Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernah menjadi menantu kesayangan
Aroma seafood yang memenuhi restoran itu tanpa sadar membawa Zulfa kembali pada kenangan yang selama ini berusaha ia simpan rapat-rapat. Kenangan tentang ayahnya.
Dulu, almarhum Hilman juga memiliki usaha yang serupa. Bahkan bisa dibilang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan banyak orang. Restoran seafood miliknya pernah menjadi salah satu tempat makan favorit di kota asal mereka. Setiap hari, meja-meja hampir selalu terisi penuh oleh pelanggan yang datang silih berganti. Orang-orang mengenal restoran itu karena cita rasanya yang khas.
Dan di balik semua keberhasilan tersebut, ada sosok Hilman yang mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk usahanya. Namun semua itu berubah dalam waktu yang sangat singkat. Sebuah kabar buruk tiba-tiba menyebar dan menghancurkan apa yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Seseorang mengaku mengalami keracunan makanan setelah makan di salah satu cabang restoran milik Hilman. Awalnya hanya sebuah keluhan biasa. Namun entah bagaimana, isu tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai media sosial dan menjadi perbincangan banyak orang.
Berita itu berkembang liar tanpa sempat diverifikasi kebenarannya. Komentar-komentar negatif bermunculan. Tuduhan demi tuduhan terus berdatangan. Nama baik yang selama bertahun-tahun dijaga dengan susah payah seolah runtuh hanya dalam hitungan hari. Banyak orang menduga ada pihak yang sengaja ingin menjatuhkan Hilman.
Kesuksesan yang diraihnya selama ini rupanya mengundang iri hati sebagian orang. Namun siapa pelakunya, tak pernah benar-benar diketahui. Yang pasti, dampaknya sangat nyata. Jumlah pelanggan mulai menurun drastis. Cabang-cabang restoran yang sebelumnya ramai perlahan kehilangan pengunjung. Satu demi satu kursi kosong mulai mendominasi ruang makan yang dahulu selalu penuh.
Pendapatan terus merosot. Sementara biaya operasional tetap harus berjalan. Gaji karyawan, cicilan pinjaman bank, hingga berbagai kewajiban lainnya terus menumpuk tanpa ampun.
Hilman berusaha bertahan sekuat tenaga. Ia bahkan menutup beberapa cabang demi menyelamatkan usaha yang tersisa. Namun keadaan tidak kunjung membaik. Di sisi lain, muncul pula keluhan dari pelanggan lama yang merasa kualitas masakan di beberapa cabang sudah tidak sama seperti dulu. Entahlah mungkin ada orang-orang yang sengaja membuat masakannya tidak enak dan tidak disukai pelanggan.
Padahal Hilman telah melatih setiap koki secara langsung dan memastikan seluruh resep digunakan sesuai standar. Sayangnya, banyak pelanggan tetap bersikeras bahwa masakan terbaik hanya bisa mereka temukan di restoran utama tempat Hilman bekerja setiap hari.
Mungkin karena di sanalah ia bisa mengawasi semuanya secara langsung. Mungkin juga karena sentuhan tangan seorang pemilik memang tidak mudah digantikan. Pada akhirnya, hanya satu restoran yang tersisa. Satu-satunya tempat yang masih mampu bertahan di tengah badai yang terus menghantam.
Namun itu pun tidak cukup. Penghasilan yang diperoleh tak lagi mampu menutupi utang yang semakin membengkak. Tekanan demi tekanan mulai menggerogoti kesehatan Hilman. Pria yang selama ini dikenal kuat dan pekerja keras itu perlahan jatuh sakit.
Hingga suatu hari, tubuhnya tak lagi mampu bertahan. Ia meninggal dunia dengan meninggalkan begitu banyak hal yang belum sempat diselesaikan. Saat itu, Zulfa masih duduk di bangku kuliah. Usianya masih terlalu muda untuk memahami betapa berat beban yang selama ini dipikul sang ayah. Dan di detik itu juga Zulfa bertekad untuk mencari pelaku yang sudah membuat hidup Ayahnya hancur hingga harus kehilangan nyawa Ayahnya. Cepat atau lambat Zulfa pasti akan menemukan pelaku tersebut.
Kepergian Hilman menjadi pukulan yang menghancurkan keluarganya. Tanpa sosok yang selama ini menjadi penggerak utama bisnis, restoran terakhir mereka akhirnya ikut tutup. Zulfa dan ibunya tidak memiliki pengalaman maupun kemampuan untuk melanjutkan usaha tersebut. Sementara utang-utang yang ditinggalkan terus menagih tanpa ampun.
Satu per satu aset keluarga terpaksa dijual. Hingga akhirnya rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka pulang pun tak mampu dipertahankan. Bank menyita hampir seluruh harta yang tersisa. Dalam waktu yang relatif singkat, keluarga yang dulu hidup berkecukupan harus menerima kenyataan pahit bahwa mereka telah kehilangan segalanya.
Bukan hanya usaha.
Bukan hanya rumah.
Tetapi juga sosok ayah yang selama ini menjadi sandaran hidup mereka. Dan hingga hari ini, setiap kali mencium aroma seafood yang dimasak dengan bumbu khas seperti ini, Zulfa selalu teringat pada satu hal. Bahwa pernah ada masa ketika ayahnya berdiri gagah di balik dapur restoran miliknya, tersenyum bangga melihat pelanggan menikmati masakan yang ia ciptakan dengan sepenuh hati.
***
Flashback – Awal Pertemuan Arslan dan Zulfa
Hari itu restoran seafood milik Hilman sedang ramai seperti biasa. Aroma bumbu laut yang menggoda memenuhi udara, sementara para pelayan sibuk hilir mudik mengantarkan pesanan pelanggan. Di tengah kesibukan tersebut, sebuah MPV mewah berwarna putih perlahan memasuki area parkir restoran.
Zulfa yang saat itu sudah bersiap berangkat kuliah sempat melirik sekilas ke arah kendaraan tersebut. Pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang turun dari mobil berpelat B itu. Seorang pria paruh baya dengan penampilan rapi berjalan lebih dulu. Di sampingnya, seorang pria muda bertubuh tinggi dengan setelan jas hitam mengikuti langkahnya.
Untuk beberapa detik, Zulfa sampai lupa mengalihkan pandangan. Pria itu tampan. Terlalu tampan untuk ukuran orang yang biasa ia temui sehari-hari. Rahang tegas, hidung mancung, dan sorot mata yang tajam membuat penampilannya terlihat begitu sempurna. Tanpa sadar, Zulfa memandangi sosok tersebut hingga mereka memasuki restoran.
"Hilman! Tolong menunya bawa ke sini!"
Suara pria paruh baya itu terdengar akrab memanggil ayahnya.
"Mungkin pelanggan tetap Ayah," batin Zulfa. "Atau teman lama yang sering makan di sini."
Ia hendak berpamitan untuk berangkat kuliah namun tiba-tiba suara ayahnya memanggil.
"Zulfa, sini sebentar."
Zulfa menoleh.
"Ayo kenalan dulu sama teman Ayah."
Hilman langsung menggandeng lengan putrinya menuju meja nomor tujuh tempat kedua tamu tersebut duduk. Lalu Hilman menoleh kepada pria paruh baya itu.
"Zulfa, kenalkan. Ini Om Ardiwilaga. Teman Ayah waktu sekolah dulu."
Zulfa langsung menyalami Ardi dengan sopan lalu mencium punggung tangannya.
"Assalamualaikum, Om."
"Waalaikumsalam."
Ardi tersenyum hangat.
"Wah, padahal Om sering makan di sini, tapi baru kali ini ketemu kamu. Ternyata kamu sudah sebesar ini, cantik lagi." Tatapan Ardi penuh kekaguman membuat pipi Zulfa langsung menghangat.
"Terima kasih, Om." Jawab Zulfa tersipu malu.
Kemudian Ardi menepuk bahu pria muda yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Zulfa.
"Nah, kalau yang ini anak Om."
Untuk pertama kalinya pria itu berdiri dari kursinya. Tubuhnya menjulang tinggi. Membuat Zulfa harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. Pria itu mengulurkan tangan. Senyumnya tipis, tetapi cukup membuat jantung Zulfa berdetak lebih cepat.
"Hai. Namaku Arslan."
"Zulfa." Jawaban itu keluar pelan.
Begitu tangan mereka bersentuhan, Zulfa segera menarik tangannya kembali dan menundukkan pandangan. Ia tidak tahu kenapa. Yang jelas, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Sementara Arslan justru tidak bisa mengalihkan pandangan dari wanita berjilbab di hadapannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tertarik pada seseorang hanya dalam sekali pertemuan.
Sejak hari itu, Arslan semakin sering datang ke restoran milik Hilman. Awalnya dengan alasan makan siang. Lalu bertemu teman ayahnya. Kemudian tanpa sadar, alasan utamanya berubah menjadi satu nama, yaitu Zulfa.
Kadang ia datang hanya untuk mengobrol beberapa menit. Kadang sengaja menunggu jam kuliah Zulfa selesai. Kadang bahkan memesan makanan yang sebenarnya tidak terlalu ingin ia makan. Semua demi bisa melihat senyum gadis itu.
Hubungan mereka berkembang dengan cepat. Mereka mulai saling mengenal. Saling bertukar cerita. Dan tanpa disadari, keduanya menjadi semakin dekat. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.Cobaan besar datang menghantam keluarga Zulfa.
Bisnis yang selama bertahun-tahun dibangun oleh Hilman perlahan runtuh. Masalah demi masalah berdatangan hingga membuat kondisi kesehatan pria itu terus menurun. Di tengah situasi sulit tersebut, Ardi menjadi salah satu orang yang tetap berada di sisi sahabatnya.
Ia membantu semampunya, salah satunya melunasi hutang-hutang Hilman yang tersisa. Bahkan ketika Hilman sudah terbaring lemah, Ardi masih setia menjenguk dan memberikan dukungan. Sampai suatu hari, menjelang akhir hayatnya. Hilman menggenggam tangan Ardi. Dengan suara yang mulai melemah, ia menitipkan satu-satunya putri yang dimilikinya.
"Kalau suatu hari saya nggak ada... tolong jaga Zulfa."
Kalimat sederhana yang terus teringat di benak Ardi hingga sekarang. Tak lama kemudian, Hilman mengembuskan napas terakhirnya. Meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya.
Saat itulah Arslan mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Hanya tiga hari setelah kepergian Hilman, ia menyampaikan niatnya kepada kedua orang tuanya. Ia ingin menikahi Zulfa.Bukan karena rasa kasihan.Bukan pula karena belas kasihan terhadap keadaan keluarganya. Melainkan karena ia benar-benar mencintai wanita itu. Dan tidak ingin membiarkannya menghadapi semua kesulitan seorang diri.
Empat puluh hari setelah kepergian Hilman, akad nikah pun dilangsungkan. Ardi dan Farah menggelar pesta pernikahan yang begitu megah untuk putra semata wayang mereka.
Hari itu, Zulfa resmi menjadi bagian dari keluarga Ardiwilaga. Keluarga yang memiliki kehidupan sangat berbeda dari kehidupan yang selama ini ia kenal. Namun berkat sifatnya yang lembut, santun, dan mudah menghormati orang lain, Zulfa diterima dengan baik oleh hampir seluruh anggota keluarga besar.
Bahkan Farah yang kini sering menekannya soal keturunan, dahulu adalah orang yang paling memanjakannya. Wanita itu kerap membelikan tas, perhiasan, hingga berbagai barang bermerek yang bahkan tidak pernah terpikir oleh Zulfa untuk memilikinya. Meski ayahnya dulu hidup berkecukupan, Hilman tidak pernah membiasakan putrinya hidup berlebihan.
Karena itulah, memasuki lingkungan keluarga Ardiwilaga menjadi pengalaman baru yang harus ia ikuti secara perlahan. Beruntung, ada Arslan yang selalu berada di sisinya. Pria itu memperlakukannya dengan penuh cinta dan penghormatan. Menjadikannya pusat dunianya. Membelanya ketika terluka. Menguatkannya ketika rapuh.
Dan tanpa pernah ia sadari, lelaki yang pertama kali membuat pipinya merona di restoran milik ayahnya itu juga menjadi cinta pertama sekaligus cinta terbesar dalam hidupnya.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya. Petaka datang dalam bentuk sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Semuanya bermula dari sebuah ruang praktik dokter. Saat itu, Arslan dan Zulfa sedang menjalani pemeriksaan kesuburan setelah beberapa tahun pernikahan mereka belum juga dikaruniai momongan.
Di ruangan itulah, untuk pertama kalinya Zulfa mendengar vonis yang mengubah banyak hal dalam hidupnya. Dokter menjelaskan bahwa kondisi reproduksinya membuat peluang kehamilan alami menjadi sangat kecil. Sangat kecil hingga nyaris mustahil.
Jika ingin memiliki anak, jalan yang paling memungkinkan adalah melalui program bayi tabung atau IVF. Kalimat itu menghantam Zulfa seperti petir di siang bolong. Meski dokter berusaha menjelaskan secara medis dan profesional, tetap saja kenyataan tersebut terasa begitu menyakitkan untuk diterima.
Yang membuat keadaan semakin rumit, dokter tersebut merupakan kerabat dekat Farah. Tak lama setelah pemeriksaan itu, kabar mengenai kondisi Zulfa sampai ke telinga ibu mertuanya. Dan sejak saat itulah semuanya mulai berubah.
Hingga akhirnya Zulfa menyadari sesuatu. Farah tidak lagi memandangnya dengan cara yang sama. Seolah-olah ada kekecewaan yang diam-diam tumbuh di hati wanita itu. Kekecewaan yang semakin lama semakin sulit disembunyikan.
Waktu demi waktu berlalu. Dan sikap dingin itu berubah menjadi ucapan-ucapan yang perlahan melukai. Kadang disampaikan dalam bentuk candaan. Kadang dibungkus dengan nasihat. Kadang bahkan diucapkan di depan orang lain seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi setiap kalimatnya selalu mengarah pada satu hal yang sama.
Anak.
Keturunan.
Penerus keluarga.
Luka yang berusaha Zulfa sembuhkan setiap hari justru terus disentuh berulang kali. Dan yang paling menyakitkan bukanlah kata-kata itu. Melainkan kenyataan bahwa semua itu datang dari seseorang yang dulu pernah ia anggap sebagai ibu keduanya.
Saat itu, Zulfa akhirnya memahami bahwa cinta sebagian orang ternyata memiliki syarat. Ia akan terasa begitu hangat ketika semua harapan terpenuhi. Namun bisa berubah menjadi dingin ketika kenyataan berjalan tidak sesuai keinginan.
***
Pada masa-masa awal pernikahan, keduanya juga sepakat untuk menunda kehadiran anak. Mereka masih sangat muda. Masih ingin menikmati masa-masa menjadi pasangan suami istri tanpa terburu-buru dibebani tanggung jawab sebagai orang tua. Mereka ingin menikmati perjalanan yang selama ini hanya bisa mereka impikan. Makan malam berdua tanpa gangguan. Liburan spontan di akhir pekan.
Menghabiskan malam dengan mengobrol hingga larut. Dan merasakan manisnya jatuh cinta setiap hari meski telah sah menjadi suami istri. Selain itu, Zulfa juga memiliki alasan lain yang tidak kalah penting. Ia ingin membantu sang ibu.
Setelah kepergian Hilman, Rumi berjuang sendirian membangun kembali kehidupannya yang sempat hancur. Meski Ardi berkali-kali menawarkan bantuan finansial, Rumi hampir selalu menolaknya dengan halus.
Baginya, memiliki besan yang kaya raya bukan alasan untuk berpangku tangan. Ia ingin tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Dengan modal yang terbatas dan penuh perjuangan, Rumi perlahan merintis kembali usaha kuliner peninggalan almarhum suaminya.
Memang tidak sebesar dulu. Tidak semegah restoran seafood yang pernah dimiliki Hilman. Namun rumah makan sederhana itu perlahan mampu menghidupi keluarganya kembali. Bahkan dari usaha itulah Rumi bisa membiayai pendidikan anak bungsunya, Zyan, hingga ke bangku kuliah.
Hari demi hari berlalu. Bulan berganti tahun. Karir Zulfa berkembang cukup pesat. Dedikasi dan kemampuannya membuat ia dipercaya menduduki posisi penting di perusahaan tempatnya bekerja.
Namun di tengah semua pencapaian tersebut, ada satu harapan yang tak kunjung datang. Kehadiran seorang anak. Padahal rencana awal mereka sederhana. Menunda kehamilan selama satu tahun untuk menyesuaikan dengan kontrak kerja dan menikmati masa-masa awal pernikahan.
Setelah itu, mereka berniat memulai program untuk memiliki momongan. Namun ternyata hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Saat itulah Zulfa mengetahui bahwa perjalanan untuk memiliki anak tidak akan semudah yang mereka bayangkan. Setelah melalui banyak pertimbangan, Zulfa akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih melepaskan karier yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Keputusan itu tidak pernah mudah. Ada banyak kenangan, pencapaian, dan perjuangan yang ia tinggalkan. Namun ia tidak menyesal. Karena saat itu, ada prioritas lain yang ingin ia perjuangkan bersama suaminya. Arslan menyambut keputusan tersebut dengan penuh pengertian.
Dan saling menguatkan ketika harapan tidak berjalan sesuai kenyataan. Bagi Zulfa, cinta bukan hanya tentang menemani seseorang dalam masa-masa bahagia. Tetapi juga tentang memilih bertahan dan berjuang bersama ketika ujian datang silih berganti. Dan selama Arslan masih menggenggam tangannya, ia percaya bahwa setiap perjuangan yang mereka lalui akan selalu memiliki makna.
***