Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iya, Sayang
"Aku kangen Tante," bisik Arvin, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, langsung menyapu permukaan kulit leher Karin sebelum matanya mengunci tatapan wanita itu.
Arvin tidak memberikan waktu bagi Karin untuk menjawab. Dia menundukkan kepala dan langsung menyatukan bibir mereka dalam sebuah pagutan yang sarat akan kerinduan yang membakar selama ini. Kali ini, tidak ada lagi keraguan atau kepolosan seperti dulu. Sentuhannya menuntut, dominan, dan penuh penegasan.
Karin yang awalnya tegang perlahan-lahan mulai meleleh dalam dekapan Arvin. Rasa rindu yang dia pendam sendiri akhirnya meledak. Karin memejamkan mata, tangannya bergerak naik memeluk leher Arvin, dan dia mulai membalasnya.
Mendapat respons hangat dari Karin, Arvin seolah mendapatkan lampu hijau. Kedekatan mereka berubah menjadi jauh lebih dalam. Suasana bisik kerinduan memecah keheningan kamar hotel yang remang. Arvin mendesak tubuh Karin perlahan hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang, namun kehangatan di antara mereka tidak terlepas sedikit pun.
"Jangan liat aku sebagai anak kecil lagi, Tan," bisik Arvin parau, suaranya terdengar posesif sekaligus memohon. "Malam ini... aku ini priamu."
Tangan Arvin bergerak lambat namun tegas, menyusup ke balik tengkuk Karin dan menekan kepala wanita itu dengan lembut untuk kembali mempertemukan mereka dalam pagutan yang jauh lebih menuntut. Satu tangannya yang lain mencengkram pinggang Karin, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah agar posisinya sejajar, menegaskan perbedaan kekuatan fisik mereka yang kini jauh berbeda.
Arvin melepaskan kedekatan mereka perlahan, menyisakan deru napas keduanya yang saling berkejaran di dalam keheningan kamar. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Karin yang tampak sedikit memerah.
"Aku mau lebih, Tante..." bisik Arvin rendah, menyuarakan keinginan terdalamnya dengan nada parau yang terdengar begitu seksi di telinga Karin.
Karin terdiam. Dia hanya menatap manik mata Arvin yang berkilat penuh kesungguhan. Tidak ada penolakan, tidak ada pula dorongan di dada Arvin seperti yang biasa dia lakukan dulu. Keheningan Karin malam itu bukanlah sebuah keraguan, melainkan sebuah kepasrahan penuh karena hatinya pun menginginkan hal yang sama.
Melihat Karin yang hanya diam menatapnya dengan tatapan sayu yang begitu dalam, Arvin menarik sudut bibirnya tipis. "Aku anggap jawabannya adalah iya," ucap Arvin lirih.
Detik berikutnya, Arvin kembali merengkuh Karin, kali ini dengan kelembutan yang teramat sangat, seolah menghargai setiap detik penyerahan diri wanita itu. Tangannya bergerak perlahan menuntun tubuh Karin untuk berbaring di atas ranjang yang empuk, membawa malam mereka larut dalam kehangatan yang tak terkatakan, tanpa sedikit pun memutuskan pandangan mereka.
Di dalam kamar yang remang di sudut kota Los Angeles, batasan usia, status tante dan keponakan, serta jarak yang pernah memisahkan mereka seolah melebur runtuh tanpa sisa. Malam itu menjadi saksi bagaimana mereka akhirnya menikmati waktu bersama, saling menumpahkan seluruh rindu, luka penantian, dan cinta yang teramat besar di bawah keheningan malam yang panjang.
Arvin membuktikan seluruh ucapannya, membawa Karin masuk ke dalam dunianya dan menyerahkan seluruh hatinya seutuhnya sebagai sepasang manusia yang saling memiliki.
Pagi harinya, cahaya matahari mulai menyusup di sela-sela gorden kamar, membangunkan Karin dari tidur lelapnya. Dia mengerjapkan mata, merasakan lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya. Namun, momen tenang itu seketika terganggu oleh suara getar.
Arvin melenguh pelan, matanya masih setengah terpejam saat meraba nakas dan mengangkat telepon tersebut. Begitu tombol geser hijau ditekan, suara berat dan penuh amarah langsung menggelegar dari seberang sana.
"Arvin! Ke mana kamu semalam?! Kamu ninggalin acara ulang tahun kamu sendiri dan gak pulang ke rumah?! Papa gak pernah ngajarin kamu jadi anak gak tahu sopan santun kayak gini!" bentak sang ayah—Bramantyo—dengan nada yang menggelegar menembus speaker ponsel.
Arvin yang sudah sepenuhnya terbangun hanya memasang wajah datar, sama sekali tidak gentar dengan amukan sang papa. Dia melirik Karin yang kini ikut terbangun di sampingnya.
"Iya, Pa. Arvin mau pulang sekarang," jawab Arvin pendek dan tenang, lalu langsung mematikan sambungan telepon sepihak sebelum papanya sempat memaki lebih jauh.
Karin yang sejak tadi mendengarkan samar-samar suara bentakan itu langsung bergeser mendekat. Dia melingkarkan lengannya di dada bidang Arvin, memeluknya erat seolah takut cowok itu akan terseret kembali ke dalam masalah.
"Papamu ya?" tanya Karin dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, tersorot rona khawatir di matanya.
Arvin menundukkan Wajahnya, menatap Karin dengan tatapan yang seketika melembut seratus delapan puluh derajat. "Iya, Sayang," jawab Arvin, untuk pertama kalinya memanggil Karin dengan sebutan itu tanpa ada lagi embel-embel Tante.
Arvin mengecup kening Karin dengan sangat lama dan penuh perasaan, menyalurkan rasa tenang agar wanita itu tidak perlu khawatir. "Gak apa-apa. Urusan Papa biar aku yang selesaiin."
Arvin pun beranjak dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi dengan kemeja semalam, Arvin bersiap untuk pulang ke rumah demi menyelesaikan urusan mereka.
Sebelum melangkah ke pintu keluar, Arvin kembali mendekati ranjang, membungkuk sedikit untuk menatap Karin yang masih berselimut.
"Aku pulang dulu ya. Nanti sore kita main, ketemu lagi di sini, oke? Jangan ke mana-mana sendirian," ucap Arvin lembut sambil mengusap pelan rambut Karin. Setelah Karin mengangguk patuh dengan senyuman tipis, Arvin memberikan satu kecupan singkat di bibir wanita itu sebelum akhirnya melangkah keluar, bersiap menghadapi badai di rumahnya.
Melihat pintu kamar tertutup rapat setelah kepergian Arvin, Karin perlahan bangkit dan duduk di tepi ranjang. Dia menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada, menatap kosong ke arah pintu dengan pikiran yang mulai berkecamuk.
Rasa penasaran tentang sosok Bramantyo, ayah Arvin, kembali mengusik benaknya. ‘Gimana bisa seorang ayah bersikap sekeras dan seposesif itu sampai tega mengancam hidup orang lain demi memisahkan anaknya sendiri?’ batin Karin. Ada sedikit rasa khawatir yang menyelinap.
Karin menghela napas panjang, lalu merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur. Begitu wajahnya menyentuh bantal, indra penciumannya langsung menangkap sesuatu. Aroma parfum maskulin bercampur hangatnya tubuh Arvin masih tertinggal dengan sangat jelas di sana, seolah pria itu masih mendekapnya erat.
Detik itu juga, kilasan ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar kembali di kepalanya seperti film dokumenter.
"Astaga..." bisik Karin lirih.
Rasa malu yang luar biasa seketika menyerang seluruh kesadarannya. Wajah Karin mendadak terasa sangat panas dan memerah sempurna sampai ke telinga. Dia buru-buru menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya, memekik tertahan di balik kain tebal itu.
Karin tersenyum sendiri seperti orang bodoh di dalam kegelapan selimut. Dia masih tidak menyangka, bocah kaku yang dulu selalu dia anggap anak kecil, semalam telah benar-benar menaklukkan seluruh pertahanannya sebagai seorang wanita dewasa. Rasa malu dan bahagia yang campur aduk itu sukses membuat jantung Karin kembali berdegup maraton pagi ini.