"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANCURAN SANG MATA BIRU
Suasana di halaman tengah Pondok Hikmah mendadak berubah menjadi panggung penghakiman yang sangat kejam.
Matahari siang yang terik seolah ikut membakar emosi ratusan santri dan warga yang berkumpul. Yusuf berdiri di tengah kerumunan dengan dada membusung, seolah-olah ia adalah pahlawan yang baru saja menyingkap tabir kegelapan.
“Lihatlah! Inikah sosok yang kalian cium tangannya setiap hari?” teriak Yusuf sambil menunjuk wajah Rasyid dengan botol kecil di tangannya.
“Seorang Kyai yang menjual masa depan santrinya demi kemewahan pribadi! Uang dari racun ini, dia gunakan untuk menjilat kekaisaran Turki demi istrinya yang mantan pelacur itu!”
Suara riuh makian mulai terdengar. “Biadab!” “Pengkhianat!” “Usir mereka dari tanah suci ini!”
Shanum berdiri di depan Rasyid, mencoba menahan dorongan massa yang mulai beringas. Tangannya merentang lebar, melindungi suaminya yang masih mematung.
“Berhenti! Ini fitnah! Suamiku tidak mungkin menyentuh barang haram itu!” teriak Shanum, namun suaranya tenggelam dalam gelombang caci maki.
Seorang warga melempar segenggam tanah ke arah mereka, mengenai bahu Shanum. “Diam kau, Putri pembawa sial! Sejak kau datang, pesantren ini hanya ditimpa musibah!”
Yusuf melangkah mendekati Rasyid. Ia membungkuk sedikit, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Rasyid dengan nada yang sangat berbisa. “Bagaimana rasanya, Kyai? Melihat dunia yang kau bangun dengan sorban suci itu runtuh karena rahasia busuk ayahmu sendiri? Kau tidak punya hak untuk bicara tentang kebenaran sekarang.”
Rasyid tersentak. Tubuhnya bergetar hebat. Tatapannya yang tadi kosong kini mulai berair, namun ia tetap bungkam.
Di kepalanya, bayangan surat lama yang ia temukan di atas sajadah masjid tadi terus berputar. Surat dengan stempel pribadi almarhum ayahnya yang mengakui sebuah dosa besar lima belas tahun lalu.
“Rasyid!” suara Abah pengurus besar menggelegar, penuh kekecewaan yang mendalam. “Bicaralah! Jika ini fitnah, katakan! Jangan biarkan marwah kakekmu hancur karena diammu!”
Rasyid mendongak perlahan. Matanya yang biru bertemu dengan mata Abah, lalu beralih pada Shanum yang sedang menangis sambil terus melindunginya.
Rasyid membuka mulutnya, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia merasa lidahnya kelu. Setiap kali ia ingin membela diri, bayangan bahwa ayahnya—sosok yang ia puja—ternyata adalah orang yang membuang Shanum ke rumah bordil, membuatnya merasa menjadi pria paling kotor di dunia.
Ia merasa tidak pantas lagi berdiri sebagai pemimpin di sana.
“Dia tidak bisa menjawab, Abah! Karena diam adalah pengakuan!” seru Yusuf kembali memprovokasi.
Ia menunjukkan rekaman video di tabletnya sekali lagi, menyoroti kulit albino Rasyid yang sedang bertransaksi di sudut gelap. “Ciri fisik ini tidak bisa dibantah! Hanya ada satu orang albino di sini!”
Massa mulai tidak terkendali. Beberapa pengurus pesantren yang terhasut mulai menarik paksa Shanum agar menjauh dari Rasyid.
“Lepaskan aku! Mas Rasyid, bicara! Tolong katakan sesuatu!” jerit Shanum histeris saat tubuhnya diseret menjauh.
Abah menghembuskan napas berat, matanya terpejam sejenak menahan pedih.
“Karena Kyai Rasyid tidak mampu memberikan pembelaan, demi keamanan dan ketertiban, kurung Rasyid di gudang bawah tanah kediaman lama. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali pengurus inti. Besok pagi, kita serahkan dia ke pihak berwajib jika bukti ini sah.”
Rasyid tidak melawan saat beberapa santri senior menyeretnya. Ia melangkah dengan kepala tertunduk, membiarkan martabatnya diinjak-injak di tanahnya sendiri.
Malam harinya, kegelapan gudang bawah tanah terasa begitu mencekam. Hanya ada satu celah udara kecil di atas sana. Rasyid terduduk bersimpuh di sudut ruangan yang dingin dan lembap, air matanya akhirnya luruh dalam kesunyian.
Pintu kayu tua itu berderit terbuka. Shanum masuk dengan napas tersengal, wajahnya kusam dan rambutnya sedikit berantakan akibat kericuhan tadi siang. Ia berlari ke arah Rasyid, mengguncang bahu suaminya dengan kuat.
“Mas! Kenapa kamu diam?!” tangis Shanum pecah, suaranya parau karena terlalu banyak berteriak.
“Aku tahu video itu palsu! Aku tahu itu bukan kamu! Kenapa kamu membiarkan Yusuf menang?! Katakan sesuatu, Mas! Jangan buat aku gila!”
Rasyid perlahan mengangkat kepalanya. Di bawah temaram cahaya lampu minyak, matanya yang biru tampak sangat redup dan penuh luka. Ia meraih tangan Shanum, menggenggamnya dengan jemari yang gemetar.
“Shanum...” bisik Rasyid dengan suara yang hampir habis. “Bagaimana aku bisa bicara tentang kebenaran... jika aku baru tahu bahwa seluruh hidupku dibangun di atas penderitaanmu?”
Shanum terpaku. “Apa maksudmu?”
Rasyid menarik napas panjang yang terasa menyakitkan di dadanya. “Surat itu... surat yang ditinggalkan Yusuf di sajadahku. Shanum, ayahku bukan orang suci yang kita kira. Dialah yang membiarkanmu dibuang ke rumah bordil lima belas tahun lalu demi melindungi rahasia besar pesantren ini. Aku... aku adalah anak dari pria yang menghancurkan hidupmu.”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Shanum. Keheningan yang mengerikan menyelimuti gudang bawah tanah itu, menyisakan isak tangis Rasyid yang pecah dalam penyesalan yang teramat dalam.
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..