NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Awal di Rumah Sakit dan Ujian Kesabaran Baru

Suara bising klakson kendaraan di jalan raya luar kota berpadu dengan deru mesin ambulans yang menderu kencang, menciptakan simfoni khas pagi hari di kawasan sekitar Rumah Sakit Umum Islam Al-Fisyahr.

Udara pagi pukul setengah tujuh terasa segar, membawa sisa-sisa embun yang perlahan menguap disengat matahari pagi.

Di depan lobi utama rumah sakit, sebuah mobil sedan hitam berhenti mulus di area drop-off.

Pintu mobil sebelah pengemudi terbuka, dan sesosok pria berpenampilan rapi dengan kemeja flanel gelap serta celana bahan hitam melangkah keluar.

Ia adalah Revan Al-Gibran.

Pria itu segera berputar ke sisi sebaliknya untuk membukakan pintu bagi sang istri.

Nayara Zayna Az-Zahra melangkah turun dari mobil.

Ia mengenakan jas laboratorium putih bersih berukuran lutut yang melapisi gamis panjang berwarna navy senada dengan jilbabnya.

Di sakunya terselip sebuah stetoskop hitam bermerek Littmann—hadiah spesial dari Revan sebagai bentuk dukungan atas dimulainya masa koasisten (koas) atau dokter muda di rumah sakit tersebut.

Meskipun hari ini adalah hari pertama Nayara menginjakkan kaki di lingkungan rumah sakit sebagai dokter muda yang memegang tanggung jawab klinis sesungguhnya, ada binar semangat yang terpancar jelas di manik matanya.

Revan merapikan kerah jas lab istrinya dengan penuh kelembutan, lalu tersenyum tipis.

"Sudah siap menghadapi hari pertama di medan perang yang sesungguhnya, Zawjati?"

tanya Revan dengan suara baritonnya yang menenangkan.

Nayara menghela napas panjang, tersenyum manis seraya merapikan letak stetoskop di lehernya.

"Sedikit deg-degan sih, Mas.

Tapi rasanya jauh lebih tenang karena tahu kamu yang nganterin langsung sampai depan lobi."

Revan terkekeh pelan, lalu meraih tangan kanan Nayara, mencium punggung tangan istrinya dengan penuh takzim.

"Ingat pesanku, fokus pada pasien, jaga kesehatan, dan jangan lupa makan siang tepat waktu.

Nanti siang, kalau jadwal istirahatku longgar, aku bakal bawain makanan kesukaanmu ke kantin rumah sakit."

"Siap, Pak Suami!"

jawab Nayara setengah berbisik, menggoda suaminya dengan senyuman cerah.

"Kalau begitu, aku masuk dulu ya.

Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam warahmatullah.

Semangat koasnya, istriku tersayang!"

balas Revan melambaikan tangan saat Nayara mulai berbalik melangkah memasuki pintu kaca otomatis rumah sakit.

Revan terus mengawasi punggung istrinya hingga sosok Nayara menghilang di balik kerumunan perawat dan tenaga medis di dalam lobi.

Baru setelah itu, ia kembali masuk ke dalam mobilnya untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor bisnis keluarganya.

Status ganda yang mereka jalani saat ini—Revan sebagai pengusaha muda sekaligus mahasiswa tingkat akhir, dan Nayara sebagai dokter muda—menuntut ritme hidup yang jauh lebih disiplin dan matang.

---

Di dalam gedung rumah sakit, suasana lantai dua bagian instalasi rawat inap terasa sangat sibuk.

Para perawat lalu-lalang membawa troli obat, sementara beberapa dokter senior tampak berdiskusi serius di depan ruang jaga koas.

Nayara berjalan menyusuri lorong berlantai keramik putih itu bersama dua orang rekan sesama dokter muda yang menjadi teman kelompok rotasinya—dr. Kevin, seorang pemuda periang asal Surabaya, dan dr. Syafira, gadis berhijrab rapi yang cerdas.

"Eh, kalian sudah dengar belum?"

bisik Kevin di sela-sela langkah mereka menuju bangsal melati.

"Hari ini kita bakal langsung dipegang oleh dr. Arselan, Sp.B—dokter spesialis bedah senior yang terkenal paling killer, disiplin tingkat dewa, dan nggak punya toleransi buat koas yang ceroboh."

Mendengar nama dr. Arselan disebut, Syafira langsung mengelus dadanya pelan.

"Duh, amit-amit deh kalau sampai salah jawab waktu visite nanti.

Katanya dokter itu kalau ngelirik koas yang salah diagnosis bisa bikin mental langsung runtuh seketika!"

Nayara hanya tersenyum tipis mendengarkan kekhawatiran teman-temannya.

Sebagai seorang istri dari mantan bad boy kampus yang kini telah berubah menjadi pria paling sabar di dunia, mental Nayara memang sudah terlatih menghadapi berbagai tekanan hidup.

Namun, dunia medis klinis tetaplah ranah yang berbeda—di sini, kesalahan kecil menyangkut nyawa manusia.

Setibanya di ruang jaga dokter muda, mereka bertiga langsung merapikan atribut koas, memastikan name tag tertempel rapi di dada kiri, dan bersiap mengikuti kegiatan visite pagi bersama dokter penanggung jawab ruangan.

Beberapa menit kemudian, suara derap sepatu tegas terdengar memasuki ruangan.

Seorang pria paruh baya berusia sekitar akhir empat puluhan dengan postur tubuh tinggi tegap, mengenakan jas dokter putih melapisi kemeja biru muda, melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang sangat dingin dan tanpa senyum.

Itulah dr. Arselan, Sp.B.

Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai hitam langsung menyapu seluruh dokter muda yang berdiri tegak menyambutnya.

"Selamat pagi, Dokter,"

ucap Nayara, Kevin, dan Syafira hampir bersamaan dengan nada hormat.

dr. Arselan mengangguk kaku.

Tanpa basa-basi, ia langsung meletakkan map rekam medis di atas meja.

"Pagi.

Kalian dokter muda kelompok rotasi bedah yang baru, kan?

Dengar baik-baik: di departemen saya, tidak ada tempat untuk alasan 'lupa', 'tidak tahu', atau 'belum sempat baca'.

Nyawa pasien di bangsal ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Mengerti?"

"Mengerti, Dok!"

jawab mereka serempak.

"Bagus.

Sekarang ikut saya visite ke kamar pasien bedah di bangsal melati nomor tiga."

Kegiatan visite pagi itu berjalan cukup menegangkan.

dr. Arselan memeriksa setiap pasien dengan teliti, sesekali memberikan pertanyaan mendadak kepada para dokter muda untuk menguji pemahaman teori medis mereka di lapangan.

Beruntung, Nayara yang sejak masa preklinik dikenal sebagai mahasiswi cerdas dan teliti mampu menjawab setiap pertanyaan analisis kasus bedah dengan runtut dan memuaskan, membuat dr. Arselan beberapa kali mengangguk kecil tanda menghargai.

Namun, ujian sesungguhnya datang menjelang siang hari.

Saat Nayara sedang merapikan catatan rekam medis di meja perawat, seorang perawat senior mendadak berlari tergopoh-gopoh menghampiri area nurse station dengan wajah panik.

"Dokter muda Nayara!

Tolong!

Pasien di kamar bedah darurat 2 mengalami penurunan kesadaran mendadak!

Tekanan darahnya drop, dan keluarga pasien di luar mengamuk karena dokter spesialis bedah utamanya sedang operasi di gedung sentral!"

teriak perawat tersebut dengan napas terengah-engah.

Jantung Nayara berdegup kencang.

Ini adalah situasi darurat klinis pertama yang ia hadapi secara langsung sebagai dokter muda di garis depan.

Sesuai protokol rumah sakit, tindakan awal penanganan kegawatdaruratan harus segera diambil sebelum dokter spesialis tiba di lokasi.

"Baik, sus!

Saya ke sana sekarang!"

seru Nayara sigap.

Ia tidak membuang waktu sedetik pun.

Dengan langkah cepat namun tetap terukur, Nayara berlari menuju ruang tindakan darurat, diikuti oleh perawat senior di belakangnya.

Setibanya di dalam ruangan, suasana tampak kacau.

Keluarga pasien—seorang pria berbadan gempal—tengah membentak-bentak perawat lain sambil memukul meja tindakan karena panik melihat kondisi ayahnya yang mulai kejang-kejang ringan dengan sesak napas akut.

"Hei!

Mana dokter penanggung jawabnya?!

Kenapa ayah saya dibiarkan kesakitan begini?!

Kalau terjadi apa-apa sama ayah saya, saya tuntut rumah sakit ini!"

bentak keluarga pasien dengan suara menggelegar penuh emosi.

Situasi di ruangan darurat mendadak menjadi sangat panas dan berisiko tinggi.

Tekanan psikologis menghantam Nayara dari dua arah: kondisi klinis pasien yang memburuk secara drastis, dan amukan keluarga pasien yang mengancam keselamatan tenaga medis di dalam ruangan.

Bagi sebagian koas pemula, situasi seperti ini bisa membuat mental langsung down, tangan gemetar, dan kehilangan fokus.

Namun, Nayara menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali didikan mental yang ia peroleh dari Revan—bahwa dalam situasi paling kacau sekalipun, seorang pemimpin atau pengambil keputusan harus tetap tenang dan berpikir jernih.

Nayara melangkah maju dengan tegap, berdiri di antara perawat dan keluarga pasien yang mengamuk.

Suaranya terdengar jelas, tenang, namun tegas tanpa keraguan sedikit pun.

"Bapak, mohon tenang!"

ucap Nayara dengan nada suara yang berwibawa, membuat sang keluarga pasien tertegun sejenak karena tidak menyangka seorang dokter muda berhijab memiliki keberanian sebesar itu.

"Saya dokter muda yang bertugas di sini.

Ayah Bapak sedang mengalami penurunan saturasi oksigen akibat komplikasi pasca-operasi.

Tim medis sedang berupaya memberikan penanganan darurat terbaik detik ini juga.

Kalau Bapak terus berteriak dan menghalangi kami di sini, keselamatan ayah Bapak justru akan semakin terancam!"

Mendengar teguran tegas namun logis itu, keluarga pasien terdiam.

Kemarahannya mereda menjadi kecemasan mendalam; pria itu menutup wajahnya dengan tangan sambil menangis pelan, membiarkan tim medis bekerja.

Nayara tidak membuang waktu.

Ia langsung mendekati brankar pasien, memeriksa jalur infus, mengatur ulang posisi nasal cannula oksigen, memberikan instruksi cepat kepada perawat untuk menyuntikkan obat stimulan jantung sesuai prosedur standar operating procedure (SOP) kegawatdaruratan, serta memonitor ketat grafik monitor detak jantung.

Lima menit berlalu dalam ketegangan yang luar biasa.

Beep... beep... beep...

Grafik monitor yang tadinya menunjukkan garis merah peringatan kini perlahan-lahan kembali stabil.

Frekuensi napas pasien mulai teratur, dan kesadarannya berangsur pulih.

Nayara mengembuskan napas panjang, menyeka butiran keringat dingin yang merembes di pelipisnya.

Ia berhasil melewati ujian pertamanya di rumah sakit dengan gemilang.

---

Jam menunjukkan pukul dua belas siang saat Nayara keluar dari ruang tindakan darurat dan berjalan menuju taman kecil di samping kantin rumah sakit.

Kakinya terasa sedikit pegal setelah berdiri berjam-jam, namun ada rasa lega yang luar biasa lapang di dadanya.

Begitu ia tiba di area bangku taman di bawah rindangnya pohon ketapang kencana, ia melihat sesosok pria yang sangat ia kenal sedang berdiri bersandar pada pilar koridor sambil memegang dua kotak makan siang dan termos kecil berisi air hangat.

Revan.

Suami tercintanya itu datang tepat waktu, persis seperti janji yang ia ucapkan lewat sambungan telepon tadi pagi.

Melihat kedatangan Nayara, Revan langsung menegakkan tubuhnya.

Senyuman hangat terkembang di bibir pria itu.

Ia melangkah mendekati istrinya, memperhatikan penampilan Nayara yang tampak sedikit lelah namun memancarkan aura kepuasan tersendiri.

"Bagaimana hari pertamanya, dokter muda?"

sapa Revan lembut, menyerahkan salah satu kotak makan dan membukakan tutupnya di atas meja taman.

"Aku dengar dari salah satu perawat tadi di lobi, istriku sempat menangani pasien darurat dengan sangat keren di IGD."

Nayara terkejut.

"Loh, kamu sudah tahu dari perawat?"

Revan terkekeh renyah, merapikan helai jilbab Nayara yang sedikit berantakan tertiup angin.

"Tentu saja.

Istri siapa dulu dong?

Suami mana yang nggak bangga punya istri sehebat dan seberani kamu, Nay?"

Pipi Nayara merona merah.

Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Revan, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

Di tengah kerasnya dunia medis dan segala tantangan profesi yang baru ia geluti, dekapan hangat Revan adalah tempat istirahat paling sempurna di dunia.

"Makasih ya, Mas...

Selalu ada buat aku,"

bisik Nayara tulus.

"Selalu, Zawjati,"

balas Revan mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang di bawah temaram cahaya matahari siang yang hangat.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!