Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA
Mobil itu melaju mulus di jalanan kota yang mulai diselimuti kabut malam. Lampu-lampu neon berkilauan di kaca jendela, memantulkan wajah Lina yang pucat pasi,lina menggenggam folder cokelat itu terasa berat, seolah-olah terbuat dari timah hitam, bukan kertas biasa.
Victor menyetir dengan tenang, matanya sesekali melirik spion samping. tanpa berbicara. Keheningan di dalam mobil itu lebih mencekam daripada teriakan Bima di kafe tadi.
Lina membuka halaman pertama foto itu. Napasnya tercekat.
Foto itu diambil dari jarak jauh, menggunakan lensa telephoto. Kualitasnya tajam. Di dalam foto, Raka duduk di sebuah restoran mewah, berhadapan dengan seorang pria paruh baya. Pria itu mengenakan jas abu-abu, posturnya tegap, dan wajahnya...
Lina merasa dunia berputar.
pria itu Adalah ayahnya pria itu tersenyum tipis sambil menyerahkan sebuah amplop tebal kepada Raka.
"Tidak mungkin," bisik Lina, suaranya serak. "Bukan nya Ayah membenci Raka. Setelah semua yang dia lakukan pada Dinda, Ayah bahkan tidak mau menatap mata Raka."
"Kebencian itu mudah dipalsukan, Nona Lina," suara Victor terdengar datar, tanpa emosi. "Terutama jika ada uang yang terlibat. Atau kekuasaan."
Lina membalik halaman berikutnya. Foto-foto lain muncul. Pertemuan rahasia antara Ayah dan pengacara Raka. Transfer bank dalam jumlah besar dari rekening perusahaan milik Ayah ke rekening offshore atas nama Raka. Dan yang paling mengerikan: dokumen perjanjian pra-nikah palsu yang ditandatangani oleh Lina lima tahun lalu—dokumen yang selama ini dikira hilang, ternyata disimpan rapi oleh Ayahnya
"Apa artinya ini?" tanya Lina, tangannya gemetar hebat hingga kertas-kertas itu berdesir. "kenapa Ayah melakukan ini? kenapa dia membantu Raka?"
Victor membelokkan mobil masuk ke gang sempit di kawasan industri tua. Gedung-gudang tua berdiri seperti raksasa mati di kegelapan.
"Karena pernikahanmu bukan kecelakaan, Lina," kata Victor , pria itu menghentikan mobil di depan sebuah gudang besi yang berkarat. "Itu adalah strategi bisnis. Ayahmu butuh akses ke jaringan distribusi Raka untuk melancarkan proyek properti barunya. Dan Raka... dia butuh suntikan dana segar karena perusahaannya hampir bangkrut akibat judi online. Kalian berdua hanyalah pion. Alat tukar menukar kepentingan."
Lina merasa mual. Rasa sakit di dadanya bukan lagi karena patah hati, tapi karena penghancuran total terhadap realitas yang dia percayai seumur hidup.
"Ayah... menjualku?" tanya Lina, air matanya menetes, tapi kali ini tidak ada suara isakan.
"Dia menjual masa depanmu demi masa lalunya yang gemilang," Potong Victor tajam. "Dan sekarang, karena Raka sudah tidak berguna lagi bagi ayahmu dan malah menjadi beban karena skandal dengan Dinda ayahmu berencana menyingkirkan Raka. Dengan cara menjebak Raka dalam kasus penggelapan pajak. Dan kamu? Kamu akan dijadikan saksi kunci yang 'terpaksa' memberatkan mantan suamimu, demi menyelamatkan nama baik keluarga."
Lina menatap ngerih ke arah Victor "Dan kamu? Siapa kamu sebenarnya? kenapa kamu tahu semua ini? kenapa kamu mau ngasi semua ini sama aku?"
Victor mematikan mesin mobil. Kegelapan menyelimuti mereka, hanya diterangi oleh lampu jalan yang redup di luar.
"Saya adalah orang yang dirugikan oleh ayahmu," jawab Victor pelan. Dia menoleh, menatap langsung mata Lina, Tatapannya intens, penuh dengan dendam yang sudah lama dipendam. "Proyek properti ayahmu menghancurkan tanah leluhur ku, mereka Menggusur kampung halaman tanpa ganti rugi yang layak. aku menghabiskan lima tahun mengumpulkan bukti korupsi dan manipulasi hukum yang dilakukan keluarganya. Dan kamu ,kamu adalah kunci terakhir."
"Aku?"
"Ya. Dokumen pra-nikah palsu itu membuktikan pemalsuan tanda tangan. Jika itu terbongkar, tidak hanya Raka yang hancur. Empire bisnis ayahmu akan runtuh. Dan saya akan mendapatkan kembali apa yang menjadi hak saya."
Lina menggelengkan kepala perlahan. "Jadi, kamu memanipulasiku? Kamu mendekatiku lewat Arka? Kamu mengatur pertemuan di kafe itu?"
"Arka tidak tahu apa-apa," potong Victor cepat. "Dia teman saya sejak kuliah. Dia hanya mengira saya membantu wanita yang sedang patah hati. Dia tidak tahu agenda besar di baliknya. Tapi ya, saya memang memantau Anda. Saya tahu tentang kelompok stalker itu. Saya yang menyuruh Bima mendekati Anda, untuk melihat seberapa jauh ayahmu akan pergi melindungi 'aset'-nya bahkan setelah perceraian."
Lina merasa dingin menusuk tulang. Semua orang di sekitarnya ternyata berbohong. Arka? Apakah dia juga bagian dari rencana ini? Atau dia benar-benar tulus?
"Kenapa saya harus percaya padamu?" tanya Lina, suaranya bergetar karena amarah. "Kamu sama saja dengan mereka. Menggunakan orang lain untuk tujuan egoismu."
Victor tersenyum tipis, senyuman yang menyedihkan. "Karena saya jujur tentang ketidakhormatan saya, Lina. Ayahmu berpura-pura mencintai mu sebagai anak. Raka berpura-pura mencintai mu sebagai istri. Saya? Saya tidak pernah berpura-pura. Saya memberi Anda pilihan. Berikan dokumen ini ke polisi, hancurkan ayah mu, dan bebaskan diri mu dari belenggu keluarga toxic itu. Atau... berikan dokumen ini kembali kepada ku, dan biarkan semuanya terus berjalan dalam kebohongan yang nyaman."
Victor mengulurkan tangannya, menunggu jawaban Lina.
Di luar, hujan mulai turun deras. Memukul-mukul atap mobil seperti ribuan jari kecil yang menuntut keputusan.
Lina menatap folder itu. Di dalamnya terkandung kehancuran ayahnya. Kehancuran yang mungkin juga akan menyeret Dinda dan ibunya ke dalam jurang kemiskinan dan aib publik. Tapi di sisi lain, ini adalah Kebenaran yang pahit, tapi membebaskan.
Jika dia memilih diam, dia tetap menjadi korban. Boneka yang dikendalikan dalang-dalang jahat.
Jika dia memilih bertindak, dia akan menjadi algojo bagi keluarganya sendiri.
"Lina," panggil Victor lembut. "Waktu tidak banyak. Ayahmu sudah mencium bau investigasi. Besok pagi, dia mungkin akan mencoba mengambil paksa dokumen ini dari mu Atau worse, menghilangkan dirimu"
Jantung Lina berdegup kencang. Ancaman itu nyata. Dia ingat bagaimana Ayahnya tiba-tiba berubah dingin saat sidang. Ingat bagaimana Ibu mendesaknya untuk diam.
Lina menggenggam folder itu erat-erat. Kertas-kertas itu terasa tajam di telapak tangannya. membuka pintu mobil. Hujan langsung menerpanya, membasahi rambut dan bajunya dalam sekejap.
"Aku butuh waktu," kata Lina lantang, menembus suara hujan. "Aku tidak akan memberikan ini sekarang. Dan aku tidak akan memberikannya besok pagi."
Victor menatapnya, alisnya terangkat. "Lalu kapan?"
Lina menatap mata Victor dengan tatapan baja yang baru ditempa oleh api pengkhianatan bertubi-tubi.
"Akan kubalas ketika aku siap. Dan percayalah, Victor... ketika aku balas, tidak akan ada yang selamat. Bukan hanya ayahku. Tapi semua yang terlibat dalam permainan kotor ini. Termasuk kamu, jika kamu mencoba memanipulasiku lagi."
Lina membanting pintu mobil. Dia berlari menerobos hujan, meninggalkan Victor yang duduk diam di dalam mobil gelap, menonton sosok wanita kecil itu menghilang dalam kabut malam.
Victor tersenyum penuh legah bercampur ketakutan.
"Permainan dimulai," gumamnya pada diri sendiri.
Lina tidak pulang ke apartemennya. Dia tahu tempat itu tidak aman. Dia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Itu sarang ular.
Dia mengambil ponselnya, jari-jarinya basah kuyup, dan menekan satu nomor.
Arka.
Telepon berdering sekali, lalu diangkat.
"Lin? Kenapa suaramu seperti orang tenggelam?" tanya Arka khawatir.
"Rak," kata Lina, napasnya tersengal-sengal karena lari dan hujan. "Jangan tanya apa-apa. Jangan cari aku. Dan jangan percaya pada siapa pun. Bahkan pada temanmu yang bernama Victor."
Hening di ujung telepon. Sangat hening.
"Lina..." suara Arka berubah serius. Sangat serius. "Dari mana kamu tahu nama Victor?"
Lina berhenti berlari. Dia berdiri di tengah trotoar sepi, hujan mengguyur tubuhnya, memegang ponsel yang terasa panas di tangannya.
Ternyata, Arka tahu.
Dan jika Arka tahu... berarti dia bukan sekadar teman. Dia adalah bagian dari jaring laba-laba yang lebih besar.
"Lina, dengarkan aku," desak Arka. "Jangan pergi ke mana-mana. Aku akan datang menjemputmu. Sekarang. Tapi tolong, jangan baca file lainnya di folder itu. Ada hal yang lebih buruk dari sekadar korupsi ayahmu."
"Apa?" tanya Lina, suaranya hampir tak terdengar.
"File terakhir," kata Arka pelan. "Buka halaman terakhir. Nama di sana bukan hanya ayahmu atau Raka."
Lina dengan tangan gemetar, membuka folder itu lagi di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang. Dia membalik ke halaman terakhir.
Namanya tertulis jelas di sana. Sebagai rekan konspirator utama dalam pemalsuan dokumen dan pencucian uang.
Nama Dinda.
Adik kandungnya. Yang hamil. Yang dianggap korban.
Ternyata, Dinda bukan korban. Dia adalah arsitek utamanya.
Ponsel Lina jatuh dari tangannya, terpental ke aspal basah. Layarnya retak, tapi gambar nama Dinda masih terlihat jelas, seakan mengejeknya dari balik kaca yang pecah.
Lina mundur selangkah, lalu dua langkah. Pandangannya kabur. Bukan karena air mata. Tapi karena dunianya benar-benar telah hancur berkeping-keping, dan tidak ada satu pun potongan yang bisa disusun kembali.
LINA tertawa Histeris dalam deru hujan dan guntur yang menyambar langit malam.
Permainan belum selesai. Ini baru babak pembuka dari neraka yang sesungguhnya.