NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Janji Suci, dan Tangisan Kehidupan Baru.

Pagi itu, suasana di kediaman keluarga besar William Anderlecht dipenuhi kebahagiaan yang meluap. Hari tersebut menjadi momen istimewa bagi seluruh anggota keluarga, karena sekali lagi mereka merayakan sebuah pernikahan megah pernikahan cucu dari salah satu pengusaha paling berpengaruh di dunia.

Ya, tepat sekali…

Cucu dari Heron William Anderlecht.

Hari besar itu adalah hari di mana Viera William Anderlecht, cucu perempuan bungsu keluarga, akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan dengan Mahadirka Wijaya.

Acara megah tersebut dihadiri oleh seluruh keluarga besar: Heron dan Willia, Victor, Albert, Sean, Liora, John, serta kedua pasangan Viola Javi dan Viora Robert Pattinson. Bahkan sahabat lama Heron, Bram Alexander, juga datang, bersama para kolega serta rekan bisnis ternama dari berbagai penjuru dunia.

Viera melangkah anggun memasuki ruang pernikahan, menggandeng lengan sang ayah, Sean William Anderlecht. Gaun putihnya berkilau diterpa cahaya, seolah menegaskan bahwa hari itu adalah hari terpenting dalam hidupnya. Setiap langkahnya mantap menuju altar, tempat Mahadirka sudah berdiri menanti sambil menatapnya penuh cinta dan rasa syukur.

Sesampainya di altar, Viera berdiri di sisi pria yang akan menjadi suaminya. Wajahnya berseri, penuh ketenangan sekaligus kegembiraan.

Pendeta Steven Gerrard pun memulai prosesi sakral itu.

“Mahadirka Wijaya, apakah Anda menerima Viera William Anderlecht sebagai istri Anda, pasangan hidup Anda, dan kelak menjadi ibu dari anak-anak Anda?”

Mahadirka menatap mata Viera tanpa berkedip, seolah ingin menegaskan isi hatinya tanpa kata.

“Saya, Mahadirka Wijaya, menerima Viera William Anderlecht sebagai istri saya. Saya bersumpah untuk mencintainya, menjaganya, dalam suka maupun duka, sepanjang hidup saya.”

Viera mulai berkaca-kaca, hatinya hangat oleh ketulusan pria itu.

Pendeta melanjutkan,

“Viera William Anderlecht, apakah Anda menerima Mahadirka Wijaya sebagai suami Anda dan pasangan hidup Anda?”

Viera mengangguk kecil sebelum menjawab dengan suara yang bergetar oleh haru.

“Saya menerima Mahadirka Wijaya sebagai suami saya. Saya berjanji untuk mencintainya dalam segala keadaan… selamanya.”

Cincin pernikahan dibawa ke hadapan mereka. Mahadirka memasangkan cincin itu di jari manis Viera cincin dengan ukiran nama mereka berdua. Viera membalas dengan melakukan hal yang sama, menempatkan cincin di jari Mahadirka dengan tangan sedikit gemetar karena bahagia.

Dan dengan itu… mereka resmi menjadi suami istri.

Sorakan memenuhi ruangan.

“Cium! Cium!”

Dengan tersipu namun penuh cinta, Mahadirka menunduk dan mengecup bibir istrinya. Tepuk tangan membahana, menciptakan suasana yang penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Setelah prosesi formal selesai, kedua mempelai turun dari altar dan berfoto bersama seluruh keluarga besar. Acara kemudian berlanjut dengan jamuan mewah serta alunan musik lembut sebagai latar kemeriahan.

“Selamat, sahabatku. Cucu perempuanmu yang ketiga akhirnya menikah,” ucap Bram sambil menepuk bahu Heron.

Heron tersenyum bangga.

“Terima kasih, Bram. Hari ini sungguh luar biasa.”

Ketika acara berakhir dan masing-masing keluarga kembali ke mansion, suasana berubah menjadi lebih santai. Di ruang tamu, Viola, Viora, dan Viera duduk bersama, tertawa dan saling berbagi cerita setelah sekian lama tidak berkumpul bertiga.

Namun, kehangatan itu mendadak berubah menjadi kepanikan.

“Aduh… sakit…!”

“Aahh… perutku…”

Viola dan Viora serempak mengerang kesakitan.

Javi dan Robert yang melihat langsung tersentak.

“Sayang?! Kamu kenapa?!”

Dirgantara yang berada tidak jauh dari mereka segera menyadari apa yang terjadi.

“Itu tanda persalinan! Air ketuban Kak Viola dan Kak Viora sudah pecah!”

Ruangan seketika kacau. Namun dalam hitungan detik, semua orang bergerak cepat. Ibu Viola, yang seorang dokter kandungan, langsung mengambil alih dan mengatur proses persalinan darurat di mansion.

“Tarik napas dalam… hembuskan perlahan… ikuti ritmenya…”

Viora dan Viola berusaha mengikuti instruksi meski rasa sakit semakin intens. Javi dan Robert menggenggam tangan istri mereka erat, memberikan kekuatan dan dukungan sepenuh hati.

Beberapa menit berlalu penuh tegang…

Hingga akhirnya

Tangisan bayi pecah di udara.

“Oek… oek…”

Dua bayi lahir hampir bersamaan.

Viora melahirkan bayi laki-laki.

Viola melahirkan bayi perempuan.

Robert memeluk dan mencium kening Viora, penuh rasa syukur.

“Terima kasih, sayang… kau luar biasa.”

Begitu pula Javi, ia mengecup kening Viola sambil menahan air mata kebahagiaan.

Keluarga besar pun berkumpul, dipenuhi haru dan rasa syukur. Heron, yang biasanya tegas dan jarang menunjukkan emosi, kali ini tampak jelas menahan tangis.

“Siapa nama cicitku ini?” tanya Heron pelan, namun antusias.

Robert menjawab terlebih dahulu,

“Putra kami akan bernama Reoghert Pattinson William Anderlecht.”

Javi menyusul,

“Dan putri kami… kami beri nama Veriska Alexander William Anderlecht.”

Heron tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca.

“Indah sekali… nama yang sangat indah.”

Liora menyadari air mata ayahnya mulai jatuh.

“Ayah… Anda menangis?”

Heron mengangguk pelan, suaranya bergetar.

“Ini… air mata bahagia. Keluarga kita kini lengkap.”

Willia mendekat dan memeluk suaminya. Dalam pelukan itu, perasaannya campur aduk penyesalan sekaligus syukur yang tidak bisa digambarkan.

“Dulu aku tidak pernah mencintaimu… tapi ternyata, kaulah orang yang paling tulus mencintaiku…” bisiknya.

Heron merangkulnya lebih erat, seolah ingin memastikan bahwa masa lalu mereka telah benar-benar tertinggal.

Hari itu… keluarga mereka terasa utuh.

Hangat.

Penuh cinta.

Dan siap menyambut masa depan bersama.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!