NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebab hati yang memilihmu (END)

Aku hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Rama. Kemudian dia pun pergi dari hadapanku, sementara aku masih mematung di tempatku berdiri.

Aku berpikir, sejak kapan Rama dekat dengan seorang cewek? Dia tidak pernah cerita kepadaku. Ya, gimana dia mau cerita? Orang setiap saat selalu saja aku yang menjejalinya dengan segala keluh kesahku yang nggak ada habisnya.

Kalau Rama sudah ada cewek yang disukai, terus mereka pacaran, pasti dia tidak akan ada waktu lagi untukku. Atau mungkin malah dia akan lebih dulu nikah dariku. _Huftt..._ kok rasanya ngeselin banget, sih?

Jam 2 siang aku keluar dari tempat kerja. Aku melihat Rama sudah di depan, duduk di atas motornya. Dia tersenyum ketika melihatku menghampiri.

"Yuk, jalan," katanya sambil menyodorkan helm kepadaku.

"Kita ke mana?" tanyaku.

"Aku antar kamu pulang dulu, ya," katanya lagi.

"Kok pulang? Katanya tadi kan mau ngajak nyari kado buat ceweknya?"

"Iya, tapi aku antar pulang dulu. Kamu mandi dulu, biar wangi. Ya kali aku udah ganteng gini, kamunya bau asem," ucapnya, sambil menutup hidung, sengaja menggodaku.

"Apaan sih?" gerutuku, seraya memukul pelan bahu Rama.

"Sekalian aku mau minta izin Ibu kamu buat ngajak kamu jalan," jelasnya.

"Tumben?" sahutku, sedikit heran. Karena biasanya jalan ya jalan saja. Toh Ibu juga sudah kenal Rama dengan baik, dan biasanya Ibu juga tidak pernah keberatan.

Akhirnya Rama mengantarku pulang dulu untuk sekadar mandi. Kesel juga sih sebenarnya sama Rama, tapi aku iyain aja daripada debat panjang. Aku mengajak Rama masuk, biar dia menunggu di dalam. Sengaja aku berlama-lama bersiap di kamar. Siapa suruh nyebelin, kukerjain aja sekalian.

Setelah kurasa cukup lama, aku pun keluar dari kamar dengan keadaan rapi dan wangi. Kulihat Rama sedang berbicara dengan Ibu di ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak mau tahu. Paling-paling obrolan nggak penting seperti biasa.

Aku dan Rama berpamitan pada Ibu. Rama meminta izin karena mungkin dia akan mengantarku pulang agak malam. Dan seperti biasa, Ibu hanya bilang iya-iya saja. Saking percayanya Ibu kepada Rama.

Rama mengajakku pergi ke sebuah toko perhiasan. Perasaanku langsung tidak enak. Jangan-jangan Rama ingin membeli cincin atau barang berharga lainnya untuk cewek yang tengah dekat dengannya saat ini. Itu artinya hubungan mereka pasti sangat serius. Pasti cewek itu sangat spesial buat Rama. Aneh, aku kok jadi nggak suka gini, sih? Seperti perasaan cemburu. Hah, apa? Ah, tidak mungkin. Aku tidak mungkin cemburu, ya kan?

Aku cemberut. Membayangkannya saja sudah membuatku kesal sekali rasanya. Dan benar saja, Rama mengajakku untuk memilih cincin.

"Mana yang kamu suka, Nay?" tanyanya dengan senyum yang dari tadi tak lepas dari bibirnya.

"Bagus semua," jawabku asal, kelihatan sekali aku tidak antusias.

"Ya, emang bagus semua, tapi aku nanya mana yang kamu suka," katanya lagi.

"Kok aku? Bisa jadi kan selera aku sama cewek kamu itu beda," jawabku, terselip nada kesal di sana.

"Aku yakin 100% pasti sama. Mana, Nay... please... lihat dong satu-satu, jangan setengah hati gitu. Tadi kan udah janji mau bantuin," katanya, dengan nada memohon.

"Iya, iya," kataku akhirnya. Aku menurut saja. Tidak tega sama Rama sebab dia sudah terlalu baik padaku. Tidak adil rasanya jika aku bersikap kesal tak beralasan seperti ini.

Sesaat kemudian, mataku menangkap satu cincin yang menurutku sangat bagus. Sederhana sekali bentuknya, hanya lingkaran polos dengan satu batu permata kecil di tengahnya.

"Ini bagus, Ram... simpel, aku suka," kataku, mengurai senyum. Aku harus sadar diri, Rama tidak akan selamanya hanya bersamaku. Dia juga berhak bahagia, dan sebagai teman, sebisa mungkin aku akan turut bahagia untuk apa pun yang menjadi pilihannya._

"Yakin?" tanyanya, mencoba memastikan.

"Sini, coba dipakai," katanya sambil meraih tanganku dan memasang cincin itu di jari manisku. Darahku tiba-tiba berdesir. Ada apa ini? Perasaan seperti apa ini? Tidak biasanya seperti ini.

Aku pun hanya terdiam dan mengikuti apa yang dilakukan Rama.

"Iya, bagus, Nay... cantik, cocok sekali di jari kamu. Ya sudah, ini saja," katanya lagi.

Setelah mendapatkan cincin yang dicari, Rama mengajakku makan. Tahu saja dia kalau perutku sudah lapar. Selesai makan, Rama mengajakku jalan menyusuri taman dekat tempat kita makan tadi.

"Nay, keadaan hati kamu gimana sekarang?" tanyanya, memulai pembicaraan.

"Kenapa emangnya?" tanyaku.

"Tadi kamu ketemu Fabian, seperti apa rasanya?" tanyanya lagi.

"Ehm... entahlah, aneh sekali. Rasanya perasaanku jauh lebih baik sekarang. Kupikir tadinya aku tidak akan sanggup melihat wajahnya, tapi nyatanya aku juga heran, aku bahkan sudah merasa tidak masalah lagi. Dan aku sudah memaafkan dia," kataku, sambil tersenyum lega.

"Kamu sudah lupain dia?" tanyanya lagi.

"Ya, mana mungkin lupa, Ram? Tapi aku sudah ikhlas kok. Mungkin rasa sakitku waktu itu karena... apa ya? Emm... kamu tahu sendiri kan, dulu sebelum itu, aku juga pernah dikhianati. Rasanya ketika Fabian melakukan itu, seperti déjàvu. Sakit itu terulang lagi."

"Terus sekarang, apa kamu sudah bisa nerima orang lain lagi?" tanyanya serius.

"Enggak tahu, Ram. Capek banget rasanya. Aku merasa sudah kehabisan stok laki-laki yang baik. Nggak yakin lagi kalau aku masih disisain lelaki yang baik di dunia ini," jawabku putus asa.

"Eh... masih ada kok lelaki baik-baik di dunia ini."

"Mana?" tanyaku.

"Aku. Apa kamu pikir aku ini bukan lelaki baik-baik?"

"Kamu beda, Ram. Nggak masuk hitungan."

"Lah... terus, kamu anggap aku apa?" tanyanya. Seketika dia menghentikan langkah dan menahanku dengan menarik kedua bahuku di hadapannya.

"Kamu kan temenku. Jadi tidak masuk hitungan," jelasku lagi.

Aku tertawa melihat raut wajah serius Rama. Dia terus menatapku, dan tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba saja Rama menarikku lebih dekat dan... _cup_. Satu kecupan manis mendarat di bibirku.

Aku terpaku, tidak bisa berkata-kata. _Ini apa? Benarkah Rama barusan menciumku? Aku hampir kehilangan kesadaranku karenanya.

"Nay," ucapnya lirih, sambil mengusap bibirku yang masih terasa hangat dan basah karena kecupannya tadi.

"Rama, kamu barusan ngapain?" tanyaku, mencoba mendapatkan penjelasan darinya.

"Aku tidak tahu lagi, Nay. Bagaimana caranya membuat kamu sadar akan perasaanku ke kamu," jelasnya.

"Kamu nggak salah, kan? Bukannya kita memang dekat, dan aku tahu kamu memang sebaik itu sama aku?" kataku.

"Kamu terlalu sibuk dengan yang lain, Nay. Sama orang-orang yang sudah nyakitin kamu, sampai kamu tidak menyadari kalau orang yang paling peduli, paling sayang sama kamu itu adalah aku, orang terdekat kamu," katanya lagi, seraya memegang kedua pipiku.

"Sejak kapan, Ram?" tanyaku, aku benar-benar ingin tahu sejak kapan Rama memiliki perasaan ini terhadapku.

"Jauh lebih lama dari yang kamu kira," jawabnya.

"Kenapa aku?" tanyaku, masih begitu penasaran, sebab aku tidak pernah menyangka akan semua ini.

"Aku tidak butuh alasan, Nay, untuk itu. Tapi kalau kamu minta alasan, aku akan katakan: aku mencintai semua hal yang ada di diri kamu. Sederhananya kamu, cerianya kamu, baiknya kamu, bahkan cengengnya kamu, aku mencintai semuanya," katanya, dengan mata yang berbinar.

"Aku nggak cengeng," sanggahku.

"Nggak cengeng apaan, dikit-dikit nangis gitu kok," katanya, tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya dariku. Sungguh, ucapannya membuatku meneteskan air mata. Bisa-bisanya aku sebuta ini hingga tidak dapat melihat cinta yang begitu besar yang Rama berikan padaku.

"Terus, tadi cincinnya, kata kamu itu buat cewek yang kamu suka?" tanyaku polos.

"Nggak ngerti juga sih, nih anak, heran... Kalau aku bilang aku cintanya sama kamu, itu berarti cincin ini buat kamu. Jangan bilang kamu tidak suka, awas... Tadi kamu sendiri kan yang milih?" katanya, lagi-lagi dia menyentil keningku.

Air mataku menetes seketika, tapi kali ini air mata bahagia. Sungguh, aku tidak mengira semua ini. Tapi hati ini benar-benar dipenuhi rasa bahagia.

"Rama, apa kamu yakin?" tanyaku memastikan.

"Aku tidak pernah seyakin ini," katanya dengan pasti.

"Kenapa bisa begitu yakin?" tanyaku lagi.

"Sebab hatiku yang memilih kamu, dan aku yakin hati tidak pernah salah," ucapnya. Kemudian, tanpa basa-basi lagi, dia mengecup keningku, seolah aku ini sudah resmi menjadi miliknya.

"Tapi aku tidak mau lagi pacaran, capek hati," kataku.

"Ya udah, kita nikah. Besok juga tidak masalah, aku juga sudah siap semua. Eh, tapi tunggu... Apa ini berarti kamu menerimaku, ya kan, Nay?" tanyanya, sekali lagi ingin memastikan.

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.

"Ya sudah, besok kita nikah," ucapnya bersemangat.

"Apaan sih, minta izin dulu sama Ibu, Ram. Main asal nikah aja," kataku.

"Sudah," jawabnya singkat, sambil tersenyum.

"Kapan? Kok aku nggak tahu?" tanyaku.

"Tadi, pas di rumah. Aku sudah minta izin Ibu kamu untuk melamar anak gadisnya ini," jelasnya lagi.

"Terus, Ibu jawab apa?" tanyaku penasaran.

"Kalau Ibu kamu nggak ngijinin aku, mana mungkin aku berani menyatakan perasaanku ke kamu saat ini," katanya.

"Jadi?" tanyaku lagi.

"Iya... Ibu kamu merestui. Tinggal kamunya mau apa enggak?" tanya Rama, sambil meraih tanganku.

Aku pun hanya terdiam. Entah apa yang berkecamuk di kepalaku saat ini. Rasanya ramai sekali, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Nah... kan malah bengong. Jadi gimana ini, mau nggak cincin ini aku pakein di jari kamu?" tanya Rama, dengan serius.

Aku tersenyum dan menjawab dengan anggukan, yang berarti aku menerima Rama menjadi bagian dari hidupku.

Aku tidak tahu akan seperti apa nantinya, tapi di hatiku seolah ada keyakinan bahwa Rama memang yang terbaik yang Tuhan kirimkan untukku. _Semoga ini benar, ya Allah. Aku ingin bahagia, semoga Rama adalah jawabannya._

Aku mengalami malam yang luar biasa. Sungguh, ini sangat membahagiakan untukku, dan sungguh perasaan lega memenuhi dadaku saat ini.

Setelah selesai semua dan juga sudah cukup larut, akhirnya Rama mengantarku pulang. Dan karena sudah malam, jadi Rama langsung pamit sesaat setelah ia mengantarku sampai rumah.

Aku mengucap salam, kemudian langsung masuk ke dalam rumah yang tidak dikunci. Kulihat Ibu tengah duduk sendiri di ruang tamu. Sepertinya Beliau memang sengaja menungguku.

Aku menghampiri Ibu, tanpa mengatakan apa pun. Aku tahu Ibu telah menantikan sebuah pernyataan dariku, dan aku tahu apa itu. Aku pun langsung menunjukkan cincin yang tersemat manis di jariku. Ibu tersenyum penuh arti. Kulihat mata Ibu berkaca-kaca. Aku tahu perasaan dan kecemasan Beliau terhadapku, dan cincin ini seolah menjadi obat segala kecemasannya terhadap semua yang telah kulalui selama ini.

Selang seminggu setelahnya, Rama resmi melamarku. Dan tidak sampai dua bulan setelahnya, kami pun melangsungkan pernikahan yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Memang bukan pernikahan yang mewah, bahkan jauh dari kata mewah. Ini adalah pernikahan yang begitu sederhana, tapi dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa besar.

_Tuhan, terima kasih untuk cinta yang KAU anugerahkan kepada kami... sungguh satu kesabaran yang berbuah manis._

_END_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!