NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Hamil di luar nikah / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 33

Pagi datang tanpa sinar matahari. Langit tertutup awan kelabu, membuat suasana di luar jendela tampak redup dan tenang. Semilir angin membawa udara sejuk pagi hari, sementara suara rintik gerimis sesekali terdengar samar di luar hunian.

Di atas ranjang, seorang wanita masih terlelap pulas, meringkuk di balik selimut hangat, seolah enggan berpisah dengan kasurnya.

Dering ponsel mengejutkan Alyra dari lelapnya, ia meraih benda pipih yang meraung di atas meja kecil samping ranjang.

Matanya menyipit, menatap samar layar persegi. "Wina? Kenapa pagi-pagi begini nelpon?" ia terheran.

Segera menggeser tombol hijau, mengangkat telepon dari seorang asisten rumah tangga hunian keluarga Pradana.

"Waalaikumsalam, Win." Ia membalas salam dari sosok di seberang. "Ada apa?"

Suara Wina terdengar serak, gugup, ada nada cemas dalam setiap kata yang keluar.

"Kenapa? Yang tenang dulu, saya nggak bisa denger jelas suara kamu." Wanita hamil itu segera bangkit, kini posisinya sudah duduk di atas kasur.

"Tuan Erlan di bawa ke rumah sakit, Nyonya!" begitu keras dan terdengar jelas, suara Wina bak bongkahan batu besar yang menerjang dada Alyra.

Mata teduh itu seketika membelalak. "Apa? Mas Erlan kenapa?!" intonasinya naik satu oktaf, sorot matanya berubah cemas.

Dari sambungan telepon, Wina menjelaskan dengan suara terbata-bata bahwa pagi tadi Erlan ditemukan dalam kondisi lemas di dalam kamar. Kebetulan pintu kamarnya tidak tertutup rapat, sehingga Mbok Tum yang sedang mengepel lantai atas melihat sesuatu yang tidak beres dan memutuskan untuk memeriksa langsung ke dalam. Saat itulah wanita paruh baya tersebut mendapati Erlan terkulai lemah dan segera meminta bantuan.

Setelah telepon ditutup. Alyra bergegas membangunkan Hilmia, berpamitan untuk segera kembali ke kota, dan ditemani oleh Simon.

"Hati-hati, ya, Mbak. Semoga pak Bos baik-baik saja." Hilmia menatap khawatir, mengantar Alyra hingga ke depan gerbang hunian.

"Terima kasih, Mia. Aku pergi dulu, nanti kita saling berkabar, ya." Alyra menatap hangat, meski sorot matanya berkaca-kaca.

Tak bisa ditutupi, ia begitu khawatir akan kondisi sang suami.

Mobil yang membawa perempuan hamil itu akhirnya meninggalkan vila yang sudah beberapa hari menjadi tempat persembunyiannya saat sejenak melarikan diri dari huru hara dunia maya.

.

.

.

Hampir seminggu lamanya Alyra tak memijakan kaki di tanah kota tempatnya bertumbuh dewasa.

Ia menatap jendela kaca buram, kendaraan melaju — menerobos gemericik hujan. Helaan napas berat mengudara, pikirannya telah kalut, dipenuhi akan rasa cemas, takut terjadi sesuatu yang buruk pada kondisi suaminya.

Terakhir Wina mengabari, Erlan tidak sadarkan diri.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga sampai empat jam lamanya, akhirnya mobil mercy itu berhenti, terparkir di depan gedung rumah sakit terbesar di pusat kota.

Alyra buru-buru keluar dari kendaraan, melangkah cepat menuju ruang rawat inap vvip. Salah satu perawat memimpin jalan, sudah diberitahu secara diam-diam bahwa sang istri pasien akan segera tiba.

Pihak rumah sakit menerima kesepakatan untuk tetap merahasiakan hubungan antara Erlan dan Alyra ke publik.

"Bagaimana keadaan suami saya, Suster?" Alyra menatap khawatir, pupilnya berkaca-kaca.

"Di bawah pemantauan dokter, Pak Erlan sudah baik-baik saja, Bu. Reaksi alerginya sudah membaik, beruntung segera di bawa ke rumah sakit dan mendapat penanganan yang tepat, sekarang beliau sudah sadar," jelas sang suster. Masih mempimpin jalan menuju ruang vvip.

"Alergi?" kening perempuan hamil itu mengernyit.

"Betul. Penyebab Pak Erlan tidak sadarkan diri adalah reaksi tubuh terhadap kandungan obat yang tidak cocok. Sepertinya Pak Erlan kembali diserang insomnia sehingga beliau memaksakan diri meminum pil tidur. Sayangnya, beliau asal mengkonsumsi obat yang bukan diresepkan dokter dengan kandungan khusus." Kembali sang suster menjelaskan dengan lugas. "Dokter Ridho sedang ada praktek, beliau meminta saya untuk menyampaikan ini langsung kepada Anda, Bu Alyra."

Alyra menghembuskan napas panjang. "Insomnia?" ia meneguk ludah, tak menduga bila sang suami memiliki gangguan tidur cukup serius.

"Terima kasih, Suster." Akhirnya ia mengangkat wajah, lalu menunduk sopan.

"Sama-sama, Bu." Setelah mengantar sampai ke depan pintu ruangan Erlan dirawat, sang suster pamit undur diri.

Alyra berdiri tegap, menatap nanar pintu yang memiliki panel kaca kecil di salah satu sisinya. Ia menarik napas lalu menekan daun pintu.

Aroma antiseptik berbaur dengan obat-obatan menyambutnya kala dirinya melangkah masuk ke ruangan.

Sosok rupawan berbalut baju pasien duduk di atas ranjang tunggal, bersandar pada bantal, wajah tampak pucat, mata membelalak kala melihat Alyra tiba-tiba masuk ke ruangan.

Tak hanya sendiri, Erlan ditemani oleh Mbok Tum dan Wina, juga seorang wanita berpenampilan elegant, parasnya cukup cantik, duduk di dekat ranjang pasien.

"Alyra?" Erlan menatap tak percaya.

Tak segera merespon, tatapan Alyra terpaku pada sosok jelita yang menatapnya ramah, namun sorot kedengkian terus memancar, tak dapat ditutupi.

"Siapa dia?" suara hatinya bocor tanpa bisa ditahan.

Erlan menoleh, menatap wanita yang dimaksud istrinya.

"Dia Stefani," sahut Erlan singkat, kemudian kembali menatap lembut istrinya. "Kamu kenapa bisa di sini?"

'Stefani?' sorot mata itu tampak bergetar.

"Alyra?" Erlan memanggil dengan suara lembut.

"Ah, iya." Pandangannya beralih. "Itu ... Suamiku berada di rumah sakit, aku mana bisa tenang di luar sana," jawabnya ketus, namun tatapannya melunak.

"Maaf, aku ingkar janji." Erlan memasang wajah sendu, tertunduk dalam. "Padahal aku bilang akan segera datang."

Alyra melangkah mendekat, tak lagi memaku pandangan pada sosok yang nampaknya diabaikan oleh Erlan.

"Maaf, aku sedikit panik, nada bicaraku jadi ketus. Maaf, Sayang." ia raih jemari besar yang tak cukup dalam genggaman. Perbedaan ukuran pasangan muda itu terbilang mencolok.

"Seharusnya aku yang meminta maaf," sahut pria berhidung runcing, meski tampak pucat, ketampanan Erlan tak memudar. "Kamu datang bersama Simon?"

Erlan membalas genggaman, jemari keduanya saling bertaut.

"Heem." Alyra menganggukan kepala.

Sesaat dunia serasa milik berdua, pasangan muda itu tak memutus pandangan, saling menatap penuh rindu, kasih, dan kekhawatiran.

Sementara Mbok Tum dan Wina saling beradu pandang, bisik-bisik di pojokan.

"Siapa yang mengabari Nyonya Muda?" bisik Mbok Tum di dekat telinga Wina.

"Wina, Mbok," sahutnya pelan. "Soalnya teh si ulet bulu birahi itu kegatelan. Sok sibuk ngurusin Tuan muda, bersikap seolah-olah dia adalah istrinya."

Mbok Tum menatap bangga. "Kerja bagus, Win. Hihihi."

Kedua asisten rumah tangga yang diutus Dirham untuk menjaga putra keduanya itu terkikik bersamaan.

Stefani menatap dengki pasangan muda yang masih berinteraksi hangat, namun ia harus tetap menjaga sikap, tak ingin menunjukan sisi dirinya yang sebenarnya.

"Kamu pasti Alyra, ya? Istrinya Erlan." Gadis bermuka dua itu berbicara sok ramah, intonasinya dibuat selembut mungkin.

Alyra menatap datar, tetapi sorot matanya menyimpan tanda tanya besar. "Mengapa orang yang terlibat dalam kasus yang sama denganku ... ada di ruang rawat inap suamiku?"

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!