kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2.
#Pada tahun 2006*🥀
Langit sore itu mendung dan disebuah desa hidup sebuah keluarga yang bernama samsul dan sitoh, mereka mempunyai 4 orang anak perempuan dan usaha yang dijalankan pak samsul adalah toko kelontong, tapi warung Samsul tetap selalu sepi, sementara diseberang jalan toko sumber rezeki milik pak Safri masih ramai.
Samsul membersihkan rak yang berdebu, gerahamnya mengeras dan tangannya mengepal sambil memegang kemoceng dan dia berpikir, sama-sama buka toko kelontong, sama-sama jual beras, minyak, dan barang lainnya, tapi kenapa berbeda.
Sorenya Sitoh menghampiri samsul, "bang....! sudah magrib, tutup aja". Pak samsul tidak menyahut dan masih menatap toko pak Safri yang ada diseberang jalan.
"Orang itu pakai apa ya....? kenapa selalu bisa ramai". Guman pak samsul,"tidak mungkin bisa selalu ramai kalau tidak memakai apa-apa". Sitoh yang mendengar gumaman suaminya langsung kaget.
"Abang jangan ngomong seperti itu, rezeki sudah ada yang ngatur". tapi kata-kata Sitoh tidak didengarkan suaminya.
Semakin hari dagangan Wak Safri semakin maju dan usaha Pak Samsul semakin merosot dan saat itulah timbul juga rasa iri hati pada sitoh karena melihat kesuksesan pak safri. malam harinya Samsul tidak bisa tidur, dengki itu seperti api semakin didiamkan semakin besar.
Besoknya Samsul dan sitoh pergi ke sebuah perkampungan yang jarang di datangi orang-orang dan disebuah pelosok ada sebuah bangunan tua, tinggallah Mbah Jaka yang terkenal menjadi dukun atau orang pintar.
"Ada keperluan apa kau kesini" karena dendamnya sudah mendarah daging, dia menatap mata Mbah Jaka lurus-lurus dan tangan kanannya mengepal dilutut.
"mbah....! saya Samsul dan ini istri saya Sitoh, saya kesini mau minta kaya". Samsul maju sedikit dan suaranya makin pelan tapi dalam."toko saya sepi Mbah, tetangga saya safri laris bukan main, saya tidak terima dan setiap melihatnya dada saya seperti terbakar". Dia menunduk dan menambahi." saya mau dia jatuh wak, biar tokonya sepi, biar dia merasakan susah seperti saya, asal safri hancur dan saya baru merasakan puas.
Mbah Jaka terdiam cukup lama."dengar?" kata Mbah Jaka."dengki dan hutang nyawa, kau tau kan.... sul! resikonya, didunia ini tidak ada yang gratis kalau sudah main dengan yang dibawah tanah".
Tampa berpikir dua kali." saya siap mbah dengan segala resikonya".
Kalau itu maumu, kita mulai akadnya malam ini juga".
Setelah samsul ngucapin tujuannya, gubuk itu menjadi senyap, hanya ada suara jangkrik sama air tempayan yang diputar Mbah Jaka pakai jari. Mbah Jaka mengunyah sirihnya terus cuh dan sirihnya menyembur kelantai tanah merah.
."Duduk kalian berdua dan hadapkan pada tempayan".
Mbah jaka menyeret kain mori putih dari sudut gubuk, dibentangkan didepan mereka lalu dikeluarkan tiga barang, paku karatan, tanah kuburan, sama foto pak Safri yang sudah sobek ujungnya
"Pejamkan mata". Perintah mbah Jaka."sebut nama dia 7 kali, lalu kalian tiup tempayan ini bersama-sama dan jangan berhenti sebelum saya bilang cukup". Samsul melirik sitoh dan sitoh hanya mengangguk takut, karena dendam lebih besar dari rasa takut, dia melawan rasa takut itu.
Samsul dan sitoh menunduk ke tempayan air hitam dan mencium bau busuk menyengat sampai ke hidung dan air itu beriak padahal tidak ada angin.
Note:cerita ini dibuat Tampa ada menyinggung orang lain dan cerita ini adalah pengalaman hidup seseorang yang bersekutu dengan jin