Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja Pakaian yang Menguras Air Mata Bahagia
Gema langkah kaki Dion yang konstan di atas karpet Persia sewarna krem memecah sisa-sisa atmosfer rahasia antara Alessa dan Titi. Asisten bertangan dingin yang fobia fasyun warna-warni itu berhenti tepat tiga langkah di depan kursi roda kulit Italia milik Alessa, membungkuk hormat dengan presisi arsitektural yang kaku, lalu menyerahkan map kulit buaya hitam yang dibawanya kepada Titi.
"Nona Alessa," suara Dion terdengar datar, mekanis, dan tanpa riak emosi kasar, bener-bener mencerminkan silsilah manajemen Il Miliardario. "Prosesi pembersihan total memori fisik Anda di Surabaya telah resmi diselesaikan oleh tim forensik finansial satu jam yang lalu. Seluruh area rumah petak kontrakan Anda telah diratakan dengan tanah, dan dokumen kepemilikan tanah kustomnya kini telah resmi dialihkan di bawah yurisdiksi aliansi Alberto. Sekarang, agenda fungsional kita bergeser pada peningkatan kasta visual Anda."
Belum sempat Alessa mengaktifkan tameng sarkasme radikalnya untuk mengomentari istilah "peningkatan kasta visual," pintu ganda mahoni hitam di ujung Kamar Utama Paviliun Timur terbuka lebar.
Dua puluh orang pelayan berpakaian hitam-putih melangkah masuk dengan gerakan yang sangat taktis dan senyap, mendorong deretan rak pakaian beroda berbahan besi krom emas yang digantungkan puluhan gaun, setelan blazer, hingga mantel wol premium. Di belakang mereka, mengikuti sekelompok pria dan wanita asing berwajah Eropa dengan meteran kain melingkar di leher dan ekspresi wajah yang sangat tegang profesional—tim desainer fasyun kustom yang diterbangkan langsung dari Milan atas perintah mutlak Giovanni Alberto.
Kamar yang luasnya setara lapangan sepak bola itu mendadak berubah menjadi sebuah butik eksklusif kasta tertinggi di tengah-tengah ibu kota. Sinar matahari siang yang menembus kaca antipeluru memantulkan kilau dari ribuan payet, serat sutra alami, dan kancing kristal Swarovski yang melekat pada barisan pakaian mewah tersebut.
Bagi Alessa, pemandangan di depannya ini bener-bener memicu distorsi visual spasial dan psikologis yang luar biasa masif. Silsilah hidupnya sebagai anak yatim piatu di Surabaya biasanya dihabiskan dengan membeli pakaian bekas di pasar gembong, atau paling mentok menerima lungsuran daster batik pudar dari tetangga sebelah rumah. Pakaian terbaik yang dia miliki hanyalah sebuah kemeja biru pudar yang kini sudah hanyut di tempat sampah medis paviliun barat kemarin siang.
Seorang wanita paruh baya berambut bob perak, yang diidentifikasi Titi sebagai Signora Beatrice, kepala desainer rumah mode kustom Alberto, mendekati kursi roda Alessa. Dengan gerakan yang sangat halus dan penuh kehati-hatian, seolah-olah sedang menyentuh vas kristal dinasti Ming yang harganya miliaran rupiah, Signora Beatrice mulai melingkarkan pita meteran kain sutranya ke tubuh kurus Alessa.
"Ukuran lingkar dada... tujuh puluh delapan sentimeter. Sangat rapuh," ucap Signora Beatrice dalam bahasa Italia yang kaku, yang langsung diterjemahkan secara taktis oleh Dion lewat tablet digitalnya. "Kita membutuhkan struktur kain wol merino yang lembut untuk melindungi jahitan mikro di punggungnya, dan sutra kasmir organik untuk menyamarkan lebam di sekitar bahunya tanpa menekan saraf sensitif."
Satu per satu, helai demi helai pakaian mulai dicocokkan ke tubuh Alessa. Ada gaun malam sewarna hijau emerald dari sutra murni yang jatuh dengan keanggunan gotik modern, ada setelan blazer kasmir sewarna vanila yang potongannya begitu presisi membingkai siluet tubuhnya yang kurus, hingga mantel panjang berbahan bulu domba premium yang begitu lembut hingga terasa laksana usapan awan di siang hari.
Pada detik itulah, sebuah gelombang emosional yang teramat mendalam mendadak merembes keluar dari celah hati Alessa yang paling sunyi. Kehangatan kain kasmir yang membungkus kulitnya yang penuh lebam keunguan seolah mengalirkan sebuah sensasi yang sudah belasan tahun tidak pernah dia rasakan: rasa aman yang absolut.
Air mata yang sejak tadi ditahannya di balik tameng ironis mendadak merebak, mengalir deras membasahi pipinya yang masih bengkak. Ini bukan air mata kesedihan akibat sabetan ikat pinggang Rian atau dinginnya aspal terminal, melainkan air mata bahagia yang menguras habis sisa-sisa rasa terbuang di dalam jiwanya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun silsilah hidupnya, Alessa merasa diperlakukan sebagai seorang manusia yang memiliki harga diri tinggi, bukan sekadar buruh potong roti yang eksistensinya bisa diinjak-injak setiap kali dadu judi kalah berputar.
“Ibu... Ayah... Alessa gak perlu pakai baju robek lagi,” ratap batin Alessa, dadanya naik-turun menahan sesak yang masif namun terasa begitu melegakan. “Monster kaku berjas mahal itu bener-bener menghancurkan masa lalu Alessa yang busuk, dan menggantinya dengan kemewahan yang bikin Alessa gak perlu takut kedinginan lagi. Baju-baju ini... hangat banget, Bu.”
Titi yang melihat air mata Alessa jatuh di atas kerah piyama abu-abu arangnya langsung bergerak taktis, mengambil saputangan sutra dan mengusap pipi Alessa dengan kelembutan seorang kakak perempuan yang tulus. Kebingungan domestik Titi melebur menjadi rasa empati yang pekat menyaksikan runtuhnya benteng pertahanan sang gadis sarkas.
Namun, sekring pelindung anomali di dalam otak Alessa menolak untuk membiarkan dirinya tenggelam dalam melodrama air mata di depan Dion dan tim desainer Milan terlalu lama. Komedi gelap adalah satu-satunya instrumen kewarasan yang dia miliki untuk menyeimbangkan neraca emosinya yang baru saja mengalami guncangan kultural kasta tertinggi.
Alessa menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu mendongak menatap Dion dengan seulas senyuman ironis yang dipaksakan di sudut bibirnya yang pecah.
"Waduh, Mas Dion..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat, memecah keheningan haru di dalam kamar. "Ini bos kanebo kering lu bener-bener gak tanggung-tanggung ya kalau mau bikin manajemen aset investasi visual. Pakaian kasmir sebanyak ini kalau gue pakai semua sekaligus, gue bakal berubah fungsi jadi mumi mesir versi fasyun ekstrem musim dingin, Mas. Apa ini bagian dari klausul kontrak berlapis emas kita agar gue gak bisa melarikan diri tanpa alas kaki lagi karena keberatan beban kain mahal?"
Dion tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet digitalnya, namun sudut bibirnya berkedut sangat tipis—sebuah riak reaksi yang sangat langka dari asisten pribadi Giovanni Alberto.
"Pakaian-pakaian ini adalah kebutuhan operasional, Nona Alessa," sahut Dion kaku dan dingin, suaranya yang mekanis menggema pelan di antara pilar marmer Carrara. "Tuan muda Giovanni memiliki standar fungsionalitas yang sangat tinggi untuk setiap individu yang berada di bawah yurisdiksinya. Pakaian lama Anda yang kumuh tidak memiliki nilai estetika untuk dipertahankan dalam sistem pergaulan internasional aliansi Alberto. Pilihan kain kasmir ini disesuaikan dengan rekomendasi medis Dr. Bram agar proses regenerasi kulit penuh lebam Anda berjalan dengan kecepatan kosmik."
"Rekomendasi medis katanya..." Alessa mendengus parau, matanya menyusuri deretan rak baju emas yang berkilau di depannya. "Bilang saja bos lu itu fobia sama fasyun kelas menengah ke bawah, Mas Dion. Tapi gak apa-apa, sampaikan makasih gue buat robot finansial termahal di ibu kota itu. Setidaknya, belanja pakaian yang menguras air mata bahagia jiwa miskin gue ini sukses bikin gue sadar kalau kain kasmir Milan itu rasanya bener-bener beda jauh sama daster batik lungsuran tetangga Surabaya yang seratnya sudah menyerupai saringan tahu."
Signora Beatrice kembali mendekat, membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil. Begitu kotak itu dibuka, sepasang sepatu datar (flat shoes) berbahan kulit anak domba ultra-lembut berwarna hitam krom dengan sol ortopedi kustom terpampang nyata. Sepatu itu dirancang khusus untuk membungkus telapak kaki Alessa yang hancur tanpa menimbulkan tekanan pada sisa-sisa luka aspalnya.
Ketika Titi membantu memasangkan sepatu tersebut ke kaki Alessa, air mata Alessa kembali meleleh kecil. Sensasi empuk dan proteksi mutlak yang diberikan oleh sepatu itu bener-bener menghancurkan silsilah rasa sakit dari pelariannya semalam. Jarak aman yang dijanjikan Giovanni Alberto melalui eksekusi teknologi dan fasyun mewah ini terbukti bukan sekadar bualan di atas kertas foil emas.
"Gila..." gumam Alessa lirih, menatap sepasang sepatunya dengan senyuman kaku yang berpadu dengan kelegaan yang masif. "Sepatu ini empuknya bener-bener kayak menginjak tumpukan roti tawar premium yang baru matang dari oven, Mbak Titi. Kalau pakai ini, gue rasa gue bisa jalan keliling lapangan sepak bola di kamar baru gue selama lima jam tanpa perlu takut silsilah kaki gue lecet lagi."
"Tuan muda Giovanni menjadwalkan pertemuan resmi dengan Anda pukul tujuh malam nanti di ruang makan utama Paviliun Timur," Dion memotong pembicaraan dengan nada suara yang penuh otoritas mutlak tanpa toleransi keterlambatan. "Anda diwajibkan mengenakan setelan blazer kasmir vanila pilihan Signora Beatrice. Prosesi peningkatan kasta visual Anda hari ini dinyatakan selesai dengan efisiensi waktu sembilan puluh delapan persen."
Dion membungkuk hormat sekali lagi, lalu memimpin seluruh tim desainer Milan dan para pelayan untuk ditarik keluar dari kamar raksasa tersebut, meninggalkan keheningan yang kini terasa jauh lebih hangat bagi batin Alessa.
Alessa menyandarkan tubuhnya pada kursi roda kulit Italianya, memandangi deretan pakaian kasmir baru yang kini telah tertata rapi di dalam lemari kaca raksasanya. Air mata bahagianya telah mengering, digantikan oleh sebuah kesadaran kaku yang pekat: sangkar emas milik Il Miliardario ini memang dingin dan penuh dengan kalkulasi bisnis kasta tertinggi, namun di dalam wilayah kekuasaan inilah... seorang gadis semprul yang hancur dari Surabaya akhirnya menemukan arti nyata dari sebuah pakaian perlindungan yang sesungguhnya. Perjanjian di atas kertas berlapis emas itu kini siap dia jalani dengan kasta visual tertinggi yang menolak untuk tunduk pada silsilah rasa sakit masa lalu.