kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapalan Doa yang salah alamat
Bab 21: Rapalan Doa yang Salah Alamat
Sementara itu di bawah bayang-bayang pohon beringin, Agus dan Paman Mira masih terjebak. Jalan pulang yang tertutup oleh pekatnya kabut gaib membuat ruang gerak mereka semakin menyempit. Sosok berkebaya merah itu kian merapat.
Dalam kondisi panik dan setengah putus asa, ingatan mereka mendadak campur aduk tak karuan. Segala macam doa yang pernah dihafal sejak kecil mendadak melintas dan dirapalkan bertubi-tubi dengan suara gemetar.
Mulai dari doa buka puasa hingga doa makan mereka sebutkan dengan lantang. Bahkan, saking buntu dan ketakutannya, Paman Mira menjeritkan doa masuk kamar mandi, berharap ada salah satu kalimat suci yang bisa membuat hantu bermata merah di depan mereka itu menyingkir.
Anehnya, bukannya mundur ketakutan, tubuh yang bersimbah darah itu justru melangkah maju perlahan.
Angin di sekitar pohon beringin mendadak berputar bagai pusaran kecil, membawa bau anyir darah bercampur tanah lapuk yang menyengat hidung, membuat dada terasa sesak didera mual. Ranting-ranting tua di atas kepala mereka saling bergesekan, menimbulkan suara decitan panjang yang seolah-olah ikut menertawakan kelucuan dua manusia yang membaca doa sembarangan itu.
Mata merah makhluk itu berkilat makin terang di balik juntaian rambutnya. Tepat saat sosok itu tinggal sejangkauan tangan, Paman Mira dengan suara melengking pasrah menjeritkan doa terakhir yang diingatnya: doa hendak tidur.
"Bismika Allahumma ahya wa bismika amut...!"
Tepat setelah kalimat itu selesai, sebuah perubahan ganjil terjadi. Wanita berkebaya merah itu mendadak menghentikan langkahnya dan terdiam kaku.
Di saat yang sama, sebuah suara geraman berat yang sangat menggelegar muncul dari balik batang pohon beringin yang besar. Suara itu terdengar begitu purba, berwibawa, dan menggetarkan tanah—seakan-akan sebuah panggilan mutlak dari sang penguasa tempat tersebut.
Mendengar geraman itu, makhluk berkebaya merah perlahan memundurkan langkahnya, lalu melesat lenyap ke dalam gelap, seolah patuh pada perintah kasta yang lebih tinggi.
Suasana mendadak sunyi. Agus bertumpu pada lututnya, mengatur napasnya yang memburu. Di belakangnya, Paman Mira terduduk lemas di atas tanah.
Melihat bagaimana Agus sedari tadi tetap berdiri tegap memasang badan tanpa berniat lari meninggalkannya, keteguhan hati pemuda itu akhirnya meruntuhkan ego Paman Mira. Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menyusup di dada pria paruh baya itu. Ia sadar, pemuda yang sering ia pojokkan ini adalah satu-satunya alasan mengapa nyawanya masih selamat.
"Gus..." panggil Paman Mira dengan suara parau. Matanya tampak mulai berkaca-kaca. "Om... Om benar-benar minta maaf ya sama kamu. Om menyesal sudah menuduh, menyalahkan, bahkan sampai memukuli kamu kemarin."
Agus menoleh, menatap pamannya yang tampak begitu rapuh malam ini. Ia menghela napas panjang, lalu menepuk bahu sang paman dengan tegas.
"Sudah, Om. Jangan bahas soal itu dulu, yang lalu biarlah berlalu," potong Agus cepat. "Sekarang kita fokus cari foto Mira sebelum makhluk-makhluk itu muncul lagi. Om cari ke sebelah kanan akar beringin itu, dan aku ke sebelah kiri. Cepat, Om!"
Mereka pun mulai bergerak cepat, memeriksa setiap celah dan lekukan akar pohon beringin yang besar. Jari-jari mereka bergerak lincah mengorek-ngorek tanah gembur dan tumpukan daun kering, mengabaikan rasa jijik demi menemukan barang kutukan yang menyiksa Mira.
Namun, di saat mereka sedang benar-benar fokus, suara dahan patah yang luar biasa keras terdengar dari atas kepala. Sebelum mereka sempat mendongak, sebuah bayangan raksasa mendadak runtuh dari atas dahan dengan kecepatan tinggi.
Brakkk!
Bumi di sekitar mereka seakan bergetar hebat. Tepat di hadapan Agus dan Paman Mira, kini berdiri tegak sesosok makhluk hitam yang sangat tinggi besar. Tubuhnya dipenuhi bulu lebat yang hitam legam, taringnya mencuat panjang dari balik bibirnya yang menyeringai, dan sepasang mata merah menyalanya menyorot tajam membelah kegelapan. Bau busuk bangkai langsung menguar pekat, merenggut seluruh pasokan udara bersih di tempat itu.
Makhluk raksasa itu menggerung rendah. Hembusan napasnya yang panas dan berbau busuk menghantam wajah mereka bersamaan dengan gelombang energi gaib yang sangat menekan.
Tekanan mistis yang begitu pekat dikombinasikan dengan rasa ngeri yang melampaui batas nalar langsung membuat pandangan Agus dan Paman Mira berputar. Kesadaran mereka terputus seketika, dan keduanya ambruk tak berdaya di atas tanah yang dingin.
Bersambung
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁