Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Ruang kerja Haikal malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu meja menyala temaram, memantulkan bayangan dua lelaki yang duduk saling berhadapan bukan sebagai atasan dan bawahan, melainkan sebagai dua sahabat yang sama-sama menyimpan terlalu banyak rahasia.
Beni menyilangkan kaki, wajahnya tenang, seolah sudah menyiapkan diri untuk apa pun yang akan dikatakan Haikal.
“Kamu tidak perlu berputar-putar,” kata Beni lebih dulu. “Aku sudah tahu sebagian besar.”
Haikal mengangkat kepala perlahan. “Tahu… sejauh apa?”
Beni menghela napas. “Aku tahu kamu tidak pernah bisa menjadi suami bagi Sagita. Aku juga tahu selama ini kamu dianggap ‘tidak normal’ dan kamu membiarkan asumsi itu hidup.”
Haikal tersenyum pahit.
“Jadi… kamu tidak kaget?”
“Tidak,” jawab Beni jujur.
“Aku kaget beberapa tahun-tahun lalu. Sekarang tidak lagi.”
Hening sejenak.
“Dan tentang Laura,” lanjut Beni, suaranya lebih rendah, “aku juga tahu.”
Sorot mata Haikal berubah. “Kamu tahu… apa?”
“Aku tahu soal semua tentangnya. Aku menyelidikinya selama ini. Isu perselingkuhan di kampusnya,” kata Beni tegas.
“Aku tahu dia diblacklist. Aku tahu dia dihancurkan oleh rumor yang tidak pernah bisa dia bela.”
Haikal menunduk. “Jadi… menurutmu dia gadis yang..”
“Jangan lanjutkan kalimat itu,” potong Beni. “Aku tidak menilai Laura dari gosip murahan itu.”
Haikal terdiam. Tangannya mengepal di atas meja.
“Ben,” ucapnya akhirnya, “aku tidak pernah menyentuh Sagita sebagai suami. Tapi dengan Laura… aku bisa.”
Beni mengangguk pelan. “Aku sudah menduganya.”
Haikal tertegun. “Kamu… sudah menduga?”
“Kamu berubah sejak Laura ada di rumah itu,” kata Beni tenang. “Cara kamu berbicara. Cara kamu marah. Bahkan cara kamu diam. Itu bukan Haikal yang selama ini aku kenal.”
Haikal menyandarkan punggungnya, napasnya berat. “Aku pikir aku rusak.”
“Tidak,” sahut Beni cepat. “Kamu hanya salah tempat.”
Kalimat itu menghantam Haikal lebih keras dari apa pun yang ia dengar malam itu.
“Dengan Sagita, kamu hidup dalam kewajiban,” lanjut Beni. “Dengan Laura, kamu hidup sebagai manusia.”
Haikal mengusap wajahnya. “Tapi masa lalu Laura...”
“...bukan aib,” potong Beni tegas. “Itu luka.”
Hening kembali turun.
“Aku tahu Laura pernah ‘dituduh’ berselingkuh,” kata Beni. “Dan aku juga tahu tidak ada bukti. Yang ada hanya kekuasaan.”
Haikal mengangkat kepala, menatap sahabatnya.
“Kenapa kamu begitu yakin membelanya?”
Beni tersenyum kecil. “Karena aku menemukannya malam itu. Saat semua orang sudah menyakitinya. Jujur..aku kasihan pada gadis malang itu.”
Haikal terdiam.
“Dia tidak meminta dikasihani,” lanjut Beni. “Dia tidak menjual air mata. Dia hanya bertanya apakah masih ada pekerjaan.”
Haikal menutup matanya.
“Orang seperti itu,” kata Beni pelan, “tidak pantas dipakai sebagai kambing hitam.”
“Aku takut, Ben,” ucap Haikal jujur. “Takut kalau aku hanya memindahkan penderitaannya.”
“Dan itu justru bukti kamu berbeda,” jawab Beni. “Pria yang hanya ingin memuaskan diri tidak akan takut seperti ini.”
Haikal tersenyum pahit. “Sagita selama ini juga sudah berselingkuh di belakang ku.”
Beni mengangguk. “Aku tahu.”
“Kamu tahu, tapi.. apa menurutmu aku yang salah?” Haikal terkejut.
“Tidak...,” kata Beni. “Tapi aku tahu cukup untuk yakin satu hal pernikahanmu sudah lama kosong.”
Haikal menatap jendela. “Aku tidak ingin berzina terus-menerus.”
“Itu sebabnya kamu memikirkan pernikahan,” kata Beni, bukan bertanya.
Haikal mengangguk pelan.
“Kalau kamu bertanya pendapatku,” lanjut Beni, berdiri dan menepuk bahu Haikal, “aku mendukungmu.”
“Meski Laura punya masa lalu?” tanya Haikal lirih.
“Justru karena itu,” jawab Beni mantap. “Dia tahu rasanya dihancurkan. Dan orang seperti itu, kalau diberi kepercayaan, akan menjaganya mati-matian.”
Haikal menelan ludah. “Bagaimana kalau Mama tidak setuju?”
“Kalau kamu ingin hidup berdasarkan restu semua orang,” kata Beni, “kamu tidak akan pernah hidup dan memiliki keturunan.”
Haikal terdiam lama.
“Aku di pihakmu,” lanjut Beni. “Bukan karena Laura sempurna. Tapi karena kamu akhirnya jujur pada dirimu sendiri.”
Haikal menatap sahabatnya, matanya sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih.”
Beni tersenyum kecil. “Jangan buat aku menyesal mendukungmu.”
Haikal mengangguk. “Aku akan bertanggung jawab. Aku juga sudah bicara tadi dengan Laura.”
"Dia bilang apa?apa dia setuju?."
"Belum ada jawaban."
"Satu hal lagi yang harus kamu tau, Laura pernah menjalin hubungan dengan Kevin."
"Kevin?."
"Ya... Sepupu Istri kamu."
"Astaga...bagaimana mungkin."
"Tapi aku gak tau apa alasan mereka berpisah. Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada Laura.
Malam itu, keputusan belum diucapkan.
Namun untuk pertama kalinya, Haikal tidak lagi merasa sendirian.
Flashback On...
Hujan turun deras malam itu, memantul di aspal seperti ribuan jarum kecil. Beni awalnya tidak berniat berhenti. Jadwalnya padat, pikirannya penuh oleh laporan kantor dan permintaan bosnya yang jujur saja tidak biasa.
“Cari pembantu perempuan.”
“Cantik.”
“Menarik.”
“Aku butuh secepatnya.”
Permintaan itu masih terngiang di kepala Beni ketika ia melihat seorang perempuan duduk sendirian di halte seberang minimarket. Bukan karena ia menangis atau berteriak minta tolong melainkan karena ia terlalu tenang untuk seseorang yang kehujanan tanpa tujuan.
Beni memperlambat langkah.
Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana. Kemeja putih tipis yang basah oleh hujan, celana kain gelap, sepatu yang sudah basah kuyup. Tidak ada riasan berlebihan. Tidak ada perhiasan mencolok.
Namun Beni langsung tahu.
Perempuan itu cantik.
Bukan cantik yang dibuat-buat. Bukan cantik hasil polesan. Tapi cantik yang tetap terlihat bahkan saat rambutnya basah, wajahnya pucat, dan bahunya sedikit gemetar menahan dingin.
Tubuhnya proporsional.
Gerakannya tenang. Cara ia duduk tegak meski lelah menunjukkan harga diri yang belum runtuh.
Dan yang paling membuat Beni berhenti, tatapan matanya.
Tidak meminta dikasihani.
Tidak menantang.
Hanya… waspada.
Dan di pertemuan Pertama,
“Kamu sendirian?” tanya Beni, berdiri dengan jarak aman.
Perempuan itu menoleh perlahan. Matanya menilai, cepat dan cermat.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Kamu kehujanan.”
“Tak apa. Hujan akan segera berhenti,” katanya datar. “Seperti hal-hal lain.”
Beni sedikit terkejut. Biasanya orang dalam kondisi seperti itu akan berbicara panjang, mengeluh, atau setidaknya terlihat putus asa.
“Kamu mau kemana?” tanya Beni lagi.
“Aku tak tau.”
"Kamu gak ada tempat tinggal?."
"Baru aja setengah jam lalu aku meninggalkan nya."
"Tujuan mu sekarang kemana, biar aku antar."
"Aku gak punya tujuan."
Beberapa kata. Tegas.
Beni mengangguk pelan.
“Nama?”
“Laura Andira.”
Beni mengajak Laura berteduh di minimarket. Membelikannya minuman hangat. Laura menerima tanpa drama, tanpa terima kasih berlebihan.
Beni memperhatikan dengan saksama.
Cara Laura memegang gelas.
Cara ia duduk tanpa menyilangkan kaki berlebihan.
Cara ia tidak memamerkan diri padahal secara alami, tubuhnya menarik perhatian.
Dalam hati, Beni menghela napas.
Bos akan menyukainya, pikirnya pahit.
Bukan karena Laura murahan justru sebaliknya.
Karena pesonanya tidak dipaksakan.
Meski begitu, Beni tidak bodoh.
Ia tidak mungkin membawa sembarang perempuan ke rumah Haikal rumah yang penuh konflik, rahasia, dan pernikahan yang rapuh.
Beberapa hari berikutnya, Beni menyelidiki Laura.
Panti asuhan sejak bayi.
Mahasiswi berprestasi, dikeluarkan karena isu yang tidak pernah dibuktikan.
Bekerja serabutan demi bertahan hidup.
Pernah bekerja di klub malam sebagai pelayan, bukan lebih.
Punya mantan kekasih yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Semakin dalam Beni menggali, semakin jelas satu hal, Laura bukan gadis licik yang menjual diri.
Ia adalah gadis yang dipaksa keadaan, tapi belum kehilangan kendali atas dirinya.
Namun malam itu...
“Aku punya tawaran kerja,” katanya langsung, tanpa basa-basi.
Laura mengangkat wajah. “Apa?”
“Pembantu rumah tangga.”
Laura mengernyit. Bukan tersinggung lebih ke heran.
“Rumah siapa?”
“Bosku.”
“Kenapa aku?” tanyanya tajam. “Banyak perempuan lain.”
Beni menatapnya lurus. “Karena kamu cantik.”
Laura terdiam. Namun ekspresinya tidak berubah. Tidak tersenyum bangga. Tidak tersinggung.
Beni melanjutkan dengan jujur, “Dan bosku memang menginginkan pembantu perempuan yang cantik dan menarik.”
Hening beberapa detik.
“Kalau itu satu-satunya alasan,” kata Laura pelan, “aku tidak tertarik.”
Beni sedikit tersenyum. “Itu bukan satu-satunya.”
Ia lalu menjelaskan,gaji layak.
Tempat tinggal aman dan nyaman.
Tidak ada kewajiban lain, hanya melayani bos nya dan menyiapkan semua kebutuhan nya, khususnya mengurus kebutuhan pribadi bosnya.
Laura mendengarkan tanpa menyela.
“Aku tidak butuh kamu berpura-pura polos,” tambah Beni.
“Tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun melecehkanmu.”
Laura menatap Beni lama. Seolah menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pekerjaan.
“Apa aku boleh menolak jika suatu hari merasa tidak aman?” tanya Laura.
“Boleh.”
“Apa aku boleh pergi tanpa ditahan?”
“Boleh.”
“Dan kalau aku bekerja,” lanjut Laura pelan, “ aku tidak ingin dianggap milik siapa pun.”
Beni mengangguk mantap. “Itu sebabnya aku memilihmu.”
Laura menarik napas dalam-dalam.
“Aku terima,” katanya akhirnya.
“Bukan karena siapa bosmu. Tapi karena aku butuh berdiri lagi.”
Di mobil, dalam perjalanan menuju rumah Haikal untuk pertama kalinya, Beni melirik Laura melalui kaca spion.
Dengan pakaian sederhana, wajah polos, dan sikap tenang, Laura tampak lebih mencolok daripada perempuan mana pun yang pernah ia temui.
Beni tahu satu hal pasti malam itu,
Ia telah membawa badai yang sangat halus ke dalam rumah majikannya.
Dan tidak semua orang akan siap menghadapinya.
Flashback Off....