NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teater di Atas Panggung

Di sebuah gedung teater tua di pinggiran kota Ragonves, panggung megah telah didekorasi dengan lampu-lampu minyak dan tirai beludru merah. Namun, suasana di atas panggung itu sama sekali tidak seperti pertunjukan biasa.

Grey Vincentes berdiri di tengah, mengenakan pakaian lengkap kebesarannya—jas hitam dengan bordir perak lambang keluarga Vincentes. Di hadapannya, puluhan orang berbaris rapi. Sebagian mengenakan pakaian biasa seperti pedagang atau petani, sebagian lainnya memakai jubah hitam dengan tudung menutupi wajah mereka. Di pinggang mereka, terselip berbagai macam "perlengkapan"—ada yang membawa pedang, ada yang membawa kapak, ada pula yang membawa tali dan kain penutup mulut.

Semua mata tertuju pada Grey, menunggu instruksi.

Grey mengangkat tangannya, menatap barisan anak buahnya dengan sorot tajam.

"Aku ingin kalian semua bekerja dengan profesional," ucapnya, suaranya bergema di ruang teater yang kosong. "Buat satu keluarga menjadi mimpi buruk mereka."

Ia mencondongkan tubuh ke depan, nada suaranya menjadi lebih rendah dan misterius.

"Bakar rumah keluarga mereka sesuai arahan. Buat satu keluarga menderita. Kalau perlu..." ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada dramatis, "...penggal kepala mereka dengan sadis."

Suasana hening.

Beberapa orang di barisan depan meneguk ludahnya dengan ngeri. Yang lain saling berpandangan dengan wajah pucat. Seorang pria berjubah hitam bahkan mundur selangkah, tangannya gemetar memegang "pisau" di pinggangnya.

"Tapi... Tuan Muda Grey," seorang pria bertubuh tambun memberanikan diri angkat bicara, "naskahnya tidak ada adegan kesadisan. Kita lakukan saja sesuai instruksi panduan, ya?"

Grey mengerutkan kening. "Apa?"

"Benar, Tuan Muda," tambah pria lain dengan topeng setengah wajah. "Adegan seperti itu pasti membuat banyak orang trauma. Apalagi di antara penonton nanti ada anak-anak—"

"Dasar bodoh!" potong Grey dengan suara keras, tangannya mengepal. "Kita harus tampil maksimal! Lagipula, kita menggunakan kepala boneka untuk mengelabui banyak orang. Mereka akan mengira itu kepala asli!"

Para anak buah saling berpandangan dengan kebingungan. Seorang wanita di barisan belakang berbisik pelan pada temannya.

"Pakai kepala boneka? Bukannya kita sudah sepakat pakai labu kuning yang dilukis?"

"Diam, jangan banyak protes," bisik temannya balik. "Tuan Muda yang bayar, jadi dia yang atur."

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang berlari memasuki gedung.

"Tuan Grey!"

Semua orang menoleh serentak.

Seorang gadis muda berlari menaiki panggung, wajahnya memerah karena kehabisan napas. Rambut cokelatnya tergerai lepas, beberapa helai menempel di pelipisnya karena keringat.

Ressa Narvieta.

Grey mengangkat alisnya dengan heran. "Ressa?"

Ressa berdiri di hadapannya, dadanya naik turun mengatur napas. Matanya yang cokelat keemasan menatap Grey dengan penuh kekhawatiran.

"Tuan Grey," ucapnya, suaranya bergetar, "saya mohon Anda tidak kehilangan akal sehat Anda. Saya tahu Anda sakit hati atas pengkhianatan tunangan Anda. Tapi saya mohon... jangan bertindak kejam seperti itu!"

Grey menatap Ressa dengan bingung. "Apa maksudmu?"

Ressa terus melanjutkan, matanya berkaca-kaca. "Penggal kepala, membakar rumah—itu bukanlah tindakan seorang bangsawan terhormat! Itu adalah tindakan biadab! Saya tidak percaya Tuan Grey yang saya kenal bisa melakukan hal sekejam itu!"

Vega yang muncul dari balik tirai panggung mengangguk-angguk setuju. "Dengar itu, Grey Vincentes. Kau terlalu kejam jika melakukan semua yang kau katakan itu. Aku tidak pernah menyangka sahabatku sendiri bisa berubah menjadi monster."

Grey menatap Vega, lalu menatap Ressa, lalu menatap barisan anak buahnya yang tampak ketakutan.

"Tunggu—" Grey mengangkat kedua tangannya, "kenapa kalian menganggapku kejam?"

"Kau baru saja mengatakan ingin membakar rumah dan memenggal kepala!" seru Ressa dengan nada histeris.

"Ya! Untuk teater drama!" Grey membentak balik. "Aku menyewa mereka untuk memerankan drama pertunjukan tentang pertempuran antara dua keluarga! Itu semua bagian dari skenario!"

Ressa terdiam. Vega terdiam.

Semua anak buah Grey terdiam.

Suasana hening selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Kemudian, salah satu anak buah di barisan depan, pria tambun tadi, mengangkat tangannya dengan malu-malu.

"Ehm... Tuan Muda, saya sudah bilang tadi kalau kita hanya pakai labu kuning yang dilukis. Bukan kepala boneka."

Grey menutup wajahnya dengan telapak tangan, menghela napas panjang dan berat.

"Apa-apaan ini..." gumamnya pelan. "Kita mau membuat teater drama tapi kenapa mereka menyebut kita kejam?"

Di sampingnya, seorang anak buah berjubah hitam berbisik pada temannya.

"Apa-apaan ini? Kita mau bikin teater drama tapi kenapa mereka nyebut kita kejam?"

"Diam saja! Kita tidak punya hak menjawab. Lebih baik kita dengarkan saja mereka."

Vega menatap Grey dengan tatapan tidak percaya. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik. Ia menahan tawa.

"Jadi... kau menyewa mereka untuk... berakting?"

"Ya!" Grey menjawab dengan nada frustrasi. "Aku ingin membuat drama tentang kejatuhan keluarga Sienta! Sebagai bentuk... katarsis! Melepaskan emosi melalui seni!"

Vega terkekeh. "Dan kau menyuruh mereka membakar rumah di atas panggung?"

"Panggung mini!" Grey menunjuk ke sudut panggung di mana ada replika rumah kayu kecil. "Itu properti! Dan kepalanya dari boneka! Aku hanya ingin—" ia menghentikan ucapannya, lalu menoleh ke arah Ressa. "Tunggu, kenapa kau ada di sini?"

Ressa yang masih tampak bingung dan malu menjawab dengan suara pelan. "S-saya khawatir, Tuan. Vega mengatakan Anda menyewa pembunuh bayaran untuk membalas dendam. Saya pikir—"

Grey menoleh tajam ke arah Vega. "Kau bilang apa padanya?"

Vega mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, sambil tertawa kecil. "Hei, hei, aku hanya berusaha membantu. Kau terlihat sangat marah akhir-akhir ini, Grey. Aku pikir kau benar-benar akan melakukan sesuatu yang bodoh."

"Jadi kau membawanya ke sini untuk menghentikanku?" Grey menggeleng-gelengkan kepala. "Kau pikir aku akan membunuh orang?"

"Kau pernah membunuh nyamuk dengan tinju," sahut Vega enteng.

"Itu nyamuk!"

"Tapi kau sangat serius waktu itu."

Grey menutup wajahnya dengan kedua tangan, frustrasi total. "Aku dikelilingi orang-orang gila."

Di atas panggung, para anak buah Grey mulai berbisik-bisik.

"Jadi kita tetap main drama?"

"Kelihatannya iya."

"Tapi properti kepalanya kita ganti labu kuning?"

"Tuan Muda bilang mau kepala boneka."

"Tapi kita cuma punya labu kuning."

"Gambari saja labu kuningnya biar mirip kepala."

"Pintar kau!"

Ressa menatap Grey dengan tatapan bersalah. "Tuan... maafkan saya. Saya terlalu cepat menarik kesimpulan."

Grey menghela napas, lalu tersenyum kecil. Ia menepuk kepala Ressa dengan lembut.

"Tidak apa-apa. Ini salah Vega yang membuatmu panik."

Vega mendengus. "Hey! Aku hanya peduli padamu!"

"Kau peduli tapi kau menyebarkan kabar bohong."

"Yah, setidaknya sekarang kita tahu kau tidak gila."

Grey menggeleng, lalu berbalik menghadap anak buahnya.

"Baiklah, semuanya!" teriaknya, suaranya kembali bergema di ruang teater. "Latihan dimulai besok pagi! Jangan lupa bawa labu kuning yang sudah dilukis!"

"Apa Tuan Muda, kita tetap pakai labu kuning?" tanya pria tambun tadi.

"Ya, labu kuning lebih murah!" Grey tertawa kecil.

Semua orang tertawa, kecuali Vega yang masih tersenyum kecut karena kedatangannya ke teater sia-sia.

Namun di sudut ruangan, Ressa menatap Grey dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu di matanya—bukan hanya kelegaan, tetapi juga...

"Dia tidak gila," pikir Ressa dalam hati. "Tapi dia menyembunyikan sesuatu."

Di luar, malam semakin larut. Lampu-lampu teater mulai padam satu per satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!