NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Baik aku akan menikah.

Empat jam telah berlalu sejak operasi Manda dinyatakan selesai. Lampu di lorong ICU sudah meredup, hanya menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa semakin sunyi dan dingin.

Di dalam kamar rawat, Alyssa duduk seorang diri di samping ranjang ibunya.

Bela dan Lita telah pamit sejak tadi, berjanji akan kembali keesokan hari karena hari sudah terlalu larut.

Kini hanya suara alat monitor jantung yang berdetak pelan menemani kesepian Alyssa.

Tangannya terulur ragu, lalu menyentuh telapak tangan ibunya yang dingin. Perlahan Alyssa mencium punggung tangan itu, seolah ingin memindahkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan sederhana.

“Ibu…” lirihnya dengan suara bergetar. Menahan tangis yang hampir saja luruh membasahi pipinya.

“Hari ini hari yang sangat berat untuk Alyssa. Melihat ibu terbaring tak berdaya seperti ini rasanya sungguh menyiksa. Alyssa tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti ibu benar-benar pergi… mungkin dunia Alyssa akan runtuh, atau Alyssa tidak akan sanggup bertahan lagi.”

Dengan perlahan Alyssa mengusap air matanya, ia sungguh tidak ingin menangis. Ia tidak ingin ibunya merasakan kesedihannya, meskipun ibunya belum sadar tapi tetap saja wanita itu berada disisinya.

“Tapi Alyssa bersyukur, ibu tidak menyerah. Ibu masih mau berjuang bersama Alyssa. Maafkan Alyssa… karena sempat berpikir melakukan hal yang ibu benci.”

Napasnya tersendat, dadanya naik turun menahan tangis.

“Tapi ibu tidak perlu khawatir, Alyssa tidak akan pernah memikirkan hal itu lagi. Jadi… ibu harus segera bangun. Alyssa rindu melihat senyum ibu.”

Alyssa memaksakan senyum meski dadanya terasa remuk. Ia harus terlihat bahagia di hadapan ibunya, meskipun di dalam hatinya ia tahu… ia baru saja mengorbankan dirinya sendiri, memulai janji pernikahan yang tak pernah ia inginkan.

Tok… tok… tok…

Ketukan pintu membuat Alyssa tersentak. Ia cepat-cepat mengusap air matanya lalu berdiri membuka pintu.

“Siapa kalian?” tanyanya kebingungan saat melihat dua pria berpakaian hitam berdiri tegap di hadapannya.

“Kami pengawal pribadi yang Ibu Lita perintahkan untuk menjaga Nona. Jika Nona membutuhkan apa pun, silakan perintahkan kepada kami,” ucap salah satu dari mereka sopan.

Alyssa terdiam. Ia tidak menyangka Lita akan mengirim pengawal, seolah dirinya adalah seseorang yang sangat penting. padahal ia bukan siapa siapa ia hanya wanita yang wanita itu minta untuk menikah dengan anaknya.

“E-em… baiklah. Tapi tolong jangan berdiri tepat di depan pintu. Dokter dan perawat bisa ketakutan melihat kalian,” ucap Alyssa jujur.

“Baik, Nona.”

Keduanya mundur menjauh, mengawasi dari kejauhan. Alyssa hanya bisa menghela napas panjang, perasaannya kembali campur aduk.

Sementara itu, di ruangan lain…

“Apa perlu Mama datang ke sini?” tanya Brayen dengan nada dingin menusuk.

Lita yang baru melangkah masuk berdecak kesal. Tanpa meminta izin, ia duduk tepat di hadapan putranya dan menatapnya tajam.

“Memangnya Mama tidak boleh datang? Kamu bicara seperti itu seolah-olah Mama ini orang asing bagimu.”

“Kalau Mama datang hanya untuk memaksaku menikah dan melupakan Maudy, lebih baik Mama tidak perlu datang.”

Deg.

Ucapan itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Lita. Ia menahan napas, matanya memerah.

“Baik… kalau itu maumu.” Suaranya bergetar.

“Kamu sudah tidak peduli lagi pada ibumu, kan?”

Tiba-tiba Lita meraih pisau di atas meja dan mengarahkannya ke lehernya sendiri.

“Apa yang Mama lakukan? Letakkan pisau itu sekarang!” teriak Brayen panik.

“Jangan mendekat!” bentak Lita sambil menekan pisau itu lebih dalam.

“Mama sudah lelah, Brayen. Kamu tidak pernah menghargai usaha Mama. Kamu hanya memikirkan wanita itu, memperdalam luka hatimu sendiri!”

Air mata Lita jatuh membasahi pipinya. Brayen terdiam. Baru kali ini ia melihat ibunya menangis sehancur ini.

“Apa sebenarnya yang Mama inginkan?” suaranya melemah.

“Mama hanya ingin kamu menikah…”

Hening.

Pisau itu masih menempel di leher ibunya, sementara Brayen hanya duduk diam di kursi rodanya dengan dada sesak.

Sebenarnya ia tidak ingin menuruti permintaan ibunya, namun nyawa sang ibu lebih penting dari pada apapun.

Meskipun hatinya remuk ia tetap harus menyetujui permintaan ibunya itu.

“…Baik.” Akhirnya suara Brayen terdengar meski sangat pelan dan hampir saja Lita tidak bisa mendengarnya.

“Aku akan menikah. Asal Mama meletakkan pisau itu.”

Lega itulah yang lita rasakan ia segera meletakkan pisau ditangannya dan memeluk tubuh anaknya erat.

"Maafkan mama Brayen. Mungkin kamu berpikir mama ini egois tapi semua ini mama lakukan demi kebaikan kamu." batin Lita memejamkan matanya sesaat, merasa bersalah karena sudah memaksa anaknya sampai seperti itu.

Sedangkan Brayen... Laki laki itu tidak berusaha membalas pelukan ibunya. Jauh di lubuk hatinya, Brayen tahu… keputusan itu bukan lahir dari cinta, melainkan dari rasa bersalah dan keterpaksaan.

Dan di tempat lain, Alyssa masih menggenggam tangan ibunya tanpa tahu bahwa nasib mereka kini telah dipertaruhkan oleh keputusan yang sama-sama tidak mereka inginkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!