NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Semester ZONK!

"Zonk!" 

Satu kata itu keluar barengan sama asep tipis yang mendesis dari sela-sela mesin motor matic gua. Gua melongo, masih megang stang motor di depan gerbang kampus yang ramenya minta ampun.

Sumpah, Sagitarius emang katanya jiwa petualang, tapi nggak gini juga cara semesta ngasih petualangan di jam delapan pagi!

"Mampus gua... Statistik Pak Bambang!" gua monolog panik sambil liat jam tangan. Kurang lima belas menit lagi kuis dimulai. Kalau telat, fiks gua wasalam semester ini.

Gua buru-buru standar samping, masa bodo sama motor yang nasibnya entah gimana, terus lari sekencang mungkin ke arah gedung perpustakaan pusat.

Kenapa perpus? Karena cuma di sana gua bisa dapet Wi-Fi stabil buat upload tugas pra-kuis yang filenya segede gaban.

Begitu pintu kaca perpus kebuka....

BRUK! 

Gua hampir aja nyungsep kalau nggak nahan badan pakai meja resepsionis. Napas gua udah kayak orang abis lari maraton keliling Monas.

Mata gua liar nyari satu-satunya harta karun di tempat ini: Meja dengan colokan listrik yang masih hidup.

"Penuh... penuh... kok penuh semua sih?!" gua bisik-bisik histeris.

Sampai akhirnya, mata gua nangkep satu titik di pojok ruangan. Di sana, di meja paling strategis dekat jendela, duduk seorang cowok dengan kaos hitam polos.

Dia lagi asik metik gitar akustik tanpa suara, cuma jarinya yang nari-nari di atas fret sambil natap layar laptop yang isinya deretan angka dan grafik rumit.

Dedikasi Aruna Pradipta.Si jenius Aquarius dari jurusan sebelah yang denger-denger otaknya udah kayak superkomputer. Ganteng? Banget. Nyebelin? Jauh lebih banget.

Gua langsung nyamperin mejanya tanpa permisi.

BRAK! 

Tas totebag gua mendarat keras di sebelah laptopnya.

"Ded! Geser dikit, gua butuh colokan itu!" kata gua telak, sambil megang kabel charger laptop gua kayak mau nyabet orang.

Dia nggak nengok. Jarinya masih lincah di atas fret gitarnya, tetep tanpa suara. Matanya masih nempel ke layar. "Cari meja lain, Rey. Meja ini udah gua booking pakai doa."

"Dih? Sejak kapan perpus bisa di-booking pakai doa? Meja lain penuh, ya! Buruan geser, gua ada kuis sepuluh menit lagi!"

Dedik akhirnya berhenti metik gitar. Dia nengok pelan, benerin letak kacamata tipisnya, terus natap gua datar. Datar banget, sedatar jalan tol yang baru diaspal.

"Logikanya gini, Reyna..." suara dia tenang tapi nusuk. "Gua dateng dari jam enam pagi demi dapet colokan ini karena baterai laptop gua bocor."

"Lo dateng jam delapan lewat empat lima, napas udah kayak knalpot bajaj, terus minta gua geser? Public space itu siapa cepat dia dapat, bukan siapa paling cantik dia dapet."

Gua melotot. "Lo bilang gua cantik? Oke, makasih. Tapi gua tetep butuh colokan itu, Dedik!"

"Gua bilang 'bukan', Rey. Kuping lo perlu di-servis juga kayak motor lo yang barusan berasap di depan gerbang itu?"

Gua kesentak. "Lo liat?! Lo liat motor gua mogok dan lo diem aja nggak bantuin?"

Dedik balik natap layarnya. "Gua liat dari jendela lantai dua. Dan menurut perhitungan gua, kalau gua turun buat bantuin lo, motor lo tetep nggak bakal bener, dan gua bakal kehilangan meja ini. High risk, zero gain. Nggak logis."

Gua tarik napas dalem-dalem. Sabar, Rey... Sagitarius nggak boleh main fisik di perpus.

"Gini ya, Mas Aquarius yang Terhormat. Gua cuma butuh upload file. Lima menit doang! Abis itu gua cabut. Sumpah!" gua pasang muka melas paling maut.

Dedik narik gitarnya ke pelukan, kayak lagi ngelindungin bayi.

"Nggak bisa. Gua lagi simulasi komposisi buat aransemen lagu baru sekalian ngerjain tugas pemodelan data. Sekali gua kegeser, fokus gua buyar. Dan lo tau kan, fokus gua itu mahal?"

"Sombong amat lo! Emang apa sih susahnya cuma geser dikit? Kursi lo masih sisa banyak spacenya!"

"Space fisik emang ada, tapi space mental gua terbatas. Keberadaan lo di radius satu meter aja udah bikin udara di sini kerasa lebih berisik, padahal lo belum ngomong."

"DEDIK!"

"Sssttt!" seisi perpus langsung nengok ke arah gua. Petugas perpus yang mukanya kayak guru BK galak udah siap-siap melotot.

Gua langsung nunduk, malu banget. Gua duduk paksa di kursi depan Dedik, nggak peduli dia setuju apa nggak. Gua colok kabel laptop gua ke satu-satunya lubang tersisa di bawah meja yang untungnya masih kosong.

"Gua tetep di sini," bisik gua penuh penekanan.

Dedik cuma ngangkat bahu. Dia mulai metik gitarnya lagi. Tring... tring... meskipun pelan, suaranya kedengeran jelas di kuping gua karena jarak kita deketan banget.

"Lagu apaan sih itu? Galau banget kayak orang ditinggal nikah," ejek gua sambil nunggu laptop gua loading.

"Ini namanya harmoni, Rey. Sesuatu yang nggak bakal lo pahamin karena hidup lo isinya cuma gas-rem-gas-rem tanpa strategi."

"Hih! Sok puitis lo. IPK tinggi nggak jamin lo punya perasaan ya!"

"Gua punya perasaan," jawab Dedik enteng, matanya masih fokus. "Gua ngerasa lo lagi panik karena belum ngerjain tugas Statistik. Mau gua kasih tau nggak?"

"Apa?!"

"File tugas lo itu... kalau lo upload sekarang, nggak bakal keburu. Portalnya udah ditutup dua menit yang lalu."

Gua membeku. Gua liat jam di pojok kanan bawah laptop. Jam 08:52. Batas upload jam 08:50.

"DEMI APA?!" gua hampir teriak lagi tapi langsung gua tutup pakai tangan. "Kok tutup jam segini sih?! Bukannya jam sembilan?!"

"Pak Bambang tadi malem update di grup kelas, katanya mau dimajuin biar nggak ada yang nyontek pas di jalan. Lo nggak baca grup?" Dedik nanya tanpa dosa.

Gua lemes. Gua senderan di kursi perpus yang keras, rasanya mau nangis tapi malu sama cowok es di depan gua. "Gua mati... gua fiks ngulang semester depan..."

Dedik diem. Dia ngeliatin gua yang udah kayak maba gagal ospek. Dia narik napas panjang, terus narik laptopnya mendekat ke arah gua.

"Siniin file lo."

Gua nengok, bingung. "Buat apa? Kan udah tutup."

"Portal emang tutup buat mahasiswa umum. Tapi asisten dosen Pak Bambang semester ini kebetulan temen satu band gua. Gua bisa minta tolong dia buat 'nyelipin' file lo ke server dalem lewat pintu belakang."

Mata gua langsung berbinar. "Serius, Ded?! Lo mau bantuin gua?!"

Dedik natap gua datar lagi. "Ada syaratnya."

"Apa? Apa aja gua lakuin! Lo mau gua bayarin makan di kantin seminggu? Atau lo mau gua cuciin motor lo?"

Dedik geleng-geleng. Dia nunjuk selembar brosur yang ada di atas mejanya. Brosur tentang Proyek Penelitian Kreatif Antar Fakultas.

"Gua butuh partner buat proyek ini. Syaratnya harus beda jurusan. Anak-anak lain nggak ada yang mau karena mereka bilang gua terlalu perfeksionis dan ribet."

"Gua butuh orang yang 'kosong' kayak lo biar gampang gua arahin."

Gua baca brosur itu. "Proyek Lapangan? Tiga bulan? Bareng lo?!"

"Pilihannya cuma dua, Reyna," Dedik metik satu nada tinggi di gitarnya yang bunyi nyaring banget.

"Lo jadi partner 'sialan' gua selama tiga bulan ke depan, atau lo ngulang kelas Statistik Pak Bambang sendirian semester depan. Pilih mana?"

Gua nelen ludah. Ngelihat muka Dedik yang sok ganteng tapi minta ditabok itu, rasanya gua lebih milih dikejar anjing gila. Tapi Statistik itu neraka dunia.

"Oke... deal," kata gua pasrah.

Dedik senyum tipis. Tipis banget, sampai gua nggak yakin itu senyum atau cuma kedutan di bibir. "Pilihan yang logis. Siniin flashdisk lo."

Gua ngasih flashdisk dengan tangan gemeteran. Gua nggak tau ini keputusan bener apa nggak.

Yang gua tau, mulai hari ini, hidup gua nggak bakal tenang. Dedikasi Aruna Pradipta baru aja narik gua masuk ke dunianya yang penuh itung-itungan dan petikan gitar nyebelin.

"Oh, satu lagi, Rey," kata Dedik pas gua udah mau cabut ke kelas.

"Apa lagi?!"

"Lain kali kalau motor mogok, jangan cuma diliatin. Coba dicek bensinnya. Kayaknya lo cuma kehabisan bensin, bukan rusak mesin. Sagitarius emang suka lupa hal-hal kecil ya?"

Gua diem seribu bahasa. Gua cek indikator bensin di ingatan gua... dan bener. Tadi pagi emang udah kedip-kedip merah.

"DEDIK SIALAAANNN!"

Gua baru aja mau lari balik ke parkiran buat cek bensin, tapi langkah gua mendadak kaku. HP di saku celana gua getar. Ada notifikasi masuk dari grup kelas Statistik.

[Grup Statistik A - Pak Bambang]

Pak Bambang: "Selamat pagi. Karena ada kendala teknis di server pusat, batas upload tugas pra-kuis saya perpanjang sampai jam 12 siang nanti. Silakan yang belum upload segera selesaikan." 

Gua mematung. Mata gua melotot natap layar HP. Jadi... gua nggak perlu bantuan asdos temennya Dedik? Gua nggak perlu jadi partner dia buat proyek tiga bulan itu?!

Gua langsung puter balik, mau lari lagi ke perpus buat batalin kesepakatan gila tadi. Gua nggak mau terjebak sama cowok Aquarius kaku itu cuma gara-gara masalah yang ternyata nggak ada!

Tapi pas tangan gua baru aja mau nyentuh gagang pintu perpus, satu pesan WhatsApp masuk dari nomor nggak dikenal.

[0812-xxxx-xxxx]:

"File lo udah masuk ke server asdos. Kontrak proyek kita udah gua submit ke email kaprodi. Nama lo dan nama gua udah fiks jadi partner nomor urut 69. Welcome to the team, Partner Sialan. See you at 4 PM di kantin." 

Gua lemes. Pintu kaca perpus di depan gua kerasa kayak tembok raksasa.

"DEDIKASIIII!!! BATALIIINNN!!!"

Gua teriak frustrasi di depan pintu, sementara dari balik kaca, gua bisa liat Dedik cuma ngangkat gitarnya sambil dadah-dadah pelan dengan muka datarnya yang minta ditabok.

Gua bener-bener dapet Partner Sialan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!