Vanessa seorang mahasiswi penyuka novel horor yang bertemu dengan Pria dingin di sebuah rumah kosong.
Vanessa terkejut saat mengetahui Nathan yang dia temui itu ternyata bukan seorang manusia.
Nathan meminta bantuan pada Vanessa untuk mencari seseorang yang sudah berani menusuknya.
Vanessa sudah jatuh cinta pada Nathan, setelah Vanessa menemukan orang yang menusuk Nathan, tiba-tiba arwah Nathan menghilang lenyap bagai di telan bumi.
Bagaimana di dunia nyata Vanessa bisa melihat manusia yang persis seperti Nathan apakah itu Nathan, atau hanya kebetulan mirip saja ?
Yuk baca dan ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 (Takut Kehilangan)
Vanessa makan dengan perlahan hidangan nasi goreng di hadapannya, sesekali melirik Nathan yang tengah memperhatikannya, “Jadi …” Vanessa sengaja menggantung ucapannya.
Nathan yang kebingungan mendengar ucapan Vanessa memilih balik bertanya, “Jadi apa?”
“Jadi kamu masih hidup?” Vanessa menyimpan sendoknya di atas piring, menopang dagu menggunakan kedua tangannya menunggu cerita Nathan.
“Iya aku masih hidup, tapi kemungkinan hidupku hanya 10%.”
Vanessa memperhatikan wajah Nathan yang tampak datar tanpa ekspresi, “Dari mana kamu tau?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa.
“Aku mendengarnya sendiri dokter mengatakannya, tusukan yang mengenai hatiku cukup parah, hanya keajaiban yang mampu menyembuhkanku,” ujar Nathan santai, seperti tidak memiliki beban.
“Apa rumah yang kita ambil uangnya itu rumah mu?” tanya Vanessa.
Seulas senyum muncul di bibir Nathan mengingat kejadian tempo hari saat Vanessa memasuki rumahnya untuk mengambil uang.
“Aku tanya serius, kamu malah senyum-senyum gitu,” ketus Vanessa.
“Iya itu rumah ku,” jawab Nathan dengan senyum manis miliknya.
Jantung Vanessa berdetak lebih cepat melihat senyum mempesona pujaan hatinya, “Jadi uang yang aku pakai ini uang mu?” tanya Vanessa lagi.
Kali ini Nathan hanya menjawab ucapan Vanessa dengan anggukan kepalanya, “Kamu jahat sekali selalu menuduh ku mencuri padahal itu kan uang mu, kalau tau begitu aku ambil semua uangmu waktu itu,” Ketus Vanessa. Dia kesal pada Nathan karena telah mengerjainya, “Harusnya aku curiga dari awal,” gumam Vanessa didalam hatinya.
“Kalau kamu masih mau ambil saja uangnya!, asal jangan sampai ketahuan,” Nathan menaik-naikan satu alisnya menggoda Vanessa.
“Aku tidak butuh uang receh seperti itu,” ucap Vanessa dengan nada sombongnya.
Nathan terkekeh melihat wajah sombongnya Vanessa, “Ciee banyak duit.”
“Oh iya dong.”
Natah berdiri dari duduknya mengampiri kursi Vanessa memeluk leher wanitanya, “Kita masuk yu, angin malam tidak baik untuk wanitaku.”
Pipi Vanessa bersemu merah saat Nathan menyebutnya wanitaku, jantungnya pun berdetak lebih cepat dari biasanya, “Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku jatuh dalam pesonanya,” batin Vanessa.
Melihat Nathan mengulurkan tangannya, Vanessa menerima uluran tangan Nathan dan berjalan berdampingan untuk masuk ke kamar.
Nathan merebahkan tubuh Vanessa di atas kasur, Vanessa hanya diam mengikuti intruksi Nathan. Nathan ikut merebahkan tubuhnya di samping Vanessa, memeluk Vanessa erat.
Vanessa melihat mata Nathan, dengan jarak yang sangat dekat mereka saling menatap satu sama lain. Senyum Vanessa mengembang saat merasakan kecupan di keningnya, pipinya memerah mendapat perlakuan romantic dari Nathan.
“Menurutmu setelah misi ini berhasil, apa aku akan hidup kembali?” tanya Nathan di tengah keheningan yang melanda mereka.
“Kamu harus hidup … aku menginginkan mu,” ucap Vanessa jujur, dia tidak mau membohongi perasaan nya lagi.
“Tapi aku tindak bisa berjanji,” seulas senyum Nathan berikan padahal di hatinya dia tau besar kemungkinan setelah ini dia akan pergi selamanya.
“Kamu jangan bicara seperti itu,” ucap Vanessa serak, dia menahan butiran bening yang ingin keluar dari matanya.
Nathan menyatukan kening mereka, hatinya sakit melihat mata Vanessa hampir penuh dengan airmata. Nathan merasakan hembusan nafas Vanessa yang mengenai wajahnya, “Aku tidak ingin semua ini cepat berakhir,” ucap Nathan parau.
Vanessa menarik nafasnya dalam-dalam mengeluarkannya perlahan, “Aku ingin tetap bersamamu,” butiran Kristal itu akhirnya jatuh tanpa bisa Vanessa tahan. Di ikuti dengan butiran-butiran lain yang seakan saling berkejaran.
“Lebih baik kita kembali,” Nathan mencoba menghapus air mata Vanessa yang terus menerus membasahi pipinya. Hati Nathan sakit melihat wanita yang dia cintai menangis seperti ini.
“Tidak, aku ingin bersamamu, aku ingin merasakan pelukan hangat dari tubuhmu,” Vanessa menggelengkan kepalanya, dia yakin Nathan bisa sembuh.
“Apalah arti raga yang bisa pergi itu, setidaknya dengan keadaan ku seperti ini kita bisa terus bersama selmanya.”
“Aku ingin kamu sembuh Nathan,” ujar Vanessa.
“Kesempatan sembuhku hanya 10 % Vanessa, kemungkinan besarnya aku harus mati, aku tidak ingin kehilanganmu,” Nathan menangkup pipi Vanessa dengan kedua tangannya. Menempelkan bibirnya tepat di bibir kecil Vanessa, ********** sebentar dan melepaskannya.
“Aku yakin kamu bisa sembuh,” ucap Vanessa yakin, padahal dirinya pun takut kalau Nathan benar-benar pergi untuk selamanya, tapi Vanessa juga tidak ingin melihat Nathan menjadi arwah seperti ini selamanya.
“Itu tidak mungkin Vanessa.”
Vanessa memeluk Nathan lebih erat membenamkan wajah Vanessa di dada bidang Nathan. menumpahkan air matanya, meluapkan kemarahannya pada takdir yang sedang mempermainkannya lagi, “Aku tidak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kalinya,” batin Vanessa.
Dengan lembut Nathan mengusap puncuk kepala Vanessa sampai wanitanya tertidur, mencium rambut Vanessa. Hati Nathan sakit seperti ada belati yang menusuk tepat di ulu hatinya, Nathan tidak pernah mencintai wanita sedalam ini sampai membuatnya kacau, hatinya sakit melihat wanita yang dia cintai menangis karenanya.