"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Dua minggu setelah malam jahanam di hotel itu, Clara berusaha keras mengubur ingatan buruknya dalam-dalam. Dia menganggap rasa perih di tubuhnya dan malam hilangnya keperawanannya hanyalah kecelakaan tragis akibat racun alkohol. Dia memutus kontak dengan Anya selama beberapa hari dan fokus penuh pada satu-satunya hal yang paling dia percayai dalam hidup: pekerjaan dan masa depannya bersama Ardan.
Ardan adalah tunangannya sekaligus CEO dari perusahaan tempat Clara bekerja sebagai manajer proyek. Mereka sudah bertunangan selama satu tahun. Bagi Clara, Ardan adalah tempat berlabuh yang aman—pria yang tenang, santai, dan tidak pernah menuntut hal-hal aneh padanya.
Siang itu, dengan berkas proposal proyek bernilai miliaran rupiah di tangannya, Clara berjalan menyusuri koridor lantai atas kantor Ardan. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ini adalah proyek besar yang dia kerjakan mati-matian selama tiga bulan.
Tanpa mengetuk pintu—karena dia memegang akses penuh sebagai tunangan sang CEO—Clara memutar gagang pintu ruang kerja Ardan.
"Ardan, draf akhirnya udah selesai, kamu tinggal ttd—"
Kalimat Clara terhenti di tenggorokan.
Berkas di tangannya terlepas, jatuh berhamburan di atas karpet.
Di atas sofa kulit hitam di sudut ruangan, Ardan sedang memangku seorang wanita. Pakaian mereka berantakan. Dan wanita yang sedang mengalungkan tangan di leher tunangannya itu adalah Miska—adik tiri Clara sendiri.
Miska yang melihat Clara langsung berpura-pura terkejut sambil merapikan blusnya, namun kilat kemenangan terpancar jelas di matanya. Ardan berdiri panik, membetulkan letak dasinya yang miring.
"Clar! Ini... kamu ngapain masuk nggak ngetuk pintu dulu?!" bukannya merasa bersalah, suara Ardan justru meninggi penuh defensif.
Clara berdiri terpaku. Dadanya bergemuruh hebat, tapi matanya dingin membeku. "Ngantor sambil nidurin adik tiri tunangan kamu sendiri, Ardan?"
"Miska cuma lagi pusing, Clara! Jangan berpikiran picik!" tangkis Ardan cepat.
Miska menyunggingkan senyum tipis di belakang punggung Ardan, lalu memasang wajah kasihan. "Ayah kan emang mau perjodohan keluarga kita dialihkan ke aku, Mbak Clara. Lagian Mbak Clara kaku banget jadi cewek, kasihan Mas Ardan..."
Clara tertawa pelan. Tawa dingin yang menyayat hati. Segala rasa lelah, kecewa, dan trauma yang menumpuk di dadanya mendadak meledak menjadi kemarahan yang amat sangat murni.
Dia melangkah maju, lalu PLAK!
Tamparan keras mendarat mulus di pipi Ardan hingga pria itu tersungkur ke samping.
"Mbak Clara!" teriak Miska heboh.
"Tutup mulutmu, Miska!" bentak Clara tajam, membuat adik tirinya itu seketika bungkam. Clara lalu menatap Ardan yang memegangi pipinya yang merah padam. "Hubungan kita selesai. Dan hari ini, detik ini juga, gue resign dari perusahaan sampah ini."
Clara membalikkan badan, berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi sedikit pun, mengabaikan teriakan Ardan yang memanggil namanya di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu dan kepala yang rasanya mau pecah, Clara melajukan mobilnya menuju apartemen Anya. Kehidupannya hancur dalam hitungan hari. Keperawanannya hilang pada pria asing, dan kini tunangannya berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Dunia seolah sedang menertawakannya.
Saat Clara membuka pintu apartemen Anya menggunakan kunci cadangan, dia mendapati Anya sedang panik setengah mati. Sahabatnya itu berjalan bolak-balik di ruang tamu sambil menggigiti kuku jarinya.
"Anya..." panggil Clara lirik.
Anya tersentak, kaget melihat kedatangan Clara dengan wajah pucat dan mata sembap. "Clar?! Ya ampun, lu dari mana aja?! Lu ke mana aja dua minggu ini?!"
Clara melempar tasnya ke sofa dan merebahkan tubuhnya yang lemas. "Gue putus sama Ardan. Dia selingkuh sama Miska di kantornya sendiri."
"Apa?!" Anya membelalak. Tapi belum sempat dia memproses kabar duka itu, ekspresi Anya berubah menjadi ketakutan yang lain. Anya mendekati Clara dan berbisik cemas, "Clar... kita dalam masalah besar."
Dahi Clara berkerut. "Masalah apa lagi?"
"Tadi pagi... orang kepercayaannya Elzio Mahendra datang ke sini," kata Anya dengan suara gemetar. "Pria bertubuh tinggi besar pakai jas hitam. Dia mecatat semua identitas agen gue dan ngancam bakal menutup paksa agensi gue kalau gue nggak menyerahkan keberadaan lu!"
Tubuh Clara membeku seketika. "Apa?"
"Dia nyariin lu, Clar! Pria itu bilang, Boss-nya—si Elzio itu—minta lu datang lagi!" Anya menatap Clara dengan mata membesar. "Gue rasa... Elzio itu ketagihan sama lu. Dia mau pakai lu lagi, Clar! Dia nggak mau cewek lain!"
Dipakai lagi.
Kata-kata itu menghantam kesadaran Clara seperti hantaman godam. Bayangan malam panas itu—sentuhan Elzio, rasa sakit, rasa malu, dan kepanikannya saat terbangun di pagi hari—langsung berputar hebat di kepalanya. Rasa mual mendadak membumbung tinggi di dada Clara.
"Jijik..." gumam Clara dengan suara bergetar. Tangannya gemetaran hebat. "Gue jijik, Nya... Dia pikir gue cewek apaan?!"
"Clar, lu kenapa? Lu kok gemetaran gitu?" Anya panik melihat reaksi emosional Clara yang luar biasa parah.
"Gue nggak mau ketemu dia lagi! Gue nggak mau!" teriak Clara frustrasi, air matanya akhirnya menetes deras. "Gue benci pria itu, gue benci Ardan, gue benci semuanya!"
Melihat sahabat terbaiknya hancur secara mental dan fisik, Anya sadar situasi ini sudah tidak main-main. Rasa bersalah menghujam dada Anya karena dialah yang menyeret Clara ke dalam pusaran masalah Elzio.
"Oke, oke! Calming down, Clar!" Anya merengkuh bahu Clara erat-erat. "Gue minta maaf. Ini semua salah gue. Kita pergi dari sini."
Clara mendongak dengan mata basah. "Pergi?"
Anya mengangguk mantap. "Gue bakal tutup sementara agen pacar sewaan gue. Masa bodoh sama Elzio Mahendra atau orang-orangnya. Sekarang juga kita kemas barang. Kita terbang ke Bali."
"Bali?"
"Iya, Bali. Lu butuh tenangin pikiran. Lu butuh lari dari Ardan, dari Miska, dan dari CEO gila itu. Lu sama gue, kita liburan sampai keadaan aman. Biar gue yang urus semuanya."
Tiga jam kemudian, mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Denpasar.
Clara menyandarkan kepalanya di jendela pesawat, menatap awan putih yang membentang luas. Ponselnya sudah dia matikan total. Nomor Ardan diblokir, dan hubungan keluarga dengan rumah ayahnya dia putus sementara.
Dia merasa begitu hampa, seolah sebagian dari dirinya telah mati. Kejadian dalam dua minggu terakhir merenggut segalanya dari Clara: harga dirinya, cintanya, dan masa depannya. Dia hanya ingin melupakan semuanya—termasuk kenangan tentang sentuhan panas pria bernama Elzio Mahendra.
...****************...
Namun, ratusan kilometer di Jakarta, di lantai paling atas gedung Mahendra Group...
Elzio berdiri di depan jendela kaca raksasa, menggenggam jam tangan tua milik Clara di dalam kepalan tangannya.
Seorang pria bertubuh tegap—asisten pribadinya—masuk dan membungkuk sopan. "Pak Elzio, target dan pemilik agensi sudah tidak ada di kediamannya. Berdasarkan manifest penerbangan satu jam yang lalu... Clara baru saja mendarat di Bali."
Sudut bibir Elzio terangkat tipis. Bukan senyuman ramah, melainkan sebuah seringai dingin yang sarat akan obsesi mutlak.
Dia memutar jam tangan tua itu di jarinya, lalu menoleh.
"Siapkan jet pribadi," perintah Elzio rendah dan dingin. "Saya tidak suka membiarkan milik saya berlibur terlalu jauh tanpa izin saya."