NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Suasana di teras rumah besar itu mendadak membeku sesaat setelah mobil Xena melesat hilang dari pandangan.

Ayah Prabu masih berdiri mematung, menatap gerbang yang tertutup dengan perasaan tidak enak yang mengganjal di dadanya.

Ia menoleh ke arah putranya. Prabu masih berdiri di tempat yang sama, namun tubuhnya gemetar hebat.

Tangannya mengepal, dan matanya merah, bukan hanya karena kelelahan, tapi karena badai penyesalan yang mulai mengamuk di dalam dirinya.

"Prabu," panggil Ayahnya dengan suara berat.

"Apa yang terjadi pada Xena? Kenapa dia tiba-tiba menyerah dan pergi dengan wajah tertutup masker seperti itu?"

Prabu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, air mata mulai menetes membasahi aspal teras.

"Jawab Ayah, Prabu! Apa yang terjadi di pantai?!" bentak Ayahnya, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Prabu mengangkat wajahnya yang hancur. Suaranya pecah saat ia akhirnya mengakui segalanya.

"Xena.... Dia mengatakan kalau Ibu Nia memeras Ayah. Dia bilang Ibu Tryas hanya memanfaatkan rasa bersalahku untuk meminta uang ganti rugi nyawa anaknya..."

Prabu menjeda kalimatnya, napasnya tersengal. "Aku tidak terima, Yah. Aku marah, aku tidak percaya padanya. Dan, aku langsung menghajarnya."

Duar!

Kalimat itu seperti petir yang menyambar di tengah cuaca cerah.

"Astaghfirullah, Prabu!!"

Ayah Prabu berteriak, mundur selangkah seolah tidak percaya bahwa pria di depannya ini adalah darah dagingnya sendiri.

"Apa yang kamu lakukan, Nak?! Kamu memukul istrimu?!"

"Aku khilaf, Yah! Aku hanya ingin membela nama baik Tryas!" raung Prabu putus asa.

"Bela nama baik siapa?!"

Ayah Prabu merangsek maju, wajahnya memerah karena amarah yang luar biasa.

"Yang dikatakan oleh istrimu itu benar, Prabu! Semuanya benar!"

Ayah Prabu segera masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru, diikuti Prabu yang merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.

Ayah menuju ruang kerjanya, mengacak-acak laci meja dan mengeluarkan sebuah map cokelat yang tebal.

Ia melemparkan map itu ke atas meja di depan Prabu.

Isinya berhamburan—lembar-lembar bukti transfer bank dengan nominal puluhan juta rupiah, serta tangkapan layar pesan singkat yang penuh ancaman dan kata-kata kasar dari Ibu Nia.

"Lihat ini! Baca sendiri!" teriak Ayahnya.

"Ini bukti transfer yang diminta Ibu Tryas setiap bulan! Dia mengancam akan melaporkanmu ke otoritas penerbangan agar lisensimu dicabut selamanya jika Ayah tidak mengirimkan uang! Dia menggunakan kematian anaknya untuk memeras keluarga kita!"

Prabu membaca lembar demi lembar dengan tangan yang bergetar hebat.

Matanya membelalak melihat tanggal-tanggal pengiriman uang yang dimulai bahkan sejak bulan pertama Tryas meninggal.

Kata-kata Ibu Nia di dalam pesan singkat itu begitu dingin, jauh dari sosok ibu yang berduka yang selama ini ia bayangkan.

"Ayah merahasiakan ini karena Ayah tidak ingin kamu semakin terpuruk, Prabu! Kami menanggung hinaannya setiap hari agar kamu bisa fokus sembuh!"

Ayah Prabu menunjuk wajah putranya dengan jari yang gemetar.

"Tapi apa balasanmu? Kamu menghajar istrimu? Wanita yang selama sepuluh tahun ini mencintaimu dalam diam, wanita yang rela dihina demi mengobatimu. Kamu pukul dia hanya untuk membela orang yang memeras keluargamu?!"

Ayah Prabu mencengkeram kerah baju Prabu, mengguncangnya dengan keras.

"Kamu sudah gila, Prabu! Kamu benar-benar sudah gila! Xena adalah satu-satunya orang yang masih berdiri di sampingmu saat semua orang menganggapmu gila, dan sekarang kamu sendiri yang mengusirnya dengan tanganmu yang kasar itu!"

Prabu jatuh terduduk di lantai ruang kerja yang dingin.

Map cokelat itu berserakan di sekelilingnya, menelanjangi kebodohannya yang paling nyata.

Ia teringat wajah Xena yang bersimbah darah di pantai, dan ia teringat suara Xena yang lirih mengatakan, "Jahat kamu, Pra..."

Dunia Prabu runtuh. Berhala yang ia puja selama ini ternyata hanyalah racun, sementara permata yang ia miliki telah ia hancurkan hingga pecah berkeping-keping.

Prabu masih bersimpuh di lantai ruang kerja, dikelilingi bukti transfer yang menunjukkan betapa rakusnya keluarga Tryas. Namun, Ayahnya belum selesai. Pria tua itu menatap putranya dengan tatapan yang kini lebih banyak berisi rasa iba yang pahit.

"Satu lagi nak, asal kamu tahu," suara Ayah Prabu terdengar rendah, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat.

"Selama ini kamu memuja orang yang salah. Tryas meninggal dunia kecelakaan bersama selingkuhannya."

Prabu tersentak dan mendongak dengan mata membelalak, wajahnya pias seketika.

"Engga! Ayah bohong! Ayah pasti sengaja bicara begitu supaya aku benci dia!"

"Untuk apa Ayah berbohong soal kematian?" sela Ayah dengan nada pedih.

"Selama kamu terbang, selama kamu berjuang di kokpit demi masa depan kalian, dia selalu jalan dengan selingkuhannya. Lelaki yang ada di dalam mobil bersamanya saat kecelakaan itu terjadi bukanlah teman biasa, Prabu. Itu adalah simpanannya."

Prabu menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan dari Ayahnya.

"Nggak mungkin! Tryas sayang sama aku! Dia nunggu aku pulang setiap kali aku terbang!"

Melihat putranya yang masih terjebak dalam penyangkalan, Ibu Prabu melangkah maju.

Dari balik saku gamisnya, ia mengeluarkan sebuah amplop kecil berisi beberapa lembar foto hasil cetakan kamera pengawas dan laporan detektif swasta yang selama ini mereka simpan rapat-rapat.

"Lihat ini, Prabu," ucap Ibu dengan suara bergetar.

Ibu menunjukkan foto-foto itu satu per satu di depan mata Prabu.

Di sana, terlihat jelas sosok Tryas yang sedang tertawa bahagia, merangkul mesra seorang lelaki di sebuah kafe, hingga foto mereka yang masuk ke dalam mobil yang sama di malam kecelakaan itu terjadi.

Tidak ada keraguan, kemesraan itu bukanlah sesuatu yang bisa dibantah dengan alasan 'hanya teman'.

"Ayah dan Ibu menyembunyikan ini karena kami tidak ingin kamu mati karena patah hati saat itu. Kami ingin kamu punya alasan untuk bertahan hidup, meski itu berarti kami harus melihatmu memuja bayangannya," Ibu Prabu mulai terisak.

"Tapi sekarang Ayah tidak bisa diam lagi," Ayah menyambung dengan tegas.

"Kamu sudah menghancurkan Xena—wanita suci yang tulus mencintaimu—hanya untuk membela wanita yang bahkan tidak pernah setia padamu saat dia masih bernapas."

Prabu meraih foto-foto itu dengan tangan yang gemetar hebat.

Ia menatap wajah Tryas di foto itu, lalu teringat wajah Xena yang hancur akibat pukulannya di pantai tadi.

Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas.

Selama ini, ia hidup dalam ilusi. Ia menyiksa dirinya sendiri, menyiksa orang tuanya, dan yang paling parah, ia telah menyiksa Xena demi sebuah kesetiaan yang ternyata hanya dikhianati.

"Aku, sudah melakukan apa pada Xena?" gumam Prabu lirih.

Suaranya kini bukan lagi amarah, melainkan kehancuran total.

Ia teringat bagaimana ia memukul Xena, menghinanya dengan sebutan 'murahan', padahal kenyataannya, dialah yang selama ini tertipu oleh cinta yang murahan.

Prabu meremas foto-foto itu, lalu meraung sekeras-kerasnya di lantai.

Ia baru saja menyadari bahwa ia telah membuang berlian demi segenggam kerikil yang beracun. Dan sekarang, berlian itu telah pergi, meninggalkan dirinya yang sendirian dalam kehampaan yang tak berujung.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!