NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan yang Mulai Hilang

Setelah percakapan yang penuh pertengkaran dan kesalahpahaman malam itu, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih aneh dan menyiksa.

Bukan membaik. Bukan juga benar-benar hancur atau berakhir.

Hanya… menjadi semakin dingin.

Seperti dua orang yang sama-sama lelah bertengkar, sama-sama lelah berusaha, tapi tidak tahu lagi bagaimana cara untuk kembali seperti dulu. Mereka hidup berdampingan, namun terasa seperti terpisah jarak ribuan mil.

 

Pagi itu, Kayla bangun jauh lebih lambat dari kebiasaannya. Tubuhnya terasa berat, kepalanya pening, dan matanya terasa panas serta perih. Ia baru bisa memejamkan mata menjelang subuh, setelah terlalu lama menangis diam-diam di dalam kamar mandi, menekan bibirnya agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Adrian yang sudah terlelap di kasur.

Saat ia melangkah keluar dari kamar tidur, Adrian sudah berdiri rapi dengan pakaian kerjanya. Pria itu sedang sibuk mengenakan jam tangannya di depan cermin besar di ruang tamu, sesekali membetulkan kerah kemejanya dengan teliti.

Kayla berhenti melangkah beberapa langkah di belakangnya, menatap punggung itu dalam diam.

Dulu, pemandangan seperti ini terasa begitu hangat dan penuh kasih sayang. Setiap gerakan Adrian adalah hal yang indah bagi matanya.

Sekarang? Semuanya terasa jauh. Terasa asing.

“Aku telat,” ujar Adrian singkat tanpa menoleh ke belakang, seolah kehadiran istrinya sama sekali tidak ia sadari.

“Oh… iya,” jawab Kayla pelan.

Ia berjalan cepat menuju dapur, berharap masih bisa membubuhkan sedikit kehangatan di pagi yang dingin ini. “Sebentar ya, aku angetin sarapan dulu. Baru aku siapkan tadi pagi.”

“Nggak usah.”

Adrian langsung mengambil kunci mobil dan tas kerjanya yang tergeletak di kursi. Wajahnya datar.

“Aku makan di jalan aja. Lebih cepat.”

Kayla berdiri diam di dekat meja makan, tangannya menggenggam ujung baju rajutnya sendiri dengan canggung.

“Adrian.”

“Hm?”

Untuk beberapa detik, mulutnya terasa terkunci. Ada begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan. Jangan pergi dulu sebentar saja. Ayo kita ngobrol baik-baik. Aku takut kita makin menjauh seperti ini.

Banyak sekali hal yang ingin ia katakan. Namun pada akhirnya, yang keluar dari bibirnya hanya kalimat rutin yang sudah ribuan kali terucap.

“Hati-hati di jalan ya.”

Adrian akhirnya menoleh sebentar. Tatapannya bertemu miliknya sekilas, namun tak ada kehangatan di sana. Hanya tatapan kosong.

“Iya.”

Lalu ia pergi. Pintu tertutup pelan. Dan sekali lagi, keheningan kembali merajai seluruh isi rumah itu.

 

Kayla duduk perlahan di kursi makan yang biasa ia tempati. Di atas meja masih terhidang sarapan yang tadi ia siapkan dengan penuh harap. Dua piring. Dua gelas. Dua sendok. Segalanya berpasangan.

Tapi lagi-lagi hanya ia sendiri yang duduk di sana.

Ia menatap kursi kosong di depannya cukup lama, menatap bayangan keberadaan Adrian yang tak ada, sebelum akhirnya perlahan ia mulai membereskan meja itu kembali. Tangannya bergerak otomatis, mengumpulkan piring-piring itu, mencucinya, seolah melakukan gerakan yang sudah terprogram dalam tubuhnya.

Namun gerakannya terhenti saat ia tak sengaja melihat pantulan dirinya di kaca lemari dapur.

Mata sembab dan bengkak. Wajah pucat pasi tanpa warna. Rambut yang tergerai berantakan tak terurus.

Tiba-tiba saja ingatannya melayang ke masa lalu.

Dulu, Adrian sering tidak bisa berhenti menatapnya. Bahkan saat Kayla baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan, wajah bantal, dan belum mandi sekalipun. Pria itu akan mendekat, memeluknya dari belakang, mengecup puncak kepalanya, lalu berbisik dengan suara berat yang penuh kekaguman: “Kamu cantik banget, Kayla. Seisi dunia nggak ada yang lebih cantik dari kamu.”

Kayla sempat tertawa malu waktu itu, mengira Adrian hanya bercanda atau gila karena tidur.

Sekarang…

Bahkan sekadar melihat wajahnya lebih lama, sekadar menoleh untuk memastikan keadaannya, Adrian sepertinya tidak punya waktu. Tidak punya keinginan.

Dadanya langsung terasa nyeri lagi, menyebar sampai ke ulu hati.

 

Siang harinya, untuk mengalihkan pikiran yang makin kacau dan menyakitkan, Kayla memutuskan untuk membersihkan gudang kecil di sudut apartemennya. Ruangan itu sudah lama tertutup debu, berisi barang-barang lama yang jarang disentuh.

Ia butuh kesibukan. Butuh sesuatu yang bisa menguras tenaga agar otaknya tidak terus memikirkan hal-hal yang menyedihkan.

Satu per satu kotak kardus tua ia keluarkan. Ada album foto lama, buku-buku kuliah yang tebal, beberapa benda kenangan dari teman, dan piala-piala kecil.

Dan di salah satu sudut kotak yang paling dalam… tangan Kayla menyentuh sebuah map tebal berwarna cokelat yang sudah agak kusam.

Tangannya berhenti bergerak. Pelan-pelan ia membuka map itu.

Di dalamnya tersimpan rapi sertifikat-sertifikat kejuaraan masa kuliah, penghargaan sebagai mahasiswa terbaik, transkrip nilai dengan angka yang sangat memuaskan, dan surat kelulusan.

Semua atas namanya. Kayla Ardelia.

Ia menatap lembaran-lembaran berharga itu cukup lama. Jauh sebelum menjadi istri Adrian, jauh sebelum terjebak dalam dinding rumah tangga ini, ia punya begitu banyak hal.

Dulu ia punya begitu banyak mimpi.

Ingin menjadi dosen yang menginspirasi. Ingin melanjutkan pendidikan S2 ke luar negeri. Ingin bekerja di perusahaan besar dengan jabatan tinggi. Ingin meraih banyak hal.

Namun setelah menikah… perlahan tapi pasti, semua mimpi dan cita-cita itu ia tinggalkan sendiri.

Bukan karena Adrian memaksa atau melarang. Tidak pernah.

Kayla yang memilih mengalah. Kayla yang memilih menunda segalanya demi mengurus rumah tangga. Kayla yang memilih memprioritaskan suami dan kebutuhan rumah, dengan berpikir bahwa cinta saja sudah cukup membuatnya bahagia dan lengkap.

Dan sekarang…

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ia mulai bertanya pada dirinya sendiri dengan ketakutan yang luar biasa:

Kalau suatu hari nanti Adrian benar-benar pergi dan meninggalkanku… apa yang tersisa dari diriku? Apa lagi yang aku punya selain menjadi mantan istrinya?

Pertanyaan itu membuat tenggorokannya terasa sesak napas. Rasa takut kehilangan jati diri jauh lebih mengerikan daripada rasa takut kehilangan suami.

 

Sore harinya, Celine datang berkunjung seperti biasa. Begitu membuka pintu dan melihat ruang tamu yang penuh sesak oleh barang-barang lama, debu, dan kotak-kotak berserakan, wanita itu langsung mengernyitkan dahi bingung.

“Kamu lagi ngapain sih? Mau pindah rumah?” tanyanya sambil membantu menyingkirkan tumpukan buku.

“Enggak. Cuma beres-beres gudang saja. Lumayan buat ngabisin waktu,” jawab Kayla santai.

Celine berjalan mendekat ke meja tempat Kayla menata barang, lalu tangannya mengambil salah satu kertas berbingkai yang tergeletak di sana. Matanya langsung membesar tak percaya.

“Ya ampun… Kayla! Aku sampai lupa lho kalau kamu pernah juara lomba debat tingkat nasional ini. Padahal waktu itu heboh banget lho di kampus,” seru Celine kagum.

Kayla tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. “Aku juga hampir lupa kalau aku pernah jadi begituan. Rasanya udah lama banget.”

Nada suaranya terdengar seperti sedang bercanda. Tapi entah kenapa, mendengarnya justru membuat hati Celine ikut terasa sakit dan perih.

“Kamu… kangen nggak sih masa-masa kuliah? Masa-masa kamu sibuk, aktif, dan berprestasi gitu?” tanya Celine hati-hati.

Pertanyaan itu membuat Kayla terdiam. Diam cukup lama. Pandangannya menerawang jauh.

“…iya,” jawabnya sangat pelan, hampir berbisik. “Aku kangen banget.”

Jawaban pendek itu cukup untuk membuat Celine paham sepenuhnya. Bahwa Kayla tidak hanya merindukan masa kuliahnya… tapi ia benar-benar merindukan dirinya yang dulu. Diri yang punya mimpi, punya semangat, punya percaya diri, dan punya jati diri yang utuh.

 

Malam harinya, Adrian kembali pulang larut malam. Wajahnya lelah, kemejanya sedikit kusut, dan aromanya kembali berbau asing, campuran bau kantor, asap rokok, dan wangi parfum lain yang bukan milik Kayla.

Saat masuk, Kayla sedang duduk bersila di lantai ruang tamu, masih sibuk membereskan album-album foto lama yang sudah ia ambil dari gudang.

Pria itu sempat berhenti melangkah saat melihat foto-foto yang berserakan di karpet.

“Itu apa lagi?” tanyanya datar sambil melepas sepatu.

“Foto-foto lama. Mau aku masukin kotak lagi,” jawab Kayla tanpa menoleh.

Adrian melirik sekilas, berniat lewat begitu saja. Namun matanya tanpa sadar berhenti terpaku pada satu foto yang terbuka di halaman depan.

Foto Kayla saat masa kuliah. Rambut panjangnya terurai indah, senyumnya cerah lepas, dan matanya berbinar penuh percaya diri. Ia berdiri di atas panggung memegang piala.

Cantik. Sangat cantik. Dan sangat hidup.

Adrian sedikit terdiam. Ia menatap foto itu cukup lama. Sudah sangat lama ia tidak melihat ekspresi sehidup, secerah, dan sebahagia itu di wajah istrinya yang kini tinggal di rumah ini.

“Itu waktu aku ikut lomba debat nasional. Waktu itu aku menang juara satu,” jelas Kayla pelan dari balik bahunya.

Adrian mengangguk kecil, masih menatap foto itu.

“Kamu beda banget dulu,” ucapnya tiba-tiba.

Kalimat itu meluncur keluar begitu saja tanpa dipikir panjang.

Dan seketika… ruangan itu menjadi hening total. Udara terasa berat dan menyakitkan.

Kayla perlahan menoleh, menatap suaminya tepat di mata.

“Beda gimana?” tanyanya lirih, berusaha menahan getar di suaranya.

Adrian baru sadar apa yang baru saja ia katakan. Baru sadar bahwa kalimat itu mengandung banyak sekali makna. Namun alih-alih memperbaiki ucapan atau menjelaskan maksudnya agar tidak salah paham, pria itu justru memalingkan wajah dan mengalihkan pandangan dengan acuh tak acuh.

“Nggak tahu saja. Cuma beda,” jawabnya asal, lalu berjalan masuk ke kamar meninggalkan Kayla sendirian di ruang tengah.

Kayla tersenyum kecil. Senyum yang sangat tipis, namun kali ini senyum itu benar-benar terlihat menyedihkan dan putus asa.

Karena akhirnya… ia sadar sepenuhnya.

Adrian juga melihat perubahan besar pada dirinya. Adrian sadar betul bahwa istrinya sekarang berbeda dengan dulu.

Hanya saja…

mungkin pria itu tidak lagi menyukai, tidak lagi menginginkan, atau tidak lagi mencintai versi dirinya yang sekarang. Versi Kayla yang pudar, yang diam, yang pasrah, dan perlahan mulai hilang.

 

1
Uthie
Bakalan luluh lagi gak kamu Kay 😜
Uthie
rasain 😜
falea sezi
laki serakah dikira pusat dunia istrimu cm. kamu🤣 wahai tukang selingkuh
Agus Tina
Baru sadar kau Adrian, memang orang akan selalu menggebu2 ketika mengejar sesuatu tapi akan lupa setelah mendapatkannya, bahkan terkadang malah menyia2kan yg sudah m3njadi miliknya bahkan ada yg berusaha untuk menggapai lagi sesuatu yg berbeda ...
Agus Tina
Ceritanya bagus ...
Titien Prawiro
Tinggal kabur sono k Luar Negri biar suamimu klabakkan. apa mungkin tambah senang klo kamu tinggal.
wiwi: sabar sabar🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Balas omongan Suamimu Kayla, kamu juga jgn dekat2 sama Bianca
wiwi: iya kak🤣
total 1 replies
Uthie
Penasaran bagaimana keputusan Kayla . apakah akan tetap mempertahankan.... atau kah.. melepaskan 😏😏😏😏
Uthie: oke 👍😘😘🤗
total 2 replies
Uthie
Laki egois 😡
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
Titien Prawiro
Kasih gebrak kan untuk Kayla thor, melawan Adrian gitu atau diemin jgn diajak bicara. meremehkan istri penurut.
Titien Prawiro
Kamu masih muda Kayla, sebelum terlambat mending selidiki suamimu, kalau dia selingkuh lepaskan, dan raihlah cita2mu. jgn mengharap suami gk jujur.
Titien Prawiro
Lelaki klo sdh berubah pasti ada sesuatu. gercep gitu lho.
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Selidiki jgn lemot gitu, nanti menyesal.
wiwi: makasih udah mampir🙏
total 1 replies
Titien Prawiro
Kalau aku suami seperti itu diemin saja, jgn diladeni apapun itu sarapan minum bahkan jgn diajak bicara, diamkan saja. pengumuman tahu reaksinya.
Titien Prawiro: pengin tahu kok jadi tulisan bisa pengumuman.
total 1 replies
Titien Prawiro
coba selidiki, cobalah intai di kantornya, atau sewa detektif swasta, biar lekas tahu kelakuan suamimu. punya perempuan lagi.
falea sezi
bukti uda ada ss sebagai bukti cerai🤣
falea sezi
cerai aja kay laki mu paleng jg selingkuh
wiwi: iya nih kak🤭
total 1 replies
Agus Tina
Mampir dan di awal cerita bagus ... lanjjut
Uthie
lanjuuttttt lagiiiii Thor 🔥🔥🔥
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Uthie
Kadang seseorang itu gak nyadar, kalau diri nya juga melakukan hal yg sama😡

dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡
wiwi: betul banget itu kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!