NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *29

Sesampainya di rumah sakit, segalanya bergerak cepat. Merlin di dorong masuk ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup di depan wajah Reyno, meninggalkannya berdiri sendiri di lorong rumah sakit yang dingin dan sepi.

Lampu di lorong rumah sakit itu terasa terlalu terang, sangat menyilaukan mata, dan memantulkan kilau dingin di setiap sudut dinding putihnya. Suara langkah kaki perawat yang bergegas, bunyi mesin pemantau detak jantung, dan bisik-bisik orang di sekitar terdengar begitu nyaring di telinga Reyno, seolah sedang mengejek ketidakberdayaannya malam ini.

Pria itu masih berdiri terpaku di depan ruang rawat tempat di mana, Merlin ada di dalamnya. Tangannya masih berlumuran darah istrinya. Bajunya juga masih kotor dan berantakan. Namun ia sama sekali tidak peduli. Karena di dalam kepalanya, hanya ada kondisi sang istri yang sedang sangat memprihatinkan.

"Kamu harus baik-baik saja, Mer. Tolong, kamu harus selamat," ucapnya dengan penuh rasa takut dan sedih.

Pria itu bersandar lemas di dinding, lututnya terasa tak bertulang. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis dalam diam. Di saku kemejanya, kertas hasil USG itu masih ia simpan, diremas erat di dekat dadanya.

Di saat yang sama, ponselnya bergetar lagi. Di layar, nama Yara kembali muncul. Biasanya, Rey akan langsung mengangkat panggilan tersebut dengan cepat. Biasanya, ia akan panik dan bertanya ada apa.

Tapi malam ini ... saat melihat nama itu, yang terbayang di kepalanya hanyalah darah di atas lantai rumah, dan juga wajah Merlin yang pucat. Tak lupa bayangan anaknya yang hilang juga langsung ikut menghantui pikiran Reyno.

Dengan tangan gemetar, Reyno mengambil ponsel itu. Ia tatap nama itu lama sekali. Rasa benci, rasa marah, rasa kecewa, dan rasa sakit bercampur jadi satu teraduk dengan keras di dalam hatinya.

Ia tidak mengangkat. Sebaliknya, dengan gerakan lambat namun pasti, ia menekan tombol hapus kontak. Lalu mematikan ponselnya sepenuhnya.

Untuk pertama kalinya, Reyno sadar. Bahwa rasa tanggung jawab yang berlebihan itu ternyata berbahaya. Bahwa menjaga orang lain tidak boleh dilakukan dengan cara mengorbankan orang yang dia cintai. Sekarang, ia benar-benar, bahwa selama ini ia telah salah besar dalam mengekspresikan rasa tanggung jawab itu.

Jam berganti. Menit berjalan lambat seperti berjam-jam. Reyno tidak beranjak dari depan pintu ruang operasi itu. Ia terus menunggu. Menunggu dengan penyesalan yang membakar dirinya sendiri.

Beberapa waktu kemudian, pintu itu akhirnya terbuka. Dokter keluar dengan wajah lelah namun sedikit lebih tenang.

Reyno langsung menghampiri, suaranya bergetar tak karuan. "Bagaimana istri saya, Dokter? Bagaimana keadaan dia!"

Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap Reyno dengan pandangan prihatin.

"Ibunya berhasil diselamatkan. Kondisinya sudah stabil sekarang. Namun ... kami harus mengeluarkan kandungannya, Pak. Janin sudah tidak ada detak jantungnya saat dibawa masuk. Dan pendarahannya cukup parah karena keterlambatan penanganan."

Reyno memejamkan mata rapat-rapat. Air mata kembali mengalir dengan deras. Meski ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Namun, saat mendengarnya langsung tetap terasa sangat menghancurkan.

"Dan ... karena tekanan batin yang sangat berat, stres tinggi, juga kondisi fisik yang menurun drastis, ada kemungkinan besar, istri anda akan sulit sekali hamil lagi di masa depan."

Kalimat itu menghantam Reyno sampai ia hampir saja roboh saat berdiri.

'Sulit punya anak lagi.'

Artinya, kesempatan yang hilang malam itu ... adalah satu-satunya kesempatan mereka. Dan ia yang menyia-nyiakannya.

"Bisakah saya masuk?" tanyanya pelan, suaranya nyaris hilang.

"Boleh. Tapi dia masih lemah. Dia butuh ketenangan. Dan, Pak. dia butuh dukungan suaminya. Sangat butuh."

Tidak sanggup untuk menjawab apa yang dokter itu kayakan. Rey hanya bisa mengangguk pelan. Lalu, masuk perlahan ke dalam ruangan yang ada di depannya. Di sana, di atas ranjang putih yang luas, Merlin terbaring diam. Wajahnya pucat tanpa darah, selang infus menempel di tangannya, dan matanya tertutup rapat.

Langkah Reyno berat sekali. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di samping ranjang itu. Ia raih tangan istrinya yang dingin, lalu mengecup punggung tangan itu berkali-kali.

"Mer ..." bisiknya parau.

Perlahan, mata Merlin terbuka. Pandangannya samar, namun saat ia melihat wajah Reyno, ada sesuatu yang berubah di sana. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi cahaya bahagia. Yang tersisa hanyalah rasa sakit yang dalam dan kekosongan yang luas.

"Dia pergi ya, Rey," ucapnya lirih. Bukan pertanyaan, tapi pernyataan pahit.

Reyno mengangguk pelan, tak sanggup bicara.

"I-- iya ... dia pergi, maafin aku."

Merlin menatap langit-langit ruangan tersebut dengan tatapan sendu. Air mata menetes dari sudut matanya, turun ke pelipis secara perlahan.

"Dia pergi ... karena ayahnya lebih sayang, dan selalu milih wanita lain dari pada ibunya."

Kalimat itu. Kalimat itu bukan lagi protes, bukan lagi rengekan. Kalimat itu adalah kebenaran pahit yang tertanam kuat. Dan kalimat itu yang paling menyakiti hati Reyno.

"ENGGAK!!" Reyno berteriak pelan, panik. Ia langsung bangkit berdiri, mendekatkan wajahnya ke istrinya. "Enggak! Itu nggak bener! Aku nggak pernah milih dia! Aku cuma salah paham! Aku cuma bodoh! Aku sayang kamu, Merlin! Cuma kamu!"

Merlin tersenyum kecil. Senyum yang sangat tipis, sangat menyedihkan, dan sangat lelah.

"Dulu aku juga percaya gitu, Rey. Dulu aku selalu ngasih alasan buat kamu. Aku selalu bilang 'Reyno cuma kasihan', 'Reyno cuma ngerasa tanggung jawab', 'Reyno bakal berubah nanti'. Tapi lihat apa hasilnya?"

Merlin mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah perutnya sendiri.

"Hasilnya ada di sini. Darah ini. Kehilangan ini. Bukti kalau selama ini aku cuma jadi pilihan kedua. Selalu ada di urutan kedua."

Merlin menoleh pelan ke arahnya. Matanya yang sembab menatap lurus ke manik mata suaminya. "Rey ... kamu tahu apa yang paling sakit dari semuanya ini?"

"Apa? Apa, sayang? Apa pun itu, bilang saja, aku bakal dengerin."

"Kamu bukan cuma kehilangan anak kita malam ini," ucap Merlin pelan, tegas, dan menyakitkan. "Kamu juga hampir kehilangan aku. Dan yang paling parah, kamu udah bikin aku kehilangan rasa percaya sama kamu. Dan aku rasa ... itu hal yang paling susah buat balikin lagi."

Reyno terdiam kaku. Ia sadar betul. Bahwa luka fisik bisa sembuh dengan obat dan waktu. Tapi luka di hati? Luka karena dikhianati prioritas, luka karena ditinggalkan saat paling butuh, luka karena anak mati di dalam kandungan akibat rasa sakit hati, luka itu mungkin tak akan pernah hilang.

Pria itu menundukkan kepalanya di tepi ranjang istrinya, menangis dalam diam di antara jari-jarinya sendiri. "Aku bakal perbaiki semuanya, Mer .... Aku janji, aku bakal buktiin, aku bakal jadi suami yang kamu butuhin. Aku bakal jagain kamu seumur hidup aku, sebagai penebus semua kesalahan aku, juga sebagai penebus nyawa anak kita. Jadi tolong, maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!