NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Sabtu pagi, pukul delapan, Wahyu sudah berdiri di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gedung berwarna putih itu menjulang tinggi dengan pilar-pilar besar yang memberikan kesan megah sekaligus menyeramkan—setidaknya bagi Wahyu.

Dia tidak pernah menyukai tempat ini.

Terlalu banyak memori buruk. Terlalu banyak harapan yang runtuh. Terlalu banyak janji "keadilan akan datang" yang tidak pernah benar-benar terwujud.

Wahyu berjalan memasuki area pengadilan. Beberapa orang sudah berkumpul di lobi—pengacara dengan jas hitam, saksi dengan wajah tegang, keluarga terdakwa yang menunggu dengan cemas.

Dia menemukan ayahnya duduk di bangku panjang dekat pintu ruang sidang nomor tiga. Pak Aditama—ayah Wahyu—terlihat lebih kurus dari terakhir kali Wahyu melihatnya sebulan lalu. Wajahnya pucat, kerutan di dahinya semakin dalam, rambut yang dulunya hitam legam kini mulai memutih di pelipis.

Di samping ayahnya, duduk Ibu Wahyu—Bu Sari—dengan wajah yang tidak kalah lelah. Dia mengenakan jilbab cokelat muda dan baju gamis sederhana. Tangannya menggenggam tas kain lusuh yang sudah bertahun-tahun menemaninya ke pengadilan.

"Yu," Ibu Wahyu melihatnya lebih dulu. Dia berdiri, langsung memeluk Wahyu.

Wahyu membalas pelukan ibunya—hangat, tapi singkat. "Maaf, Bu, tadi macet."

"Tidak apa-apa. Sidang belum mulai kok." Ibu Wahyu tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Ayah Wahyu mengangkat kepala. "Wahyu, kamu sudah sarapan?"

"Sudah, Pak."

Bohong. Wahyu tidak sempat sarapan—bangun kesiangan karena tadi malam begadang menyelesaikan translation project. Tapi dia tidak mau membuat orang tuanya khawatir.

"Syukurlah." Ayahnya mengangguk pelan.

Mereka duduk bersama dalam keheningan. Wahyu menatap lantai keramik yang mengkilap, mendengarkan suara langkah kaki orang-orang yang lalu-lalang, suara obrolan samar di kejauhan.

Beberapa menit kemudian, pengacara mereka datang—Pak Hendra, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan jas hitam yang sedikit kusut. Dia membawa koper dokumen besar yang terlihat berat.

"Selamat pagi, Pak Aditama, Bu Sari, Wahyu." Pak Hendra menyalami mereka satu per satu.

"Pagi, Pak," Ayah Wahyu menjawab. "Bagaimana... prospeknya hari ini?"

Pak Hendra duduk, membuka kopernya, mengeluarkan beberapa berkas. "Hari ini kita akan mendengar kesaksian dari auditor independen yang kita rekrut. Mereka sudah melakukan audit ulang terhadap aliran dana yang dituduhkan kepada Bapak. Dan hasilnya... menguntungkan kita."

Mata Ayah Wahyu berbinar sedikit—sesuatu yang jarang Wahyu lihat akhir-akhir ini. "Jadi... ada harapan?"

"Selalu ada harapan, Pak. Tapi kita harus tetap realistis. Pihak perusahaan pasti akan counter dengan dalih mereka sendiri. Tapi setidaknya, kita punya bukti kuat bahwa dana itu tidak masuk ke rekening Bapak."

"Lalu ke mana dana itu?" Ibu Wahyu bertanya.

"Ke rekening vendor subkontraktor—PT Jaya Abadi. Dan vendor itu... sekarang sudah tidak bisa dilacak. Mereka menghilang."

Wahyu mengepalkan tangannya. Vendor itu yang seharusnya duduk di kursi terdakwa. Bukan ayahnya. Tapi entah bagaimana, ayahnya yang jadi kambing hitam.

"Kita sudah mengajukan permintaan kepada jaksa untuk melacak pemilik PT Jaya Abadi," Pak Hendra melanjutkan. "Tapi prosesnya lambat. Sangat lambat."

Lambat.

Kata itu lagi.

Delapan tahun, dan kata yang selalu muncul adalah "lambat".

Wahyu menatap ayahnya. Pria yang dulu kuat, yang dulu selalu tersenyum, yang dulu menjadi panutannya—sekarang hanya bayangan dari dirinya yang dulu.

"Pak Hendra," Wahyu bersuara. "Berapa lama lagi kira-kira sampai ada putusan final?"

Pak Hendra menatap Wahyu dengan tatapan simpati. "Sulit diprediksi, Wahyu. Tapi kalau semua berjalan lancar... mungkin satu sampai dua tahun lagi."

Satu sampai dua tahun.

Wahyu menundukkan kepala. Berarti total sepuluh tahun. Satu dekade.

Satu dekade hidup keluarganya hancur.

Sidang dimulai pukul sembilan lewat lima belas menit. Mereka masuk ke ruang sidang—ruangan yang sudah sangat familiar bagi Wahyu. Meja hakim di depan, meja jaksa di kiri, meja pengacara di kanan, bangku penonton di belakang.

Wahyu duduk di bangku penonton bersama ibunya. Ayahnya duduk di meja terdakwa bersama Pak Hendra.

Hakim masuk—seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas. Semua orang berdiri, lalu duduk kembali setelah hakim duduk.

Sidang dibuka. Jaksa membacakan dakwaan—tuduhan yang sama, yang sudah Wahyu dengar puluhan kali.

"...terdakwa Aditama Setiawan diduga melakukan tindak pidana penggelapan dana perusahaan sebesar dua miliar rupiah..."

Wahyu mendengar dengan wajah datar. Tangannya terkepal di pangkuan.

Lalu giliran saksi ahli—auditor independen—dipanggil. Seorang pria berkacamata dengan jas rapi naik ke mimbar saksi. Dia bersumpah, lalu mulai memaparkan hasil audit.

"Berdasarkan audit yang kami lakukan terhadap aliran dana perusahaan periode 2018-2019, kami menemukan bahwa dana sebesar dua miliar rupiah yang dimaksud dalam dakwaan ini tidak masuk ke rekening pribadi Terdakwa, melainkan ke rekening atas nama PT Jaya Abadi, sebuah vendor subkontraktor yang ditunjuk oleh manajemen perusahaan."

Murmur kecil terdengar dari bangku penonton.

Jaksa mengangkat tangan. "Tapi bukankah Terdakwa, sebagai Manager Logistik, bertanggung jawab atas pemilihan vendor?"

Auditor menggeleng. "Menurut dokumen yang kami temukan, pemilihan vendor dilakukan oleh Direktur Operasional saat itu, bukan oleh Terdakwa. Terdakwa hanya menjalankan instruksi."

Jaksa terlihat tidak puas, tapi tidak bisa membantah dengan data yang jelas.

Pak Hendra berdiri. "Yang Mulia, ini membuktikan bahwa klien kami tidak terlibat dalam penggelapan. Dia hanya menjalankan tugas sesuai instruksi atasan."

Hakim mencatat sesuatu. "Baik. Kita akan pertimbangkan kesaksian ini. Sidang ditunda untuk minggu depan, menunggu pemanggilan Direktur Operasional sebagai saksi."

Palu diketuk.

Sidang selesai.

Di luar ruang sidang, Ayah Wahyu terlihat sedikit lega—meskipun tidak sepenuhnya. Pak Hendra menepuk bahunya. "Kita sudah selangkah lebih dekat, Pak. Tetap semangat."

"Terima kasih, Pak Hendra. Anda sudah bekerja keras."

Pak Hendra tersenyum, lalu pamit. Dia masih punya sidang lain siang ini.

Keluarga Wahyu berjalan keluar dari gedung pengadilan. Matahari sudah tinggi, udara mulai panas.

"Yu," Ibu Wahyu memanggil. "Kamu mau ikut pulang ke rumah? Ibu masak sayur asem, kesukaanmu."

Wahyu ingin bilang iya. Tapi dia ingat—masih ada empat halaman translation yang harus diselesaikan hari ini. Deadline sore.

"Tidak bisa, Bu. Saya ada kerjaan."

Ibu Wahyu terlihat kecewa, tapi mengerti. "Baiklah. Jangan lupa makan, ya."

"Iya, Bu."

Ayah Wahyu menatap Wahyu. "Wahyu... terima kasih sudah datang. Bapak tahu kamu sibuk."

Wahyu mengangguk. "Tidak apa, Pak. Ini... penting."

Ayahnya tersenyum tipis—senyum yang penuh rasa bersalah. "Maaf ya, Yu. Gara-gara Bapak, hidupmu jadi berat."

Wahyu merasa dadanya sesak. Dia ingin bilang "tidak apa, Pak, ini bukan salah Bapak". Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Jadi dia hanya mengangguk lagi.

Mereka berpisah di halaman pengadilan. Ayah dan ibu naik angkot—mereka tidak punya kendaraan pribadi lagi, sudah dijual untuk biaya pengacara tahun lalu. Wahyu naik motornya.

Dia tidak langsung pulang. Dia parkir motor di pinggir jalan, duduk di atas jok, menatap kosong ke jalanan yang ramai.

Sidang tadi... ada progress. Ada harapan.

Tapi kenapa Wahyu merasa... kosong?

Mungkin karena dia sudah terlalu sering berharap, dan terlalu sering kecewa.

Mungkin karena dia sudah lelah.

Wahyu menutup mata sebentar, menarik napas panjang, lalu menyalakan motor.

Pulang. Selesaikan translation. Survive hari ini. Besok pikirkan besok.

Sore harinya, Wahyu berhasil menyelesaikan empat halaman terakhir. Total dua puluh satu halaman, selesai tepat waktu. Dia kirim file ke client, lalu collapse di kasur.

Perutnya berbunyi keras—lapar. Tapi dia terlalu lelah untuk masak. Akhirnya dia pesan mie instan via ojek online—dua bungkus, cukup untuk makan malam.

Sambil menunggu pesanan, dia cek email.

Ada email balasan dari client:

"Hi Wahyu, excellent work as always. Payment will be processed within 2 business days. Looking forward to working with you again."

Wahyu menghitung. Delapan puluh dolar, kurs hari ini sekitar lima belas ribu, berarti... satu juta dua ratus ribu rupiah.

Cukup untuk bayar kos bulan ini dan sisa sedikit untuk makan.

Setidaknya, secara finansial, dia aman untuk bulan ini.

Tapi besok? Bulan depan?

Wahyu menggeleng. Jangan overthink. Satu hari satu hari.

Pesanan mie datang. Wahyu makan di kamar, sendirian, sambil scroll ponsel tanpa tujuan jelas.

Lalu notifikasi WhatsApp masuk. Dari Ardi, ketua BEM.

Ardi: "Yu, besok Minggu kita ada gathering BEM informal. Main futsal, terus makan bareng. Lu mau ikut?"

Wahyu menatap layar.

Gathering. Informal. Socializing.

Hal-hal yang Wahyu hindari.

Wahyu: "Tidak bisa. Ada kerjaan."

Ardi: "Kerjaan mulu lo, Yu. Kapan santainya?"

Wahyu: "Nanti kalau ada waktu."

Ardi: "Yaudah deh. Tapi kalau berubah pikiran, japri gue ya."

Wahyu: "Oke."

Wahyu menaruh ponsel. Melanjutkan makan.

Dia tahu Ardi bermaksud baik. Tapi Wahyu tidak butuh... sosialisasi. Dia tidak butuh teman-teman yang "cuma basa-basi". Dia tidak butuh orang yang akhirnya akan pergi juga.

Lebih baik sendirian.

Lebih aman.

Malam harinya, Wahyu berbaring di kasur, menatang langit-langit. Lampu kamar redup, suasana sunyi.

Pikirannya melayang ke sidang tadi pagi.

Wajah ayahnya yang lelah.

Suara jaksa yang menuduh.

Harapan tipis dari kesaksian auditor.

Lalu pikirannya melayang ke... Riani dan Karin.

Dua orang yang tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya.

Kenapa?

Kenapa sekarang?

Wahyu tidak percaya pada kebetulan. Semua ada alasannya.

Tapi apa alasan mereka?

Kasihan? Penasaran? Atau...

Wahyu menggeleng. Jangan paranoid.

Tapi sulit untuk tidak paranoid ketika pengalaman hidupmu mengajarkan bahwa orang-orang selalu punya agenda tersembunyi.

Ponselnya bergetar. Notifikasi Instagram—jarang sekali dia buka aplikasi itu.

Wahyu membuka.

Ternyata ada follow request dari akun bernama "@rianiput_".

Riani.

Wahyu menatap layar cukup lama.

Jadi dia... stalking sosial mediaku?

Meskipun akun Instagram Wahyu hampir tidak pernah dipakai—hanya ada dua foto, keduanya pemandangan, tanpa caption, di-upload dua tahun lalu—tetap saja, fakta bahwa Riani mencari akunnya itu... aneh.

Wahyu menekan "Decline".

Lalu mematikan ponsel.

Tidur.

Besok adalah hari baru.

Dan Wahyu harus tetap... survive.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!