Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
Sudah dua hari ini aku menempati kamar kos minimalis ini. Kamar kos dengan toilet di dalam dan dengan perabot seadanya. Hanya ada kasur busa lengkap dengan ranjangnya, bantal dan gulingnya serta sprei nya, lemari kayu kecil yang sepertinya tidak terbuat dari kayu asli, dan meja kecil dengan laci kecil dibawahnya. Semua barang tersebut sudah include sejak awal kedatanganku. Dan rencananya hari ini akan aku lengkapi membeli barang-barang yang diperlukan untuk menyamankanku di kamar ini.
Masih terekam jelas dalam ingatanku hari pertama saat aku berada disini. Semalaman penuh aku hanya bisa bolak balik kamar mandi dan memuntahkan semua yang mendesak keluar di kerongkonganku. Entah bonus dari perjalananku yang memang penuh dengan sesak dan asap rokok juga keringat dimana-mana atau memang aku yang salah makan, bubur ayam yang tanpa kusadari ternyata adalah bubur ayam jaletot dengan bubuk cabai yang sudah tercampur di dalamnya. Aku hanya bisa pasrah saat itu, mengikuti apapun respon tubuhku saat itu. Bahkan sempat terfikir jika memang itulah saat terakhirku di dunia ini, aku sudah siap. Namun beruntung, dan tentu saja atas kehendak sang maha Kuasa, pagi hari nya aku terbangun saat mendengar pintu kamarku digedor cukup keras. Kang Iyus, dialah pelakunya. Pemilik kos bertubuh gempal yang jika ditaksir sepertinya usianya sudah mencapai kepala empat tapi tidak pernah mau dipanggil bapak atau om, beliau hanya mau dipanggil akang oleh siapapun yang mengenalnya. Pagi itu beliau datang dan memberikan secarik kertas yang sudah dilaminating dengan rapi berisikan peraturan kost ini. Memang saat deal pembayaran aku meminta segera ke kamar karena sangat mual, sehingga beliau belum sempat memberikan info apapun. Malam itu, uang bekalku yang tersisa lima ratus ribu, ku berikan tiga ratus ribu kepadanya untuk biaya kost sepekan. Sebelumnya uang yang ku bawa terpakai untuk ongkos bus dari terminal kampung Rambutan ke Cirebon, serta ongkos kendaraan kecil kesini yang baru ku ketahui nama nya adalah elf, makan dan lain nya tidak ku hiraukan berapa yang terpakai. Aku hanya fokus mengambil uang dalam dompet ku tanpa ku tahu berapa jumlah sebelumnya.
“Dit, hari ini jadi pinjam motor?” Suara berat kang Iyus di depan pintu kamarku membuyarkan semua lamunanku.
“Iya kang, tapi mungkin agak siang kang. Saya mau beres-beres dulu sebentar.”
“Ini kuncinya, jangan lupa isikan full bensin nya kalau sudah selesai.”
“Siap kang.” Aku menerima kunci tersebut dengan menahan tawa. Baru semalam beliau bilang jangan risaukan soal bensin, pakai saja motor itu karena memang sengaja untuk inventaris anak-anak. Tapi pagi ini beliau malah menagih bensin, entah bagian ucapan mana yang bercanda. Tiga hari ini, aku baru sempat berinteraksi dengan kang Iyus, penghuni kost lain belum sempat kutemui karena mereka terlihat sibuk. Jadi aku agak segan untuk memulai menyapa mereka. Biarlah seiring berjalan nya waktu aku akan berusaha mengenal dan akrab dengan semuanya.
Aku masih disibukkan membongkar carrier, saat weist bag ku tiba-tiba kutemukan dibelakangnya. Aku bahkan melupakan nya dua hari ini. Segera kubuka dan aku menemukan barang-barang penting yang memang kusimpan didalamnya. Ada iPhone yang masih dalam kondisi mati, ya aku sengaja mematikan nya sejak keberangkatanku menaiki bus hari itu. Ada debit card berwarna hitam pemberian papa. Kemudian ada tiga botol obat yang membuatku kembali mengingat semua orang di kehidupan ku di kota metropolitan itu. Mama, papa, bi Asih, kak Ivan, Ferdy, om Hendry dan sekelebat wajah teman-teman pun seketika mulai menari dalam kepalaku.
Kutatap dengan miris ketiga benda tersebut. Kupegang iPhone ku yang masih dalam kondisi mati, tanpa berniat menyalakannya segera kubuka SIM card nya dan langsung kupatahkan sebelum akhirnya kumasukkan dalam kantong kresek yg sudah kusediakan untuk membuang sampah. Kupegang kartu debit yang entah ada berapa isinya, aku masih sangat hafal PIN nya. Tanggal lahir ku sendiri, kata papa beliau sengaja membuatkan saat aku masuk di tingkat SMP kala itu. Tapi karena merasa tidak terlalu dibutuhkan, papa pun menyimpan nya. Beliau telah berjanji jumlah nya akan tetap beliau tambah setiap bulan. Aku yakin, papa pasti menepatinya. Tapi tetap saja, aku akan segera mencairkan uang didalam kartu debet itu semuanya dan berniat membuat ulang tabungan baru disini. Dengan nomor baruku nanti. Semoga papa tidak akan bisa melacaknya. Selain itu aku pun akan menggunakan uang itu untuk membeli barang-barang keperluanku. Kupegang tiga botol kaca berisikan pil-pil kecil dengan warna biru. Aku hampir lupa kalau tubuhku menyimpan virus mematikan. Bahkan dua malam ini aku lupa tidak meminum obat ini. Tanpa berfikir panjang, segera kuminum satu butir pil itu. Semiga bisa menggantikan dua malam yang terlewat. Dan mulai malam nanti aku akan mengkonsumsinya sesuai jadwal. Ya, aku bertekad akan memperjuangkan kesehatanku kembali. Cukup dengan meminum satu pil setiap hari.
Hampir lima menit setelah meminum pil tersebut dan akupun sudah bersiap keluar, tiba-tiba kurasakan keanehan dalam perutku. Entah apa yang terjadi, bukan mual bukan sakit ataupun mulas lebih seperti kram. Kurasakan perutku seakan diajak menegang dan sangat kaku. Astaghfirullah, ini lebih menyiksa dari rasa mual ku beberapa hari terakhir. Aku hanya bisa terduduk mencoba mengusap pelan perutku yang terasa seperti sebuah papan kayu, kaku tanpa bisa digerakkan. Hampir tiga puluh menit aku masih bertahan dengan posisi dudukku tanpa bisa bergerak bebas. Apakah ini efek dari pil tadi, atau memang seperti inilah cara kerja virus dalam tubuhku. Memang aku belum mencari info apapun tentang HIV, bagiku cukup nanti akan kurasakan sendiri gejala maupun serangannya tanpa perlu kutahu seperti apa dan bagaimana. Aku hampir menyerah dan pasrah mempertahankan posisi ini ketika kurasakan nafasku yang sebelumnya terasa sedikit tercekat kembali bisa bernafas panjang dan dengan leluasa bisa menghirup udara dengan lebih ringan. Hanya beberapa detik, namun aku tidak ingin merasakan nya lagi. Semoga serangan seperti ini tidak pernah kurasakan lagi.
Setelah mengambil dan membuang nafas beberapa kali, segera kupakai jaket dan tak lupa kubawa juga weist bag berwarna beige punyaku. Bergegas kukunci pintu kamar kost ku dan langsung menuju motor matic yang terparkir manis didepan rumah kang Iyus. Tujuan pertamaku mencari mesin ATM, aku berniat mengambil semua uang didalam kartu debit ini agar bisa menentukan bagaimana Langkah selanjutnya yang akan kupilih dan kujalani.
Kehidupan yang sebenarnya sebentar lagi akan kujalani. Menjalani pilihanku sendiri, menyimpan semua keluh kesah sendiri, menikmati setiap episodenya dengan sebaik-baik keadaan. Adit yang baru sebentar lagi akan lahir. Belajar tengkurap, belajar angkat kepala, belajar merangkak, belajar duduk, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar melompat serta belajar berlari sendiri secara otodidak tanpa pelatih handal. Aku hanya bisa memasrahkan setiap episode hidup yang akan kulalui pada sang kuasa. Sejenak kuingat kembali rentetan peraturan kost yang kudapat dari kang Iyus, ada beberapa peraturan yang kuanggap terlalu pribadi tapi pasti akan sangat bermanfaat, aku bersyukur akan bertumbuh ditempat baik ini.
semangatt juga kak 💪