Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Grizla langsung mengubah ekspresi wajahnya dalam sekejap. Matanya yang tadinya dingin kini memancarkan kepatuhan seorang istri yang tertindas.
"Iya, Mas. Sebentar, ini baru mau diambilkan," kata Grizla setengah berteriak, berpura-pura menjadi istri penurut. Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar dan mengambil setelan baju untuk Antonio dari lemari.
Setelah menyelesaikan mandinya, Antonio keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia mendengus kesal melihat Grizla yang baru saja meletakkan pakaian di atas kasur. Dengan kasar, ia menyambar baju tersebut.
"Lama sekali! Kerja begini saja tidak becus," gerutu Antonio sambil memakai bajunya dengan tergesa-gesa.
Grizla hanya menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Maaf, Mas. Tadi aku tanggung lagi beresin meja makan."
Antonio mencibir, lalu menatap Grizla dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Pikiranku sedang pusing. Besok aku akan mencarikan kerja untukmu di kantor. Mungkin menjadi Office Girl lebih baik daripada kamu hanya duduk diam di rumah menghabiskan uangku."
Grizla mendongak, menunjukkan senyum tipis yang tampak polos. "Ah, tidak usah, Mas. Aku sudah dapat kerjaan baru kok. Gajinya lumayan, jauh lebih baik daripada hanya jadi OG di kantormu."
Antonio menghentikan gerakannya yang sedang mengancingkan kemeja. Ia menoleh dengan kening berkerut. "Kerja? Kerja apa? Jangan bermimpi terlalu tinggi, Grizla. Memang ada yang mau menerima perempuan seperti kamu?"
"Ada, Mas. Tadi sore baru saja dikabari kalau aku diterima," jawab Grizla tenang. "Tapi... kemungkinan jam kerjanya agak sedikit lama dan melelahkan. Ya, tapi tidak apa-apa, sesuailah dengan gajinya."
Antonio menyipitkan mata, merasa harga dirinya sedikit terusik. "Memangnya berapa gajinya sampai kamu sesumbar begitu?" tanyanya ketus.
"Tiga juta, Mas," kata Grizla singkat.
Antonio seketika terdiam. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Angka tiga juta itu berputar-putar di kepalanya. Mengingat posisinya di kantor saat ini yang diturunkan menjadi staf magang, gajinya yang semula lima juta harus dipotong 50% karena sanksi. Itu artinya, bulan ini ia hanya memegang sisa 2,5 juta rupiah.
"Sialan, itu artinya gaji perempuan ini lebih besar dariku?" batin Antonio menolak terima.
Untuk menutupi rasa gengsinya, Antonio berdehem keras dan melipat tangan di dada, mencoba tetap terlihat berkuasa. "Bagus kalau begitu. Jadi kamu tidak perlu jadi beban di rumah ini lagi."
"Lalu, pembagian uangnya bagaimana, Mas?" tanya Grizla memancing Antonio.
"Baiklah, uangmu nanti buat bayar cicilan rumah, dan uangku buat keperluan rumah tangga kita sehari-hari," kata Antonio dengan nada mutlak, tidak mau dibantah.
Grizla hanya mengangguk pelan. "Oh, begitu... Baik, Mas."
Melihat kepatuhan Grizla, Antonio tersenyum puas, namun sedetik kemudian wajahnya kembali mengeras. Ia melangkah mendekati Grizla, memperkecil jarak di antara mereka hingga Grizla bisa merasakan hembusan napasnya yang sarat akan ancaman.
"Tapi ingat satu hal, Grizla. Jangan pernah mengharapkan apa pun tentang rumah ini. Jangan berpikir kamu punya hak, karena sertifikat rumah ini sudah resmi atas namaku," kata Antonio menatap Grizla tajam, mencoba Mengintimidasi istrinya.
Grizla tidak mundur setapak pun. Ia mempertahankan wajah polosnya. "Iya, Mas. Aku paham."
"Bagus kalau paham," dengus Antonio. Ia kemudian berbalik dan berlalu dengan angkuh menuju dapur untuk mencari makan.
Begitu punggung Antonio hilang di balik sekat ruangan, senyuman polos di wajah Grizla memudar secara perlahan, digantikan oleh seringai tipis yang mengerikan.
"Atas namamu ya, Antonio?" gumam Grizla sambil menatap lurus ke arah dapur. "Nikmatilah kesombonganmu malam ini. Karena besok, bahkan untuk bernapas pun, kamu harus meminta izin dariku."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..