Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Baru yang Luasnya Setara Lapangan Sepak Bola
Iring-iringan armada SUV lapis baja hitam milik aliansi Alberto akhirnya berhenti dengan presisi sempurna di depan pelataran pilar marmer Paviliun Timur. Prosesi relokasi domisili Alessa yang lebih mirip migrasi kedaulatan negara itu telah usai, kini digantikan oleh babak baru yang siap menghantam sisa-sisa rasionalitas kelas pekerja miliknya. Dua pengawal berjas hitam taktis membantu Alessa bergeser kembali ke atas kursi roda kulit Itali-nya dengan gerakan yang super senyap dan penuh kehati-hatian, seolah-olah mereka sedang membawa komoditas teka-teki paling rapuh di dunia.
Titi mendorong kursi roda itu melewati pintu gerbang perunggu setinggi lima meter yang terbuka otomatis, membawanya masuk ke dalam jantung Paviliun Timur. Lift hidrolik berlantai kaca transparan melesatkan mereka ke lantai teratas, di mana sebuah lorong sunyi berlantai karpet beludru merah marun menyambut mereka. Di ujung lorong itulah, sebuah pintu ganda dari kayu mahoni hitam dengan ukiran sulur emas murni berdiri dengan kokoh.
"Kita sudah sampai di kamar baru Anda, Alessa," bisik Titi, suaranya bergetar oleh kombinasi rasa tegang dan takjub profesional yang belum sepenuhnya reda sejak subuh tadi.
Pintu besar itu perlahan terbuka ke dalam, dan pada detik itulah, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Alessa seolah tersedot habis tanpa sisa. Mata cokelatnya melotot hingga batas maksimal, kelopaknya kaku tak berkedip, sementara rahangnya nyaris jatuh menyaksikan distorsi visual spatial yang terpampang nyata di hadapannya.
Kamar baru itu... bener-bener memiliki skala luas yang tidak masuk akal untuk ukuran tempat beristirahat satu orang manusia. Bagi Alessa, yang silsilah hidupnya dihabiskan di dalam rumah petak bocor berukuran empat kali empat meter di Surabaya—di mana jarak antara kompor, kasur kapuk, dan kamar mandi hanya sejauh tiga langkah kaki—kamar di depannya ini memiliki bentang horizontal yang lebih mirip lapangan sepak bola internasional mini yang dilapisi kemewahan ekstrem.
Langit-langit kamar itu melengkung tinggi setinggi delapan meter, ditopang oleh pilar-pilar marmer Carrara putih dengan urat abu-abu yang berkilau di bawah pendaran lampu gantung kristal Murano sebesar ban truk fasyun. Di sisi kanan, dindingnya digantikan sepenuhnya oleh kaca antipeluru setinggi langit-langit yang menyuguhkan panorama panorama hutan pinus privat dan danau buatan mansion yang berkabut tipis di bawah sinar matahari pagi.
Di tengah-tengah hamparan lantai granit yang tertutup karpet rajutan tangan Persia sewarna krem, berdiri sebuah ranjang king-size kustom dengan tiang-tiang kanopi perak. Jarak dari pintu masuk menuju ranjang tersebut begitu jauh, hingga Alessa merasa ia membutuhkan waktu setidaknya lima menit berjalan kaki kaku hanya untuk menyentuh ujung selimutnya. Di sudut lain, terdapat ruang duduk privat dengan sofa Chesterfield kulit domba, sebuah perapian marmer modern, meja kerja dari kayu ebony, dan sebuah pintu geser raksasa yang tampaknya menuju ke kamar mandi privat yang ukurannya mungkin setara dengan seluruh luas toko roti Ko Alung.
Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa keterasingan sebagai anak yatim piatu yang terbuang mendadak merayap kembali, mengalir laksana racun dingin di sela-sela tulang rusuk Alessa yang masih dibalut perban steril. Di tengah kemegahan masif yang mengintimidasi ini, dia merasa begitu kerdil, terasing, dan kesepian. Ruangan ini terlalu luas untuk menyembunyikan tangisannya, dan terlalu sempurna untuk menampung jiwanya yang penuh lebam.
“Ibu... Ayah... Alessa bener-bener takut,” ratap batinnya, rasa sesak yang masif membuat dadanya kembali terasa menarik jahitan di punggung. “Kamar ini terlalu besar. Kalau Alessa tersesat di dalam sini atau pingsan karena vertigo, butuh waktu berapa jam buat orang-orang ini nemuin jasad Alessa? Ini bukan tempat tinggal... ini sangkar raksasa yang dirancang buat bikin Alessa lupa caranya jadi manusia biasa.”
Amarah yang dingin terhadap takdirnya yang selalu melemparnya ke titik ekstrem berpadu dengan kepanikan psikologis yang mencekik. Namun, tepat ketika pertahanan mentalnya berada di ambang kolaps akibat syok budaya finansial tingkat akut, sekring pelindung anomali di dalam otaknya kembali memercikkan api sarkasme radikalnya. Komedi gelap adalah satu-satunya instrumen kewarasan yang dia miliki untuk menantang dominasi arsitektural kamar milik Giovanni Alberto ini.
Alessa menegakkan punggungnya yang kaku, memajukan kepalanya, lalu menatap Titi dengan seulas senyuman ironis yang dipaksakan di sudut bibirnya yang pecah.
"Mbak Titi..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat, memecah kesunyian masif kamar tersebut. "Ini lu yakin gak salah buka pintu? Ini kamar tidur buat satu orang mumi mesir kayak gue, atau ini sebetulnya stadion olahraga kustom yang sengaja dikasih kasur di tengahnya? Itu dari pintu masuk ke tempat tidur jaraknya jauh banget, Mbak. Kalau tengah malam gue mendadak mules mau ke kamar mandi, gue musti sewa ojek pangkalan dulu atau gimana? Bisa-biberan gue ngompol di tengah jalan sebelum sampai ke toiletnya, Mbak!"
Titi mengerjapkan matanya, kebingungan domestiknya kembali memuncak mendengar analogi ekstrim Alessa, meski sudut bibirnya berkedut menahan tawa. "A-Alessa... ini adalah Kamar Utama Paviliun Timur. Tuan muda Giovanni sendiri yang memilihkan ruangan ini untuk Anda. Beliau bilang, ruang gerak yang luas akan membantu proses pemulihan trauma spasial Anda setelah tinggal di... tempat lama Anda."
"Trauma spasial lu bilang?" Alessa mendengus parau, matanya menyusuri karpet Persia yang luasnya bisa dipakai buat main futsal beneran. "Yang ada gue malah kena trauma finansial stadium akhir, Mbak! Lihat itu lampu kristal di atas. Kalau itu jatuh pas gue tidur, silsilah kematian gue bakal tercatat sebagai 'korban kemewahan lampu gantung kasta tinggi'. Ini kalau gue teriak minta tolong di dalam sini, suaranya pasti mantul-mantul berwujud gema sampai tiga hari tiga malam baru hilang, Mbak Titi."
"Ruangan ini tidak akan menjatuhkan apa pun padamu, Alessa."
Sebuah suara berat, rendah, dan sedingin es kutub tiba-tiba memotong barisan kalimat sarkas Alessa dari arah belakang kursi roda.
Aura intimidasi yang sangat masif seketika merayap masuk, menurunkan suhu ruangan yang luas itu hingga ke titik beku. Giovanni Alberto melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator tertinggi. Setelan jas abu-abu arangnya yang baru tampak begitu pas melekat pada tubuh tegapnya, memancarkan wewenang mutlak yang tak terbantahkan. Di belakangnya, Bu Lastri menunduk hormat sedalam mungkin sebelum menarik diri keluar bersama Titi, meninggalkan Alessa berdua saja dengan sang pemilik sangkar emas.
Giovanni berjalan perlahan, menghentikan langkah kakinya tepat di samping kursi roda Alessa. Sepasang matanya yang berwarna hitam kelam menatap lurus ke arah Alessa, mengunci pandangan gadis itu dengan intensitas yang sarat akan kalkulasi kekuasaan yang dingin. Aroma parfum mahal oud dan ambergris milik pria itu kembali menyerbak, menguasai indra penciuman Alessa, menyingkirkan aroma kepanikan yang sempat mengambang di udara.
"Apakah kapasitas luas ruangan ini terlalu besar untuk menampung sarkasme gilamu, Gadis Sarkas?" tanya Giovanni datar, tanpa ekspresi namun ada kilatan kepuasan yang pekat di matanya melihat Alessa yang masih sempat mengomel di tengah keterpakuannya.
Alessa mendongak, menantang mata dingin sang miliarder kaku dengan silsilah keberanian radikalnya. "Mas Bos Giovanni... lu bener-bener gak punya selera fungsionalitas yang merakyat ya. Lu kasih gue kamar sewidang lapangan sepak bola begini, tujuannya apa sih? Mau bikin jiwa miskin gue merasa terhina secara arsitektur? Ini kasurnya gede banget, bisa buat tidur bareng satu rukun tetangga dari kampung pelabuhan Surabaya, Mas Bos. Malah sisa tempatnya bisa dipakai buat jemur kerupuk udang di pinggir jendela."
Giovanni tidak merespons lelucon itu dengan kemarahan. Dia justru melangkah mendekati ranjang kanopi perak, merosokkan tangan kanannya ke dalam saku celana jasnya, lalu berbalik menatap Alessa dengan postur tubuh yang tegak laksana patung marmer.
"Di duniaku, Alessa... ukuran sebuah ruangan adalah representasi dari jarak aman yang aku berikan kepadamu," desis Giovanni dingin, artikulasi suaranya begitu presisi memotong kehampaan kamar. "Kamu telah menandatangani perjanjian di atas kertas berlapis emas kemarin siang. Itu artinya, kamu bukan lagi buruh potong roti yang harus meringkuk di sudut ruangan sempit untuk menghindari sabetan ikat pinggang. Di sini, di dalam wilayah kekuasaanku, aku memberikanmu ruang yang cukup luas agar kamu bisa berlari sejauh mungkin... tanpa perlu takut akan ada orang yang bisa menjangkaumu untuk menyakitimu lagi."
Pria itu berjalan kembali mendekati kursi roda Alessa, menundukkan sedikit tubuh tegapnya hingga wajah tampannya yang sedingin marmer berada sejajar dengan wajah lebam Alessa.
"Kamar ini adalah batas wilayah proteksi mutlak," ucap Giovanni dengan nada suara yang sangat rendah namun bergetar dengan otoritas yang mematikan. "Rian tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya di atas marmer ini. Preman pelabuhan tidak akan pernah bisa melihat bayangan kaca jendela ini. Luas lapangan sepak bola ini adalah bukti bahwa seluruh sisa hidupmu kini telah resmi mengalami peningkatan kasta finansial secara mutlak di bawah namaku. Tugasmu hanya satu: pastikan lidah sarkasmu tidak tumpul karena kemewahan ini."
Alessa mematung, menatap kedalaman mata hitam Giovanni yang hampa dari kehangatan emosi manusia biasa namun dipenuhi oleh janji keamanan yang absolut. Di dalam kamar baru yang luasnya setara lapangan sepak bola tersebut, di antara pendaran lampu kristal Murano dan aroma parfum mahal oud, Alessa menyadari satu hal: pelariannya tanpa alas kaki telah resmi berakhir di titik ini. Dia memang terperangkap di dalam sangkar emas milik Il Miliardario, namun untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidupnya, dia merasa bahwa di dalam sangkar raksasa yang kaku dan dingin inilah... dia akhirnya bisa menarik napas panjang tanpa perlu takut akan hari esok.
Sebuah senyuman kaku, getir, namun memancarkan kilatan kebebasan yang liar akhirnya muncul di sudut bibir Alessa yang pecah.
"Baiklah, Mas Bos Kanebo Kering..." kata Alessa datar penuh ironi, menatap lurus ke arah Giovanni. "Mari kita lihat seberapa jauh mumi mesir ini bisa menjelajahi lapangan sepak bola pribadi lu tanpa perlu pakai kompas navigasi internasional."