NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Siang harinya, rombongan keluarga Syifa berangkat menuju resort pantai. Liburan kali ini terasa semakin ramai karena Ummi Salwa berbaik hati mengajak Jihan dan Adiba. Sementara Fadhlan, ia juga memboyong Aidan dan Haikal untuk ikut bergabung. Kapan lagi bisa liburan gratis di resort mewah, pikir para sahabat itu dengan penuh semangat.

​Sesampainya di resort mewah yang ternyata milik keluarga Alwi, mereka langsung membagi kunci kamar dan menaruh barang bawaan masing-masing. Sebagai pengantin baru, Fadhlan dan Syifa tentu saja diberikan fasilitas kamar tipe Suite yang paling istimewa dengan pemandangan langsung menghadap laut lepas.

​Namun, begitu Fadhlan membuka pintu kamar mereka, ia langsung menghentikan langkahnya. Di atas tempat tidur berukuran king size, kelopak bunga mawar merah ditata sedemikian rupa membentuk simbol hati yang besar. Bahkan di dalam bathtub kamar mandi pun dipenuhi dengan taburan bunga mawar merah. Siapa lagi dalang di balik ide "cemerlang" nan berlebihan ini kalau bukan ulah Alwi, Aidan, Haikal, dan Salim.

​Tidak sampai di situ, di atas bantal, tergeletak sebuah kartu ucapan berdesain elegan namun dengan tulisan tangan yang membuat Fadhlan kesal.

​"Happy Unboxing Day, Bos Fadhlan! Jangan lupa di rem ya kalau main! Bahagia Selalu sampai Anak Cucu!"

​Fadhlan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Sepertinya mereka sudah bosan hidup," gumam Fadhlan dengan nada dingin yang berbahaya.

​"Siapa yang sudah bosan hidup, Mas?" tanya Syifa yang tiba-tiba saja sudah berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.

​Refleks, Fadhlan melangkah mundur karena terkejut dengan jarak tubuh mereka yang mendadak sisa beberapa senti saja.

​"Ekhm... tidak ada. Hanya membaca baris dialog di buku ini," jawab Fadhlan asal, buru-buru menyembunyikan kartu ucapan laknat itu ke dalam saku jas yang ia letakkan di kursi, lalu berpura-pura fokus membaca sebuah buku di atas kasur.

​"Oh..." Syifa mengangguk-angguk percaya. "Mas, saya mau jalan-jalan keluar ke tepi pantai sama Jihan, Adiba, Tasya, terus Reyhan. Boleh, kan?" tanya Syifa meminta izin dengan nada riang.

​Fadhlan terdiam sejenak. Fokusnya teralih sepenuhnya bukan karena kalimat izin tersebut, melainkan karena pendengarannya menanggah perubahan panggilan 'Mas' yang diucapkan Syifa dengan begitu lancar sekarang. Perlahan, pandangan mata Fadhlan turun, mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki pakaian yang dikenakan oleh istrinya saat ini.

​Syifa tampil sangat cantik dan segar dalam balutan dress panjang longgar berwarna kuning cerah dengan motif bunga-bunga yang estetik, dipadukan dengan hijab senada berwarna cream lembut. Di tangannya, ia sudah memegang sebuah topi pantai anyaman yang siap dipakai.

​Fadhlan menutup bukunya dengan suara berdebum pelan. "Ganti dulu bajunya," ujar Fadhlan datar, ekspresi wajahnya mendadak berubah ketat.

​Syifa mengernyitkan dahi, menatap penampilannya sendiri di cermin. "Loh, kenapa? Jelek ya bajunya?"

​"Pakai warna yang lebih gelap. Jangan itu," timpal Fadhlan pendek, gurat kesal mulai membayang di wajah tegasnya.

​"Tapi ini kainnya tebal kok, Mas. Masih menutup aurat dengan baik, longgar, dan engga nerawang sama sekali kalau kena sinar matahari," protes Syifa membela pilihan bajunya.

​Fadhlan menatap istrinya lekat-lekat tanpa berkedip. 'Menutup aurat sih memang menutup aurat... tapi pakaian itu membuatmu terlihat sangat cantik dan bersinar, Syifa. Aku tidak rela kecantikanmu dan bentuk tubuh anggunmu itu menjadi pusat perhatian pria-pria lain di luar sana,' batin Fadhlan bergolak posesif.

​"Ganti warnanya... atau saya ikut keluar sekarang?" ancam Fadhlan memberi pilihan mutlak.

​Syifa tertegun sejenak, menatap binar mata suaminya yang tampak tidak ramah. Sedetik kemudian, seringai jahil justru muncul di bibir manis Syifa. Ia mulai mengerti jalan pikiran suaminya yang ternyata sedang cemburu. "Hmm... bilang aja kalau sebenarnya Mas Fadhlan cuma mau ikut jalan-jalan sama kita, kan?" tutur Syifa menebak tepat sasaran.

​Fadhlan berdeham kecil, mengalihkan pandangannya ke jendela luar untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Kenapa? Kamu merasa keberatan kalau suamimu sendiri ikut?"

​"Engga kok, siapa juga yang bilang keberatan? Ya sudah, ayo kalau mau ikut. Lagian anak-anak dan yang lain sudah nungguin di bawah," ajak Syifa riang. Tanpa ragu atau canggung lagi, Syifa langsung meraih telapak tangan kanan Fadhlan, menggenggam jemari suaminya itu erat-erat, lalu menariknya keluar kamar.

​Mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju lantai satu. Saking bersemangatnya ingin melihat deburan ombak sore, Syifa benar-benar lupa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Fadhlan, bahkan saat mereka sudah tiba di depan kerumunan sahabat dan keluarganya.

​"Ciyeee... ekhem! Pengantin baru mah beda ya, iya deh percaya... penginnya nempel terus kayak prangko," ledek Jihan yang pertama kali menyadari pemandangan tersebut, langsung bersedekap dada sambil tersenyum jahil.

​Om Andi yang sedang meminum kelapa muda ikut menyahut bersemangat, "Iya dong, harus makin lengket! Kan tiap malam ke depannya bakal sering begadang buat 'tugas malam'!"

​Wajah Syifa seketika memerah menyadari sindiran mereka. "Ih, pada kenapa sih Om sama Jihan! Yuk ah berangkat, katanya mau jalan-jalan sore menikmati pantai," seru Syifa mencoba mengalihkan topik dengan heboh.

​Adiba melangkah maju, berjalan beriringan di samping Syifa bersama Reyhan dan Tasya, lalu berbisik pelan di dekat telinganya. "Syif... sekarang karena sudah ada gandengan baru, kita-kita yang jomblo ini langsung dilupakan ya?"

​Mendengar bisikan Adiba, Syifa spontan melirik ke arah bawah, ke arah tangan kanannya yang ternyata masih mengunci erat jemari Fadhlan dengan sangat posesif.

​"Eh! Maaf, Mas..." ucap Syifa salah tingkah setengah mati. Ia dengan cepat melepaskan kaitan jemarinya dari tangan Fadhlan, menundukkan kepalanya karena malu yang luar biasa.

​Fadhlan yang tangannya mendadak terasa kosong hanya menatap Syifa datar, meskipun sudut bibirnya hampir saja berkedut membentuk senyuman. "Ayo jalan. Kamu mau tetap berdiri di situ dan ditinggal oleh mereka?" tanya Fadhlan dingin, lalu melenggang pergi berjalan lebih dulu di depan memimpin rombongan.

​Di balik punggung tegapnya yang berjalan menjauh, Fadhlan menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah luar biasa di dalam dadanya. Kejadian sederhana barusan, saat jemari Syifa menggenggamnya dengan penuh kesadaran dan kehangatan tanpa ia minta, rasanya bagai tetesan air hujan pertama yang turun di kala musim kemarau yang teramat panjang. Hujan yang seketika menyirami batin Fadhlan yang telah bertahun-tahun kering, layu, dan merindukan kehangatan serta kepemilikan cinta seutuhnya dari sosok gadis kecilnya itu.

...----------------...

Pengunjung di pantai sore itu lumayan ramai. Maklum, hari libur membuat kawasan pesisir dipadati manusia yang ingin rekreasi atau sekadar jalan-jalan sore. Di jalur setapak tepi pantai, Syifa and the genk berjalan di depan sembari menikmati angin laut, sementara Fadhlan berjalan di belakang bersama Aidan, dan Haikal.

​Tingkah lucu Jihan yang tiada hentinya melemparkan lelucon konyol berhasil membuat Adiba, Tasya dan Reyhan tertawa terpingkal-pingkal. Dari kejauhan, Aidan memperhatikan interaksi itu sebelum menyenggol lengan Fadhlan.

​"Lihat, Fad. Teman Syifa yang satu itu cocok rupanya kalau disandingkan dengan Haikal," ledek Aidan sembari menunjuk Jihan dengan dagunya.

​Haikal yang mendengar namanya dicatut langsung menoleh dengan wajah masam. "Hih! Ogah gue dapet cewek macam dia. Malu-maluin, berisik banget!" ketus Haikal tak terima.

​Fadhlan terkekeh pelan, melirik Haikal dengan tatapan penuh arti. "Hussh, jangan bilang begitu. Nanti bisa jadi jodoh betulan, baru tahu rasa kamu."

​Di barisan depan, Tasya dan Reyhan mendadak menghentikan langkah di depan sebuah outlet es krim. Mereka berdua berbalik dan mulai merengek manis pada Syifa.

​"Kak, es krim itu..." rengek Tasya menunjuk papan menu.

​"Iya, Kak, beliin kita dong. Segar banget kayaknya sore-sore begini," imbuh Reyhan dengan tatapan memelas.

​Syifa langsung berkacak pinggang, sengaja menggoda adik-adiknya. "Nggak mau! Kalian ya, nanti kalau sakit batuk, Kakak juga yang ditegur sama Ummi. Lagian kamu, Rey, sebentar lagi mau ujian. Kalau sakit gimana? Nggak ada es krim!"

​Reyhan memutar otaknya, lalu berbisik pada Tasya. "Ya sudah kalau Kak Syifa nggak mau beliin. Kita minta sama Kak Fadhlan aja. Yuk, Dek." Reyhan langsung menggandeng tangan Tasya, berbalik arah menghampiri Fadhlan yang berjalan beberapa meter di belakang mereka.

​"Kalian kenapa?" tanya Fadhlan kebingungan saat kedua adik iparnya tiba-tiba menghadang jalannya dengan wajah cemberut.

​"Kak Fadhlan... kita pengin es krim tapi nggak dibolehin sama Kak Syifa," ujar Tasya mulai mengeluarkan bakat aktingnya, memasang wajah seolah ingin menangis.

​"Iya, Kak Fadhlan. Kita juga lupa nggak bawa uang saku ke pantai, jadi..." Reyhan menambahkan dengan wajah super memelas sengaja dilirik-lirikkan ke arah Syifa yang tengah menonton dari kejauhan.

​Melihat kepolosan dan kelucuan adik-adik istrinya, runtuh sudah ketegasan Fadhlan. "Sudah, tidak usah merajuk. Kak Fadhlan yang bayar semuanya."

​"Beneran, Kak? Yeay! Kita makan es krim, Dek!" seru Reyhan kegirangan, langsung melakukan high-five dengan Tasya.

​"Hehe... terima kasih, Kak Fadhlan ganteng!" puji Tasya tulus.

​Fadhlan mengangguk sambil tersenyum. Namun, bukan hanya Reyhan dan Tasya yang berlari kencang ke arah outlet, Aidan dan Haikal yang berjiwa pemburu gratisan pun tidak mau kalah berbaris di antrean.

​"Huh! Mengadu lah itu sama kakak iparnya. Dasar bocah!" cibir Syifa berbisik kesal, melihat adik-adiknya berkhianat dalam sekejap.

​Jihan dan Adiba yang melihat rombongan pria berjalan ke arah kedai es krim langsung melebarkan matanya. "Eh, ditraktir es krim tuh, Diba! Yuk, kita ke sana juga. Lumayan menghemat dompet jomblo," ajak Jihan bersemangat.

​"Yuk, Jihan!" sambut Adiba setuju.

​"Eh... eh! Kalian kenapa malah ikutan sih?" panggil Syifa, namun Jihan dan Adiba mengabaikannya demi es krim gratis.

...****************...

1
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!