Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai penasaran
Seminggu kemudian, Annisa diperbolehkan pulang untuk melanjutkan pemulihan di rumah. Chensi sudah menyiapkan segalanya dengan sangat teliti—ruangan yang lebih luas, tempat tidur yang empuk, pencahayaan yang lembut, dan bahkan memastikan udara di dalam kamar selalu segar dan bersih.
Sejak hari itu, kebiasaan Chensi berubah total. Sebelumnya ia sering menghabiskan waktu di kantor atau ruang kerjanya, namun kini ia hampir tidak pernah meninggalkan sisi Annisa. Setiap pagi ia akan datang membawa air hangat dan obat, setiap siang ia memastikan makanan yang disajikan dan bergizi, setiap sore ia mendampingi gadis itu berjalan pelan di taman untuk melancarkan peredaran darah.
Bahkan saat ada urusan penting yang harus diselesaikan, ia hanya menangani lewat telepon atau konferensi video di ruang sebelah, agar tetap bisa mendengar suara atau melihat gerakan Annisa. Setiap kali ia harus pergi sebentar, ia selalu berpesan berulang kali pada pelayan dan pengawal. “Jangan sampai dia kekurangan apa pun. Segera panggil aku jika ada hal sedikit pun yang mengganggunya.”
Li Wei, asistennya yang sudah mengenalnya puluhan tahun, sering kali menatapnya dengan pandangan heran. Ia belum pernah melihat tuannya yang keras, tegas, dan tidak pernah takut pada siapa pun, kini berubah menjadi lelaki yang begitu lembut dan penuh kekhawatiran.
“Tuan, Nyonya Annisa sudah jauh lebih baik. Beliau hanya butuh istirahat, tidak ada bahaya lagi,” ucap Li Wei suatu hari, berusaha menenangkan Chensi yang terlihat gelisah hanya karena Annisa tidur lebih lama dari biasanya.
Namun Chensi hanya menggeleng pelan, matanya tetap tertuju pada pintu kamar. “Kau tidak mengerti, Li Wei. Sejak dia ada di sini, hidupku terasa lebih berwarna. Saat dia terancam, aku merasa seolah separuh nyawaku ikut tercabut. Aku baru sadar… dia dan anaknya sudah menjadi bagian terpenting dari hidupku. Aku takut, jika sampai terjadi apa‑apa lagi, aku tidak akan sanggup menghadapinya.”
Malam itu, suasana di rumah terasa sangat tenang. Angin malam berhembus lembut masuk lewat celah jendela yang dibuka sedikit. Annisa sudah terlelap dalam tidurnya, napasnya teratur dan tenang, wajahnya yang masih sedikit pucat mulai kembali segar.
Chensi duduk di kursi samping tempat tidur, memastikan selimut gadis itu menutupi tubuhnya dengan baik. Matanya bergerak melirik ke sisi meja kecil, di mana tergeletak sebuah buku bersampul sederhana yang sering dibaca Annisa saat ia terjaga. Ia tahu itu adalah buku ajaran agama yang menjadi pegangan hidup gadis itu.
Dengan hati‑hati agar tidak menimbulkan suara, Chensi mengambil buku itu. Ia membuka halaman pertamanya, namun segera mengerutkan kening. Tulisan‑tulisan berhuruf Arab yang tertera di sana terasa asing dan sulit dibaca oleh matanya. Ia tidak mengerti satu pun ejaan atau makna dari setiap kalimat yang tertulis.
Namun entah mengapa, rasa penasaran itu muncul dengan sendirinya. “Jika ini adalah jalan yang dia yakini, yang memberinya ketenangan hati dan kekuatan untuk bertahan dalam kesulitan… apa sebenarnya yang ada di dalamnya? Apa yang membuatnya begitu teguh memegang prinsip ini meski harus menghadapi banyak rintangan?” batinnya bertanya.
Ia segera meraih ponselnya dengan gerakan pelan, lalu membuka aplikasi pencarian. Ia memotret satu per satu ayat dan tulisan yang ada di buku itu, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin dan Indonesia. Ia membaca setiap arti dengan saksama, sesekali mengerutkan kening, sesekali mengangguk perlahan seolah mulai memahami maknanya.
Semakin ia membaca, semakin hatinya merasa tertarik. Ia menemukan ajaran tentang keadilan, tentang kebaikan, tentang menghormati orang tua, tentang menjaga kehormatan diri, dan tentang mencintai sesama manusia tanpa memandang status. Semua nilai‑nilai itu ternyata selaras dengan apa yang selama ini ia rasakan dalam dirinya, hanya saja disampaikan dengan cara yang berbeda.
Ia melirik kembali ke arah Annisa yang sedang tidur tenang. “Jadi inilah yang membentuk hatinya yang lembut namun teguh ini? Inilah yang memberinya kekuatan untuk tidak menyerah meski hidupnya sulit?”
Tanpa sadar, Chensi terus membaca dan menerjemahkan halaman demi halaman hingga larut malam. Ia tidak berniat untuk mengubah keyakinannya sendiri dalam semalam, namun hatinya terbuka lebar—ia ingin memahami dunia tempat Annisa berpijak, ingin mengerti apa yang membuatnya merasa tenang, dan ingin mendekati gadis itu bukan hanya dengan perhatian, tapi juga dengan pengertian yang lebih dalam.
Ketika matanya mulai terasa berat, ia menutup buku itu dengan hati‑hati dan meletakkannya kembali di tempat semula. Ia menggenggam tangan Annisa yang tergeletak di atas selimut, lalu membisikkan lirih.
“Besok, jika kau bangun… bolehkah kau ajari aku sedikit saja? Aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang membuatmu menjadi dirimu sendiri.”