Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Rendra masuk kedalam kamar mandi, melepaskan bathrobe-nya dan menggantungkannya ditembok. Gambar wajah Nara saat tersenyum padanya tadi siang benar-benar mampu membangkitkan hasratnya, membuatnya sulit untuk berkonsentrasi kerja.
Air shower dengan suhu air dingin menyala dan mengguyur tubuh kekarnya yang begitu terawat, namun dinginnya air tetap tak mampu meredam ketegangan yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dibalik celana boxer-nya. Pikirannya terus tertuju pada satu nama, yaitu Nara Kirana.
Tangan kanannya menyentuh tembok untuk menopang tubuhnya, sementara tangan kirinya merayap kebawah menyentuh kejantanannya yang sudah berdiri dengan tegak dan minta untuk segera dikeluarkan. Matanya terpejam erat, imajinasinya mulai bekerja liar, membayangkan bagaimana miliknya yang besar dan kokoh memasuki tubuh wanita pujaan hatinya.
"Nara... ah..." desah Rendra dengan suara parau yang tenggelam di antara suara air.
Nama Nara selalu terdengar lembut dan penuh damba setiap kali dia melakukan permainan solonya. Dua tahun dia memilih pergi untuk melupakan wanita itu tapi justru membuatnya semakin tersiksa dengan perasaan cinta dan hasrat yang selalu lapar untuk dituntaskan.
Rendra menggenggam kejantanannya dengan erat, gerakan tangannya mulai bergerak naik turun secara perlahan namun pasti. Setiap gerakan membawa bayangan lebih jelas tentang Nara, bagaimana rambutnya yang lembut akan tergeletak di atas bantal saat dia mencium lehernya yang harum, bagaimana tangan wanita itu akan menggenggam bahunya dengan erat saat dia memasuki dunia yang hangat dan menyambutnya.
"Sudah lama aku menunggu ini Nara..." gumamnya pelan, napasnya mulai menjadi tidak teratur. Dinginnya air yang terus menyiram tubuhnya seolah semakin mempertegas panas yang membara di dalam dirinya.
Bayangan Nara yang tersenyum padanya tadi siang kini berganti dengan gambarnya yang merentangkan tangan untuk menjemputnya, wajahnya penuh dengan kasih sayang dan keinginan yang sama kuatnya. Rendra merasakan tubuhnya mulai bergetar bukan karena dingin, melainkan karena gelombang kenikmatan yang mulai merambat dari bagian tengah tubuhnya ke seluruh tubuh.
Matanya masih terpejam erat sambil terus membayangkan setiap sentuhan yang ingin dia berikan pada wanita itu. Saat akhirnya dia mencapai titik puncak, suaranya menggeram dahsyat sebelum dia menundukkan kepalanya dengan napas terengah-engah.
Air shower masih terus menyala, mencuci setiap jejak dari permainan sendiriannya. Rendra menutup keran, kemudian mengambil handuk besar untuk mengeringkan tubuhnya. Dia menatap bayangannya di cermin, wajahnya masih menunjukkan kesenangan namun juga penuh dengan kepastian.
"Dua tahun sudah cukup lama untuk berlari," bisiknya seraya menyeringai. "Sekarang saatnya untuk menghadapi dan mengatakan semua yang aku rasakan. Aku tidak ingin lagi hanya membayangkan kamu dalam imajinasiku Nara."
-
-
-
Nara berdiri di depan cermin kamar, memeriksa penampilannya untuk yang kesekian kalinya. Rambutnya yang biasanya terurai kini diatur rapi dengan sedikit aksen bergelombang, wajahnya diberi riasan yang elegan namun tetap alami, dan tubuhnya tertutupi oleh gaun malam yang menonjolkan lekukan tubuhnya dengan anggun.
Dia mengambil tas kecil dan bergegas keluar dari rumah. Sopirnya sudah menunggu di depan pintu dan dengan cepat membuka pintu mobil begitu melihatnya datang.
"Kita pergi ke kantor Pak Arga, Pak Dadang," ucap Nara dengan suara lembut namun pasti.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil akhirnya tiba di depan gedung perkantoran Arga. Nara menyuruh Pak Dadang untuk langsung pulang karena malam ini dia ingin mengajak suaminya untuk makan malam diluar. Nara sudah menyiapkan makan malam romantis di sebuah kafe yang sengaja dia booking untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Nara menekan tombol lift menuju lantai atas. Begitu pintu lift terbuka tetap dilantai paling atas, Nara langsung berjalan perlahan menuju ruangan kerja Arga. Meja Alya bahkan sudah kosong, kemungkinan wanita itu sudah pulang karena ini sudah jam tujuh malam.
Matanya langsung beralih menatap pintu ruang kerja suaminya yang tertutup rapat, tangannya menyentuh pegangan pintu dan membuka pintu itu secara perlahan dan hati-hati supaya tidak mengeluarkan suara berisik untuk memberikan Arga kejutan. Namun, keheningan koridor lantai eksekutif yang sepi membuat pendengaran Nara menangkap sesuatu.
"Nggghhh... Arga... lebih cepat lagi, aku sudah mau sampai..."
Suara bisikan yang penuh hasrat itu seperti kilatan petir yang menusuk hati Nara. Tangannya yang masih menggenggam gagang pintu langsung membeku, dan wajahnya yang tadinya penuh senyum kini memucat. Dia tidak berani membuka pintu lebih jauh, tapi suara-suara yang terdengar jelas dari dalam ruangan sudah cukup untuk membuat semua harapannya hancur berkeping-keping.
"...sayangku Alya... permainanmu selalu membuatku gila..." suara Arga terdengar dengan nada yang penuh hasrat, diikuti dengan suara desahan dan jeda yang menunjukkan apa yang sedang mereka lakukan.
Nara merasa dadanya terasa sangat sesak, air mata mulai menggenang di sudut matanya tapi dia berusaha keras untuk tidak menangis. Gaun malam yang dia pilih dan riasan diwajahnya kini terasa seperti lelucon yang menyakitkan. Semua persiapan yang dia lakukan, dari booking kafe romantis hingga memilih hidangan kesukaan Arga, kini semuanya tampak sia-sia.
Nara menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangisan yang hampir keluar. Dia menutup pintu ruangan Arga dengan perlahan dan berbalik menjauh dari sana. Langkahnya sedikit goyah di koridor yang sepi, pikirannya masih terpaku pada suara-suara yang baru saja dia dengar, terutama saat Arga menyebut nama Alya, sekretarisnya yang selalu ramah padanya setiap kali dia datang ke kantor suaminya.
Dia melangkah ke arah pintu masuk gedung, matanya sudah mulai kabur karena air mata yang menetes tanpa bisa dia kendalikan. Di luar gedung, jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, tapi tak satu pun taksi yang muncul saat dia membutuhkannya. Nara berdiri di trotoar, memegang erat gagang tasnya sambil menatap jalan dengan mata yang kosong.
"Tega sekali kamu mas... ulang tahunku kamu hadiahi dengan pengkhianatan seperti ini." bisiknya pelan, tubuhnya mulai merinding karena udara malam yang sejuk dan rasa sakit yang menusuk hati.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Jendela samping mobil terbuka dan menampilkan wajah Rendra yang sedikit terkejut serta khawatir saat melihatnya berdiri sendirian.
"Nara? Apa yang sedang kamu lakukan sendirian disini?"
-
-
-
Bersambung...