sri.

​Bang Jay ikut berdiri, matanya melotot sampai rokok kreteknya jatuh ke tanah. "Ini mah bukan presiden, Ded! Ini mobilnya para naga konglomerat SCBD! Lihat itu plat nomornya, plat khusus nomor cantik satu angka! Gila, siapa yang punya urusan utang piutang sampai disamperin gerombolan sultan begini?!"

​Mbak Sri keluar dari balik konter warungnya, menyeka tangannya yang basah pada kain jarik ketatnya. Pinggulnya yang berisi bergerak gelisah saat melihat kemewahan yang mendadak merusak estetika perkampungan kumuh tersebut.

​Iring-iringan mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan Warkop Mbak Sri, menutup akses jalan gang secara total. Pintu belakang Mercedes-Maybach terbuka dengan perlahan berkat sistem otomatisnya. Dari dalam kabin yang ber-AC dingin, melangkah turun seorang wanita muda yang penampilannya sanggup menghentikan napas siapa pun yang melihatnya.

​Citra Kirana turun dengan keanggunan seorang ratu bisnis yang mutlak. Hari ini dia mengenakan kemeja sutra putih yang kancing atasnya sengaja dibuka sedikit, memperlihatkan pangkal lehernya yang putih jenjang serta garis dadanya yang penuh dan kencang. Kemeja itu dipadukan dengan rok pensil hitam berpotongan tinggi yang menempel ketat pada pinggulnya yang molek dan ramping, mempertegas siluet kakinya yang jenjang dan mulus. Rambut hitam bergelombangnya dibiarkan terurai bebas, menebarkan aroma parfum vanilla dan cendana premium yang langsung menyapu bersih bau asap parit di sekitar warkop.

​Namun, sebelum para driver ojol sempat mengagumi kecantikan sang CEO muda, dari arah gang samping—jalur alternatif yang biasanya dilalui pejalan kaki dari arah stasiun kereta—muncul sosok wanita lain yang tidak kalah memukau.

​Alya Nindita berjalan dengan tergesa-gesa sambil memegangi tali tas ransel kecilnya. Mahasiswi kedokteran tercantik itu tampak sangat segar dan menawan dengan pakaian kasualnya: kaos rajut tipis berwarna merah muda yang membentuk dengan jelas lekuk payudaranya yang padat dan ranum, dipadukan dengan celana jins ketat yang menonjolkan bentuk pantatnya yang indah dan proporsional. Wajahnya yang polos tanpa riasan tebal memancarkan kecantikan alami seorang gadis muda yang bersih dan berkelas tinggi.

​Kedua wanita cantik dari dunia elit Jakarta itu berhenti tepat pada titik koordinat yang sama, tepat di depan motor Supra Fit milik Arya. Pandangan mata mereka berdua terkunci secara simultan pada sosok Arya yang sedang berdiri memegang helm INK bututnya.

​Suasana di depan Warkop Mbak Sri mendadak berubah menjadi medan pertempuran tak kasat mata dengan tensi kecemburuan romantis yang sangat pekat. Suara angin seolah berhenti berembus, digantikan oleh keheningan yang mencekam.

​"Arya..." panggil Alya Nindita dengan suara yang lembut, renyah, dan dipenuhi binar kebahagiaan yang tulus. Wajah cantiknya langsung merona merah muda saat melihat ketampanan Arya yang kian menonjol dibalut jaket barunya. "Akhirnya aku menemukanmu. Aku sengaja ke sini hari ini karena tidak ada jadwal kuliah klinik, aku ingin berterima kasih secara resmi karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku dari tawuran kemarin sore."

​Sebelum Arya sempat membuka mulut untuk merespons, sebuah suara dingin, tegas, namun terdengar sangat sensual memotong dari arah samping dengan dominasi yang mutlak.

​"Maaf, Gadis Muda," ujar Citra Kirana sambil melangkah maju, sepatu hak tingginya berketukan tajam di atas tanah berdebu. Dia melirik Alya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai khas seorang wanita dewasa yang mapan. "Driver tampan ini hari ini sudah memiliki agenda penting denganku. Aku datang ke sini secara langsung untuk menyerahkan kontrak eksklusif."

​Citra memalingkan wajah cantiknya ke arah Arya. Semburat merah tipis yang sangat langka mendadak muncul di pipi mulusnya saat ingatan tentang pelukan erat dada bidang Arya kemarin siang di lobi Menara BCA kembali terlintas di benaknya.

​Citra memberikan tanda dengan jarinya, dan sekretaris pribadinya segera maju menyodorkan sebuah map kulit hitam yang mewah. "Arya Prasetya, ini adalah kontrak resmi sebagai driver operasional pribadi eksklusif untukku. Remunerasi yang aku tawarkan adalah lima puluh juta rupiah per bulan, lengkap dengan fasilitas apartemen di kawasan Kuningan. Kamu tidak perlu lagi narik penumpang reguler di gang kotor seperti ini."

​Mendengar nominal "lima puluh juta rupiah per bulan", Dedi "Gacor" langsung tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk-batuk histeris. "Uhuk! Uhuk! Lima puluh juta?! Ya Allah, Ya! Ambil, Ya! Itu duit bisa buat beli motor Supra baru sebanyak satu dealer!"

​Bang Jay hanya bisa memegangi dadanya, merasa jantung tuanya tidak kuat menahan drama kekayaan yang sedang terjadi di depan matanya. Sementara Mbak Sri menatap kedua wanita itu dengan pandangan cemburu yang membara, merasa posisinya sebagai penguasa hati para driver di basecamp sedang terancam runtuh total.

​Alya Nindita tidak tinggal diam. Mendengar tawaran Citra yang terkesan ingin "membeli" Arya, jiwa kompetitif sebagai anak dari keluarga dokter spesialis terkaya di Jakarta langsung bergejolak. Dia melangkah maju, memperkecil jarak dengan Arya hingga wangi tubuhnya yang segar seperti buah beri tercium oleh Arya.

​"Arya tidak bisa dibeli dengan uang begitu saja!" seru Alya dengan berani, matanya yang bulat menatap tajam ke arah Citra Kirana. "Dia adalah pria yang memiliki kehormatan dan jiwa penolong yang tinggi! Arya... keluargaku juga bisa memberikan fasilitas yang jauh lebih baik jika kamu mau menjadi asisten pribadi di rumah sakit milik ayahku! Kamu tidak harus menjadi pelayan pribadi wanita sombong ini!"

​Arya yang berdiri di tengah-tengah kepungan dua wanita cantik dengan status sosial tinggi itu mendadak mengalami krisis eksistensial tingkat dewa yang paling parah sepanjang hidupnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena kasmaran, melainkan karena kepanikan komedi yang luar biasa hebat. Monolog batinnya menjerit dengan kecepatan ribuan kata per menit.

​“Ya salam! Ini kenapa dua singa betina spek dewi kayangan mendadak berantem di depan warkop Mbak Sri sih?! Yang satu bawa konvoi Maybach kayak mau perang dunia, yang satu lagi mahasiswi kedokteran yang mukanya polos tapi omongannya berani banget! Lima puluh juta sebulan?! Apartemen di Kuningan?! Sumpah, ini godaan setan tipe apa lagi?! Kalau gua terima, harga diri gua sebagai anak lanang didikan bapak yang mandiri bisa hancur berkeping-keping! Tapi kalau gua tolak mentah-mentah, ini si Mbak CEO bisa-bisa nyuruh pengawalnya yang berbadan mirip kulkas dua pintu itu buat ngangkat motor Supra gua ke tempat pembuangan besi tua! Sistem! Lu di mana woi?! Tolongin gua! Ini situasi darurat yang lebih horor daripada ketemu begal di lampu merah!”

​Tepat saat tingkat kepanikan Arya mencapai puncaknya, kantong celana jinsnya kembali bergetar dengan frekuensi tinggi yang sangat spesifik. Layar holografis gaib dari God-Phone 13 Pro Max mendadak menyala terang benderang dengan warna emas yang menyilaukan mata Arya.

​TING-TONG!

​[NOTIFIKASI SISTEM: PROTOKOL KEDARURATAN KESALAHPAHAMAN AKTIF!]

​Misi Khusus Terpicu: "Menjaga Harmonisasi Harem (Level Pendahuluan)".

​Perintah Misi: Jangan memihak salah satu pelanggan cantik di depan umum! Pertahankan nilai moral kepahlawanan ojol kelas pekerja yang mandiri demi meraih ulasan Bintang 5 Kolektif!

​Item Bantuan Sementara Diberikan: "Permen Karet Diplomasi Karismatik (Dosis Ekstrem)".

​Efek Item: Ketika dikunyah, suara dan aura Mitra akan memancarkan wibawa mutlak yang bisa menenangkan emosi target wanita dalam radius 5 meter selama 3 menit.

​Hukuman Gagal: Jika salah satu target menangis atau kecewa, sistem akan mengunci tuas gas motor Supra Anda di kecepatan 5 km/jam secara permanen selama satu bulan penuh!

​Arya melotot membaca hukuman sistem yang sangat tidak masuk nalar tersebut. “Motor Supra gua jalan lima kilometer per jam selama sebulan?! Itu mah lebih lambat daripada jalannya siput yang kena rematik! Wah, ini sistem bener-bener gak punya hati nurani! Oke, demi keselamatan mesin Supra gua, mari kita kunyah permen karet sialan ini!”

​Secara gaib, sebuah butiran permen karet berwarna hijau neon mendadak muncul di dalam kantong jaket Arya. Dengan gerakan cepat yang tidak disadari oleh siapa pun, Arya mengambil permen tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Begitu giginya menghancurkan lapisan luar permen karet itu, sebuah ledakan rasa mint yang luar biasa segar langsung menyebar di dalam rongga mulutnya, mengirimkan gelombang energi hangat yang naik ke arah tenggorokan dan memancar keluar dari kornea matanya.

​Aura di sekitar Arya mendadak bermutasi secara drastis. Kontras visual tingkat tinggi kembali tercipta dengan mutlak. Tubuh Arya yang dibalut jaket premium itu seolah memancarkan tekanan wibawa seorang pemimpin besar yang sangat jantan, tenang, dan bijaksana.

​Arya menarik napas panjang, lalu melangkah satu tindak ke depan, berdiri tepat di antara Citra Kirana dan Alya Nindita. Rangking ketampanan dan karismanya saat ini berada di level puncak yang belum pernah terlihat sebelumnya.

​"Nona Citra, Nona Alya... tolong dengarkan saya sebentar," ujar Arya. Suara beratnya yang maskulin dan penuh wibawa berkat efek permen karet diplomasi itu bergema dengan frekuensi rendah yang anehnya langsung meredam seluruh ketegangan di area tersebut. Angin lobi yang sejuk seolah berembus kembali, menenangkan hati kedua wanita yang sedang terbakar cemburu itu.

​Citra Kirana tertegun, amarahnya mendadak surut digantikan oleh rasa kagum yang mendalam saat menatap mata elang Arya yang memancarkan ketenangan mistis. Sementara Alya Nindita langsung menundukkan kepalanya, wajahnya yang cantik makin merona merah akibat debaran jantung yang kian tak terkendali karena terpesona oleh suara jantan Arya.

​Arya menatap Citra Kirana dengan pandangan mata yang penuh rasa hormat namun tetap tegas. "Nona Citra, saya sangat berterima kasih atas tawaran kontrak senilai lima puluh juta rupiah ini. Itu adalah angka yang sangat besar bagi seorang driver ojol seperti saya. Namun, mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya terpaksa menolaknya."

​Citra terbelalak kaget, tidak percaya ada pria di Jakarta yang sanggup menolak uang sebanyak itu dari tangannya. "Kenapa, Arya? Apa fasilitas yang aku berikan masih kurang?"

​Arya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh pesona yang membuat Mbak Sri di belakang warkop hampir pingsan karena baper. "Bukan karena kurang, Nona. Tapi karena saya adalah seorang laki-laki yang dididik oleh bapak saya untuk mencari nafkah dengan keringat sendiri di jalanan bebas. Jika saya menerima kontrak eksklusif ini, saya hanya akan menjadi pelayan di zona nyaman, dan saya tidak bisa lagi menolong orang-orang kecil yang membutuhkan bantuan driver ojol di luar sana."

​Mendengar penjelasan moral yang begitu mulia dan tulus dari mulut Arya, Bu Aminah yang diam-diam mengintip dari balik tirai jendela rumah petaknya langsung meneteskan air mata haru. Beliau merasa tidak sia-sia membesarkan Arya dengan nasi timbel penuh doa selama ini. Pak Surya yang masih berada di teras tampak mengangguk-angguk dalam-dalam dengan wajah penuh kebanggaan tertinggi seorang ayah.

​Arya kemudian memalingkan wajahnya ke arah Alya Nindita, memberikan tatapan mata yang lembut yang membuat mahasiswi kedokteran itu makin lemas tak berdaya. "Dan untuk Nona Alya... terima kasih banyak karena sudah datang jauh-jauh ke Tambora hanya untuk berterima kasih. Keselamatan Anda kemarin adalah hadiah terbaik bagi saya sebagai seorang driver. Anda tidak perlu merasa berutang budi sampai harus mencarikan saya pekerjaan baru."

​Suasana di depan warkop itu mendadak dipenuhi oleh keheningan yang syahdu. Citra Kirana menatap map kontrak di tangannya dengan pandangan mata yang bergetar. Benteng keangkuhan sang CEO muda itu benar-benar hancur total di depan prinsip hidup Arya yang begitu kokoh dan jujur. Rasa ketertarikannya yang awalnya didorong oleh gengsi kini telah bermutasi menjadi rasa cinta yang mendalam dan penuh rasa hormat.

​“Pria ini... dia benar-benar berlian di tengah lumpur,” batin Citra Kirana dengan dada yang bergemuruh hebat karena baper tingkat tinggi. “Dia menolak lima puluh juta rupiah hanya demi mempertahankan prinsip hidup dan kemandiriannya sebagai pekerja keras. Aku tidak salah pilih. Pria sejati seperti dia harus menjadi pendamping hidupku, bukan hanya sekadar driver pribadi.”

​Alya Nindita juga merasakan hal yang sama. Matanya yang indah menatap Arya dengan binar asmara yang kian subur. “Kak Arya... kamu keren banget. Di zaman sekarang, masih ada pria segagah dan sejujur ini yang tidak silau oleh kekayaan. Aku akan pastikan aku belajar dengan giat agar bisa menjadi dokter yang hebat, agar suatu hari nanti aku bisa mendampingi pria sehebat kamu.”

​Tepat pada detik ketiga menit, efek permen karet diplomasi di mulut Arya habis. Di layar ponsel gaibnya, sebuah notifikasi baru berkedip dengan warna hijau cerah.

​[MISI HARMOPNISASI SELESAI DENGAN REKOR SEMPURNA!]

​Ulasan Bintang 5 Kolektif Diraih (Citra Kirana & Alya Nindita memberikan skor kepuasan 100%).

​Hadiah Reward Permanen Baru Ditambahkan ke Akun: "Skill Aura Pekerja Mandiri (Permanen)".

​Penjelasan: Mitra akan selalu memancarkan pesona karismatik pria jujur yang membuat target wanita dari kalangan atas merasa aman dan baper jika berada dekat dengan Anda.

​Arya mengembuskan napas lega yang sangat panjang di dalam hatinya. “Alhamdulillah! Selamat mesin Supra gua dari kutukan jalan lambat siput rematik! Tapi tunggu... Skill Aura Pekerja Mandiri? Ini sistem kenapa makin lama malah ngasih kekuatan yang bikin gua makin dikerubutin cewek-cewek kaya sih?! Sumpah, gua cuma pengen narik ojol dengan tenang dan damai, ya Allah!”

​Meskipun Arya menolak tawaran mereka, baik Citra Kirana maupun Alya Nindita tampaknya sama sekali tidak berniat menyerah. Mereka berdua saling pandang dengan tatapan mata yang memancarkan percikan persaingan terselubung. Aliansi tak resmi dan perang dingin perebutan hati sang ojol tampan dari gang Tambora kini resmi memasuki babak baru yang jauh lebih menegangkan di bawah langit Jakarta!

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!