Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Bukti
Pena yang patah belum sempat dibuang ketika Moreno menelepon.
"Bos, Pak Benny meminta pertemuan malam ini. Katanya dia membawa bukti tentang Teguh."
Kaizan menatap pesan Kevin yang masih menyala di layar ponsel Keira. "Atur di kantor pribadiku. Hadirkan penasihat hukum dan petugas kepatuhan. Jangan beri dia akses ke jaringan NusAir."
"Baik."
Tiga hari sebelum keberangkatan ke Yogyakarta, Benny Sutanto duduk di ujung meja rapat dengan wajah pucat. Di depannya ada laptop tanpa sambungan internet, dua penyimpan data tersegel, dan map berisi salinan transaksi.
Kaizan duduk berhadapan dengannya. Moreno serta dua penasihat hukum menempati sisi meja. Seluruh pertemuan direkam setelah semua pihak menyatakan persetujuan.
"Audit menemukan pembayaran dari vendor ke perusahaan milik saudara ipar Anda," kata salah satu penasihat hukum. "Pertemuan ini tidak menghentikan penyelidikan suap terhadap Anda."
"Saya tahu." Benny mengusap keringat di dahinya. "Saya tidak meminta kasus saya dihapus. Saya meminta kerja sama saya dicatat."
"Dicatat bukan berarti Anda mendapat kekebalan," kata Kaizan.
Benny menelan ludah. "Saya mengerti."
Dia mendorong map ke tengah meja. Selama bertahun-tahun, Teguh menyimpan uang perusahaan melalui vendor fiktif dan memaksa Benny membantu meloloskan beberapa persetujuan. Benny menyimpan salinan transaksi sebagai perlindungan jika suatu hari Teguh mengkhianatinya.
Namun penyimpan data di samping laptop berisi kejahatan yang jauh lebih buruk.
"Teguh memasang kamera di ruang pribadi, ruang istirahat, dan satu apartemen sewa," kata Benny. "Dia membuat arsip. Saya menemukannya ketika teknisi yang biasa bekerja untuknya meminta uang agar tetap diam."
Ruang rapat mendadak terasa lebih dingin.
"Berapa korban?" tanya Kaizan.
"Lima belas orang yang bisa kami identifikasi dari jadwal kerja. Mungkin lebih. Semuanya perempuan yang pernah berada di bawah kewenangannya."
Moreno mengepalkan tangan di bawah meja. "Kenapa baru sekarang Anda menyerahkannya?"
"Karena saya pengecut." Benny tidak mencoba mencari kata yang lebih baik. "Saya takut saham saya jatuh. Saya takut nama keluarga saya rusak. Lalu audit mulai membongkar rekening saya, dan Teguh mengancam akan menyeret Wenny sebagai pelaku utama kejadian di pesta."
"Putri Anda memang terlibat," kata Kaizan dingin.
Wajah Benny menegang. "Saya tahu. Saya tidak bisa menyelamatkannya dari akibat perbuatannya. Tapi saya bisa menghentikan Teguh menghancurkan orang lain."
Benny mengeluarkan ponsel lama dari kantong bukti terpisah. Di sana tersimpan percakapan Wenny dengan Revan mengenai ruang VIP, daftar tamu, dan minuman Keira. Ada pula pesan Teguh yang menjanjikan perlindungan jabatan setelah acara.
"Mulai malam ini, Wenny tidak boleh lagi memakai nama atau kuasa saham saya," kata Benny. "Saya sudah mencabut akses perwakilan keluarganya dan menyatakan kepada komisaris bahwa saya tidak akan menghalangi pemeriksaan terhadapnya."
Kalimat itu tidak menghapus cara Benny melindungi putrinya selama bertahun-tahun. Namun untuk pertama kalinya, Wenny benar-benar berdiri tanpa payung kekuasaan ayahnya.
"Kesalahannya tetap dinilai dari bukti," kata Kaizan. "Bukan dari apakah Anda membelanya atau meninggalkannya."
Penasihat digital memasukkan salah satu penyimpan data ke perangkat pemeriksaan terisolasi. Dia tidak membuka seluruh berkas. Layar hanya menampilkan daftar folder, cap waktu, kode ruangan, percakapan, dan nilai hash yang dibuat saat salinan pertama diambil.
Setiap kode terhubung dengan jadwal kru, tagihan apartemen, pesanan pemasangan kamera, dan pembayaran kepada teknisi. Lima mantan pegawai sudah memberi pernyataan awal melalui pengacara berbeda. Sepuluh nama lain baru boleh dihubungi setelah lembaga pendamping menyusun cara yang tidak membahayakan pekerjaan atau keluarga mereka.
Itu bukan kumpulan gosip. Itu rantai yang menunjukkan tempat, waktu, cara, dan orang yang menutupinya.
"Ada sumber asli?" tanyanya.
"Kartu memori dan satu perangkat perekam masih di brankas saya. Belum disentuh sejak ditemukan."
"Jangan buka atau pindahkan lagi. Polisi harus mencatat penyitaan dan rantai penguasaannya. Salinan ini hanya untuk verifikasi awal."
Benny mengangguk cepat.
Salah satu folder bertanggal malam acara tahunan NusAir. Penasihat digital membukanya sampai tampilan pratinjau.
Keira terlihat di koridor, langkahnya tidak stabil. Revan memegang lengannya. Wenny berjalan di belakang, sementara Teguh menunggu di pintu ruang VIP.
Hanya beberapa detik. Tidak ada gambar lebih jauh yang perlu dilihat.
"Matikan," kata Kaizan.
Penasihat digital langsung menutup pratinjau.
Gelas air di tangan Kaizan retak tipis. Darah muncul dari telapak tangannya, tetapi suaranya tetap rendah.
"Tidak ada seorang pun menyalin gambar korban untuk presentasi, media, atau rapat internal. Akses hanya untuk penyidik, jaksa, dan kuasa hukum yang berwenang. Identitas kelima belas perempuan dilindungi."
Penasihat hukum mencatat setiap perintah.
"Hubungi lembaga pendamping korban," lanjut Kaizan. "Tawarkan penasihat hukum independen dan dukungan psikologis yang dibayar perusahaan. Jelaskan bahwa menerima bantuan tidak mewajibkan mereka bersaksi atau tampil di media. Pilihan tetap milik mereka."
Moreno mendorong kotak pertolongan pertama ke arahnya. "Bos, tangan Anda."
Kaizan membalut telapak sendiri tanpa melihat luka. "Untuk Benny, catat seluruh pengakuan dan serahkan kepada penyidik. Kita tidak menjanjikan pengurangan tuntutan."
Benny menunduk. "Baik."
Satu jam kemudian, mereka berpindah ke kantor firma hukum yang telah menyiapkan ruang bukti. Tim membagi langkah menjadi tiga jalur yang tidak boleh dicampur.
Jalur pertama adalah pidana. Kuasa hukum akan mendampingi pelapor menyerahkan perangkat asli, transaksi, percakapan, dan kesaksian kepada polisi berdasarkan prosedur UU TPKS serta ketentuan pidana terkait. Penilaian tersangka dan penahanan tetap menjadi kewenangan aparat, bukan perintah perusahaan.
Jalur kedua adalah korporasi. NusAir membekukan akses, arsip, dan sisa hak operasional Teguh, lalu memanggil rapat komisaris untuk mencatat pelanggaran serta mengamankan dokumen agar tidak dimusnahkan. Pencopotan internal tidak akan disebut sebagai putusan pidana.
Jalur ketiga adalah komunikasi publik. Setelah laporan diterima dan pengamanan bukti dikonfirmasi, perusahaan akan mengumumkan adanya penyelidikan serius, membuka kanal pengaduan independen, dan menjelaskan dukungan bagi korban. Tidak ada nama, wajah, potongan video, atau riwayat pribadi perempuan yang boleh diberikan kepada media.
"Kita tidak memakai penderitaan mereka sebagai senjata pencitraan," kata Kaizan. "Yang diumumkan adalah tanggung jawab perusahaan dan tindakan terhadap pelaku."
Kepala tim hukum mengangguk. "Kami mulai malam ini."
Di parkiran bawah tanah, Moreno menyusul Kaizan sebelum pintu mobil tertutup.
"Bos tidak akan memberi tahu Bu Keira?"
"Bukti itu menyangkut dirinya. Dia berhak diberi tahu oleh pendamping yang tepat, bukan melalui pesan dariku tengah malam. Pastikan kuasa hukum perempuan menghubunginya dengan aman setelah laporan tercatat."
"Lalu apa yang bisa Bos katakan?"
Kaizan memandang perban putih di telapak tangannya. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana seorang pengangguran dapat menggerakkan firma hukum, komisaris, dan tim kepatuhan dalam satu malam.
Namun dia juga tidak mampu pulang dan berpura-pura tidak melihat rekaman itu.
Dia membuka percakapan dengan Keira dan mengetik satu kalimat.
Mulai sekarang, nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu lagi.