NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelita Di Ambang Badai

Kata penolakan yang dilontarkan Sena membungkam semua suara di dalam bilik itu. Keheningan mendadak menjadi pekat; hanya aroma herbal dari obat-obatan yang berani bersenandung bebas di udara.

​Puti Kirai tersentak, napasnya tertahan di kerongkongan. Di ambang pintu, Mak Rangkayo sedikit mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan kalimat pemuda yang baru saja menantang otoritasnya itu.

​"Aku sudah muak menjadi bayangan yang mati demi ambisi orang-orang besar di singgasana," lanjut Sena, setiap katanya terasa pahit seperti muntahan empedu. "Aku tidak ingin menjadi alat bagi siapa pun lagi. Bukan untuk Singasari, bahkan tidak untuk Dharmapuri."

​Mendengar kata "alat", rahang Sena mendadak kaku. Ingatan dari raga yang ia tempati merangsek naik seperti air bah yang menjebol bendungan batinnya.

​Kilasan bayangan masa lalu Sena yang asli seolah dihantamkan ke kepalanya. Ia melihat debu merah beterbangan di bawah terik matahari yang membakar kulit. Ia melihat punggung ayah Sena yang legam, bergetar menahan beban kayu raksasa, sementara suara cambuk Jliteng merobek udara dengan angkuh.

Ayah Sena tumbang. Darah segar membasahi tanah kering yang haus, dan mata sang ayah menatapnya dengan tatapan kosong yang hancur—sebuah perpisahan tanpa kata.

​Hattori juga merasakan kembali rasa haus yang mencekik dan kesendirian yang dingin saat Sena melarikan diri dari kerja rodi itu. Ia teringat bagaimana tubuh ringkih terguling menghantam semak dan ranting tajam saat tergelincir di bukit, hingga ia meregang nyawa dengan sisa dendam pada Jliteng dan Purwa Wangsa. Di saat terakhirnya, tangan Sena yang gemetar masih menggenggam erat kalung pemberian ayahnya—satu-satunya harta yang membuktikan bahwa ia pernah dicintai.

​Hattori Zen, di dalam raga itu, memejamkan mata erat. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Trauma raga ini menyatu sempurna dengan kepahitan jiwa sang Shinobi. Bagi mereka berdua, penguasa adalah bencana yang hanya membawa luka.

​"Tenanglah Sena... Tenanglah..." bisiknya pelan, seolah sedang merapal mantra untuk menenangkan badai di dalam dirinya.

​Air mata menggenang di pelupuk mata Kirai. Ia bisa merasakan kepedihan yang memancar dari tubuh Sena. Ia juga mendengar bisikan itu—sebuah upaya memilukan dari seorang remaja yang harus menanggung beban sedewasa itu. Bukan hanya dia, bahkan Datuk Larang dan Mak Rangkayo juga merasakan kepedihan yang sama.

Namun, yang tak mereka ketahui adalah, itu bukan Sena yang coba menenangkan dirinya sendiri, melainkan Hattori Zen yang sedang mencoba menjinakkan amarah raga yang ia tinggali.

​Mak Rangkayo tidak marah. Atas penolakan otoritasnya sebagai Ibu Suri Dharmapuri, apalagi hanya kata tak sopan karena luapan emosi. Ia justru menghela napas panjang, tatapannya melembut. Ia melihat luka yang jauh lebih dalam dari sekadar bekas pedang di mata pemuda itu.

​"Sena... kau salah paham," ucap Mak Rangkayo pelan namun berwibawa. "Pasukan Harimau bukan prajurit Dharmapuri. Mereka tidak berbaris untuk upacara, mereka tidak bersujud pada raja, dan mereka tidak menerima perintah dari singgasana emas."

​Mak Rangkayo berdiri tegak, menunjuk ke arah kabut tebal yang menyelimuti tebing-tebing Harau di luar jendela.

​"Mereka adalah para pejuang. Mereka adalah para ayah yang tak ingin anaknya dicambuk, para pemuda yang tak ingin tanahnya dirampas. Kami tidak melayani siapa pun, Sena. Kami mempertahankan hak untuk tetap bernapas di tanah kelahiran kami. Menjadi 'alat' adalah saat kau membunuh tanpa tahu mengapa. Tapi di sini, kau bertarung agar cambuk yang membunuh ayahmu tak pernah lagi berayun. Apakah itu masih kau sebut sebagai alat?"

​Kalimat itu merobek pertahanan terakhir Sena. Jika ia diam, sejarah berdarah itu akan terulang pada anak-anak lain di Harau. Hattori Zen ingin hanya ingin bebas dari rantai, tapi raga Sena menuntut keadilan.

​Puti Kirai mendekat, tangannya yang gemetar menyentuh lengan Sena dengan sangat halus. "Sena... kami bukan memintamu mengabdi pada mahkota. Kami memintamu berdiri bersama kami."

​Sena menunduk, lebih tepatnya Hattori yang menatap tangannya sendiri. Tangan yang telah menumpahkan begitu banyak darah di Jepang, kini memiliki kesempatan untuk melindungi darah yang tersisa di tanah Sumatera. Hattori hanya ingin memenuhi janjinya pada raga ini: membunuh Jliteng dan Purwa Wangsa. Namun, takdir tampaknya punya rencana yang lebih besar.

​Sena menatap tenang Mak Rangkayo. "Bagaimana dengan kawan-kawanku?"

​Mak Rangkayo memberi kode pada kedua pengawalnya. Tak lama Balun, Jagu, Danta, Idan, dan Monti masuk dengan wajah sumringah.

​"SENA!" seru mereka serentak.

​Sena tersenyum pahit. Pemuda-pemuda ini begitu lugu, begitu mudah terbakar semangat. Mereka mengingatkannya pada unit Obake: Sato, Kaito, Inao, Ryu, dan Ren. Ia memejamkan mata sejenak, membuat janji suci di dalam hati: Akan kupastikan mereka tidak menjadi unit Obake kedua. Karena mereka adalah Siampa Lembah Harau.

​"Baik.. “ Mata Sena menatap tajam Mak Rangkayo, seolah memberi peringatan tersembunyi, “Hamba bersedia," ucap Sena datar.

Semua yang ada di bilik itu bernapas lega, seolah pelita harapan baru saja dinyalakan.

Tapi itu tak bertahan lama

Tak.. Tak.. Tak.. Takk..

Suara langkah kaki yang tegesa terdengar nyaring dari dalam bilik.

“Lapor Mak, satu peleton pasukan tambahan dan satu regu Bhayangkara Singasari sudah memasuki perbatasan Harau, status Pos Garnisun Harau kini naik jadi Pos Tempur”

Mak Rangkayo mengangguk,”Kita kembali ke sarang,” Ia menoleh ke Sena, Balun dan lainnya, ”kalian semua juga ikut”

Sebelum pergi, Mak Rangkayo meminta Datuk Lagang untuk tetap jadi mata di Harau

… . .. … … . … ..

​Sementara itu, di jalur utama menuju Lembah Harau…

​Suasana berubah menjadi mencekam. Derap langkah kaki serempak dari satu pleton infanteri tambahan Singasari memecah keheningan hutan.

Di barisan paling depan, satu regu Bhayangkara berkuda dengan zirah hitam mengkilap. Mereka membawa panji Singasari yang berkibar angkuh di bawah langit yang mendung.

​"Percepat langkah!" perintah sang komandan regu Bhayangkara. "Gusti Anabrang tidak suka menunggu. Pos Harau kini adalah zona tempur. Siapa pun yang menghalangi, ratakan dengan tanah!"

​Kereta logistik berisi pasokan anak panah dan minyak bakar berderit berat, menandakan bahwa kali ini Singasari tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang untuk membumihanguskan setiap persembunyian harimau yang berani mengaum di balik tebing.

Mak Rangkayo memimpin pelarian melewati celah sempit di balik air terjun, hingga mereka tiba di seberang tebing Puncak Harau. Di kejauhan api membakar beberapa rumah, para warga dikunpulkan di tengah desa, ada satu orang yang di cambuk dan di gantung, mereka tak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.

Dari seberang bukit, mereka juga melihat prajurit Singasari sudah menaiki Puncak Harau yang pernah menelan setengah peleton Singasari.

Balun dan kawan-kawannya mengepalkan tangan menahan amarah yang meledak. Namun Sena hanya menatap dengan diam. Tatapannya bukan lagi tatapan pemuda desa yang ketakutan, melainkan tatapan pembunuh yang mulai menghitung setiap nyawa yang akan ia cabut.

...BANGRING...

...Jilid 1 : Siampa Puncak Harau [Selesai]...

1
Astiana 💕
baru Nemu cerita kayak gini, sangat bagus Thor, aku suka, semangat ya, 💪
Astiana 💕: belum senior kok, kita sama baru merintis🤭, semangat buat kita sang pejuang😁
total 2 replies
Protocetus
Mission completed 💪
Protocetus
😂💪
Protocetus
Sena ada di belakangmu 💪
Protocetus
Kuy jadilah Jendral Dharmapuri 💪
Zamo: Maaf lho bang, saya bukan orang minang, bukan juga orang Sumatera, jadi gak bisa pakai bahasa asli sana. he he, tapi saya sangat suka Silek Harimau waktu lihat film merantau, bahkan sampai ku ulang tiga kali itu filmnya.
cerita ini juga tentang Silek Harimau bang, awal kisah 7 manusia Harimau. tapi maaf sekali lagi, mereka bukan manusia yang kuat saat di rasuki inyek, tapi mereka kuat karena latihan keras, bertekad baja dan gigih berjuang mengusir Singasari.
jadi 7 manusia Harimau di cerita ini murni pejuang dengan kemampuan Silek Harimau yang luar biasa.
Tapi cerita asli 7 manusia Harimau tetap yang di rasuki inyek, yang ini hanya karya fiksi saja bang. 🙏
total 1 replies
Protocetus
Waduh kok bisa ada Kerajaan Jawa bisa sampek sn ...
Protocetus
Mirip Novel Tikam Samurai
Zamo: barusan baca 3 bab bang, jadi ini sejarah asli bang? he he maaf, gak tahu, kalau BANGRING ini bukan sejarah asli bang, sejarah fiksi, tapi ekspedisi Pamalayu Singasari di bawah kepemimpinan Senopati Mahesa Anabrang tahun 1275-1293 itu sejarah asli.
Singasari menjalin hubungan diplomatik dengan Dharmasraya.
di cerita ini aku pakai kerajaan fiksi bang Dharmapuri sebagai kerajaan kecil, vassal dari Dharmasraya.
Jadi BANGRING ini Fiksi yang berlatar sejarah.
total 3 replies
nina hariah
semangat terus updatenya author
Zamo: terimakasih atas dukungannya, baca juga cerita ku yang lain Nine Worlds Reincarnation, cerita baru sih, siapa tahu ada masukan atau saran.
total 1 replies
nina hariah
next author
nina hariah
semangat terus updatenya author
Zamo: terimakasih, tiap hari up kok 👍🙏
total 1 replies
nina hariah
next author
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!