Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: DEBAT PANAS DI BALIK KABUT BOGOR
Istana Bogor selalu memiliki cara untuk menyembunyikan rahasia di balik hamparan rumput hijaunya yang luas dan kabut tipis yang sering kali turun menyapa pilar-pilar putihnya yang megah. Taman rahasia yang terletak di sisi barat istana adalah tempat yang jarang dijamah publik—sebuah labirin tanaman perdu yang dirancang untuk pembicaraan yang tak boleh terdengar oleh telinga tembok.
Ian melangkah dengan mantel panjang berwarna abu-abu gelap, tangannya terbenam di saku, sementara matanya yang waspada memindai setiap sudut. Di tengah taman, tepat di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti tirai alam, Cansu sudah menunggu.
Hari ini ia tidak memakai kebaya. Ia mengenakan dress selutut berwarna merah marun pekat—warna darah yang sudah mengering. Di bahunya tersampir selendang kasmir yang ia eratkan seolah ia sedang menahan dingin yang bukan berasal dari udara.
"Kamu datang tepat waktu, Adrian," ucap Cansu tanpa berbalik. Suaranya datar, namun ada getaran halus yang hanya bisa ditangkap oleh pendengaran Ian yang sudah mengenal wanita itu selama satu dekade.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk nostalgia, Cansu," balas Ian dingin, berhenti lima langkah di belakangnya. "Katakan apa yang ingin kamu katakan soal Rhea dan ayahmu sebelum aku kehilangan kesabaran."
Cansu berbalik. Wajahnya tertutup lapisan makeup yang sempurna, namun matanya yang mengintimidasi itu kini tampak seperti kaca yang retak. "Ayahku sudah kehilangan akal sehatnya. Dia tidak lagi hanya ingin mengontrol Diningrat Grub melalui pernikahan politik. Dia ingin menghancurkanmu secara total karena kamu adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa dia prediksi."
"Dan kamu?" Ian menyeringai pahit. "Kamu adalah variabel yang paling dia banggakan, bukan? Ibu Negara yang patuh."
Cansu melangkah maju, memangkas jarak. "Berhenti bersikap picik! Aku memberitahumu ini karena Pradikta sudah menyiapkan bukti palsu tentang penggelapan dana yayasan kepresidenan yang akan ia atributkan padamu. Dan dia akan menyeret keluarga Rhea sebagai kaki tangannya. Dia ingin membuatmu memilih: masuk penjara atau melepaskan Rhea untuk dibuang ke pengasingan."
Ian terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di pelipisnya terlihat. "Kenapa kamu memberitahuku sekarang? Kenapa tidak dari dulu saat kamu memilih untuk mengkhianatiku dan menjadi istri ayahku?"
Pertanyaan itu memicu ledakan yang selama ini tertahan. Cansu mendekat, jari-jarinya yang gemetar mencengkeram kerah mantel Ian dengan kasar.
"Karena aku mencintaimu, bodoh!" teriak Cansu, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah. "Kamu pikir aku suka melihatmu setiap hari dengan tatapan benci itu? Kamu pikir aku suka tidur di kamar yang berbeda dengan ayahmu sementara hatiku tertinggal di apartemen kita di Milan?"
Ian terpaku. Cengkeraman Cansu pada mantelnya terasa begitu nyata, begitu menyakitkan.
"Aku melakukan ini karena ayahku mengancam akan membunuhmu dan ibuku!" lanjut Cansu dengan isakan yang sesak. "Dia menunjukkan padaku foto-foto penembak jitu yang mengarah padamu saat kamu lulus kuliah. Aku harus menjadi mawar berduri agar kamu punya alasan untuk menjauh dariku! Aku lebih baik melihatmu membenciku seumur hidup daripada melihatmu tidak bernapas lagi!"
Hening. Hanya suara gesekan daun yang tertiup angin. Ian menatap mata Cansu, mencari kebohongan yang biasa ia temukan, namun kali ini ia hanya melihat kehancuran yang murni. Tabir yang selama ini menutupi kebenaran perlahan tersingkap, meninggalkan rasa perih yang luar biasa di dada Ian.
Di sisi lain taman, Rhea berdiri di balik pilar paviliun yang agak jauh. Ia datang diam-diam, menyelinap dengan bantuan Vier yang juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Rhea mendengar segalanya. Ia mendengar isakan Cansu, ia mendengar pengakuan tentang ancaman maut itu.
Rhea memegang dadanya yang berdegup kencang. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan diagnosa medis, ia baru saja menyadari bahwa penyakit yang diderita keluarga ini bukan hanya ambisi kekuasaan, melainkan luka kronis yang sengaja dibiarkan membusuk demi keselamatan satu sama lain.
"Rhea," bisik Vier di sampingnya. "Kita harus pergi sebelum ajudan Ayah melihat kita."
"Vier... mereka berdua... mereka berdua sebenarnya sedang saling melindungi dalam kegelapan," gumam Rhea dengan mata berkaca-kaca.
Kembali ke bawah pohon beringin, Ian perlahan melepaskan tangan Cansu dari mantelnya. Ia tidak memeluknya, namun tatapannya tidak lagi setajam belati.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?" suara Ian melunak, namun penuh duka.
"Karena aku tahu kamu akan mengorbankan dirimu untuk melawannya, Adrian. Dan kamu tidak akan menang melawan Pradikta pada saat itu. Dia terlalu kuat," sahut Cansu, mengusap air matanya dengan kasar untuk kembali membangun bentengnya. "Tapi sekarang situasinya berbeda. Kamu punya Diningrat Grub, kamu punya pengaruh. Dan kamu punya Rhea."
Cansu menatap Ian dengan serius. "Gadis itu... lindungi dia. Jangan biarkan dia menjadi sepertiku—seorang wanita yang harus membunuh jiwanya sendiri demi orang yang dia cintai. Pradikta akan menyerang malam ini di kediaman utama. Dia akan memicu sesuatu yang besar."
"Apa maksudmu?"
"Ayahku akan memaksa Presiden untuk menandatangani dekrit darurat yang akan memberikan kekuasaan penuh pada Perdana Menteri. Jika ayahmu menolak, Pradikta akan membongkar skandal palsu itu."
Ian menatap Cansu lama. "Lalu apa rencanamu?"
Cansu tersenyum pahit, senyum yang menunjukkan ia sudah siap dengan akhir ceritanya sendiri. "Aku akan memberikan bukti asli kejahatan ayahku padamu. Tapi sebagai gantinya, kamu harus menjamin keselamatan ibuku di Milan. Jangan pedulikan aku. Aku sudah hancur sejak hari di bak mandi itu."
Ian hendak bicara, namun suara langkah kaki Paspampres yang sedang berpatroli mendekat membuat mereka harus segera berpisah.
"Pergilah, Adrian. Jaga dia," ucap Cansu, kembali memasang topeng kaku Ibu Negara saat melihat ajudannya mendekat dari kejauhan.
Ian berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Di dalam kepalanya, ia kini memiliki gambaran utuh tentang musuh yang sebenarnya. Pradikta Kusuma bukan hanya seorang politikus licik; dia adalah monster yang telah merusak masa muda Ian dan menghancurkan hidup Cansu.
Sesampainya di mobil, Ian menemukan Rhea sudah duduk di kursi belakang dengan wajah pucat. Ian terkejut, namun ia tidak marah. Ia bisa melihat dari ekspresi Rhea bahwa gadis itu sudah tahu segalanya.
"Kamu mendengarnya?" tanya Ian pelan.
Rhea mengangguk. Ia meraih tangan Ian, menggenggamnya erat. "Ian... maafkan aku karena pernah meragukanmu. Dan maafkan aku karena aku tidak tahu betapa berat beban yang harus dipikul Cansu."
Ian menarik napas panjang, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Perang yang sebenarnya baru saja dimulai, Rhea. Pradikta tidak akan berhenti sampai dia melihat kita semua hancur. Kita harus ke kediaman utama malam ini. Kita harus menemui Ayah sebelum Pradikta sampai di sana."
"Aku ikut," ucap Rhea tegas.
"Terlalu berbahaya."
"Aku adalah tunanganmu, kontrak atau bukan," balas Rhea dengan keberanian yang baru. "Dan sebagai calon dokter, aku tahu kapan seseorang sedang sekarat secara mental. Ayahmu butuh kita. Cansu butuh kita."
Ian menatap Rhea, melihat kekuatan yang tumbuh di balik sosok yang biasanya penakut itu. Ia mengangguk pelan. "Yusuf! Siapkan tim keamanan tambahan. Kita menuju kediaman utama sekarang."
Malam itu, di bawah langit Bogor yang hitam pekat, mobil limusin itu melesat membelah jalanan. Di dalam istana yang megah, Pradikta Kusuma sedang tersenyum menatap jam dindingnya, tidak menyadari bahwa mawar yang ia tanam dengan duri yang tajam, kini mulai memutar durinya ke arah jantungnya sendiri.
Babak akhir dari pengkhianatan ini akan segera dimulai dengan sebuah pertemuan yang akan membakar seluruh istana.