"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Tembok Tinggi di Kamar Tamu
Elang memutus sambungan telepon dari Cindy sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas meja taman dengan sentakan kasar, lalu mengusap wajahnya yang terasa teramat kaku. Dinginnya angin malam yang berembus di sekitar kolam renang tidak lagi ia hiraukan. Di dalam benaknya, badai pemikiran baru saja berkecamuk hebat setelah mendengar sumpah serapah terselubung Cindy dan ancaman nyata dari Nenek Aisyah mengenai pencopotan jabatannya sebagai CEO.
Namun, di atas segala benang kusut itu, ada satu hal yang paling mengusik ego dan ketenangannya malam ini: Alin.
Bayangan bagaimana istrinya itu mencengkeram kerah kemejanya di koridor tadi, disusul dengan sindiran mematikan di meja makan, membuat Elang sadar bahwa ia tidak bisa lagi mengabaikan keberadaan gadis itu. Alin bukan lagi sekadar objek perjodohan yang bisa ia letakkan di sudut ruangan dan ia lupakan begitu saja. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu adalah ancaman nyata bagi otoritasnya.
Elang berdiri, merapikan kaos polo abu-abu gelapnya, lalu melangkah mantap meninggalkan halaman samping. Ia berjalan menyusuri koridor lantai bawah yang sunyi, menuju ke arah kamar tamu tempat Alin beristirahat. Pria itu merasa, sebagai suami dan laki-laki yang memegang kendali, ia harus meluruskan pembicaraan ini. Mereka perlu bicara, hanya berdua saja, tanpa ada intervensi dari Nenek Aisyah ataupun Mbok Darmi.
Tok! Tok! Tok!
Elang mengetuk pintu kamar tamu kayu jati itu dengan ketukan yang tegas namun terukur. "Alin. Buka pintunya. Aku tahu kamu belum tidur. Kita perlu bicara sebentar."
Hening sejenak. Tidak ada jawaban dari dalam ruangan selama hampir satu menit, membuat Elang mulai kehilangan kesabarannya. Ia baru saja hendak mengetuk kembali ketika terdengar bunyi klik kecil dari selot pintu.
'Klek.'
Pintu terbuka setengah. Alin berdiri di ambang pintu dengan postur tubuh yang tegak dan anggun. Rambut panjang hitamnya yang kini tergerai bebas tanpa jepitan tampak sedikit berantakan alami, jatuh melewati bahu dan membingkai wajah teduhnya yang tanpa ekspresi. Sepasang mata bulatnya menatap Elang dengan pandangan yang teramat dingin, datar, dan sarat akan penolakan yang mutlak.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Alin, nada suaranya mengalun rendah, sangat malas, seolah-olah kehadiran Elang di depan kamarnya adalah gangguan terbesar malam ini.
Elang memajukan tubuhnya satu langkah, mencoba memberikan tekanan intimidasi lewat postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi. "Buka pintunya lebih lebar, Alin. Aku ingin masuk. Kita perlu bicara berdua saja di dalam, ada beberapa hal penting tentang rumah tangga kita yang harus kita luruskan malam ini."
Mendengar permintaan itu, Alin justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan sarkasme. Ia sama sekali tidak menggeser posisinya, justru tangan kanannya mencengkeram tepi daun pintu dengan kuat, sengaja menghalangi jalan masuk suaminya.
"Bicara berdua saja? Di dalam kamar tamu ini?" Alin terkekeh hambar, matanya berkilat menantang. "Maaf ya, Mas Elang yang terhormat. Tapi jawaban saya adalah tidak. Saya menolak."
"Alin!" geram Elang, rahangnya mengetat, sepasang mata elangnya menyipit tajam menahan emosi yang kembali tersulut. "Jaga sikapmu! Aku ini suamimu! Aku ke sini dengan niat baik untuk mengajakmu berdiskusi, bukan untuk berdebat!"
"Diskusi tentang apa lagi, Mas?" potong Alin cepat, suaranya beralih menjadi sedingin es, menusuk langsung pada titik ego terdalam Elang. "Bagi saya, sudah tidak ada lagi pembahasan yang perlu dibicarakan di antara kita berdua. Semuanya sudah selesai dan sangat jelas sejak tadi pagi di kamar utama rumah baru kita."
"Jangan keras kepala, Alin! Pernikahan ini baru berjalan satu hari, dan kita tidak bisa terus-menerus bersikap seperti musuh di bawah atap yang sama!" bentak Elang rendah, suaranya ditekan dalam-dalam agar tidak menggema hingga ke kamar Nenek Aisyah. "Kita harus mencari jalan tengah bagaimana mengatur kehidupan kita ke depan, terutama karena mulai besok kamu harus kembali ke rumah itu untuk menjaga perasaan Nenek!"
Alin menatap dada bidang Elang yang naik turun karena emosi, lalu mendongak menatap lurus-lurus ke dalam manik mata pria itu tanpa ada setitik pun rasa takut di wajahnya. Sisi barbarnya kembali menyembul ke permukaan dengan sangat rapi dan terkendali.
"Jalan tengah?" Alin menaikkan sebelah alisnya, menatap Elang dengan pandangan meremehkan. "Mas Elang, tolong dengar ini baik-baik agar telingamu yang cerdas itu tidak salah dengar lagi. Tidak akan pernah ada kata diskusi, tidak akan ada jalan tengah, dan tidak ada lagi pembahasan apa pun yang akan saya layani di antara kita ...."
Alin menjeda kalimatnya sejenak, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, membiarkan aroma wangi rambut panjangnya terhirup oleh Elang sebagai tanda konfrontasi yang nyata.
"...kecuali, Mas Elang datang ke depan saya dan mengatakan bahwa Mas akan mengusir Cindy beserta anaknya keluar dari rumah kita detik ini juga, dan berjanji tidak akan pernah berhubungan lagi dengan wanita manipulatif itu seumur hidupmu!" tegas Alin, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar mutlak, tajam, dan tidak bisa diganggu gugat oleh kekuasaan apa pun.
Elang langsung tersentak mundur setengah langkah, matanya melebar seolah baru saja dihantam oleh godam besar. "Kamu ... kamu keterlaluan, Alin! Ega itu anakku! Cindy tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini! Bagaimana bisa kamu memintaku mengusir mereka seperti binatang?!"
"Kalau begitu, silakan keluar dari depan kamar saya, Mas," jawab Alin teramat santai, senyum barbarnya kembali terkembang dengan sangat anggun di sudut bibirnya. "Jika Mas tidak bisa memenuhi syarat tunggal itu, maka jangan pernah bermimpi untuk mengajak saya berbicara empat mata lagi. Mas silakan hidup bahagia dengan masa lalumu, dan saya akan hidup tenang dengan cara saya sendiri di rumah itu nanti demi Nenek. Adil, kan?"
"Alin, jangan memaksaku untuk bertindak kasar—"
"Silakan coba kalau Mas berani," tantang Alin, binar matanya berkilat liar penuh keberanian yang mematikan. "Mas mungkin punya kuasa atas perusahaanmu, tapi Mas tidak akan pernah bisa menyentuh atau mendikte hidup saya. Selamat malam, Mas Elang. Silakan kembali ke kolam renang dan nikmati asap rokokmu yang hambar itu."
'Brak!'
Tanpa menunggu balasan atau makian lebih lanjut dari suaminya yang kini berdiri mematung dengan wajah merah padam menahan rasa dongkol yang luar biasa, Alin membanting pintu kamar tamu itu tepat di depan wajah Elang, lalu memutar kunci selotnya dari dalam hingga terdengar bunyi 'klik' yang nyaring.
Elang hanya bisa berdiri membeku di koridor yang sunyi, menatap nanar pintu kayu yang kini tertutup rapat di hadapannya. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat di dalam saku celana chinos-nya, merasakan kekalahan telak dan kehancuran harga diri yang kian berdarah-darah di tangan istri sahnya sendiri yang ternyata memiliki watak sekeras batu karang di balik paras teduhnya.
Bersambung...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄
lanjut mommy