"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Keesokan harinya, drama semalam tampaknya berhasil diredam dengan rapi di lingkungan pondok. Namun bagi Safira, ancaman Mahendra adalah alarm bahaya yang nyata. Dia tahu Mahendra tidak akan tinggal diam, dan kehamilannya—yang memang benar adanya—lambat laun akan ketahuan begitu perutnya membesar.
Dalam posisi terdesak seperti ini, otak licik Safira bekerja cepat. Dia butuh tameng yang kuat. Seseorang yang memiliki pengaruh, dihormati, dan memiliki benteng sosial yang bisa membersihkan namanya jika skandal ini pecah. Dan orang itu tidak lain adalah Ibra. Sejak dulu, Safira memang memendam kekaguman sepihak yang besar pada pria itu, dan sekarang, kekaguman itu berubah menjadi ambisi untuk bertahan hidup.
Siang itu, Bita berjalan menyusuri koridor kantor yayasan. Umi memintanya mengantarkan map laporan bulanan koperasi ke ruang kerja Ibra. Langkah kaki Bita mendadak melambat begitu mendekati pintu kayu jati ruang kerja suaminya. Pintu itu sedikit terbuka, dan dari dalam, terdengar suara lembut Safira yang sedang berbicara dengan nada yang sangat mendayu-dayu.
Bita tidak mundur atau menangis. Dia berdiri di celah pintu, mendengarkan dengan saksama.
"Gus Ibra..." panggil Safira lembut. Dia berdiri sekitar satu meter di depan meja kerja Ibra, dengan pandangan penuh kekaguman yang dibuat-buat. "Saya benar-benar bersyukur bisa berada di pesantren ini. Cara Gus memimpin dan melindungi saya semalam... membuat saya sadar bahwa Gus Ibra adalah sosok panutan yang luar biasa. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Mahendra, Gus, saya murni ke sini untuk mencari ilmu."
Ibra yang sedang memeriksa dokumen sama sekali tidak mendongak dari kertas-kertasnya. "Itu sudah menjadi tugas saya sebagai pengurus yayasan, Ustazah Safira. Bukan hal yang spesial. Ada kepentingan apa lagi Anda ke sini?"
Safira melangkah satu kali lagi, memperkecil jarak. Suaranya merendah, diatur selembut mungkin agar terkesan rapuh. "Gus... saya tahu saya telah membuat kegaduhan semalam. Mahendra tidak akan berhenti mengganggu saya. Di dunia yang kejam ini, saya benar-benar butuh bimbingan yang intens dari seseorang yang paham agama seperti Gus. Saya tidak meminta banyak... saya hanya butuh Gus Ibra bersedia meluangkan waktu secara personal untuk membimbing saya, menjadi pelindung saya dari kejauhan..."
Ibra baru saja hendak membuka mulutnya untuk memberikan penolakan dingin, namun pintu ruang kerja itu tiba-tiba didorong dengan tegas dari luar.
BRAK!
Bita melangkah masuk dengan pembawaan yang sangat santai. Map hijau di tangannya tidak jatuh, melainkan diayun-ayunkan pelan dengan gestur yang tenang namun mematikan. Matanya langsung mengunci sosok Safira yang tampak terkejut.
"Wah, siang-siang gini ruang kerja Mas Ibra kok mendadak berubah jadi ruangan konseling pribadi ya?" sindir Bita. Suaranya renyah, keras, dan langsung memotong atmosfer drama yang sedang dibangun Safira.
Ibra yang melihat kedatangan Bita langsung berdiri dari kursinya. Sudut bibirnya terangkat tipis, merasa lega karena sang istri datang di waktu yang sangat tepat untuk menyingkirkan gangguan ini.
Safira buru-buru membetulkan posisi khimarnya, kembali memasang wajah kalem dan polosnya. "Eh, Bita... Mbak cuma lagi mendiskusikan soal bimbingan mengajar sama Gus Ibra, Dek."
"Bimbingan mengajar?" Bita berjalan mendekat, lalu dengan sengaja meletakkan map hijaunya di atas meja kerja Ibra dengan suara debuman yang cukup kentara. Ia berbalik, melipat tangan di dada, dan menatap kakaknya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Mbak Safira, dari luar tadi kuping aku gak budek ya. Kata 'bimbingan personal' sama 'minta dilindungi' itu jelas banget keluar dari mulut Mbak," ucap Bita blak-blakan, tanpa filter, menyerang langsung ke inti masalah.
Wajah Safira sempat menegang selama beberapa detik, namun dia buru-buru memasang wajah terluka yang dramatis. "Bita... astagfirullah, kamu salah paham, Dek. Mbak cuma minta arahan dari Gus Ibra sebagai ketua yayasan karena Mbak trauma dengan ancaman Mahendra semalam. Kenapa pikiran kamu negatif sekali sama kakak sendiri?"
"Mbak, bungkus deh drama 'salah paham'-nya. Gak laku di depan gue," tembak Bita telak, beralih menggunakan kata 'gue' untuk menegaskan bahwa dia sedang tidak memakai mode santun pesantren. Bita maju satu langkah, membuat Safira refleks mundur karena terintimidasi.
"Kalau Mbak butuh perlindungan hukum dari Mahendra, Mas Ibra udah nyediain tim pengacara yayasan yang siap lapor balik. Tapi kalau Mbak mintanya bimbingan personal, empat mata, di dalam ruangan tertutup sama suami orang sambil pasang muka melas... itu namanya bukan nyari perlindungan, Mbak. Itu namanya gatel, pengen nyari kesempatan."
"Bita! Jaga bicaramu! Mbak ini kakak kandungmu!" suara Safira bergetar, kali ini benar-benar tersinggung karena kedok polosnya dikuliti habis-habisan oleh adiknya yang blak-blakan.
"Justru karena Mbak itu kakak aku, makanya aku ngomong apa adanya!" cecar Bita, matanya berkilat tajam. "Aku tahu persis ya, Mbak itu suka sama Mas Ibra. Mbak gak terima kan karena Mas Ibra nikahnya sama aku? Makanya setelah ngomongin soal perjodohan sikap Mbak ke aku beda. Dan sekarang, Mbak mau pakai alasan 'trauma semalam' buat masuk ke kehidupan suami aku? Gak akan aku biarkan, Mbak."
Safira meremas jemarinya kuat-kuat. Ia melirik ke arah Ibra, berharap pria itu akan membela atau setidaknya menegur gaya bicara Bita yang tidak sopan di lingkungan pesantren. Namun, harapan Safira runtuh total.
Ibra justru berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Bita, lalu menatap Safira dengan tatapan mata elang yang benar-benar dingin mematikan.
"Apa yang dikatakan istri saya adalah kebenaran, Ustazah Safira," ucap Ibra, suaranya baritonnya bergaung tegas tanpa keraguan. "Mulai detik ini, segala bentuk urusan profesional Anda di pesantren harus melalui Bang Yusuf. Saya melarang Anda menginjakkan kaki di ruang kerja personal saya tanpa kepentingan rapat pleno yayasan. Silakan keluar."
Wajah Safira seketika pias sempurna. Diusir secara dingin oleh Ibra di depan Bita adalah kehancuran harga diri terbesar bagi seorang Safira. Dengan menahan rasa malu dan amarah yang luar biasa, Safira membalikkan badannya dan melangkah cepat keluar dari ruangan, menutup pintu dengan sedikit hentakan.
Bita mengembuskan napas panjang setelah kakaknya pergi. Ia berbalik menatap Ibra. "Mas, aku gak kelewatan kan ngomongnya?"
Ibra tersenyum hangat, mengusap pelan puncak kepala Bita dengan penuh kasih sayang. "Tidak sama sekali, Istriku. Mas justru bangga melihat ketegasanmu menjaga kehormatan rumah tangga kita."
Namun, di luar ruangan, suasana hati Safira benar-benar bergolak bak badai. Kata-kata Bita tadi benar-benar merobek topengnya hingga tidak bersisa. Dia dipermalukan habis-habisan.
Sambil berjalan cepat menuju toilet yang sepi, Safira merogoh saku gamisnya dan mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetar menahan amarah langsung membuka aplikasi pesan instan, lalu mengetikkan sebuah pesan panjang kepada Mamanya, memanfaatkan titik lemah Bita, yaitu pilih kasih orang tua mereka sendiri.
‘Ma... Bita di sini berubah banget sejak jadi istri Gus Ibra. Dia sombong sekali, Ma. Tadi Safira dituduh yang tidak-tidak di kantor yayasan. Bahkan semalam, Bita tega memfitnah Safira hamil di depan Gus Ibra dan mertuanya murni demi mengusir Safira dari pesantren ini. Safira sakit hati banget, Ma... dada Safira sesak kalau ingat makian Bita ke Safira. Tolong Safira, Ma...’
Safira menekan tombol send, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin toilet dengan senyuman yang kembali terkembang perlahan. Air matanya seketika mengering, digantikan oleh kilat kepuasan. Dia tahu betul bagaimana tabiat ibunya yang selalu membelanya tanpa syarat.
‘Kamu pikir kamu sudah menang karena bisa mengusirku dari ruangan Gus Ibra, Bita? Kita lihat apa yang terjadi kalau Mama dan Papa datang ke sini untuk menyeretmu berlutut di depanku,’ batin Safira penuh kemenangan.
😈😤😡😡😡
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....