NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan di Balik Topeng

​Gemerlap lampu kristal dan riuh rendah tawa para undangan akhirnya surut seiring berjalannya waktu yang merayap menuju dini hari. Kemegahan resepsi pernikahan di aula agung Sterling Group telah berakhir, menyisakan keheningan malam yang pekat di dalam kompleks mansion. Bagi dunia luar, hari ini adalah perayaan penyatuan dua hati yang paling romantis tahun ini. Namun bagi Chloe, setiap detiknya adalah siksaan mental yang menguras habis seluruh daya hidupnya.

​Langkah kaki tegap Asher bergema di sepanjang koridor sayap utama mansion, menuju kamar tidur utama yang kini telah dialihfungsikan menjadi kamar pengantin mereka. Di dalam dekapan lengan kekarnya yang kokoh, tubuh mungil Chloe terasa begitu ringan dan rapuh. Gaun satin putih yang megah itu menjuntai pasrah, menyapu lantai marmer hitam seiring langkah kaki sang suami.

​Chloe benar-benar berada di titik nadir energinya. Berdiri berjam-jam di atas sepatu hak tinggi, memaksakan senyuman palsu di depan ratusan kamera, dan menahan beban berat dari tiara berlian di kepalanya membuat tubuhnya terasa seperti mati rasa. Kepalanya disandarkan secara pasrah di dada bidang Asher, mencium aroma pekat wood and bergamot bercampur wangi alkohol mahal yang menguar dari tubuh pria itu.

​Di balik matanya yang terpejam, jantung Chloe berdetak dengan ritme yang sangat tidak beraturan—berpacu cepat antara rasa takut yang mendarah daging dan ketegangan yang aneh. Otaknya berteriak agar dia berontak, mendorong dada bidang pria yang telah membelinya ini, dan melarikan diri sejauh mungkin. Namun, rasa lelah yang teramat sangat yang membelenggu setiap otot dan persendiannya membuat Chloe tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan seorang Asher Sterling. Dia hanya bisa pasrah, membiarkan takdir membawanya ke dalam ruangan yang akan menjadi saksi bisu dari malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri kontrak.

​Klik. Cklek.

​Pintu kayu ek berukir emas kamar utama terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi ketukan yang tegas. Ruangan luas bernuansa abu-abu gelap dan emas itu diterangi oleh pendar lampu tidur yang hangat. Sebuah ranjang raksasa king size dengan seprai sutra putih bersih telah bertabur kelopak bunga mawar merah di tengahnya.

​Asher tidak langsung membawa Chloe ke ranjang tersebut. Dengan gerakan yang mengejutkan, dia membawa tubuh mungil istrinya menuju meja rias besar bermaterial marmer putih di sudut kamar. Asher menurunkan bobot tubuh Chloe dengan sangat perlahan, mendudukkannya di atas kursi beludru yang empuk di depan cermin raksasa.

​Chloe membuka matanya lamat-lamat, menatap bayangan mereka berdua di dalam cermin. Asher berdiri di belakangnya, masih mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya sudah terbuka dua buah dan dasi kupu-kupu yang sudah dilepaskan, memberikan kesan maskulin yang berantakan namun sangat seksi.

​Keheningan meraja selama beberapa saat. Chloe menahan napasnya saat melihat jemari kokoh dan panjang milik Asher perlahan bergerak naik menuju kepalanya. Gadis itu refleks memejamkan mata, bersiap jika pria itu akan menarik rambutnya dengan kasar seperti yang biasa dilakukan para penjahat di film-film.

​Namun, dugaan Chloe meleset total.

​Jemari Asher bergerak dengan ketelitian yang luar biasa. Satu demi satu, dia mencabut pin logam yang menahan kain tule transparan di sanggul Chloe. Gerakannya begitu hati-hati, memastikan tidak ada satu pun helai rambut cokelat panjang Chloe yang tertarik atau patah. Setelah kain tule terlepas, Asher meraih tiara berlian kecil di atas kepala Chloe dan meletakkannya di atas meja rias dengan bunyi denting yang halus.

​Selanjutnya, tangan Asher meraih botol cairan pembersih wajah dan beberapa lembar kapas yang sudah disiapkan di atas meja. Pria bertubuh masif itu sedikit membungkukkan badannya, menyamakan tingginya dengan Chloe yang duduk di kursi. Dengan gerakan yang teramat lembut—selembut embun pagi—Asher mulai mengusap permukaan kulit wajah Chloe. Dia menghapus sisa-sisa bedak, perona pipi, dan riasan mata yang tebal dengan ketelatenan yang tidak pernah Chloe bayangkan akan dimiliki oleh seorang bos mafia berdarah dingin.

​Chloe menatap pantulan mata kelabu Asher di cermin. Tidak ada kilat kejam atau cemoohan di sana malam ini. Yang ada hanyalah kedalaman warna kelabu yang tenang, fokus pada tugasnya membersihkan wajah sang istri. Perlakuan yang sangat kontras dari pria yang seminggu lalu mengancam akan menghancurkan hidupnya.

​Setelah wajah Chloe kembali bersih dan menyisakan kulit alaminya yang seputih susu, Asher meletakkan kapas kotor ke tempat sampah. Kedua tangan kekarnya perlahan turun, mendarat di atas kedua bahu mulus Chloe yang terekspos karena potongan gaun yang rendah. Sentuhan tangan Asher yang hangat membuat tubuh Chloe bergidik pelan.

​Jemari Asher merayap ke belakang punggung Chloe, menyentuh kepala resleting perak gaun pengantinnya. Sebelum menariknya turun, gerakan tangan Asher terhenti. Melalui pantulan cermin raksasa di depan mereka, sepasang mata kelabu Asher mengunci pandangan mata rusa Chloe yang bergetar. Tatapan mata Asher malam ini seolah-olah sedang meminta izin, sebuah penghormatan tersirat yang sangat tidak biasa bagi seorang penguasa tunggal yang terbiasa mengambil apa pun secara paksa.

​Chloe menelan ludahnya dengan susah payah. Di dalam kamar yang sunyi ini, dia tahu tidak ada gunanya lagi menghindar. Ini adalah konsekuensi dari kesepakatan yang dia setujui. Dengan perlahan dan sangat pelan, Chloe menganggukkan kepalanya, memberikan jawaban atas izin tersirat tersebut.

​Sreeek.

​Suara gesekan resleting yang diturunkan terdengar sangat nyaring di dalam kamar. Gaun pengantin satin putih yang ketat itu melonggar seketika, menyingkap kulit punggung halus Chloe yang mulus tanpa cela. Sikap Asher sepanjang proses ini benar-benar sangat lembut, sangat berbeda dengan sosok kejam yang Chloe temui di sel atau malam-malam sebelumnya. Pria itu memperlakukannya seperti sebuah porselen langka yang sangat berharga dan mudah pecah.

​Begitu ikatan gaun itu terlepas sepenuhnya dari tubuhnya, gaun putih gading itu melorot turun ke batas pinggang. Rasa malu yang luar biasa seketika menyerang kesadaran Chloe. Secara refleks, kedua tangannya yang gemetar langsung naik ke depan dada, mendekap erat-erat untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang kini hanya dibalut oleh pakaian dalam berenda tipis. Wajahnya memerah padam, dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani lagi melihat cermin.

​Asher tidak berkomentar. Tanpa peringatan, dia kembali menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh Chloe, mengangkat tubuh mungil itu dari kursi meja rias dalam satu gerakan halus. Langkah kakinya membawa Chloe menuju ranjang raksasa berseprai sutra putih.

​Asher membaringkan tubuh Chloe di tengah ranjang dengan sangat hati-hati, di antara taburan kelopak mawar merah yang harum. Tubuh tinggi besar Asher kemudian ikut merangkak naik ke atas kasur, mengambil posisi di atas tubuh Chloe namun menumpu berat badannya pada kedua sikunya agar tidak menghimpit tubuh mungil sang istri. Kini, mereka berada dalam posisi berhadapan yang sangat intim, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di antara wajah mereka.

​Rasa takut yang intens kembali menyerang pertahanan Chloe. Melihat siluet masif Asher yang mengurungnya dari atas membuat Chloe refleks menutup kedua matanya rapat-rapat. Air mata kepasrahan mulai menggenang di sudut matanya. Dia siap menghadapi rasa sakit yang akan datang.

​Namun, alih-alih kekerasan yang dia takuti, Chloe merasakan sebuah sentuhan yang teramat lembut di kepalanya.

​Jemari panjang Asher merayap di antara helaian rambut cokelat panjang Chloe yang kini terurai bebas di atas bantal sutra. Dia membelai rambut itu dengan ritme yang konstan, sangat lembut, seolah sedang menenangkan seekor hewan kecil yang sedang ketakutan di tengah badai. Sentuhan lembut itu entah bagaimana perlahan-lahan mengendurkan ketegangan di pundak Chloe.

​Asher menundukkan wajahnya. Bibir tipisnya yang hangat mulai mendarat di kening Chloe, memberikan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan lembut. Ciuman itu kemudian turun ke pelipis kanan Chloe, berpindah ke pipinya yang halus, lalu mengecup lembut pucuk hidung mungil Chloe yang kemerahan menahan tangis. Terakhir, bibir Asher kembali mendarat dan mengecup bibir merah muda ranum Chloe—bukan ciuman kepemilikan yang kasar seperti di altar siang tadi, melainkan sebuah kecupan manis yang lambat, mengabsen setiap permukaan bibir ranum sang istri dengan kelembutan yang memabukkan.

​Meskipun ciuman Asher telah melunakkan ketakutannya, kedua tangan Chloe masih tetap bertahan di posisi semula, menutupi payudara dan bagian depan tubuhnya dengan erat karena rasa canggung dan malu yang belum hilang.

​Asher menarik wajahnya sedikit, membiarkan deru napas hangatnya yang memburu berembun di atas permukaan kulit leher Chloe. Dia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Chloe yang sensitif, lalu membisikkan kata-kata dengan suara bariton yang sangat rendah, serak, dan sarat akan gairah yang tertahan.

​"Aku menginginkanmu, Chloe..."

​Bisikan itu, bercampur dengan getaran suara berat Asher yang terdengar begitu primitif, bertindak seperti gelombang kejut yang instan bagi tubuh Chloe. Bisikan itu sukses membuat seluruh badan mungil Chloe bergetar hebat di bawah kungkungan tubuh Asher. Ada sensasi asing yang mendadak meledak di dalam dadanya—sebuah perasaan campur aduk antara terintimidasi oleh hasrat besar sang suami dan getaran aneh yang mulai merayapi akal sehatnya.

​Asher menurunkan sebelah tangannya, memegang pergelangan tangan Chloe perlahan, mencoba menjauhkan tangan kecil itu dari dadanya untuk menuntaskan hasratnya yang sudah berada di ujung tanduk. Napas pria itu semakin memburu, dan tatapan mata kelabunya menggelap dipenuhi kabut gairah yang pekat.

​Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...

​Suara getaran ponsel yang nyaring di atas meja nakas di samping ranjang mendadak memotong atmosfer panas di dalam kamar pengantin tersebut.

​Asher menghentikan gerakannya seketika. Rahangnya mengeras, dan kilat kekesalan yang kentara melintas di sepasang mata kelabunya. Pria itu mengabaikan getaran pertama, kembali memfokuskan tatapannya pada wajah Chloe. Namun, ponsel itu kembali bergetar untuk kedua dan ketiga kalinya tanpa henti—sebuah kode darurat yang hanya digunakan jika terjadi sesuatu yang sangat genting di luar sana.

​Asher mengembuskan napas kasar dari hidungnya. Pria itu akhirnya menegakkan tubuhnya, melepaskan kungkungannya dari atas tubuh Chloe. Dia meraih ponsel pintarnya di atas meja nakas dan melihat nama 'Kenzo' berkedip di layar.

​Asher menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu di telinganya dengan nada suara yang sangat dingin dan berbahaya akibat gairahnya yang terinterupsi. "Ada apa, Kenzo? Jika ini bukan urusan hidup dan mati, aku akan memastikan kepalamu menggelinding besok subuh."

​Suara Kenzo di seberang telepon terdengar sangat tegang dan terburu-buru, menyampaikan sebuah laporan darurat tentang pergerakan klan saingan yang mencoba menyerang salah satu jalur distribusi pelabuhan mereka memanfaatkan kelengahan di hari pernikahan Asher.

​Mendengar laporan krusial tersebut, sisi bos mafia di dalam diri Asher langsung mengambil alih kendali tubuhnya seutuhnya. Aura kelembutan semalam menguap tanpa bekas, digantikan oleh ketegasan seorang pemimpin tertinggi organisasi bawah tanah.

​"Aku akan ke sana sekarang. Siapkan pasukan di timur," perintah Asher pendek sebelum memutuskan panggilan sepihak.

​Asher memasukkan ponselnya ke dalam saku celana tuksedonya. Dia membalikkan tubuhnya, kembali menatap ke arah ranjang. Di sana, Chloe masih berbaring dengan posisi yang sama, menatapnya dengan sepasang mata rusa yang dipenuhi kebingungan.

​Sebelum melangkah keluar dari kamar, Asher meraih selimut sutra putih tebal yang terlipat di ujung ranjang. Dengan gerakan yang tetap rapi, dia menarik selimut itu tinggi-tinggi hingga membungkus rapat seluruh tubuh mungil Chloe sampai ke batas leher, memastikan keindahan tubuh istrinya aman terlindungi dari udara malam yang dingin.

​Asher membungkukkan badannya sekali lagi, memberikan satu kecupan hangat yang tegas di kening Chloe.

​"Aku harus mengurus urusan darurat di luar. Aku akan segera kembali, Istriku. Tunggu aku," ucap Asher dengan suara baritonnya yang dalam, memberikan sebuah janji yang mutlak.

​Asher berbalik, melangkah tegap dengan langkah-langkah lebar yang penuh wibawa meninggalkan kamar pengantin. Pintu besar itu dibuka dan ditutup kembali dengan cepat, diikuti oleh suara klik kunci otomatis yang menggema di dalam ruangan yang kini kembali sunyi.

​Begitu sosok masif Asher menghilang di balik pintu, Chloe mendadak merasa pasokan oksigen di sekitarnya kembali normal. Ketegangan hebat yang mengikat tubuhnya sejak siang tadi runtuh seketika.

​"Haaah..."

​Chloe mengembuskan napas panjang, sebuah helaian napas lega yang teramat sangat keluar dari bibirnya. Dia meringkuk di dalam balutan selimut sutra tebal yang hangat itu, memeluk dirinya sendiri. Meskipun dia tahu penundaan ini hanya bersifat sementara dan Asher pasti akan kembali menagih haknya, untuk malam ini, Chloe merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikannya waktu bernapas untuk mempersiapkan hatinya di dalam sangkar emas milik sang mafia.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!