NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Plester Pink dan Tatapan Aneh

Pagi itu kelas XI-A jauh lebih ramai dari biasanya.

Suara obrolan memenuhi ruangan sejak bel pertama bahkan belum berbunyi.

Sebagian besar masih membahas kemenangan basket kemarin.

Dan tentu saja, Axel menjadi orang paling berisik.

“Kalau gua nggak teriak dari bangku cadangan, mental kalian jatuh semua.”

“Kamu cuma bawa botol minum,” balas Selina datar.

“Itu support moral.”

“Ganggu moral lebih tepatnya.”

Namun di tengah keramaian kelas, tatapan Leon beberapa kali tetap bergerak ke arah Rachael.

Gadis itu sekarang duduk di kursinya sambil membuka buku seperti biasa. Tenang dan diam.

Tapi tidak sedingin beberapa hari lalu. Entah kenapa, itu cukup membuat suasana hati Leon sedikit lebih baik.

Meski begitu, ada satu masalah kecil. Plester pink bergambar kelinci di tangan Rachael masih ada.

Dan Axel jelas tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengganggu mereka. “Rachel.”

Rachael langsung mengangkat kepala malas. “Apa.”

Axel menunjuk tangannya sambil menahan tawa.

“Plester cinta dari Leon masih dipake ternyata.”

SUARA kelas langsung berubah heboh. Beberapa menjodohkan dan beberapa siswa lainnya merasa iri bisa dekat dengan Leon.

“OHHHHHH—”

“CIEEEE—”

Rachael langsung membeku sepersekian detik.

Sementara Leon memijat pelipis pelan. “Axel.”

“Apa? Gua cuma observasi.”

Selina langsung mendekat penasaran ke meja Rachael. “Lucu banget serius.”

Rachael buru-buru menarik lengan hoodie-nya sampai menutupi tangan. “Ini cuma plester.”

“Tapi pink. Dan karakter kelinci,” tambah Axel sambil nyengir lebar.

Leon akhirnya melempar penghapus ke arah Axel.

“Kebanyakan ngomong.”

Axel menangkap penghapus itu dengan dramatis.

“Wah galak banget padahal semalam romantis.”

Rachael langsung batuk sedikit. “Uhuk—”

Leon refleks bertanya sedikit panik. “Kamu kenapa?”

“Dia malu tuh,” jawab Axel cepat.

“Axel diam nggak sih,” gerutu Rachael sambil menutupi wajah dengan buku. Karena jujur saja, ini pertama kalinya mereka melihat Rachael terlihat salah tingkah seperti itu.

Biasanya gadis itu selalu tenang dan datar. Namun sekarang ujung telinganya jelas memerah. Leon menyadari itu, tatapannya tanpa sadar sedikit melembut.

Beberapa saat kemudian— bel masuk akhirnya berbunyi.

Guru mulai masuk satu per satu. Kelas perlahan kembali normal atau setidaknya mencoba normal.

Namun tetap saja, Axel sesekali masih menatap Leon sambil menyeringai aneh. Leon benar-benar hampir kehilangan kesabaran.

Saat pelajaran berlangsung, Rachael beberapa kali terlihat melamun sambil memainkan ujung plester pink di tangannya.

Tapi kali ini bukan karena stres. Melainkan karena kepalanya terus mengingat kejadian semalam.

Cara Leon menggenggam tangannya. Tatapan khawatir itu... Rachael merasa akhirnya ada yang khawatir padanya walaupun itu artinya bagi Rachael ia hanya merepotkan.

Kalimat-kalimat yang terus terulang di pikirannya. “Kalau aku mau pergi, aku udah pergi dari dulu.”

Jantung Rachael kembali berdetak aneh. Ia langsung menunduk cepat ke bukunya. "Sial. Kenapa jadi kepikiran terus sih..."

Sementara di sisi lain kelas, Leon juga sama tidak fokusnya. Matanya beberapa kali bergerak ke arah Rachael tanpa sadar.

Itu langsung ditangkap Axel yang duduk di belakangnya. Axel menahan tawa kecil sebelum akhirnya menyenggol kursi Leon pelan. “Woi.”

Leon melirik dingin. “Apa.”

“Lu dari tadi ngeliatin dia terus.”

“Nggak.”

“Bahkan sekarang lu langsung nengok pas gua ngomongin dia.”

Leon langsung diam.

Axel menyeringai puas. “Kena.”

Leon akhirnya menghela napas kasar lalu kembali melihat papan tulis. Beberapa detik kemudian, tanpa sadar tatapannya kembali mencari Rachael lagi.

Axel yang melihat itu langsung menahan tawa sambil berbisik pelan, “Wah parah... udah hopeless ini.”

...----------------...

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suasana kelas XI-A langsung kembali ramai.

Suara kursi bergeser dan obrolan murid memenuhi ruangan setelah pelajaran terakhir selesai.

Axel meregangkan tubuh dramatis. “Akhirnya bebas juga.”

Selina langsung menutup bukunya sambil menghela napas kecil. “Sumpah aku hampir tidur tadi.”

Sementara itu, Rachael masih duduk di kursinya sambil merapikan buku perlahan.

Tangannya bergerak rapi dan teratur seperti biasa.

Namun sesekali ia masih tanpa sadar memainkan ujung plester pink di tangannya.

Dan itu tentu tidak lolos dari perhatian Leon.

Tatapan laki-laki itu beberapa kali kembali mengarah ke Rachael tanpa sadar.

Axel yang melihat itu langsung berdecak pelan. “Parah.”

Leon melirik malas. “Apa lagi.”

“Lu udah masuk fase ngeliatin orang terus.”

Leon baru ingin membalas saat ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja.

Nama di layar membuat ekspresinya langsung berubah datar.

Arthur de Arther. Ayahnya.

Senyum kecil di wajah Leon perlahan menghilang.

Axel yang duduk dekat langsung menyadari perubahan itu. “Kenapa?”

Leon tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat ponselnya lalu membuka pesan tersebut.

"Pulang sekarang. Jangan menghabiskan waktu lagi dengan gadis itu."

Tatapan Leon langsung berubah dingin.

Sementara di sisi lain kelas, Rachael yang sedang memasukkan buku ke tas tanpa sadar melirik ke arah Leon.

Ia langsung menyadari sesuatu. Aura Leon berubah lagi, Dingin. Seolah suasana hati baiknya tadi langsung hilang begitu saja.

Leon membaca pesan berikutnya.

"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya."

"Fokus pada keluarga dan urusanmu sendiri."

Rahang Leon perlahan menegang. Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.

Axel yang penasaran akhirnya melirik layar sekilas. Dan ekspresinya langsung berubah. “Oh.”

Leon mematikan layar ponselnya pelan.Namun suasana di sekitarnya sudah berubah terlanjur berat.

Arthur de Arther bukan tipe ayah yang memberi saran. Ia memberi perintah.

Dan Leon tahu betul— jika ayahnya mulai ikut campur, berarti situasinya sudah dianggap serius.

“Ayah lu lagi?” tanya Axel pelan.

Leon mengangguk kecil. “Dia nyuruh pulang.”

“Dan?”

Leon terdiam beberapa detik. Tatapannya perlahan bergerak ke arah Rachael lagi. Gadis itu sekarang berdiri sambil memakai tasnya, masih terlihat tenang seperti biasa.

Tapi Leon tahu, Rachael masih belum benar-benar stabil.

Dan bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah: untuk pertama kalinya, Leon tidak ingin mengikuti perintah ayahnya.

Di sisi lain kelas, Rachael perlahan berjalan menuju pintu bersama Selina.

Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh kecil ke arah Leon. Tatapan mereka bertemu lagi beberapa detik. Rachael langsung merasa ada sesuatu yang salah.

Ekspresi Leon sekarang terlalu dingin, seperti sedang menahan emosi.

Rachael sedikit mengernyit bingung. Namun sebelum ia sempat bertanya— ponsel Leon kembali bergetar.

Kali ini panggilan masuk dari Ayahnya.

Leon langsung menghela napas pelan sebelum mengangkat telepon itu.

“Ya.” Suara berat dari seberang terdengar jelas meski tidak terlalu keras.

“Pulang sekarang.”

Tatapan Leon perlahan berubah semakin tajam.

“Aku masih di sekolah.”

“Aku tahu. Dan aku juga tahu kamu masih dekat dengan gadis itu.”

Suasana di sekitar Leon langsung terasa menekan.

Axel bahkan memilih diam sekarang.

Karena ia tahu kalau Arthur de Arther sudah bicara seperti ini, berarti semuanya bukan sekadar kekhawatiran biasa.

“Jangan buat kelemahan, Leon.”

Kalimat itu membuat tangan Leon mengepal pelan.

Tatapannya tanpa sadar kembali mencari Rachael di dekat pintu kelas.

Dan untuk pertama kalinya, Leon benar-benar membenci cara ayahnya melihat hubungan manusia.

Karena bagi Arthur de Arther, perasaan hanyalah celah untuk menghancurkan seseorang.

...----------------...

Langit sore mulai gelap saat murid-murid satu per satu meninggalkan sekolah.

Leon berdiri di dekat mobil hitam keluarga de Arther dengan ekspresi dingin seperti biasa.

Ponselnya masih berada di genggaman setelah telepon singkat dari Arthur de Arther tadi.

Sementara tidak jauh dari sana, Rachael keluar gerbang sekolah sendirian. Hoodie abu-abunya menutupi sebagian tangannya sementara earphone sudah kembali terpasang di telinga.

Leon memperhatikannya diam-diam. Tatapannya sedikit berubah saat melihat Rachael berjalan sendiri menuju halte bus di seberang jalan. “Axel.”

Axel yang tadi bersandar santai di pagar sekolah langsung menoleh. “Hm?”

Leon tetap melihat ke arah Rachael saat berkata pelan, “Ikutin dia.”

Axel mengangkat alis. “Diam-diam?”

“Iya.”

“Kalau ketahuan?”

“Jangan sampai ketahuan.” Jawaban Leon terlalu cepat.

Itu membuat Axel akhirnya menghela napas panjang. “Wah.” Ia mengusap wajah dramatis. “Gua resmi jadi bodyguard ilegal.”

Leon tidak menanggapi, tapi tatapannya tetap tertuju ke arah Rachael. Karena entah kenapa, hari ini perasaannya tidak tenang.

“Aku serius, Axel.” Nada suara Leon berubah lebih rendah sekarang. “Pastikan dia aman.”

Axel akhirnya berhenti bercanda. Ia menatap Leon beberapa detik lalu mengangguk kecil. “Oke.”

Beberapa saat kemudian, Leon masuk ke mobil keluarganya.

Pintu tertutup pelan.

Mobil hitam itu perlahan meninggalkan area sekolah.

Namun bahkan sampai mobilnya menjauh, tatapan Leon masih tertuju ke arah halte tempat Rachael berdiri sendirian.

Rachael berdiri diam di bawah halte bus sambil memegang tali tasnya.

Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Suara kendaraan sore memenuhi udara kota yang mulai gelap.

Earphone di telinganya memutar musik pelan. Cukup untuk membuat pikirannya sedikit lebih tenang.

Bus akhirnya datang beberapa menit kemudian. Rachael langsung naik tanpa banyak pikir.

Tanpa disadari, beberapa detik setelah itu, Axel ikut naik dari pintu belakang.

Hoodie hitamnya dipakai sampai menutupi sebagian rambut. Ia memilih duduk cukup jauh dari Rachael.

Namun masih bisa melihat gadis itu dengan jelas.

“Anjir...” gumam Axel pelan sambil menyandarkan kepala ke kaca bus. “Ini rasanya kayak ngikutin target mafia beneran.”

Bus mulai berjalan perlahan meninggalkan pusat kota.

Sementara Rachael duduk dekat jendela sambil memandangi lampu-lampu jalan yang bergerak samar di luar. Ekspresinya tenang.

Kadang jemarinya bergerak kecil memainkan ujung hoodie tanpa sadar. Kadang ia terlihat melamun.

Dan sesekali, ia menggigit kecil lolipop rasa stroberi yang entah sejak kapan sudah ada di mulutnya lagi.

Axel memperhatikan semua itu diam-diam.

Dan semakin lama— ia mulai sadar kalau Rachael terlihat jauh lebih sendirian saat tidak berada di sekolah.

Tidak ada senyum kecil, tidak ada respon datar malas khasnya saat diganggu. Hanya seseorang yang duduk diam sambil memandang keluar jendela.

Lampu bus memantulkan wajah Rachael samar di kaca.

Tatapannya kosong seolah pikirannya sedang pergi jauh ke tempat lain.

Axel menghela napas kecil. Sekarang ia mulai mengerti kenapa Leon begitu khawatir.

Karena Rachael benar-benar terlihat seperti seseorang yang bisa menghilang ke pikirannya sendiri kapan saja.

Dan yang paling membuat Axel tidak nyaman, beberapa kali ia melihat Rachael refleks melirik ke sekitar bus dengan tatapan waspada kecil.

Seolah takut ada seseorang yang memperhatikannya. Padahal gadis itu bahkan tidak sadar, memang ada seseorang yang diam-diam menjaganya dari jauh malam ini.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!