NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Lahir Kembali

Enam bulan kemudian.

Kampus normal. KKN diganti jadi KKP, Kuliah Kerja Praktik. Nama Desa Larangan dihapus dari semua peta administrasi. Di Google Maps, koordinatnya cuma tanah kosong. Jalan setapak yg dulu kita lewati, sekarang ditumbuhi alang-alang setinggi dada.

Kami berempat lulus. Rendi, Bayu, Dina, Fajar. Pake toga, foto di depan rektorat. Tapi di tengah foto, ada bangku kosong. Bangku Sinta. Di atasnya, Dina naruh satu genggam bunga melati. Melati putih yg kita petik dari pantai pas nyebar abu Sinta.

Abunya... aneh. Tidak terbang kebawa angin. Abunya muter dulu di atas ombak, ngebentuk kayak orang melambai, baru jatuh ke laut. Setelah itu, laut yg tadinya pasang langsung surut. Tenang.

Paklik Joyo... hilang. Rumahnya di kota, yg kita pake buat ritual purnama, kosong seminggu setelah kejadian. Pintu tidak dikunci. Di meja ruang tamu, ada surat ditulis tangan. Tinta hitam, kertasnya bau menyan.

“Le, Nduk.

Tugasku rampung. Utange leluhurku, Lestari, wis lunas. Gerbang ditutup. Mbak Dewi, Ardi, Kuncen pertama, kabeh wis mulih.

Jaga taringe Asu Kober. Ben wiji nyawane Sinta aman.

10 tahun meneh, neng Solo, RS Brayat Minulya, bakal ono bayi wedok lahir pas purnama 22 April jam 00.00. Jenenge Laras Sinta. Matane, siji coklat, sijine ono semu abange.

Golekana. Jaga.

Aku pamit. Arep nyusul Mbak Dewi.

Paklik Joyo”

Gue simpen surat itu di dompet. Bareng KTP. Taring Asu Kober gue tanem di pot bunga kamboja depan kos. Ukirannya lonceng kecil sekarang kadang nyala sendiri pas purnama. Nyala biru, adem.

Hidup jalan. Normal. Terlalu normal sampe kadang bikin merinding.

Rendi balik ke Tegal. Buka bengkel sama bapaknya. Bekas cakaran di kakinya udah jadi tato garis putih empat biji. Katanya, tiap malem Jumat Kliwon, bekas itu gatel. Dan dia selalu mimpi jadi anjing yg jagain rumah. Tapi dia seneng. “Kayak Asu Kober nitip pesan: jagain Sinta nanti.”

Bayu kerja di bank. Jadi CS. Dia yg paling cepet move on. Atau paling pinter nyembunyiin. Cuma sekali dia telfon gue jam 3 pagi, nangis. “Min, gue kangen becandaan Sinta. Kangen dia ngomel kalo gue telat.” Setelah itu dia normal lagi.

Dina ambil S2 Psikologi. Dia bilang mau riset tentang trauma kolektif akibat kejadian supranatural. Judul skripsinya: “Manifestasi Folklor sebagai Mekanisme Koping dalam Komunitas Pascabencana”. Keren. Tapi gue tau, dia lakuin itu buat nyari jawaban. Kenapa kami yg dipilih. Kenapa Sinta. Tiap dia presentasi, matanya selalu lihat ke bangku kosong.

Fajar? Dia yg paling berubah. Dari yg penakut, sekarang dia daftar polisi. Lolos. Sekarang dinas di Polsek Solo. Katanya, “Biar deket. Kalau Laras Sinta lahir, gue yg jaga pertama.” Dia taruh foto kami berlima di dompetnya. Foto KKN hari pertama. Sinta di tengah, senyum lebar.

Gue sendiri kerja freelance. Nulis. Horor, tentu saja. Tapi semua cerita gue happy ending. Semua tumbal bisa pulang. Semua utang bisa lunas. Pembaca bilang tulisan gue “menyembuhkan”. Mereka tidak tau, gue nulis itu buat nyembuhin diri sendiri.

Enam bulan tanpa teror. Tidak ada notifikasi aneh. Tidak ada suara kenong jam 3 pagi. Tidak ada bau anyir. HP kami bersih. Nama Ardi, Mbak Dewi, Desa Larangan, semua hilang dari digital. Kayak mereka tidak pernah ada.

Sampai suatu malam.

Jam 00.00 pas. Tepat 6 bulan setelah purnama tebusa.

HP gue bunyi. Notifikasi kalender.

Gue kaget. Jantung mau copot. Gue kira Ardi balik.

Tapi isinya beda.

“Pengingat: 9 Tahun 6 Bulan Lagi.”

Di bawahnya ada countdown. Angka putih, bukan merah.

9:06:00:00:00

9 tahun, 6 bulan, 0 hari, 0 jam, 0 menit, 0 detik.

Dan di bawahnya lagi, ada satu titik. Titik GPS.

Jari gue gemeter mencetnya.

Google Maps kebuka. Loading.

Lokasi: Solo. Jl. Veteran. RS Brayat Minulya. Kamar Bersalin No. 3.

Rumah sakit. Tempat orang lahir.

Gue screenshot. Tangan dingin. Gue kirim ke grup WA. Grup namanya masih “KKN Neraka”. Isinya tinggal kami berempat.

Gue:

Satu menit, tidak ada yg bales. Gue tau mereka semua kebangun. Pasti liat notif jam 12 malem.

Satu menit kemudian.

Rendi: Anjir.

Bayu: Dia ngasih tau.

Dina: 9 tahun lagi. Kita umur 32.

Fajar: Gue kan dinas Solo. Posisiku standby.

Rendi: Utange lunas, Min. Saiki giliran kita... njaga utang anyar.

Utang anyar. Utang jaga Sinta sampe gede. Utang nebus hidup kedua dia.

Malam itu gue tidak bisa tidur. Gue keluar kos, nyiram bunga kamboja. Taring Asu Kober di dalam pot... nyala. Biru. Terang. Terus dari tanah, tumbuh tunas baru. Cepet banget. Dalam semenit, tunas itu jadi kuncup. Kuncup melati.

Terus mekar. Mekar sempurna jam 00.00 lewat 1 menit.

Gue metik. Gue cium. Wanginya... wangi Sinta. Wangi shampo dia yg melati.

Malam itu juga gue mimpi.

Mimpiin pantai. Pantai tempat kami nyebar abu. Langitnya jingga, senja.

Ada anak kecil. Perempuan. Umur 5 tahunan. Pake kebaya putih. Rambutnya panjang, digerai. Dia lari-lari ngejar ombak. Ketawa. Suaranya... suara Sinta.

“Sinta!” gue panggil dalam mimpi.

Dia noleh. Senyum. Matanya... satu coklat, satu lagi ada semburat merah. Kayak bara kecil.

Dia lari ke arah gue. Mau meluk.

Tapi di belakangnya, ada 4 bayangan. Berdiri di batas air. Tidak ikut maju. Cuma jagain.

Ardi. Kaos KKN bersih. Lambaian.

Mbak Dewi. Kebaya putih. Senyum.

Lestari. Baju SMA. Anggukan.

Asu Kober. Bentuk anjing gede, item, tapi auranya tenang. Duduk, lidahnya melet.

Mereka tidak ngomong. Cuma senyum. Kayak bilang, “Udah. Tugas kami selesai. Sekarang giliranmu.”

Gue bangun. Jam 4 pagi. Adzan Subuh. Pipi basah. Nangis. Tapi dada... lega. Plong. Kayak beban 50 tahun diangkat.

*9 TAHUN KEMUDIAN.*

22 April 2035. Purnama.

Langit Solo cerah. Bintang banyak. Bulan bulet sempurna. Tidak serem. Indah.

RS Brayat Minulya rame. IGD penuh. Tapi lantai 2, bagian bersalin, hening. Khusyuk.

Kami berempat ada di sana. Umur 32 tahun. Udah bapak-bapak semua. Rendi gendut, punya bengkel cabang 3. Bayu udah kepala cabang bank. Dina buka praktek, udah Dr. Fajar udah Aiptu, reserse.

Gue? Gue udah punya penerbit sendiri. Spesialis novel horor. Bestseller. Judul paling laku: “KKN Desa Larangan”. Fiksi, kataku ke wartawan. Mereka percaya.

Kami berdiri di depan kaca Kamar Bersalin No. 3. Bawa bunga. Melati semua. Satu ember.

Di dalam, ada perempuan teriak. Ngejan. Suaminya pegangin tangan.

Dokter: “Satu lagi, Bu! Sedikit lagi! Kepalanya udah keliatan!”

Jam 23.59.

Kami berlima, iya berlima, karena Paklik Joyo... ada. Tiba-tiba ada di sebelah gue. Pake beskap, udah tua banget, tapi senyum. Tidak ada yg kaget. Kayak dia emang dari tadi di situ.

“Wayahe, Le,” bisiknya.

Jam 00.00.

Oek... oek... oek...

Suara nangis bayi. Kenceng. Melengking. Tapi nadanya... nadanya kayak Lelo Ledung. Cuma satu bait. Terus ganti jadi nangis bayi normal.

Suster keluar. Capek tapi senyum. “Selamat, Pak, Bu. Bayinya perempuan. Sehat. Cantik. BB 3.1 kg, PB 49 cm. Lahir pas jam 12 malam pas.”

Dia nunjuk ke kami. “Keluarga bapak?”

Fajar nunjukin KTA Polisi. “Iya, Sus. Kami... om-omnya.”

Suster ketawa. “Om-nya banyak amat. Monggo dilihat dari kaca dulu.”

Kami nempel ke kaca.

Di dalam, suster lagi bersihin bayi. Dibedong kain putih.

Bayinya diem. Tidak nangis lagi. Matanya melek. Langsung melek.

Dia liat keliling. Kayak nyari.

Terus matanya ketemu mata gue.

Diem.

Satu detik.

Terus... senyum.

Senyum Sinta. Senyum yg sama pas dia bilang “Makasih, Min... utange... lunas...” sebelum mati.

Matanya... satu coklat bulat, satu lagi... ada semburat merah di tengahnya. Kayak bara api kecil. Tidak nyala. Tapi ada.

Nama di gelang kaki bayi: LARAS SINTA PUTRI.

Paklik Joyo nepuk pundak gue. Badannya dingin. Badannya... transparan.

“Titip, Le. Utang anyar. Jaga sampe gede. Ajarin dia... kebaikan. Ben rantene kutukan... pedot sak kabehe.”

Ben rantainya kutukan... putus semuanya.

Setelah ngomong itu, Paklik Joyo hilang. Jadi asep. Asep melati. Hilang ditelan AC rumah sakit.

Rendi nangis. Bayu nangis. Dina nangis. Fajar salaman sama gue, tangannya gemeter.

Gue? Gue cuma bisa nempelin tangan ke kaca.

Laras Sinta ngeliat tangan gue. Dia gerakin tangan kecilnya. Kayak mau nempel juga.

Di luar RS, tidak ada mendung. Tidak ada suara kenong. Tidak ada bau anyir.

Cuma ada suara adzan Subuh dari masjid depan RS. Adem. Damai.

Gending Kebo Giro udah tidak bunyi lagi. Gantinya, Lelo Ledung. Tapi liriknya beda.

“Nduk, anakku... turu’o... lelo lelo ledung... Bapak jagamu...”

Gending penenang. Gending pengantar tidur. Bukan gending tumbal.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!