Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Kau siapa? Berani datang ke lokasi ini?" tanya Damien dengan tatapan tajam.
Klik!
Dari pinggangnya, Damien mengeluarkan tongkat besi khusus miliknya.
Tongkat yang semula pendek itu langsung memanjang setelah ia mengibaskannya.
Pria misterius yang mengenakan topi dan masker itu tidak menjawab.
Tatapannya dingin menatap Damien dan Evelyn.
Tanpa basa-basi—
Wusss!
Pria itu langsung mengayunkan tongkat besi di tangannya ke arah Damien.
Brak!
Damien mengangkat tongkatnya dan menahan serangan tersebut.
Benturan keras langsung menggema di area gudang.
Saat pria misterius itu hendak menyerang lagi...
Brak!
Evelyn muncul dari samping dan melayangkan tendangan ke arah pinggangnya.
Namun pria itu bereaksi cepat.
Ia mundur setengah langkah dan berhasil menghindarinya.
Pria bertopeng itu kembali menyerbu.
Tongkat besinya berputar cepat sebelum menghantam ke arah kepala Damien.
Brak!
Brak!
Brak!
Damien menahan tiga serangan berturut-turut.
Percikan api bahkan muncul saat kedua tongkat besi beradu keras.
Di saat yang sama Evelyn ikut maju.
Wusss!
Tinju Evelyn mengarah ke wajah pria itu.
Namun lawan mereka langsung menundukkan kepala dan membalas dengan tendangan rendah.
Evelyn melompat mundur.
Pria misterius itu tidak memberi mereka waktu berpikir.
Ia langsung menyerang lagi.
Kali ini Damien dan Evelyn bergerak bersamaan.
Brak!
Tongkat Damien menghantam bahu lawannya.
Sedangkan Evelyn melayangkan tendangan ke arah lutut pria tersebut.
Meski berhasil menahan salah satu serangan, pria itu tetap terdorong beberapa langkah ke belakang.
Untuk pertama kalinya posisinya terdesak.
Namun dari balik masker, pria itu justru tertawa dingin.
"Heh..."
Suara seraknya membuat Evelyn mengernyit.
Seolah pria itu sengaja datang ke sana bukan untuk membunuh mereka.
Melainkan untuk menguji kemampuan mereka.
Detik berikutnya
Pria misterius itu kembali menerjang.
Dan pertarungan sengit antara tiga orang itu kembali pecah di tengah lokasi pembunuhan yang sunyi.
Pria misterius itu kembali menerjang dengan tongkat besi di tangannya.
Wusss!
Serangannya kali ini jauh lebih agresif.
Brak!
Brak!
Brak!
Tongkat besi Damien beradu keras dengan miliknya berkali-kali.
Pria bertopeng itu tiba-tiba mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Damien.
Namun kali ini Damien tidak mundur.
Brak!
Ia menangkis serangan itu lalu memutar tongkat besinya dengan cepat.
Krak!
Tongkat lawan langsung terpental dari genggamannya.
Evelyn yang sudah menunggu kesempatan langsung bergerak.
Brak!
Tendangan keras menghantam lutut pria tersebut.
"Aaargh!"
Pria itu kehilangan keseimbangan dan berlutut di tanah.
Namun ia masih berusaha melawan.
Dengan geram, ia mengeluarkan pisau dari balik jaketnya.
Sret!
Pisau itu langsung menusuk ke arah Evelyn.
"Evelyn!"
Damien menerjang tanpa ragu.
Brak!
Lengannya menghantam pergelangan tangan pria itu.
Pisau terlempar beberapa meter.
Sebelum pria tersebut sempat bangkit..
Evelyn memutar tubuhnya.
Brak!
Siku kanannya menghantam rahang pria itu dengan keras.
Tubuh pria misterius itu langsung terjatuh ke tanah.
Damien segera menekan bahunya.
Sementara Evelyn mengunci lengan satunya.
Pria itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Diam!" bentak Evelyn.
Klik!
Borgol langsung terpasang di kedua pergelangan tangannya.
Pria misterius itu akhirnya berhasil dilumpuhkan.
Napas Evelyn dan Damien sedikit memburu setelah pertarungan sengit tersebut.
Setelah berhasil melumpuhkan pria bertopeng itu, Damien dan Evelyn segera membawanya kembali ke Departemen Kepolisian.
Sore hari.
Ruang interogasi.
Lampu putih menerangi ruangan yang sempit itu.
Pria bertopeng tersebut duduk di kursinya dengan kedua tangan diborgol ke meja.
Di balik kaca satu arah, Kapten Wong, Wesley, A Fei, dan anggota Tim A lainnya sedang mengawasi.
"Bagaimana?" tanya Wesley.
"Dia belum bicara sejak ditangkap," jawab A Fei.
Di dalam ruang interogasi, Evelyn duduk berhadapan dengan pria itu.
Sementara Damien berdiri di sampingnya sambil memegang map hasil penyelidikan.
"Kami sudah memeriksa sidik jarimu," kata Damien tenang.
Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Tapi tidak ada dalam database nasional," lanjut Damien.
"Artinya?" tanya Evelyn.
Damien menatap pria itu.
"Identitasnya palsu."
Pria tersebut tertawa kecil.
"Heh..."
Evelyn meletakkan foto-foto lokasi pembunuhan di atas meja.
"Kau muncul di lokasi korban terakhir."
"Tidak."
"Kau menyerang petugas kepolisian dan jaksa."
"Tidak."
"Kau membawa simbol yang sama dengan yang ditemukan di beberapa lokasi pembunuhan."
"Tidak."
Setiap pertanyaan dijawab dengan nada santai.
Namun isinya selalu menyangkal.
Evelyn mulai kehilangan kesabaran.
Brak!
Tangannya menghantam meja.
"Berhenti bermain-main!"
Pria itu menatapnya tanpa rasa takut.
"Kalian polisi memang lucu."
Di balik kaca, Wesley langsung mengernyit.
"Aku tidak suka wajahnya."
"Tenang," ujar Kapten Wong.
Di dalam ruangan, Damien membuka sebuah map baru.
"Kami juga menemukan simbol yang sama pada kancing dan kartu yang jatuh darimu."
Kali ini senyum pria itu sedikit menghilang.
Perubahan kecil itu langsung ditangkap Damien.
"Kau mengenali simbol itu."
Pria tersebut kembali diam.
Damien lalu duduk perlahan.
"Aku tidak peduli siapa namamu.Aku hanya ingin tahu siapa yang menyuruhmu."
Untuk pertama kalinya, mata pria itu berubah.
Namun hanya sesaat.
Kemudian ia tertawa lagi.
"Kalian tidak akan pernah menangkapnya."
Tatapan Evelyn menjadi tajam.
"Siapa?"
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Orang yang kalian cari. Selama lima tahun kalian mengejarnya. Dan selama lima tahun pula kalian selalu terlambat satu langkah."
Wesley yang berada di balik kaca langsung mengepalkan tangannya.
"Dasar bajingan."
Damien tetap tenang.
"Jadi kau memang mengenalnya."
Pria itu tersenyum.
"Lebih dari itu."
Tatapan Damien dan Evelyn langsung berubah.
Pria tersebut perlahan mengangkat kepalanya.
"Aku bekerja untuknya."
Kalimat itu membuat seluruh ruang observasi mendadak sunyi.
Kapten Wong langsung berdiri.
"Apa?"
A Fei membulatkan mata.
Wesley juga terkejut.
Di dalam ruang interogasi, Evelyn menatap pria itu tanpa berkedip.
"Kau anak buah pembunuh berantai itu?"
Pria tersebut tersenyum bangga.
"Bisa dibilang begitu. Aku membersihkan jejak. Aku mengawasi polisi. Aku memastikan tidak ada yang terlalu dekat dengannya."
Tatapan Evelyn semakin dingin.
"Berapa banyak orang yang telah dia bunuh?"
Pria itu kembali tertawa.
"Heh...Lebih banyak daripada yang kalian ketahui."
"Maksudmu lebih dari enam belas?"tanya Evelyn.
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil tersenyum santai.
"Aku haus, beri aku air."
"Haus? Butuh air?" tanya Evelyn.
Pria itu mengangguk.
"Benar."
Evelyn perlahan bangkit dari kursinya..
"Jangan berharap."
Senyum pria itu langsung memudar.
Evelyn merapikan map di tangannya.
"Aku ingin tahu, selama dua puluh empat jam tanpa makan dan minum, apakah kau masih bisa bertahan."
Evelyn berjalan menuju pintu ruang interogasi.
Damien yang berdiri di samping hanya melirik pria itu sekilas sebelum ikut melangkah pergi.
Saat Damien dan Evelyn hendak keluar dari ruang interogasi, pria itu tiba-tiba tertawa pelan.
"Heh..."
Langkah keduanya berhenti.
Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Damien.
"Jaksa Lu."
Damien berbalik.
"Apa?"
Senyum aneh muncul di wajah pria itu. "Awasi dia baik-baik."
Tatapannya perlahan beralih ke arah Evelyn.
Evelyn mengernyit.
"Maksudmu apa?"
Namun pria itu hanya tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kalian akan segera tahu."
Setelah mengatakan itu, ia menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak mau menjawab pertanyaan apa pun lagi.
Damien menatap Evelyn dengan penasaran, sementara Evelyn fokus pada tahanannya.