Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB III
Akhirnya, Hao Ran ditemukan oleh salah satu pengawal dari kediaman tempat ia tinggal. Dengan hati-hati, mereka segera membawa Hao Ran pulang. Ternyata, Hao Ran adalah seorang Pangeran dari Kerajaan Barat. Ia adalah adik kandung dari Putra Mahkota Lin Hao Yu, namun mereka berbeda ibu. Saat kejadian itu, Hao Ran memang sedang tinggal dan berlibur di kediaman kakeknya, jauh dari lingkungan istana. Tanpa ada yang menduga, saat itulah ia tiba-tiba diculik oleh gerombolan penjahat.
Sejak hari kepergiannya, seluruh keluarga dan para pengawal sangat panik. Mereka mencari ke mana-mana, menelusuri setiap jalan, hutan, dan pelosok tempat, namun tak ada satu orang pun yang berhasil menemukan jejaknya. Sampai akhirnya, kabar gembira datang bahwa Hao Ran telah ditemukan dan akan segera dibawa kembali ke istana.
Sesampainya di Istana, Hao Ran langsung dipeluk erat oleh Ayah dan Ibunya. Mereka tampak sangat lega dan bahagia, karena selama ini hidup mereka terasa gelap dan hampa karena kecemasan memikirkan nasib anak kesayangan itu. Namun ketika ditanya ke mana saja ia pergi dan apa yang terjadi selama ia hilang, Hao Ran hanya diam membisu. Ia sama sekali tidak menjawab satu pertanyaan pun, seolah ada rahasia besar yang tersimpan di dalam hatinya dan tak mau ia ceritakan pada siapa pun.
Bukan hanya orang tuanya, kakak, Putra Mahkota Lin Hao Yu, juga tampak sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya itu. Ia mendekat, menatap Hao Ran dengan wajah cemas dan lembut, sangat bersyukur adiknya bisa kembali dengan selamat. Meski begitu, Hao Ran tetap diam, tanpa mengatakan apapun.
Setelah sampai di kamarnya, ibu Hao Ran langsung menyiapkan makanan dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Ia melihat anaknya hanya diam saja dan tidak mau bercerita apa pun.
“Tidak apa-apa Nak, kalau sekarang belum mau bicara tidak masalah. Ibu mengerti, pasti kau masih lelah dan takut. Sekarang lebih baik kau makan dulu, lalu tidur dan istirahat ya,” kata ibunya dengan lembut.
Tapi tiba-tiba Hao Ran menggelengkan kepalanya. Ia malah bertanya dengan nada memaksa, “Ibu, di mana Kakak Yanxi? Aku mau bertemu sama Kakak Yanxi sekarang juga!”
Ibunya jadi bingung dan heran. “Kau ini kenapa? Dari tadi ditanya apa saja diam saja, tapi tiba-tiba bertanya terus soal Kakakmu? Memangnya ada apa dan mau bicara apa sama dia?”
Hao Ran tetap diam dan tidak mau menjawab. Sebenarnya ia hanya ingin bertemu Kakak Yanxi karena merasa, hanya kakaknya itulah yang bisa mengerti perasaan “Kakak Luna”. Ia ingin sekali bercerita tentang gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.
Melihat Hao Ran yang terus mendesak dan tidak mau tenang, akhirnya ibunya pun mengajak ia pergi mencari Kakak Yanxi. Mereka pergi ke halaman belakang istana, di sana Putri Yanxi sedang berlatih main pedang bersama beberapa prajurit.
Sebenarnya hubungan Putri Yanxi dan Pangeran Hao Ran tidak begitu akur, padahal mereka adalah saudara sekandung. Jarak umur mereka pun hanya terpaut dua tahun saja. Tapi sifat mereka sungguh sangat berbeda. Yanxi tumbuh menjadi gadis yang tegas, berani, kuat, dan suka ketertiban. Sedangkan Hao Ran sejak kecil hidup manja, lemah lembut, dan selalu ingin dituruti keinginannya. Karena perbedaan sifat itu, mereka jarang sekali akur, dan jarang mau bermain atau berbicara bersama seperti saudara pada umumnya.
Begitu sampai di halaman, Hao Ran langsung berlari cepat menghampiri kakaknya. Tapi belum sempat ia bicara, Yanxi malah langsung mengarahkan ujung pedangnya tepat ke leher adik kecilnya itu. Melihat hal itu, ibunya langsung terkejut dan menjadi sangat panik.
“Kau mau apa datang ke sini?” tanya Yanxi dengan nada ketus dan dingin.
“Kak… aku mau bertanya sesuatu sama kakak. Bolehkah kita bicara sebentar saja?” pinta Hao Ran sambil menatap kakaknya dengan wajah memelas dan memohon.
Melihat adiknya yang memaksa dan tampak sungguh-sungguh, akhirnya Yanxi pun menurunkan pedangnya. Ia lalu berjalan mengikuti Hao Ran menuju tempat yang agak sepi di taman istana.
Di sana, Hao Ran menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Ia bercerita soal penculikan itu, dan bagaimana Luna yang bersikap dingin dan acuh, namun rela melawan harimau dan kehilangan satu jarinya demi menyelamatkan nyawanya.
Setelah selesai bercerita, Hao Ran pun bertanya, “Kak, kenapa ada orang yang sifatnya begitu? Dingin, galak, dan suka marah-marah, tapi diam-diam ia mau berkorban demi orang yang bahkan tidak ia kenal?”
Yanxi hanya mendengarkan dengan wajah biasa, lalu menjawab dengan nada yang meremehkan. “Aku juga tidak tahu pasti alasannya. Mungkin gadis yang kau panggil 'Kakak' itu tadi cuma kasihan melihatmu saja. Coba lihat dirimu sendiri, tampangmu itu lho… bahkan kau terlihat jauh lebih menyedihkan daripada pengemis di pinggir jalan,” ucap Yanxi sambil tertawa mengejek adiknya.
Mendengar perkataan yang begitu menyakitkan itu, Hao Ran sama sekali tidak mau menanggapi atau membantah. Ia hanya diam, lalu langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan kakaknya itu. Di belakangnya, Yanxi masih terus tertawa dan melontarkan kata-kata ejekan, seolah senang melihat adiknya sakit hati.
Meski sudah pergi, di dalam hati kecilnya Hao Ran masih terus bertanya-tanya dan berpikir. Ia tidak peduli dengan ejekan kakaknya. Yang terus mengganjal di pikirannya hanyalah satu hal: Kenapa gadis itu masih membiarkannya hidup? Kenapa gadis itu juga rela terluka dan kehilangan jari kelingking kirinya, hanya demi menyelamatkan nyawa orang asing seperti dia?
Namun, saat Hao Ran sudah pergi menjauh, raut wajah Yanxi yang tadinya sinis dan mengejek perlahan berubah. Ia sebenarnya terlihat cukup khawatir melihat adiknya yang tampak begitu sedih dan kecewa.
Di dalam hatinya, Yanxi juga sama sekali tidak mengerti dan bingung. Ia pun bertanya-tanya, kenapa bisa ada orang yang bersikap begitu dingin dan kasar, tapi diam-diam rela berkorban demi menyelamatkan nyawa orang lain. Meski penasaran dan ingin tahu, ia sadar dirinya tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak punya jawaban pasti atas hal itu. Akhirnya Yanxi hanya menghela napas panjang, lalu membuang semua pikiran itu dan kembali melanjutkan latihan pedangnya.
Di tempat lain, Luna akhirnya kembali tiba di markas persembunyian para penjahat itu. Baru saja melangkah masuk gerbang, tiba-tiba salah satu dari mereka langsung menyergap dan mendorongnya hingga jatuh. Tak lama kemudian, Cheng dan dua orang paman angkatnya pun datang menghampiri dengan wajah marah dan penuh curiga. Mereka langsung menanyai Luna dengan nada tajam.
“Ke mana saja kau? Kenapa lama sekali baru pulang? Jangan-jangan kau berniat lari meninggalkan kami, ya?” bentak salah satu dari mereka.
Yang lain ikut menambahkan dengan suara yang jauh lebih kejam. “Atau… jangan-jangan kau malah sengaja melepaskan anak laki-laki yang kau culik itu, kan?!”
Wajah Luna tetap datar dan dingin, meski hatinya menegang. “Anak itu sudah mati, ia sudah dimakan habis oleh harimau di dalam hutan,” jawabnya tenang. Ia lalu mengeluarkan baju milik anak itu yang sudah dilumuri darah, sebelumnya ia memang sudah membunuh seekor binatang liar dan memakai darahnya supaya terlihat meyakinkan.
Tapi para penjahat itu tidak mudah percaya. Salah satu paman yang menjadi ketua kelompok itu tiba-tiba menggenggam tangan kiri Luna dengan sangat kuat dan kasar. Luna menahan rasa sakit yang luar biasa sampai wajahnya mengerut, tapi ia sama sekali tidak bersuara.
“Kalau benar kata-katamu, kenapa tanganmu terluka begini? Jangan-jangan kau malah melawan kami dan menyelamatkan anak itu, kan?!” bentak si Paman. Mereka terus mendesak dan bertanya berulang kali, memaksa Luna supaya bicara jujur. Mata Luna berkaca-kaca, ia ingin sekali menangis karena sakit dan takut, tapi ia tetap menahan dirinya sekuat tenaga.
Cheng yang melihat itu merasa tidak tega, ia pun maju mencoba membela Luna. “Sudah, jangan kasar begitu. Dia masih kecil, lukanya saja sudah parah begini,” kata Cheng. Namun Ketua penjahat itu sama sekali tidak peduli dan tidak mau melepaskan genggamannya.
“Aku terpaksa membunuh harimau itu karena binatang itu tiba-tiba mau menyerang aku juga,” ucap Luna pelan namun tegas. “Jari kelingkingku putus karena digigit harimau saat aku bertarung melawannya.”
Mendengar penjelasan itu, mereka perlahan mulai percaya. Meski begitu, mereka tetap menghukum Luna karena sudah menghilang terlalu lama dan membuat mereka cemas. Hukumannya yaitu Luna tidak diberi makan dan minum seharian penuh.
Tanpa belas kasihan, Luna digiring dan dikurung di dalam ruangan yang sangat gelap, kotor, dan menyeramkan. Di sana ia dibiarkan sendirian, tidak diberi sebutir makanan pun, bahkan setetes air pun tidak ada yang memberikannya.
Di dalam ruangan yang gelap itu, Luna duduk sendirian sambil merenungi nasibnya. Ia merasa sangat lelah dan sedih dengan hidup yang selalu menyakitkan dan penuh penderitaan ini. Rasa sakit, lapar, dan perlakuan kasar yang ia terima membuat hatinya semakin terasa sangat berat.
Sesekali ia berpikir “Apakah lebih baik aku mati saja? Aku sudah benar-benar muak dan lelah menghadapi kehidupan ini,” gumamnya pelan sambil menahan rasa sakit di hatinya.
Perlahan tubuhnya makin lemah, lalu ia pun tertidur di lantai yang dingin itu. Tanpa ia sadari, air mata menetes membasahi pipinya.
Dari kejauhan, Cheng melihat Luna yang sudah tertidur. Ia hanya bisa memandanginya sebentar dengan perasaan tidak tega, namun tak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya, Cheng pun berbalik badan dan pergi meninggalkan Luna sendirian di sana.