Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Panggilan Darurat untuk Bagus
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan mulai menembus sela-sela ventilasi udara kamar kontrakan sederhana milik Bagus Sanjaya. Aroma harum nasi goreng kampung yang sedang dimasak oleh Sri di dapur kecil sebelah ruangan menguar nikmat, menciptakan atmosfer rumah tangga baru yang sangat damai dan dipenuhi berkah langit. Bagus baru saja selesai merapikan jaket hijau ojek online-nya dan bersiap untuk memakai sepatu kain usang di teras depan.
Tepat saat Bagus hendak melangkah keluar menembus pintu kayu kontrakan, ponsel pintarnya yang tersimpan di dalam saku jaket mendadak bergetar panjang disertai bunyi dering panggilan masuk yang sangat nyaring. Bagus merogoh ponselnya, menatap layar yang menampilkan nama Dedi di sana.
"Assalamu'alaikum, Pak Dedi. Selamat pagi," sapa Bagus dengan nada suara yang sangat tenang, santun, dan berwibawa tegap.
Namun, dari balik saluran telepon, tidak ada sapaan tenang yang terdengar. Suara Dedi meluncur dengan sangat panik, napasnya terengah-engah, dan ada getaran ketakutan akut yang luar biasa pekat dari tenggorokannya. "Mas... Mas Bagus! Tolong saya, Mas! Tolong datang ke rumah saya sekarang juga!" pekik Dedi dari seberang sana dengan nada suara yang hampir menangis frustrasi.
Bagus mengunci fokus batinnya, indra keenamnya seketika menangkap getaran cemas yang luar biasa masif dari suara Dedi. "Tenang dulu, Pak Dedi. Tarik napas dalam-dalam. Ada masalah apa yang terjadi di rumah Bapak?"
"Rumah saya dihantam teror mistis semalam, Mas Bagus!" adu Dedi dengan suara yang bergetar hebat. "Atap seng rumah saya dilempari batu dan pasir berkali-kali sampai fajar Subuh. Bau busuk bangkai menyengat memenuhi seisi kamar, dan yang paling parah... istri saya, Ratna, diteror penampakan visual bayangan hitam bermata merah di balik kaca jendela jendela! Kondisi batin Ratna sekarang runtuh total, Mas! Dia pucat pasi, lemas tidak bisa berdiri, dan ketakutan setengah mati semenjak semalam. Tolong saya, Mas Bagus... saya bener-bener tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi selain Mas Bagus."
Mendengar nama Ratna dan deskripsi teror kepala kuda bermata merah tersebut, Bagus menggertakkan rahangnya rapat-rapat. Saraf di keningnya berdenyut halus. Ia tahu betul, ini adalah simpul khodam tingkat atas milik Ki Demang yang sengaja dilepaskan untuk menghancurkan sistem saraf dan mental keluarga Dedi sebagai bentuk umpan pembalasan dendam [🔍].
"Baik, Pak Dedi. Bapak tetap tenang, kunci rasa pasrah Bapak di dalam hati, jangan pelihara rasa panik. Kirimkan alamat lengkap rumah Bapak sekarang lewat pesan singkat. Saya akan segera meluncur ke sana siang ini juga," jawab Bagus tegas, lalu menutup sambungan telepon setelah menerima pesan alamat rumah Dedi.
Sri yang baru saja melangkah keluar dari dapur sambil membawa sepiring nasi goreng hangat, tertegun melihat raut wajah suaminya yang mendadak berubah menjadi sangat serius. Sebagai seorang istri yang kini sudah dibersihkan hatinya oleh jalur langit, kepekaan batin Sri bener-bener sangat halus. Ia meletakkan piring tersebut di atas meja kecil, lalu berjalan mendekat ke arah Bagus.
"Mas Bagus... ada masalah apa? Tadi siapa yang menelepon kok sepertinya mendesak sekali?" tanya Sri dengan nada suara yang sangat lembut, sepasang matanya yang bersinar jernih menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
Bagus menarik napas pendek dengan sangat plong, lalu menggenggam erat kedua telapak tangan Sri dengan penuh rasa kasih sayang murni. "Sri, itu tadi Pak Dedi, penumpang ojol yang kemarin Mas ceritakan. Rumah tinggalnya semalam dihantam teror hawa negatif kiriman orang yang sirik, dan kondisi batin istrinya, Mbak Ratna, sekarang sedang kritis ketakutan setengah mati. Mas harus berangkat ke rumah mereka siang ini untuk membantu membersihkan sisa kotoran gaib itu melalui jalur langit. Mas... minta izin dan doa restumu ya, Sri?"
Sri terdiam sejenak, ada sebersit rasa khawatir yang sempat melintas di dadanya sebagai seorang wanita yang mencintai suaminya. Namun, melihat sorot mata Bagus yang memancarkan kejujuran murni, ketenangan iman, dan kewibawaan spiritual yang sangat tegap, benteng kekhawatiran di dada Sri seketika mencair digantikan oleh rasa bangga yang mendalam.
Sri mengulas seulas senyuman paling tulus, lalu meraih tangan kanan Bagus dan mencium punggung tangan suaminya dengan sangat khusyuk. "Mas Bagus berangkatlah dengan hati yang ikhlas demi menolong sesama hamba Allah yang sedang dizalimi. Doa restu Sri akan selalu menyertai setiap langkah kaki Mas Bagus. Sri percaya, keteguhan iman Mas Bagus akan selalu berada di bawah perlindungan mutlak Sang Pemilik Semesta."
Mendengar untaian kata penyejuk batin dari istrinya, Bagus merasakan ada gelombang energi positif yang luar biasa dahsyat menyelimuti seluruh jasadnya. Pagar keikhlasan rumah tangga mereka bener-bener telah menyatu menjadi tameng pelindung yang sangat kokoh. Setelah memakai helm ojolnya dan menyalakan mesin motor Beat karbu tuanya yang menyala stabil, Bagus segera memutar tuas gas dengan kecepatan tinggi, melaju kencang membelah aspal jalanan kota menuju ke arah lokasi rumah tinggal Dedi demi menuntaskan misi pembersihan spiritual tahap pertama.
“Ketika niat suci untuk menolong sesama hamba Allah yang sedang dizalimi telah mengantongi doa restu yang tulus dari keikhlasan seorang istri, maka seluruh langkah kakimu akan berada di bawah naungan takdir langit. Benteng imanmu takkan lagi mampu digetar oleh gempuran teror hitam mana pun, karena sukmamu telah resmi melangkah di bawah perlindungan mutlak-Nya.”
— Sang Alifas Yang Merumput